SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KAFENYA BAYI


__ADS_3

Bagaimana jika sebuah kafe dipenuhi bayi-bayi yang saling bercengkrama satu dan lainnya? Ini lah yang terjadi di MilkTime Out Baby milik Adiba.


Para orang tua hanya boleh duduk di sisi lain yang telah disediakan. Tak akan ada hal yang membahayakan, justru para orang tua terhibur dengan obrolan mereka.


"Tah ... meuhnahsgebbwjsusbnwjsusnwjus!" Pekik Angel mendebat Zizam.


"Bawbabwabbababwbabwbabwbawbaw!" sahut Zizam enteng.


"Hiks ...!" Angel mencebik.


"Baby ... janan picala sepeulti ipu!" larang Bariana.


Bayi mau lima tahun itu memang masih memakai bahasa bayinya. Bukan hanya Bariana, tetapi Azha, Harun, Arion dan Arraya juga masih memakai bahasa bayi.


"Kalian itu ngomong apa sih?" tanya salah satu bayi berusia tiga tahun.


"Tamuh nomonna udah tayat wowan dedhe," sahut Maryam pada salah satu bayi pengunjung.


"Nama kamu siapa?" tanya bayi cantik itu.


"Panah atuh Balyam," jawab Maryam.


"Bayam?" ulang pengunjung bayi itu.


"Bayam ipu sayul!' seru Maryam kesal.


"Mama ... atuh pidat pawu noblol pama diya!" tolak bayi cantik itu sambil melipat tangannya.


"Tidak boleh Baby, kan itulah sudah teman kamu," larang Azizah.


"Ma ... kita pindah tempat yuk ... di sini anak-anaknya pake bahasa aneh,' ujar bayi cantik itu.


Sang ibu hanya menghela napas panjang. Memang ia memaksa bayinya bicara secara dewasa. Karena ia memang malas mengartikan perkataan bayi. Jadi putrinya kini berbicara ala orang dewasa.


"Tidak aneh sayang, mungkin teman kanu hanya memakai bahasa bayi. Dia belum bisa bicara secerdas kamu sayang," ujar sang ibu.


"Pata spasa atuh eundat seldas?" sahut Aaima tak suka.


"Seutalan payo pompa itun-itunan ... mima pambah mima peupuluh!" lanjutnya langsung menjawab soal yang ia berikan.


Ibu tadi sedikit menyungging senyum mengejek. Wanita itu mencoba kepintaran semua bayi yang belum lancar berbicara itu.


"Kalau tujuh tambah tiga, berapa sayang?" tanyanya meremehkan.


"Peupuluh," jawab Aaima santai.


Bayi cantik itu mengangkat kakinya sebelah dan diletakkan di atas pahanya. Aaima menyandar di kursi khususnya, layaknya boss besar menatap malas pada seorang wanita yang jauh lebih besar darinya.


Azizah, Putri dan Aini hanya memperhatikan anak-anak mereka. Putri sama sekali tak mempermasalahkan pertanyaan sang wanita itu pada putrinya. Jac, suaminya mengajari Aaima berhitung dan bayinya itu menangkap cepat ajaran sang ayah.


"Kalo Enam tambah empat?" tanya wanita itu lagi.


"Ah ... dampan ipu, peupuluh judha!" jawab Aaima santai.

__ADS_1


"Delapan tambah dua tambah tiga dikurang lima berapa?" tanya ibu itu kesal.


Saf sampai ingin mendamprat wanita itu tapi putri menahannya.


"Dek!" desis Saf.


"Tenang Kak, dengarkan jawaban putrimu," bisik Putri begitu tenang.


"Peulpanyaan yan peulputal-putal ...," ejek Aaima menatap malas wanita yang besarnya tiga kali lipat dari tubuhnya.


"Pipu yan syantit, peulapan pambah duwa pambah tidha tulan pima ipu sumlahna peulapan," lanjutnya sangat tenang.


"Kamu dikasih contekan!" sentak wanita itu tak terima..


Lagi-lagi Saf ingin sekali mendamprat wanita itu dan merobek mulutnya. Tapi Putri masih menahan kakak iparnya.


"Tenang Uma," ujarnya.


"Pipu ... deunal ya!" ujar Aaima sambil menghela napas panjang.


Semua yang mendengarkan bagaimana gestur tubuh bayi cantik itu jadi gemas sendiri.


"Deunel ya ... peulapan pambah duwa ipu peupuluh pipambah tidha sadhi tidha peulas tlus ditulan pima ya delapan!" jelas Aaima begitu tenang.


Saf mencibir sang wanita yang kini mukanya merah padam. Putrinya yang lancar bicara saja tidak sedetil itu menjelaskan penjumlahan dan pengurangan. Aaima baru mau dua tahun. Bayi cantik itu duduk layaknya ratu di singgasana kebesarannya.


Sang ibu yang malu dengan tatapan semua pengunjung yang seakan meledeknya langsung mengangkat anaknya dan pergi dari sana.


"Huuuu!" sorak semua ibu sambil tertawa.


Putri menatap bangga putrinya. Jac memang sangat luar biasa jika mengajari semua anak-anak, bukan hanya pada Aaima. Tapi semua bayi akan menjawab apa yang dikatakan saudaranya tadi jika ditanya hal yang sama.


"Mima ... seupenelna pipu padhi banya mendodamu," ujar Arsyad.


"Pasa?" tanya Aaima tidak percaya.


"Buntin Pipu padhi eundat menanta talaw Mima pisa sawab?" sahut Aminah.


"Puntin sudha Pipu ipu nanat sisilan,' sahut Al Bara.


Semua orang tua berdecak dengan perkataan Al Bara. Terra gemas dengan Bart yang sembarangan berbicara.


"Gara-gara Grandpa," dumalnya kesal sambil melirik pria gaek itu.


Bart sangat santai, ia tak peduli. Selama bukan kata sebenernya, ia tak masalah sama sekali.


"Al Pala ... tamuh ipu dali teumalin natain nanat sisilan, sepeunelna nanat sisilan ipu spasa?" tanya Della begitu gemas.


"Atuh pidat pahu Ata' ... atuh deunal dali Benpa eh ... yuyut," jawab Al Bara.


"Benpa ... spasa nanat sisilan ipu?" tanya Della begitu lembut dan halus.


Semua orang meleleh mendengar suara lembut bayi cantik itu. Della masih terlihat kurus, sang kakak, dirinya dan dua adik lainnya baru diurus selama tiga minggu oleh Virgou. Bayang-bayang gizi buruk baru saja lepas dari dia dan tiga saudara lainnya.

__ADS_1


"Hah ... apa?" tanya Bart.


"Nanat sisilan spasa Benpa?" tanya Azha malas.


"Bukan siapa-siapa Baby ... kemarin Grandpa lihat hantu ... jadi nanat sisilan itu adalah hantu," jawab Bart.


Terra berdecak kesal. Bart hanya mengangkat bahu tak acuh. Pria itu sudah menjawab agar semua anak tak penasaran dengan anak sisilan yang ditanyakan semua cucunya.


"Oh ... nanat sisilan ipu hantu!" seru semua bayi perusuh.


"Pemana Benpa pisa nomon pama hantu?" tanya Aminah dengan mata bulat penasaran.


"Ntu pa'a?" tanya Arsh.


"Punia walwah Baby," jawab Bariana.


"pia wawah?" ulang Arsh bingung.


"Biya ... hantu pi mumah Umi Layla," jawab Bariana lagi.


"Mumi ntu?" kepala Arsh sampai miring bertanya.


Layla berdecak. "Umi bukan hantu!"


"Biya Mumi utan antu!" geleng Fathiyya.


Akhirnya mereka melupakan nanat sisilan, hantu dan lainnya. Mereka pulang kekenyangan. Para orang tua yang lain sangat senang. Beberapa anak yang pendiam jadi banyak bicara bahasa ala mereka.


"Jangan paksakan anak-anak bicara lancar, tidak masalah ngomongnya pake bahasa planet mereka. Di sini peran kita justru harus mengerti bahasa mereka," jelas Safitri.


Semua anak tertidur di atas kasur yang memang digelar sedemikian rupa. Beni, Leni, Sriani, Bart, Bram dan Kanya menatap bangga keturunan mereka yang sangat cerdas luar biasa.


"Aku tak mau kehilangan momen ini," ujar Sriani.


"Sayang, Ibu tinggal sama kamu ya?" pinta Sriani langsung pada putrinya.


Widya tentu mengangguk senang. Gabe memang selalu meminta sang mertua tinggal bersama mereka.


"Tentu saja Bu,"


"Papa sama Mama juga jadi mau tinggal sama kamu Lastri. Coba tanya sama suami kamu, apa boleh?" pinta Beni.


"Kami ingin meninggal dengan senyum mendengar ocehan mereka," lanjutnya yang membuat semua sedih.


"Papa umurnya panjang!" tekan Herman.


"Sayang, aku dan ibumu sudah tua ... jangan melawan kehendak ya ... selama kita hidup, kita harus bahagia oteh!" sahut Beni begitu bijak.


"Benar sayang ... suatu saat ketika itu tiba ... semua harus siap mau atau tidak mau," sahut Bram.


Bersambung.


Usia memang rahasia Allah. Bahagia lah dengan caramu.

__ADS_1


Be Happy Readers ❤️😍😍


next?


__ADS_2