
Pagi menjelang, semua sibuk dengan kegiatan mereka. Di rumah Nai, Andoro tampak mulai menyusun proposal untuk memindahkan semua inti perusahaan ke Indonesia.
"Jadi aku harus jadi investor di sini dan mendirikan unit?" tanya pria itu pada seseorang yang ada di sambungan teleponnya.
Pria itu mematikan ponselnya, ia sedikit tak percaya dengan pembuatan perusahaan yang begitu berbelit-belit.
"Sepertinya aku minta bantuan Dominic atau Remario," gumam pria itu.
Andoro menelepon Dominic, meminta waktu dan janji temu dengan pria itu.
"Baiklah, sekitar makan siang aku akan datang ke perusahaanmu!" ujar Andoro sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
"Papa jadi pindahkan perusahaan ke Indonesia?" tanya Langit di sela sarapan.
"Iya sayang, ternyata tak semudah itu. Kata Mr. Starlight, kita mesti memiliki cabang perusahaan yang sudah berdiri setidaknya tiga atau lima tahun lamanya," jawab Andoro.
"Kenapa nggak buka cabang perusahaan di sini aja dulu Pa. Lambat laun, papa pindahin data pusat di Eropa ke Indonesia," saran Nai.
"Wah ide bagus itu!" sahut Langit.
"Kau benar sayang. Sepertinya ide bagus membuat perusahaan cabang di sini, berarti Papa menanam investasi dulu. Tapi apa ya?" tanyanya bingung.
"Bangun shelter batu bara Pa. Perusahaan Papa kan di sana ada pengolahan batu-bara. Bagaimana jika itu, lalu lambat laun baru membangun kantor pusat. Lagi pula semua tenaga ahli kita orang Indonesia kan?" ujar Langit begitu semangat.
"Kau benar sayang. Baiklah, Papa akan bangun shelter pengolahan batu-bara di sini!" ujar pria itu semangat.
Langit tersenyum cerah, ia dan Nai pamit bekerja. Langit masih jadi pengawal Satrio.
"Sayang," Andoro memeluk istrinya.
"Iya sayang," sahut sang istri yang sedang mencuci piring.
Nai dan Langit belum memiliki asisten rumah tangga. Keduanya baru pindah dua minggu yang lalu, jadi belum menemukan asisten yang cocok.
"Sayang!" rengek Luisa ketika Andoro secara nakal mencium lehernya dan menciptakan ruam di sana.
"Jangan sekarang ya, katanya Besan mau ke sini dan membawa lima maid untuk membantu di sini," ujar wanita itu menolak tangan suaminya yang hendak bergerilya di tubuhnya.
Benar saja, tak lama Terra datang bersama empat maid yang dijanjikan.
"Kok nggak bawa anak-anak Jeng?" tanya Luisa ketika melihat Terra sendirian bersama empat orang dan berusia dua puluh limaan.
"Anak-anak di rumah. Oh ya, Te sengaja bawa dua pasang suami istri. Mereka sudah ditempa di rumah Mama Kanya selama tiga tahun. Jadi bisa dipercaya deh," ujar Terra memperkenalkan empat orang yang akan bekerja untuk membantu membersihkan rumah.
Ada delapan pengawal yang berjaga di rumah itu, sama seperti di rumah, Darren dan Rion. Hanya Lidya yang tidak ada bodyguard yang menjaga karena perumahan perkantoran itu memang sudah ada penjaganya.
Usai membrifing para maid. Andoro dan Luisa memilih ikut dengan Terra pergi ke rumahnya. Mereka ingin bermain bersama para bayi yang mestinya belum bicara itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" sahut Terra ketika masuk rumah.
"Wa'alaikumusalam!" sambut Seruni dan Layla juga Dinar.
Layla sudah tidak mengajar di pesantren di mana Adiba menimba ilmu. Kehamilannya membuat ia sedikit kepayahan. Sedang Juno yang menjadi pengawal Adiba juga melarang istrinya untuk bekerja terlalu berat. Pria itu lebih percaya jika sang istri berada di rumah tuannya. Hanya istri Felix dan Anyelir saja yang tidak ada di sana.
Sari seorang dokter umum, sedang Anyelir memiliki rumah mode atau butik yang cukup terkenal, design bajunya banyak diminati orang-orang kaya.
"Ah jadi semua bayi ada di sini?" tanya Luisa senang bukan main.
"Iya Jeng, itu mereka ada di keretanya," jawab Dinar.
"Baby Zaa, Baby Nisa, Baby Chira dan Baby Aarav belum datang?" tanyanya ketika melihat para bayi yang duduk memperhatikan kakak-kakak mereka.
"Mungkin sebentar lagi!" jawab Terra.
Tak lama bayi-bayi yang disebut namanya pun hadir. Keributan dimulai. Arsh jadi pemimpin di sana. Bayi sembilan bulan itu memerintah semua kakaknya.
"Ata' nan inih!" amuknya entah kenapa.
Luisa menatap semua bayi penuh suka cita. Andoro yang menatapnya sedih, gara-gara dia yang berselingkuh. Obsesi Luisa memiliki banyak anak gagal total.
"Mamamamam!" pekik Angel hendak turun dari kereta dorongnya.
"Paypi mawu napain?" tanya Della.
"Mama poleh Paypi tuyun?" tanya Della pada Maria.
"Boleh Baby, biarkan adik-adik main ya," jawab Maria sambil membantu Terra memasak.
Ani dan Gina hanya sekedar membantu saja. Dua wanita itu sudah berumur, Terra sebenarnya ingin memensiunkan mereka. Tetapi keduanya menolak, bahkan Deno suami Gina juga menolak untuk dipensiunkan.
Akhirnya Della membantu semua adiknya turun dari kereta mereka. Angel, Aliyah, Fael, Zizam, Izzat dan adiknya sendiri Alia turun dari kereta. Semua berusia sama yakni mau delapan bulan.
"Paypi bain syini!" ajak Maryam.
"Pita banyi yut!" ajaknya.
Semua riuh bernyanyi dengan bahasa mereka. Della bertepuk tangan untuk memberi semangat, bayi cantik itu langsung memungut benda-benda yang menurutnya berbahaya dan membuangnya jauh-jauh.
"Oh, Baby Del perhatian banget!" puji Luisa meleleh.
Wanita itu baru diceritakan oleh menantunya dengan tiga bayi lain selain Aminah dan Ari.
"Sayang, apa mau kita angkat anak seperti mereka?" tanya Andoro.
Luisa menggeleng, bukan ia tak mau tetapi melihat banyak bayi.
__ADS_1
"Aku sudah punya mereka!" ujar wanita itu.
Andoro senang, ia sangat tahu kepribadian istrinya yang memang tidak seperti yang dilihat orang-orang, sombong dan angkuh.
Lagi-lagi Andoro merasa bersalah, ia membuat Luisa istrinya seperti itu.
Tak lama rumah itu penuh manusia, semua ribut dengan cerita mereka. Luisa sangat antusias meladeni anak-anak bicara. Terra sampai mengernyit kening karena melihat perubahan besannya itu.
"Makanya jangan lihat sampul sebelum kenal betul," sahut Khasya berbisik.
Terra cemberut, wanita itu merengek manja pada ibu keduanya hingga membuat Khasya kualahan.
"Mashaallah anak ini!" gerutunya gemas.
"Bunda!" rengek Terra yang tak mau lepas memeluknya.
Khasya menciumnya penuh kasih sayang. Luisa melihat itu, kini ia tau kenapa putranya selalu menyanjung nama Khasya ketika bercerita padanya.
"Rupanya, kasih sayang yang membuat keluarga ini utuh," gumamnya.
"Netnet!" panggil Arsh begitu bossy.
Luisa gemas mendengar panggilan bayi sok jago itu. Wanita itu akan menjadi zombie dan mengejar semua bayi hingga terdengar gelak tawa di sana.
Malam telah larut, kini baik Luisa dan Andoro sudah kembali di rumah menantunya. Wanita itu seperti kebingungan sendiri karena mendadak sepi.
"Sayang," panggil Andoro.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku kangen bayi-bayi!" rengek wanita itu kesal sendiri.
"Ah ... padahal tadi Baby Angel dan Baby Aliya sudah membuatmu jantungan karena memanjat lemari," sahut Andoro mengingat tingkah para bayi.
"Kalo aku punya bayi lagi boleh nggak?" tanya Luisa asal.
"Ayo kita buat sekarang!" ajak Andoro langsung semangat.
Malam itu, keduanya kembali merengguk gelora cinta. Baik di kamar pasangan suami istri yang sudah lanjut usia juga pasangan yang baru tiga bulan menikah itu.
Bersambung.
kejar target!
Readers maaf ya hari ini hanya satu. othor sibuk hehehe.
ba bowu 😍😍😍
__ADS_1
next?