
Adiba tengah melatih diri sebagai da'i. Gadis berusia mau tiga belas tahun itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lagi lomba da'i cilik antar pesantren. Jika ia lolos maka ia akan masuk program siaran televisi lomba da'i.
Adiba dibimbing langsung oleh gurunya Ustazah Lyla, seorang alumni pondok pesantren ternama di Indonesia. Guru yang berusia tiga puluh delapan tahun itu juga yang melatih Adiba mengaji dan menjadi Qoriah terbaik di pesantrennya.
"Jangan seperti itu sayang. Ajak bicara para pendengarmu. Usahakan mereka tertarik dengan apa yang kamu bicarakan hingga ia mau mendengarkan apa yang kamu sampaikan," jelasnya memperbaiki cara Adiba bicara.
"Baik Ustadzah," sahut gadis kecil itu.
"Ya sudah, kita selesai dulu latihannya. Belajar lagi ya. Kalau bisa di depan cermin, agar kamu tau seperti apa kamu bicara," ujar Ustadzah Lyla.
Adiba mengangguk, ia kini mengambil tasnya. Semua adiknya sudah pulang dan ada di rumah Terra. Kini Rion meminta semua adik dijemput dan diantarkan ke sana. Hanya tinggal Adiba saja yang masih di pesantren.
Gadis itu keluar bangunan, di sana sudah menunggu dua pengawal. Adiba cukup terkejut melihatnya.
"Loh Om kok di sini?" tanyanya.
Gadis itu mengenal Juno dan Ricky, kedua pria itu tadi ikut dengannya bersama adik-adik dan pengawal lainnya.
"Kami diminta untuk menunggui anda Nona," jawab Juno sambil membungkuk hormat.
Gadis itu pun mengangguk tanda mengerti. Sebuah mobil menunggu di sana, Adiba sedikit takut.
"Nona, jangan takut. Tuan Rion yang membeli mobil untuk keperluan anda!"
Adiba menghela napas panjang. Rupanya sang Kakak ipar begitu peduli padanya. Gadis itu sedikit tak menyukai hal ini. Beberapa anak santri menatapnya sambil berbisik-bisik.
"Nona!" panggil Ricky.
Mau tak mau, ia pun naik ke mobil. Kendaraan roda empat ibu bergerak meninggalkan depan gerbang panti. Sampai rumah Terra, gadis itu masuk setelah memberi salam.
"Sayang, ganti baju dulu cuci tangan, sudah itu makan ya!" perintah Terra.
"Iya Mama!"
Setelah mengganti baju, ia pun pergi ke ruang makan dan makan di sana. Terra menemaninya.
"Sayang, kamu pulangnya siang sekali," ujar Terra.
"Iya Ma, Diba latihan," sahut gadis itu.
"Latihan apa sayang?"
"Adiba mau ikut lomba Da'i cilik itu. Kalau memang bisa langsung lolos dan masuk program televisi lomba da'i itu Ma," jawab Adiba.
"Kamu ikut lomba Da'i?" Adiba mengangguk.
"Lumayan Ma, hadiahnya umroh sama uang sekitar 100juta. Bisa buat tambah modal kafe," jelasnya.
Terra mengusap kepala gadis kecil itu. Adiba sudah dewasa sebelum waktunya. Azizah menempa adiknya, menjaga semua adik karena dia yang paling tua setelah Azizah.
"Kamu hebat, Nak!" puji Terra sendu.
Ia sangat bangga pada gadis kecil itu. Adiba memiliki wajah manis dan tidak membosankan, bulu mata yang lentik dan alis berjejer laksana semut berbaris, gadis itu juga memiliki tubuh tinggi seperti kakaknya—Azizah. Tingginya hampir sama dengan Terra.
"Ata' ... Ata' ... hiks ... hiks!" Terdengar tangis Ari yang kencang
__ADS_1
Gadis itu langsung berdiri dan menuju kamar di lantai dua. Adiba langsung mengangkat bayi dua tahun itu.
"Sayang, ini Kakak," ujarnya lembut.
Terra yang mengikutinya tersenyum melihat betapa Adiba sangat bisa diandalkan. Begitu cekatan dan bisa merawat adik-adiknya.
"Kenapa nangis?" tanya Adiba.
"Tatut ... padhi Ali bimpi diteusal-teusal hamilau peusal Ata'," jawab Ari dengan mata bulat.
Karena tangisan Ari, semua anak bangun. Harun mendengar ceritanya pun menimpali.
"Alun judha bimpi ipu!"
"Hamilauna walna pijo woh!" lanjutnya.
"Tot syama. Bi pimpi Ali hamilauna walna pijo!"
"Wah ... ketemuan nggak kalian?" tanya Adiba usil.
Kedua bayi itu menggeleng. Adiba terkikik geli begitu juga Terra. Akhirnya semua anak bangun dan mandi. Adiba yang mengurus semua anak-anak.
"Kak Sam udah gede. Jadi nggak perlu dimandiin!' tolak Samudera.
"Masa sih?" tanya Adiba sambil tersenyum menggoda bocah berusia delapan tahun itu.
"Iya Kak!" jawab Sam dengan wajah kesal.
"Oke deh. Jangan main air ya!" peringat Adiba.
"Sky juga!"
"Bom juga!"
"Dom enggak!" sahut Domesh beda sendiri.
"Loh kok enggak?" tanya Adiba sambil mengeringkan tubuh Azha.
Ada Maria dan Seruni di sana membantu gadis itu memakaikan baju semua anak-anak.
"Dom udah gede!" jawabnya.
Akhirnya semua pun sudah wangi dan bersih. Mereka kini ada di taman belakang. Semua adik Adiba bermain bersama.
"Ata' Alun pemanan padhi bimpina tetemu hamilau pimana?" tanya Ari masih ingat dengan mimpinya.
"Detet sembatan tali ... selem woh ... doyan-doyan!"
"Ali eundat tetemu ipu sembatan. Pati bas lada doa panyat telelawanna teulban-teulban," sahut Ari menceritakan mimpinya.
Sedang di rumah sakit Dominic tampak cemas. Saf terpaksa membedah Cesar kandungan Dinar. Bayinya enggan keluar sedang ketuban sudah pecah tetapi tidak ada pembukaan di mulut rahim Dinar.
Sudah dua jam Dominic menunggu tapi lampu masih merah. Tanda operasi belum selesai. Pria itu tak bisa masuk karena Dinar tak mau ditunggui suaminya. Demian dan Jac datang bersama Putri dan Lidya.
"Dad," panggil mereka.
__ADS_1
"Nak," sahut Dominic masih cemas.
"Kok nggak masuk?" tanya Demian.
"Bibu kalian langsung drop melihat Daddy ada di dekatnya. Dokter terpaksa memaksa Daddy keluar," jawab Dominic lemas.
"Apa belum ada kabar?" Dominic menggeleng.
Air mata pria itu mengalir. Mulutnya tak berhenti berdzikir menyebut nama kebesaran Allah.
Tak lama terdengar suara tangis bayi begitu kencang. Dominic terharu mendengarnya begitu juga Demian.
"Anakku ... itu anakku lahir!" pekiknya.
Ia nyaris saja mendobrak masuk ruang operasi jika saja Demian dan Jac tak menahannya. Namun ketika terdengar tangisan bayi yang kedua Dominic kaget bukan main.
"Eh ... tangis bayi lagi?"
Mereka saling pandang. Lidya hanya diam. Sebenarnya wanita itu tau kandungan bibu-nya itu kembar. Tetapi semua tak percaya dengan diagnosanya. Bukan hanya Lidya, bahkan Safitri juga tak dipercaya ketika mengatakan jika janin yang dimiliki Dinar kembar.
"Tuh ... apa kata Iya sama Kak Saf ... bayinya Bibu itu kembar!"
Namun terdengar lagi tangis bayi ketiga, kini Lidya ikutan terkejut. Tak lama Mereka semua sudah ada di ruang rawat, dua bayi ada dalam inkubator.
"Keluarga pasien?"
"Saya suaminya!"
"Bisa ikut saya," ujar Dokter.
Saf hanya diam, ia mengikuti dokter yang mengepalai operasi.
"Oh ya, jika sudah sadar. Tolong jangan beritahu dulu jika Ibu Dinar melahirkan kembar tiga ya," pinta Saf pada semuanya.
Dinar masih belum sadar. Wanita itu dibius total ketika mengangkat bayi dalam rahimnya. Lidya menatap kakak iparnya.
"Tolong kalian berdoa saja," pintanya lirih.
Dominic ikut dokter ditemani Safitri. Di sana di sebuah kotak besar, berbagai selang menempel di tubuh kecil dan merah. Bayi yang baru lahir itu sudah harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
"Ini adalah bayi kejutan yang kami tidak sangka-sangka, Tuan," ujar dokter.
"Saf?"
"Daddy, janin Bibu ada tiga tapi yang satu ini tidak terdeteksi sama sekali. semua asupan diambil oleh dua saudaranya," jelas Saf.
"Jenis kelamin semua bayi adalah laki-laki Daddy, ini paling kecil di antara keduanya,"
"Baby ... baby ... panggil Dominic pada bayinya.
"Kesempatan hidupnya hanya Fifty-Fifty. Jika Allah berkenan bayi ini hidup, ia akan bertahan jika tidak. Mohon keikhlasannya," sahut Saf.
Bersambung.
Eh .... 😱ðŸ˜
__ADS_1
next?