
Pagi menjelang, Ella, Bastian, Billy dan Martha berangkat menggunakan bus sekolah. Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila yang masih sekolah kini kelas dua SMA sedikit iri.
"Di sini ada jemputannya ya? Ada haltenya lagi," keluh Rasya.
"Di Indonesia sebenarnya ada di beberapa kota besar di Indonesia. Tetapi, kita harus berangkat lebih pagi dan di jam-jam tertentu," sahut Sean.
"Coba ada bus sekolah di desa ya. Kan anak-anak nggak harus berjuang nyebrang sungai yang alirannya deras. Nggak nyebrang jembatan yang sudah rusak," sahut Rasya.
"Itu mestinya dipikirkan oleh kepala desa setempat sayang," sahut Kanya.
"Nanti kita jemput mereka pulang sekolah yuk!" ajak Kean.
"Yuk!" sahut Al senang.
"Kalian jemput mereka dengan bus sayang. Daddy nanti sewakan untuk kalian ya," ujar Gabe.
"Oteh Daddy!"
"Alsh ntut!" pekik Arsh tak mau ditinggal.
"Apa Baby kentut?" kekeh Satrio.
"Pas!"
Arsh menerjang remaja besar itu. Satrio tergelak, ia berkelit dan berlari mengelak tangkapan Arsh hingga bayi itu menangis.
"Mas ... jangan gitu!" peringat Adiba.
Satrio menurut, Arsh yang menangis digendong Adiba dan menciumi bayi tampan itu.
"Ata' Pipa ... Pas Ilo atal ... hiks ... hiks!" adu Arsh.
"Biarin aja, main sama Ari dan Aminah yuk!" ajak gadis itu.
Adiba melirik sebal pada Satrio yang menggaruk kepalanya sambil cengengesan. Tak ada yang curiga, karena memang semua bersikap seperti itu. Herman sangat kesal sekali, tangannya memutih karena mengepal begitu kuat.
"Ayah," panggil sang istri lembut.
Herman menatap istrinya yang tersenyum. Wanita itu mengangguk dan mengelus tangan suaminya.
"Kita menunggu Adiba di usia tujuh belas tahun ya," ujar wanita itu.
Herman mengangguk, ia melihat dua gadisnya yakni Nai dan Arimbi, mereka tengah bercengkrama dengan adik-adiknya. Dua gadis itu sangat cantik, Herman takut akan ada laki-laki datang dan hanya untuk bermain-main dengan kedua anak gadisnya.
"Aku akan bicara lagi dengan Haidar dan Bram tentang masalah ini!" tekadnya.
"Apah!" pekik Aaric.
Bayi tiga bulan itu kini tengah mengoceh bersama saudara bayinya. Aliyah sudah enam bulan, Fael dan Angel sudah lima bulan, sedang Izzat empat bulan, Zaa dan Nisa yang berusia sama dengan Sena, Alvan dan Aaric lalu paling bungsu adalah Aarav dan Chira. Kaki mereka bergerak menendang ke udara. Dinar begitu bahagia tiga bayinya sehat dan kini mulai menunjukkan bobot badannya. Ketiganya rakus menyusu. Semua bayi dititipkan pada wanita bertubuh tambun itu.
"Bibu," sapa Sari.
__ADS_1
Wanita itu meletakkan bayi perempuannya di situ, lalu disusul bayi Hendra. Semua bayi berceloteh riang. Sari menggigit lengan Dinar.
"Sayang!" Dinar kesal dengan kelakuan salah satu putrinya itu.
Sari terkekeh, ia dan Anyelir memang sangat suka menggigit gemas lengan Dinar.
"Habis itu empuk," sahut mereka manja.
Dinar hanya tersenyum lalu memencet hidung keduanya. Lidya datang bersama Saf, mereka menyingkirkan Anyelir dan Sari.
"Sana!" usir Saf.
"Bibu!" rengek Sari dan Anyelir.
"Gantian!" sengit Lidya.
Harun, Azha, Bariana, Arion dan Arraya memilih kembali menyusuri kastil besar itu.
"Pita mawu temana ladhi?" tanya Azha.
"Teumalin pintat satu suma satu tamal yan pita pihat," ujar Harun. "Dala-dala Benpa Leon datan tipa-pita!"
"Wayoh!" angguk yang lainnya setuju.
"Ata'!" pekik Arsh. "Ntut!"
"Tami judha!" pekik Maryam.
Bayi montok itu digandeng Bariana dan Arraya. Lalu Maryam, Aisya dan Al Fatih bergandengan, kemudian Aaima menggandeng Arsyad.
"Pa, maaf. Apa di masjid dan pesantren kemarin tidak mengadakan maulid nabi? " tajya Rama, salah satu anak angkat Bart.
"Astaga, Papa lupa. Apa tanggalnya udah terlewat ya?" Rama mengangguk.
"Baiklah, kalian pergi ke pesantren dan adakan acara itu!' titah Bart.
"Nggak sama Papa?" cicit Rama.
"Papa menyusul sayang, kalian pergi dengan Kak Gabe ya!" ujarnya.
Gabe tentu senang, David juga ingin membantu lalu Haidar ikut serta bersama Budiman.
"Butuh bantuan perempuan nggak?" tawar Nai.
"Boleh, apa kita adakan bazar ya? Oh ya, Kak Iya kan ada ijin buka praktek sementara, apa boleh kita minta bantuan?" ujar Azlan.
"Tentu sayang," sahut Lidya.
"Makasih Kak!"
Gabe menyewa dua bus. Yang satu akan dipakai menjemput Ella, Bastian, Billy dan Martha dan satunya mengantar mereka ke masjid dan pesantren.
__ADS_1
Ketika sampai ternyata panitia masjid tengah berembuk mengadakan acara itu. Namun, semuanya terkendala ijin.
"Kita sedikit ditekan dalam membuat acara keagamaan di sini Tuan," ujar ketua dewan kemakmuran masjid.
"Kita hilangkan saja acara keagamaannya, diganti bazar sosial!" ujar Rama memberi usul.
"Ah, benar juga. Kita tidak akan bisa menyelenggarakan acara jika tetap bersikeras menggunakan tajuk ini di negara di mana kita adalah minoritas," ujar Gabe.
Akhirnya ijin didapatkan, tentu saja menggunakan pengaruh Bart sebagai pebisnis nomor satu di negara itu. Lalu, berberapa aliansi keagamaan khusus Islam ikut serta.
"Kita memang dapat ijin tapi tetap dilarang keras menggunakan atribut-atribut keagamaan kita," kekeh ketua dewan kemakmuran masjid.
"Ya, sudah. Jika kita gunakan kupluk putih kan mereka tidak melarang, karena itu bukan tradisi Islam, lalu baju koko juga sarung. Sarung sudah menjadi trend mode busana di dunia," sahut David.
Mereka mengangguk setuju. Rapat selesai anggaran telah digelontorkan, bukan masalah jika uang banyak dikeluarkan oleh Bart. Pria itu juga melobi beberapa aparat kepolisian yang beragama Islam juga beberapa staf pemerintahan yang beragama sama.
"Kita juga didukung dengan badan Islam seluruh Eropa!" sahut David senang.
Hanya butuh dua hari saja untuk mewujudkan acara itu. Lima puluh anak angkat Bart menjadi panitia bazar. Beberapa toko makanan dan kue disajikan secara gratis. Banyak pengusaha datang karena mereka memang penyuka makanan Indonesia. Bart menggandeng pengusaha makanan Indonesia ikut berpartisipasi.
"Ramai sekali Dad, sepertinya acara ini sukses!" ujar Bram senang melihat huforia para pengunjung yang datang.
"Kita hanya memasang musik khas padang pasir, agar tidak terlalu sepi," ujar ketua dewan kemakmuran masjid.
"Acara ini terlaksana karena semua anak-anak mengingatkanku akan ada sebuah peristiwa besar yakni kelahiran Nabi Allah, Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam," ujar pria itu.
"Kalau di negeri kita lebih merdu karena melantunkan shalawat nabi," sahut Herman.
"Kita ada di negara orang di mana kita adalah minoritas. Di mana kaki bumi dipijak di sana langit dijunjung!" sahut Bart.
Sementara itu Arimbi dan Nai tengah memeriksa banyak anak-anak tuna wisma yang datang bersama ayah dan ibu mereka. Semua mendapat penanganan medis.
"Hufh lelahnya!" keluh Nai.
Keringat menetes di dahi gadis itu. Sebuah tangan besar menjulur dan mengusap lelehan keringat itu. Sepasang netra menatap sang gadis dengan lembut. Bibir Nai mengulas senyum indah.
"Kak Langit, mau diobati?" canda gadis itu.
"Iya, Nona ... tolong obati hatiku yang merana mendamba cintamu," sahut Langit menggombal.
Nai bersemu merah, kelakuan mereka disorot para perusuh junior.
"Oh ... Ata' Nai ... euntaulah patahalituh ... atuh pidat ninin euntau tendelam!" sahut Al Bara.
Nai dan Langit terkisap, keduanya malu bukan main. El Bara melanjutkan gombalnya.
"Jita euntau pinin teumpelem ... teumpelemlah pi hatituh yan palin talam!"
"Oh ... Ata' Nai ... atuh ba bowu!"
Bersambung.
__ADS_1
Al dan El Bara bikin romantis ambyar. ðŸ¤ðŸ¤¦
next?