
Rio mengkodekan beberapa anak buahnya. Delapan pria yang tersebar mengintai mansion Raka ditangkap. Mereka semua berontak.
"Kamu hanya jalan-jalan!" pekik salah satu dari mereka.
"Apa perlu kami laporkan kalian mengganggu?" ancam Rendra, salah satu bodyguard.
"Anda sudah lima kali bolak-balik jalan ini. Kami bisa menjerat anda dengan dugaan pengintaian!" lanjutnya.
"Kami hanya suruhan Tuan!" seru pria itu ketika digiring ke salah satu mobil.
Mereka dibawa ke markas dan akan disidak oleh Dahlan dan lainnya. Sedang di tempat lain seorang pria menoyor kepala wanita.
"Dasar bodoh!" makinya.
"Apa yang kalian dapatkan jika pulang nggak bawa apa-apa!" lanjutnya berteriak.
Tiga orang wanita lain menunduk. Di sana ada suami-suami mereka yang juga menatap istrinya dengan tatapan merendahkan.
"Tapi Mas Zhein memegang surat perjanjiannya. Jika kita tak akan mengganggu sama sekali jika mereka sukses!" sahut Sista.
"Jangan melawan kalo bicara!" bentak Findan, suami Sista.
Pria itu mendorong tubuh istrinya hingga jatuh ke lantai. Uang hasil pembagian warisan kemarin habis tak tau rimbanya. Semua investasi habis tak ada sisa karena ternyata palsu.
"Papa ... janan putul Mama Pa!" teriak anak-anak menangis.
"Keluar kalian ... dasar nggak ada gunanya!" bentak salah satu pria di sana.
"Anak haram!" lanjutnya menghina.
"Papa, dia anakmu!" sentak Sania pada suaminya.
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi perempuan itu. Lima anak berusia dua, tiga, empat dan paling besar lima tahun menangis. Mereka berpelukan.
"Diam kalian!" bentak Prapto murka.
Prang! Satu vas pecah, lima anak terpaksa membekap mulut mereka agar tak keluar suara. Tubuh mereka gemetaran, kelimanya melihat bagaimana ayah-ayah mereka kini memukuli ibu mereka.
"Atut Ta ... huuu ... peuldhi yut ... pita peuldhi!" ajak Dita, paling bungsu.
Gino adalah anak paling besar yang berusia lima tahun. Ia membawa perlahan tubuh empat adiknya.
Rumah besar itu sepi dari maid. Sudah lama semenjak tiga tahun lalu. Keluarga Wijaya bercerai berai, semenjak kepergian Nugie Wijaya dan Joko Wijaya. Semua memiliki anak perempuan hanya Nugie yang memiliki seorang putra yakni Zhein.
Setelah pembagian harta warisan yang cukup banyak. Hanya tinggal empat anak perempuan dari Joko Wijaya. Yakni Weni Wijaya, Sista Wijaya, Sania Wijaya dan Hapsa Wijaya. Semua menikah karena hamil duluan.
Gino Adhi Prapto, lima tahun adalah putra pertama Weni dan Prapto, Lilo Putra, empat tahun adalah putra pertama dari Sista dan Heru. Seno Agung, empat tahun adalah putra pertama dari Sania dan Apriadi, lalu Verra Ashmana, tiga tahun adalah putri dari Hapsa dan Aldo, lalu Dita Anggraini, dua tahun adalah putri kedua mereka.
Gino berhasil membawa empat adiknya keluar mansion besar itu. Harta satu-satunya yang masih tersisa. Empat anak Joko tinggal di satu atap bersama suami mereka.
"Ata' ... hiks ... pita teumana?" tanya Lilo dengan bibir bergetar.
"Lapan Ata'," keluh Verra lagi.
"Pita te dapul yut, spasa pahu lada loti," ajak Gino.
__ADS_1
Balita itu mengajak kembali ke dalam mansion. Masih terdengar teriakan ibu-ibu mereka yang minta ampun.
Semua sepupu, misan dan lainnya sudah pergi lama. Kelima anak kecil itu tentu tidak tau apa-apa. Hanya Gino yang masih sempat bertemu dengan kakeknya, tapi tidak keempat adiknya.
"Ada loti Ata'!" tunjuk Lilo.
Karena di atas meja. Maka Gino memanjat kursi untuk mengambilnya. Lalu diturunkannya satu bungkus roti itu.
"Yut pita bawa teuluan. Mumpun tat ada olan!" ajaknya.
"Te dapun aja Ta'!" ajak Seno.
Mereka pun ke dapur, membuka kulkas mengambil buah yang hampir busuk, seperti apel dan jeruk yang cukup banyak. Setelah itu mereka keluar mansion.
"Pita teumana Ata'?" tanya Verra.
"Teuluan aja dulu, talo meuleta peuldhi pita teumbali ladhi," ujar Gino.
Kelima bayi itu memakan roti dengan berbagi. Semuanya duduk di teras paviliun tempat tinggal para maid dulu. Tak lama empat pria turun dengan setengah berlari. Gino mengintip dari pagar pembatas antara paviliun dan carport.
"Mama?" bisiknya khawatir.
Balita itu khawatir dengan ibunya. Ia pun masuk kembali, pintu sengaja diganjal oleh Gino agar mereka bisa keluar masuk. Semua adiknya mengikuti.
"Mama?" panggilnya.
Empat wanita tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan, muka mereka babak belur dan berdarah-darah.
"Mama!" pekik semua anak berlarian ke arah mereka.
Ia meletakkan kepala di dada sang ibu. Ia memastikan jika detak jantung ibunya masih terdengar.
"Mama ... hiks ... Mama!" pekiknya.
Kelima bayi meraung, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Rio dan tiga kawannya sampai di mansion Wijaya. Ke-empatnya memencet bel.
"Sepertinya tak ada orang ketua!" lapor Hendro melihat suasana mansion yang berantakan.
Rio menatap bangunan besar itu. Entah kenapa hatinya berkata ada sesuatu yang terjadi di dalam sana.
"Kita tak bisa masuk jika tak diijinkan ketua. Kita bisa didakwa memasuki area tanpa ijin!" peringat Rendra ketika Rio hendak membuka paksa gerbang besar itu.
Hendra dan Rendra juga Diki kembali ke mobil mereka. Rio menatap kembali hunian besar itu. Ia mencoba kembali memencet bel.
Ting tong!
Di dalam rumah.
"Ata' lada yan datan!" ujar Seno sambil terisak.
Gino berlari ke luar ruang tengah. Bunyi bel berkali-kali terdengar. Langkah kecilnya tentu kesulitan untuk cepat sampai di teras mansion, terlebih ruang tengah itu sangat jauh di belakang.
Gino menatap handle pintu. Tangannya menggapai benda itu. Bel masih berbunyi.
"Ah ...!" pekiknya.
__ADS_1
Tangannya lecet akibat tergesek handle pintu yang tak bisa digapainya.
"Atuh halus pisa!" tekadnya.
Balita itu melompat dan "hup!"
"Tena!" pekiknya girang.
Cklek, pintu terbuka. Bel sudah tidak lagi berbunyi, balita itu berlari keluar dari pintu. Jarak antara pintu dan gerbang ada 20meter.
Rio menghela napas panjang, ia pun masuk ke mobilnya. Sedang Gino berlari sekencang mungkin mengejar mobil yang hendak melaju.
"Tolon!" pekiknya.
Bruk! Gino terjatuh, balita itu kembali bangkit dan berlari mengejar mobil yang melaju. Ia memekik, memanggil dengan air mata berderai.
Tak dipedulikannya lututnya yang sudah sobek dan mengeluarkan darah. Tiga kali ia terjatuh, mobil yang ia kejar sudah hilang dari pandangannya.
Tik! Tik! Tik! Tetesan air turun dari langit. Lalu mendadak hujan turun dengan lebatnya. Gino masih duduk bersimpuh di sana.
"Hiks ... hiks ... tolon!" pintanya lirih.
Sedang di dalam mobil Rio gelisah setengah mati.
"Kembali ke mansion Wijaya!" titahnya lagi.
"Untuk apa ketua! Ini sudah turun hujan!" sahut Hendro.
"Kita harus kembali dan melaporkan pada ketua!" lanjutnya.
"Aku bilang kembali!" bentak Rio marah.
Hendro dan lainnya terdiam. Rio adalah salah satu ajudan kepercayaan Virgou. Ketua utamanya tak akan keberatan jika Rio memberi perintah.
Mereka pun berputar lagi ke arah mansion. Cukup jauh, karena mereka sudah hampir separuh jalan.
Tak lama, kendaraan mewah itu tiba di pintu gerbang besar. Hujan turun dengan derasnya. Mata Rio menyipit.
"Aku tak salah lihat kan?" tanyanya..
"Lihat apa Ketua?" tanya Diki.
"Astagfirullah, itu bayi tertidur di sana!" teriak Rio.
Pria itu keluar dari mobil. Tak peduli hujan yang membasahi tubuh kekarnya. Pria itu mengucap basmalah ketika hendak membuka pintu gerbang. Tiba-tiba terdengar bunyi "klik". Pintu gerbang terbuka.
Rio berlari menuju sosok tubuh bayi yang tergeletak di sana. Hendro membuka pintu pagar, ia mengenakan payung, mobil perlahan masuk.
"Ketua!"
"Semua masuk ke mansion itu!" pekik Rio memberi perintah.
Bersambung.
Oh ðŸ˜ðŸ˜±
__ADS_1
next?