SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RUTINITAS


__ADS_3

Langit mengajak istrinya melihat sebuah rumah yang tak jauh dari kediaman orang tuanya. Sebuah rumah yang cukup luas dengan kolam renang di dalam.


Tentu saja Langit bisa membeli rumah seperti apa yang diinginkan Nai, sang istri. Pemuda itu tak memakai sepeserpun uang dari orang tuanya.


"Bagaimana menurutmu sayang?" tanyanya.


Nai menggeleng, gadis itu tidak menyukai halaman yang kecil. Namun, untuk membeli rumah sebesar milik orang tuanya kemungkinan Langit belum bisa mewujudkannya.


"Kak, kalo Nai kurang suka bagaimana?" tanyanya hati-hati.


Langit menatap istrinya yang masih suci itu. Pemuda itu memang belum meminta haknya sebagai seorang suami.


"Nai ingin halaman yang sedikit luas, karena pasti semua adik-adik bisa bermain," lanjutnya menjelaskan.


Langit mengangguk tanda mengerti. Artinya ia harus membeli sebuah rumah yang halamannya luas dan banyak kamar. Karena yakin jika semua anak ingin menginap di rumah yang akan ditempatinya nanti.


"Kalau begitu kita cari mansion saja ya," ujar Langit.


"Nggak perlu mansion kakak. Rumah yang sebesar Mama dan Papa punya," ujar Nai.


"Agak susah kalo di sini sayang. Rumah sebesar Mama udah nggak dibangun lagi," jawab sang suami.


Akhirnya, mereka pulang ke rumah dengan menggunakan mobil yang juga baru saja dibeli oleh Langit.


"Kita tanya Daddy, rumah seperti milik Kak Ion pasti Daddy punya info," ujar Nai, Langit hanya mengangguk.


"Kita bisa pakai mahar yang kemarin buat beli rumah sayang," lanjut Nai.


Langit menghentikan mobilnya, ia menatap sang istri. Ada netra ketulusan di sana. Langit tersenyum.


"Tidak perlu sayang, rumah adalah tanggung jawabku," ujar pemuda itu.


"Tidak masalah sayang," ujar Nai mengelus pipi suaminya lembut.


Kini keduanya sampai di mansion Virgou. Keduanya disambut oleh banyak anak.


"Ata' tot eundat pawa pa'a-pa'a?" tanya Harun kecewa.


"Oh sayang ... maaf ya, tadi hanya muter-muter komplek nggak sampai keluar rumah," ujar Langit menyesal.


"Baby, kakaknya tadi ngucapin salam kok nggak dijawab sih?" tegur Maria.


"Oh ... wa'alaitumusalam!" jawab Harun malas.


Langit dan Nai memang lupa jika semua anak tak memperdulikan apapun kecuali bawa makanan dari luar.


"Sudah abaikan saja mereka ya," ujar Seruni.


"Mami kan masak banyak makanan," lanjutnya.


Harun akhirnya kembali bersama pasukannya. Azha, Bariana, Arion dan Arraya, Ari, Aminah, Maryam, Aisya, Fatih, Al dan El Bara, Fathiyya, Aliyah, Arsyad dan Aaima kini memiliki saudara baru yakni Della, Firman dan Alia.


Angel, Fael, Zizam dan Izat seumuran dengan Alia. Keempat bayi itu sudah merangkak kemana-mana.


"Apang!" pekik Alia.

__ADS_1


"Apang setolah adet," sahut Della yang menjaga semua bayi.


Maria tersentuh dengan kepedulian Della. Bayi dua tahun itu sangat bisa diandalkan menjaga semua bayi. Della akan sigap membuang semua benda yang dianggapnya berbahaya.


"Det Encel, janan pedan imi ya. Imi eundat poleh pimasutin pulut!" larangnya ketika Angel mengambil satu buah mainan Lego dan hendak memasukkan dalam mulutnya.


"Ahhhh!" pekik Angel marah.


"Baby, nurut sama kakak ya. Itu memang nggak boleh masuk mulut,' ujar Maria menenangkan bayi cantiknya yang sama bar-bar dengan sang Kakak Bariana.


"Oteh!" angguk Angel menurut.


"Uuuh ... syantitnya Adet Encel," puji Della.


Angel tersenyum lalu bergulingan karena malu. Maria hanya bisa menggeleng melihat tingkah putrinya itu. Sedang Nai membantu semua ibu menyusun makanan yang dibuat Seruni.


"Langit," Terra memanggil menantunya.


"Ya Ma," sahut pemuda itu.


Langit memang libur hari ini karena Satrio sedang manja dengan sang ayah. Remaja itu akan menginjak sembilan belas tahun, akan berubah jadi seorang pemuda.


"Kamu sudah dapat rumahnya?" tanya Terra.


"Nai nggak suka yang tadi Ma, halamannya kurang luas," jawab Langit.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Rumah itu memang bagian penting sayang. Kita keluarga besar, pastinya ingin rumah yang besar karena keluarga kita banyak," ujar Terra.


Tak lama para kakak pulang dari sekolah. Della, Firman dan Alia sangat senang jika kakak mereka pulang dengan cepat.


"Iya Mom!" sahut semuanya menurut.


"Apang ... padhi Al pisa selepet talet pe tisat woh!' ujar Al Bara bangga.


"Adik selepet cicak?" tanya Arfhan meyakinkan, bayi tampan itu mengangguk kuat.


"Kenapa cicak diselepet Baby?" tanya Benua.


"Pisen Ata'!" jawab Al Bara santai.


"Jangan lagi Baby. Hewan kan juga butuh hidup. Nanti kalo cicak diselepet yang nangkap nyamuk siapa?" ujar Benua lagi.


"Ata', setalan sisatna pisa matan nasi woh!" ujar Fathiyya.


"Cicaknya makan nasi?" tanya Arfhan memastikan ucapan Fathiyya.


"Biya Apan ... Al pala padhi selepet sisatna talena matan pupulna paypi Yiya," ujar bayi cantik itu.


"Oh makan bubur punya adik Alia?" tanya Arfhan memastikan perkataan Fathiyya.


"Piya Apan! Pasa Apan pidat meunelti pahasa tamih syih!" sungut Aaima kini kesal.


Arfhan hanya menggaruk kepalanya. Kali ini ia tak dapat mencerna perkataan dari Aaima. Bomesh menenangkan saudaranya itu.


"Nanti kamu juga ngerti kok. Kan Baby Della pake bahasa sama seperti Baby Aaima," ujarnya.

__ADS_1


"Iya sih ... tapi banyak juga aku nggak ngerti," sahut Arfhan.


"Eh ... duys!' Arsyad tiba-tiba mengingat sesuatu.


Semua bayi seumurannya langsung menoleh padanya. Arsyad tampak begitu serius kali ini.


"Pasa teumalin tan atuh pihat Mama ya, susep-susep peyutna woh!" lapornya kemudian.


"Atuh tila tamuh mawu nomon pa'a Syasyad!" sahut Aaima kesal.


"Tan Mama pilan talo pi peyutna lada padet payina!" ujar Azha mengingat.


"Eum ... piya judha ya," sahut Arsyad pada akhirnya.


"Oh ... piss Dey Syasyad!" sahut Fathiyya kini memutar mata malas.


"Pasih pendin Mama Anini yan pedan-pedan peuyut peundili,' sahut Fathiyya lagi.


"Bommy atuh palah nelus peuyut Baba don!" lanjutnya memberi info.


"Woh ... tot pisa? Tan yan pamil Bommy, putan Baba!" sahut Al Bara bingung.


"Nah ... mata ipu atuh judha heyan!" sahut Fathiyya pusing sendiri.


"Tot heyan syih ... heyan ipu banana Yayah woh!" sahut Aisya tak suka.


"Putan matsut nomon Yayah Heyan Syiyah!" sahut Fathiyya mulai ikut kesal.


"Tot malah lali te Yayah Heyan sih?" lanjutnya sengit.


"Tewus Heyan pisimi matsutna pa'a?" tanya Aisya meninggikan suaranya.


Nai sudah merekam keributan antar saudara itu. Sang gadis tersenyum lebar dengan aksi debat para bayi yang mestinya belum lancar bicara itu.


"Atuh putan nomonin Yayah Heyan pototna!" sahut Fathiyya sengit.


"Hei ... tot malah libut syih!' sentak Harun menyudahi pertengkaran mulut antar dua adiknya itu.


"Ata' putan matsut atuh nomon Yayah Heyan!" cebik Fathiyya.


"Biya ... atuh pahu matsutmu," ujar Harun.


"Heyan pisimi ipu putan nama wowan Baby Aisyah!" jelasnya kemudian.


"Heyan pisimi ipu matsutna pinun dithu!" lanjutnya.


"Oh ... peudhitu, pilan don dali padhi!" sahut Aisya mengerti.


"Ipu beustina tamuh eundat pusyah panya ladhi Syasyiah!" gerutu Fathiyya malas.


"Atuh banya peumastitan syaja Fhiyya!" ujar Aisya membela diri.


bersambung.


Atur aja kalian debat apa Baby.

__ADS_1


Next?


__ADS_2