SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ARTI KELUARGA


__ADS_3

Adiba diperbolehkan pulang. Gadis tanggung itu kini sudah berkumpul dengan keluarga besarnya. Para perusuh langsung menempel padanya.


"Ata' teumalin tatana syatit ya?" tanya Aminah dengan wajah sedih.


"Iya sayang, tapi sekarang kakak sudah sembuh kok," jawab Adiba mencium gemas adiknya itu.


Ari juga menempel pada Adiba. Azizah berkali-kali melayangkan cium sayang ke kepala adiknya itu. Ajis juga menempel pada Adiba.


"Kakak kemarin kenapa bisa pingsan?" tanyanya sedih.


"Kakak lupa sarapan Dik," jawab Adiba tentu berbohong.


"Jangan bohong kak. Kemarin Ajis lihat kakak masuk ruang wakil kepala yayasan. Kakak dimarahin ya?"


"Sedikit dik," jawab Adiba pada akhirnya.


"Sudah, jangan tanya lagi. Sekarang kak Adiba kan sehat," tukas Satrio menenangkan semua adik-adiknya.


"Oh ya, sayang. Kafe bayimu sudah rampung kapan kau memulai buka usahanya?" tanya Virgou.


"Selesai ujian tengah semester, Daddy,," jawab Adiba.


"Daddy Gabe mana?" tanyanya.


"Daddy udah pulang kemarin malam sayang. Pas kamu di rumah sakit, dia sempet kok jenguk kamu sebentar," jawab Azizah.


Gabe memang sudah pulang ke negaranya. Beruntung ia ambil malam hari. Jadi tidak ada drama yang terjadi ketika pulang karena semua anak sudah tidur kecuali para orang tua.


"Baby Arsh!" rengek Terra ketika bayi itu digendong ayahnya pergi menuju pesawat.


Semua sedih tak ada bayi yang paling bossy nan galak di rumah mereka lagi.


"Ya sudah, kamu jangan banyak pikiran selain ujian nanti ya sayang," ujar Khasya.


Wanita itu mengelus kepala ditutupi jilbab. Ia tersenyum melirik benda yang melingkar di ibu jari Adiba. Sebagai seorang ibu. ia sangat mengenali milik siapa yang tersemat di ibu jari gadis tanggung itu.


'Ah ... putraku sudah mengikatnya. Aku pastikan Adiba hanya milik Satrio. Aku akan mewujudkan rencana putraku!' tekad wanita itu dalam hati.


Memang keberadaan benda di ibu jari Adiba luput dari perhatian semua orang. Selain memang mereka tak pernah memperhatikan barang milik saudaranya.


"Pita banyi yut!" ajak Maryam.


"Yut!" angguk Aisya.


"Papa Ion ... pita bawu banyi!" pinta Maryam dengan suara lembut.


"Oteh Baby," sahut Rion.


Pria itu memasang alat karaoke. Bayi-bayi mulai merambat, seperti Izzat, Fael, Angel dan Aliyah. Ada saja benda yang hendak ditariknya. Aaima yang menjadi pawang mereka.


"Babies ... janan talit-talit ... banti zatuh pemua!" larang bayi montok itu.

__ADS_1


Dinar membawa tiga bayinya yang diletakkan di atas bantal tebal. Putra Jac Zizam juga ada di sana. Dinar mengurusnya. Ayah ibu dari istrinya sudah terlalu tua untuk mengurus anak. Sedang Septian ditugaskan oleh Dominic mengepalai kerja lapangan. Pria itu belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Padahal dia sudah mau mencapai tiga puluh tahun lebih.


"Halo Boys," panggil Rasya pada empat bayi yang tengah menggerakkan kaki dan tangannya.


"Aaahhh!" pekik mereka berempat.


Kaila menciumi keempatnya dengan gemas. bayi itu sudah menyemburkan ludahnya.


"Ih ... Bibu ... kok mereka cepat besar sih!" protes Kaila.


Dinar hanya menciumi gadis cantik bermata biru itu. Kaila memang cantik, gadis tanggung berusia mau lima belas tahun itu sudah tumbuh tinggi dan telah menampakan tonjolan-tonjolannya. Dadanya besar, bokongnya padat. kulitnya putih bersih, wajah Rion menempel padanya.


"Kamu kok cantik sih!" puji Dinar gemas.


"Bibu juga cantik," balas Kaila dengan senyum indah.


"Dib, nih gue udah bikinin proposal buat kafe bayi. Mana aja yang li setujui?"


Dewa menyerahkan lembaran kertas pada Adiba. Dewi duduk di sebelahnya. Rasya, Rasyid dan Dewa ikut duduk bersama.


"Kita bikin menu berbeda tiap harinya?" tanya Adiba.


"Apa nggak terlalu ribet jika selalu mengubah buku menu?" tanyanya.


"Kita buat beberapa buku menu. Jadi misal Senin, kita kasih buku satu buku menu. Hari Selasa buku menu lain begitu terus hingga hari minggu. Lalu setelah satu Minggu. Menu hari Selasa kita majukan jadi menu hari Senin, sedang menu Senin kita bawa mundur jadi menu hari Minggu. Begitu seterusnya," jelas Dewa panjang lebar.


Adiba mengangguk setuju. Para orang tua hanya menatap keseriusan anak-anak yang sedang merencanakan sebuah usaha.


"Oke, kita akan kerjasama untuk kue dengan toko mami. Kan di mami ada banyak kue khusus bayi," sahut Adiba setuju.


Gadis itu menulis semua ide yang tertuang. Seruni mencium Adiba, ia sangat bersyukur kue ciptaannya yang terbaru akan jadi produk utama di kafe bayi milik Adiba.


Semua jurnal kafe selesai dibicarakan dan menemui kata sepakat. Adiba juga akan merekrut tenaga kerja ahli. Terlebih mereka yang tau tentang seluk beluk bayi.


"Kita harus kasih proposal sama Kak Lidya sebagai pakar psikiater, lalu untuk kesehatan ibu dan bayi bisa sama Kak Nai, Mba Arimbi atau Uma Saf!" sahut Dewa.


"Uma mau!' sahut wanita istri dari Darren itu.


"Kak Nai juga mau!" sahut Nai.


"Kak Iya juga," sahut Lidya.


"Mba juga bersedia!" sahut Arimbi.


"Nggak butuh dokter jantung?" tawar Daud.


"Butuh Kak. Ini Diba terkadang suka terasa nyeri di dada. Apa itu termasuk sakit jantung?" tanya Adiba polos.


Tentu pertanyaan Adiba membuat semua orang khawatir. Bahkan Daud sampai memeriksa gadis tanggung itu.


"Rasa nyerinya kek gimana?" tanyanya.

__ADS_1


"Kek berdesir anehz kadang buat merinding trus ngilu gitu Kak," jawab Adiba.


Satrio berdiri di sana dengan gelisah, ia takut penyakit itu begitu berbahaya bagi sosok yang ia tunggu tumbuh besarnya itu.


"Kapan kamu merasakan itu sayang?" tanya Bart.


"Ya baru-baru ini," jawab Adiba.


"Apa ini imbas ia tertekan kemarin?" tanya Bart cemas.


"Tapi nggak ada apa-apa kok," sahut Daud ketika memeriksa nadi Adiba.


"Hmm ... kemungkinan Adiba sedang merasakan puber jatuh cinta," lanjutnya.


Mata Adiba tentu membola. Rona merah langsung menyeruak di pipinya. Herman kesal melihat itu. Begitu juga Rion dan Azizah.


"Dia masih bayi!" sahut Rion posesif disertai anggukan istrinya.


"Kak Adiba sudah haid!" sahut Daud.


"Kemungkinan dia sedang mengalami namanya cinta monyet," kekeh Daud.


"Nggak ada itu cinta-cintaan!" tukas Rion.


"Baby, pokoknya Kak Ion akan menjewer anak cowo yang berani-beraninya naksir kamu!" tekan Rion pada Adiba.


Adiba hanya mengangguk, ujung matanya menatap sosok tinggi besar uang juga memandangnya gusar. Entah kenapa menatap mata elang milik Satrio, Adiba menjadi tenang.


"Ata' Tean ... Ata' Tean!" panggil Arsyad.


"Apa Baby?" sahut Kean.


"Pemanan Ata' Bida satuh sinta pama bonyet?" tanya bayi tampan itu polos.


Kean nyaris tertawa menyemburkan ludahnya.


"Bukan jatuh cinta sama monyet Babies, itu hanya perumpamaan saja," jawab Kean.


"Oh ... tilain Ata' Piba zatuh sinta pama bonyet," sahut Arsyad tanda mengerti.


Anak-anak kembali heboh bernyanyi, bahkan Virgou sudah heboh berjoget dangdut bersama Rion. Adiba menetap seluruh keluarga yang berkumpul.


"Apak ... Amak ... Diba bahagia," gumamnya dengan senyum indah.


Bersambung.


Indahnya bersama keluarga.


Readers mohon maaf ya kalau beberapa hari kedepan Othor cuma satu upnya, karena masalah di mata othor.


Ba Bowu ❤️❤️❤️😍

__ADS_1


Next?


__ADS_2