
Sky dan Bomesh tengah beristirahat, kedua bocah tampan itu selalu saja berdua. Sky yang tak begitu suka dan percaya dengan orang lain kecuali keluarganya sendiri.
"Sky, Kak Sam kok belum keluar?" tanya Bomesh sambil kepalanya melihat pintu kelas di mana Samudera berada.
"Iya, padahal jam istirahat kan sama," jawab Sky.
"Beda lima menit doang" ralat Bomesh.
"Ah ... iya," sahut Sky.
Tak lama pintu kelas Samudera terbuka. Pak guru keluar kelas dan barulah murid-murid keluar semuanya. Koridor sekolah mulai ramai dipenuhi oleh anak-anak. Samudera dan Benua juga Domesh keluar membawa bekal dan botol minumnya. Di pangkuan Sky dan Bomesh juga membawa hal yang sama seperti kakak-kakaknya.
"Babies!" panggil Sam.
"Kak!" sambut Sky dan Bomesh sambil tersenyum lebar.
Kelimanya duduk di pinggir taman. Mereka memakan bekal mereka. Usai makan, Sky dan Bomesh memilih mengobrol bersama kakak-kakak mereka ketimbang bicara dengan teman sekelasnya.
"Kalian nggak cari teman?" tanya Samudera.
"Nggak!" jawab Bomesh sambil menggeleng.
"Kenapa?" Sky dan Bomesh mengendikkan bahu.
"Kakak juga nggak sama teman?" Samudera terkekeh.
"Kak Benua dan Kak Domesh juga nggak punya teman?" keduanya juga menggeleng.
"Iya, Kakak nggak punya temen. Nggak tau, kenapa?" ujar Domesh tak mengerti.
"Kalau cari yang tulus mah pasti ada ya Kak. Hanya saja Sky sama Bom nggak terlalu percaya sama orang luar," jelas Sky.
Samudera, Benua dan Domesh mengangguk, mereka juga sama. Bukan tak ada yang tulus berteman dengan mereka, tetapi. Samudera sangat pendiam, bocah itu sangat pandai menyimpan perasaannya. Ia tak pernah berbuat ulah.
"Loh temanmu yang dulu ditolong Daddy mana?" tanya Samudera mengingat salah satu teman adiknya.
"Kan pindah sekolah, keluarga dari mendiang ayahnya datang menjemput Andi dan ibunya. Mereka pindah ke kota lain dan mengembalikan kunci ruko sama Daddy," jawab Bomesh.
"Bentar lagi ujian semester, apa kalian sudah siap?" semuanya mengangguk.
"Namanya ulangan, artinya mengulang pelajaran yang dipelajari kan?" Sam mengangguk.
"Halo ... permisi Dik!" kelimanya menoleh.
Sosok perempuan berpakaian formal mendekati mereka. Sky sudah menatap curiga pada sosok wanita itu. Sebegitu banyak anak-anak yang duduk kenapa hanya mereka saja yang didatangi.
__ADS_1
"Iya Bu, ada apa ya?" tanya Samudera berusaha ramah.
"Gini Dik, saya disuruh untuk menjemput kalian. Mama kalian sakit," ujar wanita itu dengan keyakinan.
Samudera, Domesh dan Benua Sky dan Bomesh bukan anak yang gampang dibodohi. Mereka menatap perempuan itu yang memandang mereka dengan kegelisahan yang benar-benar menandakan jika ibu mereka sakit.
"Emang nama ibu kita siapa?" tanya Domesh menyelidik.
"Adik namanya Bomesh kan?" Bomesh langsung mengangguk.
"Ibu kamu yang sakit," lanjut wanita itu.
"Oh, ibu saya sakit apa?" tanya Bomesh sedikit mulai percaya pada wanita itu.
Samudera, Benua, Sky dan Domesh tampak diam mengamati. Mereka sangat yakin berita yang dibawa perempuan ini pasti bohong. Perempuan itu hanya mengenali Bomesh sedang kakaknya ada di sana.
"Ibu Adik tadi dibawa ke rumah sakit. Saya disuruh Papa kamu untuk menjemput kamu dan membawa Adik ke sana," ujar wanita itu lagi.
"Bom!," bisik Dom memperingati adiknya itu.
"Kalau begitu saya ijin ibu guru dulu," ujar Bomesh tak memperdulikan peringatan kakaknya.
"Jangan Dik, kamu harus buru-buru, kita tak punya waktu!" sahut wanita itu lalu menarik tangan Bomesh.
Sayang, sekali Bomesh bukan anak kecil seperti anak-anak yang lain. Bocah itu menendang tangan yang hendak menariknya, hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit. Takut menjadi pusat perhatian wanita itu pun bergegas pergi.
"Bom nggak apa-apa," jawab anak itu.
"Sepertinya dia mau nyulik kita deh," terka Samudera yakin.
Sky dan Bomesh langsung bergandengan tangan. Mereka seperti bersiaga jika ada sesuatu yang berbahaya.
"Jangan khawatir, ada Kakak, nanti pas pulang sekolah, kamu langsung ke kelas kakak atau ruang kepala sekolah ya!" pinta Samudera agar dua adiknya itu melindungi diri.
Bel berbunyi, semua anak berhamburan masuk kelas. Samudera, Benua, Domesh, Sky dan Bomesh memang tidak sering dikawal seperti anak-anak lainnya. Semua pengawal bekerja mengawal yang sudah dewasa.
Entah kenapa hari ini Virgou dan David ingin menjemput anak-anak sekolah. Hati pria dengan sejuta pesona itu sangat gelisah luar biasa.
"Biar Daddy yang jemput anak-anak,"
"Sean aja Dad," sahut remaja itu sudah bersiap.
"Kamu di rumah!" titah Virgou begitu tegas.
Sean diam, ia tak akan berani membantah salah satu ayahnya itu. Terra dan lainnya tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Tetapi, kedatangan Virgou dan ingin menjemput seluruh putranya membuat semua wanita khawatir.
__ADS_1
"Kak?" panggil Seruni.
Aliyah kini digendong oleh Sean. Bayi cantik yang baru satu bulan itu tampak asik memejamkan matanya. Sedangkan Fael dan Angel juga tengah terlelap di gendongan Gisel. Wanita itu sedang malas ke kantor, Budiman yang harus mengurusi perusahaannya itu. Sedang Darren bersama Gabe dijaga oleh Juno, Juan dan Ricky.
"Sudah kalian tenang saja ok!" sahut Virgou sesantai mungkin.
Terra dan Maria memilih percaya pada Virgou. Lalu keduanya pun pergi menuju sekolah dan menjemput semua anak-anak.
Sedang di sekolah. Delapan orang berpakaian formal tampak berlalu-lalang di luar gerbang sekolah. Sky melihatnya dan langsung mencolek Bomesh.
"Bom, mereka siapa?" tanya Sky.
"Sudah jangan dilihatin terus. Nanti mereka curiga, kita santai aja," sahut Bomesh tenang.
Bel pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Tentu Sky dan Bomesh pulang lebih dulu karena mereka baru kelas dua SD. Mereka harus menunggu lebih lama sedikit Benua dan Domesh keluar lalu terakhir Samudera.
Sky dan Bomesh menurut perkataan kakaknya, mereka memilih pergi ke ruang kepala sekolah atau ruang guru.
"Loh Sky, Bom kenapa ke sini? Kalian belum dijemput?" tanya salah satu guru.
"Belum Bu Guru!" jawab Sky.
"Bu kita nunggu Kakak-kakak di sini ya?" pinta Sky memohon.
"Loh memangnya kenapa?"
Sky pun menceritakan apa yang terjadi ketika jam istirahat tadi. Bu guru sangat terkejut mendengarnya.
"Ya sudah, kalian nunggunya di sini, biar ibu jemput kakak-kakak kalian!" ujar Bu Guru.
Mereka pun duduk di kursi panjang. Para guru juga membiarkan dua anak itu duduk di sana. Tak lama Benua dan Domesh datang ikut duduk. Menunggu lagi satu jam hingga Samudera keluar kelas.
Sedang di tempat lain. Virgou memakai panjang pendek, ban mobil kempes karena tertusuk paku besar. Pria itu benar-benar kesal bukan main.
"Tenangkan dirimu Bro!" ujar David menenangkan kakak tertuanya itu.
"Berengsek ... kenapa ponselku kehabisan daya!" teriak Virgou makin kesal.
"Jangan seperti ini Bro. Kamu makin membuatku panik!" ujar Dav ikutan bingung.
David merogoh saku celananya, ia mencari keberadaan benda pipih canggih itu. Ia sampai masuk ke dalam mobil dan mencari keberadaan benda canggih itu tapi tak ditemukan.
Sementara di rumah Terra. Ponsel David tergeletak di meja. Pria itu lupa memasukan ponsel itu kembali setelah dikeluarkan untuk mengecek apa ada pesan masuk.
bersambung.
__ADS_1
Duh 😱
next?