SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Arion dan Arraya masih dalam gendongan Adiba. Arraya ingin turun tapi tak diindahkan oleh Adiba.


"Sayang, mereka kan berat," ujar Terra. "Biarkan mereka turun!"


Adiba menatap perempuan itu. Di sini banyak orang, ia hendak memberitahu. Tapi entah kenapa mulutnya seperti terkunci. Terlebih ia mendengar bisikan Arraya.


"Janan pilan-pilan Ata' ... meuleta eundat patalan peulsaya, ladhian Ata' Salah bait tot,"


"Baby ... ikutan Kakak yuk!" ajak Adiba.


Melihat dua anak kembarnya tak diturunkan Adiba membuat Terra mengernyit. Lalu perhatiannya teralih karena beberapa ibu berteriak karena minyak goreng panas yang menciprat ketika dimasuki ikan.


"Kak Saf!' panggil Lidya.


Safitri seperti kebingungan sendiri. Ia seperti tak fokus dengan semuanya. Beruntung bayinya Izzat tak rewel karena sang suami begitu sigap.


"Ada apa sayang?" sahut wanita bermata abu itu.


"Iya kok merasa aneh ya?" Saf memandang adik iparnya.


"Kakak juga merasakan itu," sahutnya.


Lalu matanya menatap Adiba yang menggendong dua adik iparnya. Keningnya berkerut, dengan semua keengganan yang menghimpit hatinya, wanita itu bergerak dan menentang apa yang ia rasakan sekarang.


"Kakak mau kemana?" tanya Lidya mengekori.


"Adiba!" panggil Saf.


Arion dan Arraya memeluk Adiba erat. Sepertinya mereka ketakutan terlebih Lidya maju. Adiba yang merasakan jika Arion dan Arraya ketakutan melihat Lidya, kini mulai mengerti. Kekuatan kasih sayang Lidya tentu tak disukai makhluk halus.


"Baby ... sama Mama Iya yuk!' ajak Lidya.


"Nggak mau!" teriak Arraya dengan suara besar.


Lidya langsung mengambil adiknya dan memeluknya erat. Satu asap tipis keluar dari kepala batita malang itu. Saf baru mengerti kenapa kini ia seperti berada di dalam kotak dan bingung sendiri.


"Ternyata ada campur tangan jin!" gumamnya dalam hati.


"Huuuuwaaa ... Ata' Iya!" Arraya menangis ketika merasakan sesuatu yang menekannya dari kemarin hilang.

__ADS_1


Lidya mengerahkan seluruh kekuatannya pada adiknya. Arion yang dalam pelukan Adiba kini dalam gendongan Safitri.


Sosok putih cantik dengan air mata darah menatap dua bayi yang membuatnya jatuh cinta. Ia ingin membawa keduanya. Makanya ia menyimpul ikat yang terbuat dari tali merah di pinggangnya.


"Dia kuat sekali Kak!" adu Adiba.


Lidya menatap semua yang sibuk bekerja. Jika mereka mengatakan ada sosok jin yang sangat kuat tengah membuat kelengahan tentu akan membuat semua ketakutan dan perayaan pesta pernikahan akan hancur berantakan. Lidya menatap Safitri, kakak iparnya.


"Kak, gimana?" tanya Lidya.


"Sepertinya, jin itu takut pada kita berdua. Atau kita beritahu pada ayah?"


"Kak ... bagaimana ngomongnya?" tanya Lidya bingung.


Herman menatap dua wanita yang berdiri dengan bibir yang bergerak. Arion dan Arraya sudah kembali ceria mereka makan banyak dan bermain dengan saudaranya yang lain.


"Kalian istirahat lah jika lelah,' suruh pria itu ketika Saf dan Lidya tak kunjung bersuara.


Lidya dan Saf berusaha sebisa mungkin menggerakkan mulut mereka. Semua doa dan surah dalam Al-Qur'an tiba-tiba hilang dari ingatan mereka.


Bariana menatap dua saudaranya. Gadis kecil itu melihat perubahan wajah Arion dan Arraya yang sedikit pucat.


Arion dan Arraya menggeleng. Harun menghela napas berat. Ia yakin jika dua saudaranya itu tengah dilanda sesuatu. Harun menoleh pada bangunan yang ditempati Arraya tidur. Ia sangat yakin jika ada yang mengganggu di sana.


Aaima, Arsyad dah Fathiyya tampak berlarian dan saling berkejaran. Arraya melihat ketiganya dengan cemas. Ia mendatangi ketiga adiknya.


"Babies simi pama Ata'!"


Arraya menggandeng ketiganya. Ia menatap tajam pada sosok cantik yang mengeluarkan air mata darah itu.


"Je mag me lastig vallen. Maar niet mijn broers (Kau boleh menggangguku. Tapi tidak adik-adikku!) tekannya memperingati.


Arraya pun mengajak tiga adiknya untuk menjauhi bangunan itu. Mereka bermain kembali bersama. Kali ini Lidya yang menggantikan Arraya tidur di sana. Demian sampai heran dibuatnya.


"Sayang!' protesnya.


"Sayang, Iya mohon untuk kali ini saja . Baby Aya bobo sama kamu ya," pinta wanita itu.


Dinar yang sibuk mengurusi bayi-bayi lain tentu tak memperhatikan semuanya. Bayi Saf, Bayi kembar Maria dan Bayi Jac serta tiga bayinya sendiri ada di tangan wanita itu. Sedang para ibu sibuk membantu tuan rumah memasak untuk pesta pernikahan Juno dan Layla. Beruntung Dinar ditemani Sari, Anyelir dan Dita istri dari Hendra dan Ricky. Tapi ketiganya juga membawa anak-anaknya. Tentu repot sendiri.

__ADS_1


Malam menjelang. Semua manusia sudah tidur, pesta pernikahan tinggal satu hari lagi. sepasang pengantin menunda malam pertama mereka karena situasi yang tidak memungkinkan Rumah mereka penuh manusia. Tentu tak elok bercinta hingga kedengaran seisi rumah.


Malam terlewati dengan damai.Tak ada gangguan sama sekali. Lidya pun akhirnya meyakinkan jika dua adiknya itu sangat diminati makhluk halus karena mata mereka yang berbeda, dapat menembus dimensi lain.


Semua sibuk kembali. Layla memakai gaun pengantin pilihan sang suami. Gadis itu begitu pas memakai gaun syar'i itu. Juno sampai terpana melihatnya.


Penghulu sudah datang, semua saksi kembali dihadirkan Tidak ada pengucapan ijab kabul ulang. Karena sang kepala desa telah mendaftarkan pernikahan keduanya di kantor KUA. Petugas hanya menanyakan kebenaran pernikahan itu dan mencatat kembali di berkas yang ada.


"Jadi Ananda Juno Hamdani telah menikah dengan Ananda Laylanazraa Arumi Syahreza kemarin?" tanya petugas pencatat.


"Benar Pak!" jawab Juno tegas.


"Apa saksinya anda berdua Pak Cecep dan Pak Ahmad?" tanya petugas lagi dengan logat bahasa Sunda yang kental.


"Bener Pak!' jawab kedua pria.


"Baik ... sekarang, Ananda Juno dan Layla tanda tangan di sini!" suruh pria itu.


Kedua mempelai menandatangani semua berkas. Akhirnya keduanya sah menjadi suami istri di agama dan negara.


Keduanya memamerkan buku nikah mereka yang dibidik oleh Virgou dan Haidar. Keduanya begitu antusias mengikuti pesta yang begitu berada kekentalan tradisinya. Bunyi alunan musik Sunda terdengar. Semua tamu menyalami pengantin yang duduk di pelaminan diapit oleh Mutia dan Kakak iparnya lalu Bart dan Bram. Terkadang Bart diganti oleh Kanya. Tak ada yang duduk lama akhirnya Herman dan Khasya yang mendampingi pengantin. Karena Virgou menolak duduk di sana. terlebih ia lelah dengan para tamu yang meminta foto dari tadi. Pria itu melarikan diri dan duduk di teras rumah tak jauh dari panggung.


"Hei ... kalian nggak nyanyi?" tanya Kean pada para perusuh.


"Eundat lada musitna Ata'!" sahut Harun.


"Kan akapela bisa!" sahut Kean memberi saran.


Harun mengumpulkan semua saudaranya. Arion dan Arraya kembali tak terlihat oleh semuanya. Kean baru tersadar jika dua adiknya itu dari tadi menghilang.


"Baby Aya dan Baby Ayi kemana?" tanyanya.


Semua menoleh pada Kean. Lalu Saf dan Lidya seperti tersadar oleh sesuatu. Adiba juga tidak berada di situ.


"Babies ... Adiba?!"


Keduanya berlari menuju rumah yang diyakini jika ketiganya berada di sana.


Bersambung

__ADS_1


Next?


__ADS_2