
"Eh ... apa katamu?" tanya Rion tak mengerti.
"Iya, kita hidup bersama dan menikmati semua tanpa ada ikatan," jawab sang gadis di ujung telepon.
Rion tak sampai pada perkataan gadis itu. Ia memutuskan begitu saja telepon dari Sahira.
"Hidup bersama?" tanyanya bingung.
"Apa maksudnya hidup bersama-sama?" lanjutnya mulai pusing.
Sedang di tempat lain. Sahira menatap layar ponselnya yang gelap. Hanya butuh satu minggu, ia jatuh dalam pesona Rion.
"Rion, aku mencintaimu!" ujarnya bermonolog.
Kemarin, ia dikenalkan dengan sepuluh adik angkat dari pemuda itu. Bahkan Rion memperlihatkan betapa banyaknya adik-adiknya. Pemuda itu hidup dengan keluarga besar.
Sahira yang biasa hidup berdua saja dengan ibunya. Tampak tak menyukai keramaian. Gadis itu ingin membawa Rion menjauh dari keluarga dan hidup berdua bersamanya.
"Tak bisa kah kita hidup berdua saja tanpa ada anak?" tanyanya dalam hati.
"Sungguh aku trauma dengan pernikahan. Mama cerai dengan Papa karena Papa yang egois tak mau ikut Mama ke Eropa," lanjutnya bermonolog.
"Kalau menikah, mungkin kita bisa menikah nanti setelah aku menerima hidup komitmen dan kau lepas dari keluarga besarmu,"
Sahira mengetik di ponselnya, lalu mengirim ke nomor pemuda yang baru saja ia hubungi. Lalu, ia bangkit. Sahira mengenakan lingerie seksi warna merah menyala yang begitu kontras dengan warna kulitnya.
Sahira berpose seseksi mungkin dan mengirimkannya ke nomor barusan.
"Aku yakin, ketika melihat fotoku ini. Kau tak dapat tidur Rion sayang," gumamnya lirih.
Sedang di rumah Terra. Rion yang bingung dengan maksud gadis itu jadi pusing sendiri, ia begitu penasaran.
Pemuda itu bangkit dari ranjangnya lalu keluar kamar. Mencari keberadaan ayah atau ibunya. Ia pastikan keduanya belum tidur.
"Maa ... Pa ... boleh Ion masuk?" tanyanya ketika mengetuk pintu.
Terdengar bunyi kunci pintu terbuka. Dua wajah bingung langsung terlihat.
"Masuk Baby," ajak Haidar.
Pria itu sudah tau apa yang dilakukan putranya itu. Virgou mengadu dengan sangat marah akan kelakuan Rion tadi sore. Tetapi, karena Terra telah memarahinya, maka Haidar tak lagi memarahi Rion.
"Duduklah," pinta Terra.
Ketiganya duduk di sofa. Rion seperti bingung ingin bertanya tentang hal yang baru saja ia dengar.
"Ada apa Baby, jangan bikin Papa penasaran!" tukas Haidar kesal.
"Pa ... Ma ... maksudnya hidup bersama itu apa?" tanya Rion dengan muka polosnya.
Kali ini giliran Terra dan Haidar yang terhenyak mendengar pertanyaan putranya.
__ADS_1
"Baby nggak tau arti hidup bersama?" Rion mengangguk.
"Hidup bersama-sama seperti kita ini kan?" tanyanya benar-benar polos.
Haidar menggaruk kepalanya, sedang Terra menyembunyikan senyum. Putranya itu benar-benar polos perihal kehidupan yang mengarah pada kebebasan.
"Baby dapat kata-kata itu darimana?" tanya Haidar.
"Tadi Sahira telepon Ion, terus ngajak hidup bersama. Dia nggak mau nikah dan nggak mau punya anak juga. Ion bingung Pa, gimana maksud hidup bersama versi Sahira itu?"
Terra menggeram, tangannya mengepal kuat-kuat, Haidar juga sangat marah dengan ajakan seorang gadis yang mestinya menjaga kehormatannya itu.
"Loh kok Mama sama Papa kayak marah gitu?" tanya Rion makin bingung.
"Apa artinya jelek banget?" tanyanya benar-benar tak mengerti.
Terra dan Haidar tak bisa marah. Bayi besar mereka masih sangat polos, istilah-istilah vulgar belum Rion ketahui sama sekali.
"Perempuan itu ngajak kamu kumpul kebo, nak!' ketus Haidar.
Rion terdiam, dalam bayangannya Sahira mengajak hidup bersama dengan kerbau di kandang atau hidup di kandang bersama kerbau.
"Astaga ... dia tega banget!" pekik Rion tak percaya.
Kali ini Terra dan Haidar lagi-lagi tak mengerti maksud Rion.
"Apanya yang tega Baby?" tanya Terra sedikit kesal.
Dan lagi-lagi Terra dan Haidar super takjub dengan kepolosan bayi besar mereka itu. Rion mendumal panjang pendek. Ia mencium ayah dan ibunya lalu meninggalkan kamar keduanya.
Haidar menatap istrinya. Ia nyaris saja tertawa melihat kepolosan Rion yang sukses membuatnya tak habis pikir.
"Sayang, umur berapa kamu tahu istilah kumpul kebo?" tanyanya.
"Usia sepuluh tahunan Te tau apa itu kumpul kebo," jawab Terra.
"Lalu kenapa bayi kita yang sudah sebesar itu tidak mengetahui sama sekali istilah kumpul kebo?" tanya Haidar bingung.
"Itu karena ruang lingkupnya benar sayang," jawab Terra dengan senyum lebar.
Sementara itu Nai memegang ponsel kakaknya. Tak ada larangan sama sekali, karena memang tak ada privasi. Gadis itu begitu marah dengan foto-foto yang dikirim di sana. Nai segera menghapus semua foto itu dari ruang chat juga galeri ponsel milik kakak panutannya itu.
"Kau ingin merusak otak kakakku?" desis gadis itu marah.
"Jangan harap bisa, aku pastikan ponselmu tak bisa lagi menghubungi nomor kakakku!" tekannya dengan seringai sadis.
Nai sudah menyimpan nomor pengirim foto seksi. Ponsel Rion diletakkan di tempat semula, lalu keluar dari kamar. Rion masuk setelah lima menit Nai keluar.
Nai kini berada di kamarnya. Gadis itu mengetik di layar BraveSamrt ponselnya. Hanya sekejap saja nomor dan juga ponsel Sahira tak akan bisa menghubungi Rion.
"Mau pakai nomor siapa pun kau tak akan bisa mengganggu kakakku gadis binal!" seringainya dengan mata berkilat marah.
__ADS_1
Pagi menjelang. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, Sean dengan tugasnya mengantar semua adik yang sekolah dasar. Rion berangkat bersama ayahnya dan juga Al. Nai, dan Daud juga berangkat bersama.
Rumah Terra tinggal para perusuh berikut pada bayi, Maria juga di sana, membantu Terra mengurus semua bayi mereka.
Sedang di bandara, Sahira diantar ayahnya. Putro melihat putrinya yang berkali-kali menelepon seseorang.
"Mau menelepon siapa, Nduk?" tanyanya lembut.
"Ini, Pa ... mau hubungi Rion kok susah ya?" tanyanya sedikit kesal.
"Ini hari kerja Nduk, mungkin Rion tengah sibuk?"
Sahira akhirnya berhenti untuk menelpon pria yang telah mengusik mimpi basahnya itu.
(Rion Pramana Putra Dougher Young).
Pemuda itu benar-benar tampan luar biasa. Siapa yang tak langsung jatuh hati padanya.
Sahira duduk di kursi tunggu. Pesawatnya akan baru akan berangkat satu jam lagi.
"Papa mboten tumut [NDEREK] sahira dhateng Eropa?" (Papa nggak ikut Sahira ke Eropa?) tanya gadis itu lembut.
"Maaf sayang. Di sini Papa punya keluarga," jawab Putro.
"Apa Sahira bukan keluarga Papa?"
"Kau adalah putriku, Nduk. Jika kau mau, ikut dengan kami," ajak Putro.
"Papa tau aku tak suka dengan keramaian," ujarnya.
"Nak, kami keluargamu. Darahmu dan darah dengan dua adikmu adalah sama," ujar Putro membujuk.
"Maaf Pa ... Eropa jauh lebih sepi di banding di sini. Orang-orang terlalu ikut campur," tolaknya.
Putro menghela napas panjang. Ia tadinya sedikit abai dengan dua anak hasil pernikahannya yang kedua. Tetapi melihat Rion yang begitu dekat dengan keluarga, bahkan pemuda itu sangat melindungi keluarga angkatnya.
"Nak, Papa dan Mama juga adik-adik pasti menunggumu pulang ke sini, pintu rumah Papa terbuka untukmu," ujar pria itu.
Sahira menatap pintu masuk bandara, dari tadi ia mencoba mengirim pesan pada Rion, tetapi selalu gagal. Bahkan ketika ia meminjam ponsel ayahnya juga gagal.
"Pamit Pa!"
Sahira pun pergi ke gerbang no 3. Di sana ia kembali menatap ayahnya. Putro merentangkan tangan, Sahira membuang muka dan berlalu begitu saja.
"Bapak akan menunggumu Nak ...," gumamnya lirih.
Bersambung.
Bye Sahira ...
__ADS_1
next?