
Leon dan Frans pulang. Mereka tentu baru mendengar kabar jika anak-anak paling besar masuk markas mafia bahkan Azizah ikut serta.
"Ya Allah ya Rabb!" Leon harus mengelus dada mendengar kabar itu.
"Beruntung kalian adalah anak-anak hebat!' lanjutnya lega.
"Kami baru dua kali loh ke sana?!" celetuk Al.
"Iya, pas menghajar klan siapa gitu," sela Sean.
"Waktu itu Papa ikut!" sahut Demian ikut-ikutan.
Pria itu sedikit kesal karena kemarin Herman tak bisa diajak kompromi. Pria itu menatap datar Demian dan Jac.
Dua pria tampan itu tampak cemberut. Para perusuh paling junior menatap semua orang dewasa. Banyak oleh-oleh tak membuat mereka teralihkan.
"Meuleta napain ya?" tanya Alia.
"Meuleta sedan beuldistusi ... ayo janan deunelin!" ajak Bariana.
"Ata' ... pita penen Pahu judha ... seupeltina selu!" elak Al Bara.
Duo Bara mendekati orang tua. Dua bayi tampan itu menguping. Dominic melihat keberadaan dua cucunya.
"Mau ngapain kalian?" tanyanya gemas.
"Nupin Penpa!" jawab duo Bara kompak.
"Heh ... anak bayi dilarang mendengar pembicaraan orang tua!"
Dominic mengajak dua cucunya menjauh dari obrolan orang dewasa. Hal ini membuat dua bayi itu kesal.
"Penpa ndat syasyit!"
"Apanya yang nggak asik!" gereget Dominic dengan dua cucunya itu.
Jangan tanya tiga bayinya. Aaric, Sena dan Alva sudah merangkak kemana yang mereka mau. Para pengawal wanita menjaga ketiganya.
"Tuh tan Ata' pilan judha pa'a!' sahut Bariana.
Harun, Azha, Bariana, Arion dan Arraya memang sudah empat tahun. Mereka masih menggunakan bahasa bayi akibat pergaulan dengan adik-adiknya. Gino balita paling besar di antara semua juga terkadang suka memakai bahasa bayi dari pada bahasa biasa.
'Kalian sudah lama nggak main gobak sodor," ujar Dominic.
"Panas Penpa!' keluh Maryam mengibas tangan ke wajahnya.
Fael, Angel, Zizam, Izzat, Alia, Rinjani, verra satu umuran. Mereka juga seperti berdiskusi.
"Pita halus napain?" helaan napas terdengar dari mulut anak perempuan David, Rinjani.
"Bain pa'a yan pidat pemposantan pama pial pinten!" sahut Alia.
"Hitun-hitunan?" ide Verra.
"Oh beulhitun tayat peuntala!" sahut Angel.
"Patu!" Verra memulai hitungan
"Puwa!" sahut Alia melanjutkan.
"Pidha!" kali ini Fael.
"Beumpat!" sahut Zizam.
"Puwuh!" sahut Izzat.
__ADS_1
"Mima tulu Zat!" ralat Verra.
"Atuh suta puwuh!" tolak Izzat kekeh pada hitungannya.
"Pabis wuwuh pelapa?" tanya Rinjani.
"Wewelas!" seru Fael.
"Bimaselas!" lanjut Rinjani.
"Tot tayatna pompat deh?" sahut Verra menggaruk kepalanya.
Anak-anak Bart memilih bermain yang gobak sodor. Bart telah membuat lapangan untuk permainan itu. Jadi semua anak tak merusak rumput siapapun.
"Eh pita te Ata' yan bain dodat sotol yut!' ajak Lilo pada semua saudaranya.
Para bayi mendekat. Arsh sudah di sana laksana pelatih.
"Janan dhitu Ata'! Beustina teusyana!" pekiknya kesal bukan main.
"Ya ... ya ... poton! Poton laja!' pekiknya lagi mengomando.
Tapi permainan memang hanya untuk bermain. Azlan dan beberapa saudaranya memang tidak ingin menang atau kalah.
"Ah ... janan bain talo suma tayat dhini!" Arsh kecewa bukan main.
Azlan berhenti bermain. Peluh tentu membanjiri. Anak-anak terengah-engah karena memang tidak serius bermain.
"Alsh yan bain!" ujar bayi galak itu.
"Wayo ... spasa yan sadhi tim Alsh?!' acungnya mengajak beberapa saudaranya.
Zizam, Arsyad, Fael dan Aaima juga Al Bara maju sebagai tim Arsh. Fatih melawan adiknya bersama Fathiyya, Angel, El Bara, Aisya dan Maryam.
Dua kubu bayi beda usia berhadapan. Orang tua yang sedang mengobrol jadi tak fokus. Jac memilih pergi menonton semua anak-anaknya yang sedang adu strategi.
Semua jadi mengikuti pria itu. Memang magnet semua orang tua adalah anak-anak. Para bodyguard berjaga-jaga di sekitar mansion besar itu.
"Ayo Alsh ... telobos aja!" pekik Harun menyemangati adiknya.
Arsh berlari menerobos garis yang dijaga Fatih dan Angel. Tetapi ketika hendak menuju garis paling belakang. Maryam menerjangnya, Arsh terjatuh begitu juga Maryam.
"Astagfirullah!" seru semua orang tua kaget.
"Pidat pa'a-pa'a!' seru Arsh.
Maryam membangunkan adiknya. Arsh kalah dan harus pergi ke kotak. Maka pertandingan dilanjutkan sampai tim Arsh memenangkannya.
Semua kakak bersorak. Billy paling semangat berteriak. Tim Arsh dan Tim Fatih tak ada yang mau mengalah. Bahkan Fatih gantian diterjang El Bara ketika hendak menerobos garis akhir.
"Ayo makan siang!" teriak Maria.
Pertandingan selesai. Semua anak mencuci tangan. Tak ada yang menang atau kalah, dua-duanya memang sangat pintar mengatur strategi.
"Hmmm ... Mom," keluh Angel.
"Kenapa Baby?" tanya Maria.
"Lusut atuh leset," adu Angel.
Semua orang tua lalu melihat lutut anak-anak mereka. Tidak hanya lutut. Nyaris seluruh kaki mereka tergores akibat terjatuh.
"Tidak apa-apa, kan kalian jagoan," ujar Maria menenangkan semua bayi.
Setelah makan dan diobati lutut dan kaki mereka yang lecet. Semua anak disuruh tidur siang. Memang hari ini anak-anak pulang cepat dari sekolah.
__ADS_1
"Ah ... mereka cepat sekali besar," keluh David.
"Ya, bahkan Vendra dan Zora juga sudah besar dan tak lagi di inkubator," sahut Luisa.
"Mereka sudah bisa apa?" tanya Demian gemas dengan dua bayi yang baru berusia tiga minggu itu.
"Selain menyusu memang mereka bisa apa?" sahut Andoro memutar mata malas.
"Mungkin menarik pucuk susu ibunya?" sahut Layla.
"Sudah," rengek Luisa.
"Sebentar lagi kalian melahirkan," ujarnya pada Gisel, Layla, Aini, dan Lidya.
"Layla sudah ketahuan kembar," lanjutnya.
"Aku pasti satu!" sahut Gisel.
"Iya juga satu dan cewek!'
"Aini dua," cicit Aini.
Semua menoleh pada Aini. Wanita itu mengangguk dan menunjuk angka dengan jarinya.
"Kalian memang benar-benar memenuhi dunia dengan keturunanku!" sahut Bart begitu bangga.
Sore menjelang, anak-anak sudah rapi. Kean dan lainnya pulang dalam keadaan lelah. Azha meminta diputarkan karaoke ia mau bernyanyi.
"Doyan somblet ... doyan somblet ...!' balita itu memutar pinggulnya.
"Tan Jaja palin danten ... saya suta atan suta setali!"
"Azha ... tamuh lati-lati!' seru Harun mengingatkan. "Basa suta lati-lati judha!"
"Woh Biya!"
"Nen Mima ... Palin syantit ... Atan syuta syuta setali!" godanya pada Aaima.
Bayi cantik itu ikut memutar pinggul. Putri dan Jac hanya bisa menghela napas. Seruni menggeleng sedang David tersenyum lebar.
Lagu goyang dombret selesai, kali ini Aaima yang mau bernyanyi.
"Ladhu pandul Ata'!' pintanya pada Affhan.
"Pandul?" tanya remaja itu tidak mengerti.
Tentu saja yang lain juga tak ingat lagu yang dulu dinyanyikan Bomesh dan menghebohkan semua keluarga.
"Yang kayak gimana?" tanya Affhan dengan kening berkerut.
"Peubuluh pahun pudah pita peumumah tandha ... Pati peulum judha peundapatan pulta ...."
Semua orang tua seperti flashback. Bomesh tentu sudah tidak ingat dengan lagu itu. Putri menggaruk kepalanya. Ia yakin jika putranya Zizam juga terkontaminasi dengan suasana perumahan milik neneknya.
"Janan peulsyedih ... janan beulduta ... pohon dadana ... talam peuldoa ...." lanjut Aaima terus bernyanyi.
Affhan masih sibuk mencari lagu itu tapi tak ketemu. Kean yang hafal semua letak lagu menggantikan posisi adiknya itu.
"Baby ... nyanyi ulang sayang!" pinta Kean setelah menemukan lagunya.
Aaima mengangguk, musik pun mengalun. Bayi cantik itu mulai menggoyangkan pinggulnya.
"Peubuluh pahun pudah pita peumumah tandha ... Pati peulum judha peundapatan pulta ...."
bersambung
__ADS_1
sel poha!
next?