SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MEREBUT HAK


__ADS_3

Kedatangan Dougher Young di sebuah even tentu menjadi sorotan. Semua pihak tentu bertanya untuk apa pebisnis sekelas Bart Dougher Young berada di sebuah event cipta karya.


Ada sepuluh negara menggugat even dengan dugaan kecurangan. Beberapa karya terbaik diduga diklaim milik panitia tanpa lolos seleksi terlebih dahulu.


Semua membawa bukti konkrit atas kepemilikan karya. Beberapa dapat merebut hak mereka. Namun tak sedikit yang kesulitan karena minim bukti.


Virgou, Herman, Bart, Bram, Andoro dan Remario mengantar Lino ke event tersebut sebagai peserta khusus.


"Pihak penyelenggara bersikeras jika robot hafidz itu adalah milik mereka. Blue print sudah diselidiki dan itu sah!" ujar kepala hak cipta.


Virgou menyerahkan bukti lain. Catatan pembuatan dan juga catatan pembelian bahan baku robot. Hal ini membuat tim investigasi harus mengkaji ulang dengan membuktikan hasil karya.


"Baby ... apa kamu siap?" tanya Bram mengusap kepala Lino dengan sayang.


"Siap Kakek!" jawab bocah itu berani.


Lino sebenarnya telah mengajukan protes. Tapi karena ia masuk lewat jalur independen atau tanpa wali. Ia kesulitan dan dianggap sebagai kaum minoritas. Terlebih ia hanya seorang anak piatu yang tanpa ayah.


"Kami menolak kehadiran Dougher Young di sini!" ujar Lexy salah satu panitia lomba di mana Lino ikut serta.


"Kami adalah wali dari Lino!" bentak Herman.


Pria itu tentu mengeluarkan bukti jika Lino adalah putra angkatnya.


"Berarti Dougher Young tak perlu ikut campur!" tolak panitia lomba.


"Oh ... tidak bisa!" sengit Virgou.


"Herman Triatmodjo adalah paman dari Terra, adik sepupuku. Jadi aku harus ikut andil membela keluargaku!" tekan Virgou.


Dua pria yang menjadi penanggung jawab event menelan saliva kasar. Herman memang tidak begitu terkenal di kawasan internasional. Tetapi namanya sudah tak asing di pebisnis seluruh Asia. Kean mulai mengkoalisi perusahaan Herman yang ada di Amerika.


"Sudah jangan banyak berdebat! Boleh dimulai pembuatannya!"


"Kami tak perlu membuat lagi. Ini milik kami jadi kami bawa robot itu!" ujar Lexy angkuh.


Semua kini berada di satu ruangan besar. Lino dengan cekatan merakit semua komponen robot. Ia tentu hafal di luar kepala.


Satu chip dimasukkan ke dalam inti robot. Lino mengambil laptop miliknya sendiri. Sebuah laptop usang hanya tinggal mencocokkan data dan menggabungkan chip inti.


"Kapan dia punya laptop itu?" bisik Bart pada Virgou.


"Dia design sendiri laptop itu Grandpa," jawab Virgou juga berbisik.


Semua menatap bangga dengan kegeniusan Lino. Wajahnya diabadikan di sebuah layar hingga viral di seluruh dunia.


Santo duduk di kursi kebesarannya. Sebagai pengusaha kecil, ia mulai mengembangkan bisnis. Delia sangat setia di sisinya, keduanya tak memiliki anak. Hanya anak bawaan Delia yang kini sudah berusia sembilan tahun.


"Pa, Alina minta uang lagi katanya," ujar Delia setelah membaca pesan di ponselnya.


"Tidak!' jawab Santo tegas.


"Mas ... jangan pelit sama anak!" teriak Delia marah.

__ADS_1


"Ma ... jangan terus ngikutin kemauan anak lah!" seru Santo.


"Kenapa ... perusahaan ini adalah miliknya. Ingat ya!"


"Oh oke ... kalau begitu silahkan ambil alih!" teriak Santo tersulut emosi.


Delia panik ketika Santo gegas bangkit dari kursinya. Wanita itu menahan lengan Santo.


"Pemirsa bibit unggul bocah asal Indonesia mengguncang event internasional ... Lino Putra Herman Triatmodjo usia sepuluh tahun kini tengah menuntut hak cipta di depan dewan hak cipta dunia!"


Sebuah layar menayangkan Lino yang tengah merakit robot. Santo menoleh. Putra yang ia buang bersama dua saudara kembarnya.


"Aku menceraikamu Delia!" tukasnya cepat.


Delia meraung, ia bersimpuh di kaki suaminya. Ia memohon dan menghiba.


"Tidak Delia ... toh kau bilang perusahaan ini adalah milik putrimu. Jadi, biarkan kau urus sendiri. Aku mau ikut tiga anakku!"


"Tapi Alia juga putrimu!"


"Oh Delia ... seluruh warga tau siapa ayah biologis Alia!" sindir Santo sinis.


"Tapi kau sudah menikmati kekayaanku!" teriak Delia tak terima.


"Aku sudah membayarnya dengan bekerja sebagai kacungmu sepuluh tahun ini Delia!" sahut Santo meradang.


Delia menangis, ia terus memohon. Jujur ia memang selalu merendahkan pria yang menjadi suaminya itu.


"Anak-anakmu juga tak akan mau menerimamu!' teriak Delia menyadarkan Santo.


"Tidak apa-apa, aku yakin mereka dididik dengan baik dan akan menerimaku selama aku berkelakuan baik!" putus pria itu.


"Mas ... jangan mas ... aku mohon!" teriak Delia yang digubris Santo.


Pria itu memilih menaiki taksi. Ia tak mengambil kunci mobil mewah milik istrinya itu.


Delia menyusul dengan menggunakan mobil. Sampai rumah, Alina menyambutnya dengan si pedas.


"Papa ... kenapa nggak mau kasih uang ke aku?" tanya gadis kecil itu dengan pandangan marah.


"Itu uangku. Papa nggak berhak mengatur-atur!"


Didikan Delia membuat Alina sangat kurang ajar pada Santo. Sang ibu kerap kali mengatakan jika Santo hanya numpang hidup bersama mereka.


"Hei ... dengar anak kecil!" tunjuk Santo mulai marah.


Alina menyurut mundur. Santo benar-benar sudah tak tahan dengan emosi yang ia tahan selama sepuluh tahun. Ia benar-benar menyesal meninggalkan mendiang istri dan tiga anak kandungnya.


"Jika tanpa aku. Kau hanya anak haram!" ujarnya sinis.


Alina mematung, ia menatap kilatan marah Santo. Delia datang dengan air mata di pipi. Ia terlambat.


"Mas!"

__ADS_1


"Papa bohong!" teriak Alina.


"Aku memang bukan ayahmu Alina. Tapi, kau hadir sebelum aku menikahi ibumu!" lanjutnya.


"Ibumu hamil tanpa ada yang mau bertanggung jawab padanya!" lanjutnya menyeringai.


Sementara di ruangan even. Panitia lomba panik karena robohnya tak berfungsi.


"Baby, itu kenapa?" tanya Virgou.


Lino mengerutkan keningnya. Lalu ia teringat. Chip inti yang ditanam hanya mau mendengar suaranya. Pihak panitia mereset program robot maka keseluruhan item benda itu tak berfungsi.


"Lino tau itu kenapa!" seru bocah sepuluh tahun itu.


"Kenapa Nak?" tanya kepala hak cipta melalui juru translate mereka.


"Robot Hafidz hanya patuh pada suara Lino. Lino buat agar robot mengikuti perintah dari Lino saja!" terang bocah itu.


"Jadi maksudmu, robot itu tak berfungsi jika tidak mendengar suaramu?" tanya salah satu panitia inti.


"Benar, tapi sepertinya pihak even mereset semua data jadi robot tak merespon apapun!" jawab Lino.


Bart menatap bangga pada bocah itu. Herman terlebih lagi.


"Oke Boy, jika kau bisa menghidupkan robot mati itu. Maka aku sendiri yang mencoret dan mem-blacklist pihak event selamanya!" ujar pria itu menantang Lino.


Robot diserahkan, Lino mengambil obeng dan mengambil data di dalamnya. Hanya butuh dua menit. Setelah penanaman chip. Lino menepuk tangan sekali. Robot bergerak.


"Assalamualaikum Sidiq ... baca surah Al-fatihah!" perintah bocah itu.


Lalu terdengar lantunan surah yang diminta Lino dari robot tersebut diikuti oleh robot yang baru diciptakan Lino.


Lino memenangkan bading. Ia membawa sertifikat jika robot hafidz itu adalah miliknya. Gomesh datang dan membisikkan sesuatu.


"Jadi Kim Hansel pemilik event itu?" Gomesh mengangguk.


"Urus dia!" perintah Virgou.


"Daddy ... puasa Daddy jadi percuma loh!" celetuk Lino memperingati pria dengan sejuta pesona itu.


Virgou berdecak, Remario tertawa melihat kesengsaraan pria itu.


"Bebaskan dia!" titahnya yang membuat Lino senang.


"Ba bowu Daddy!"


"Ba bowu pu baby!"


bersambung.


ah ... lega ... tapi ... masih ada lagi masalah.


Next?

__ADS_1


__ADS_2