SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEMBALI KE KASTIL


__ADS_3

Piknik ke pantai telah usai, kini mereka kembali ke kastil. Layla begitu bahagia, bulan madunya ia lewati begitu indah bersama suami yang sangat romantis.


"Kau bahagia sayang?" tanya pria itu lalu mengecup pucuk kepala istrinya yang terbungkus jilbab. Layla hanya mengangguk, ia sangat bahagia hingga tak bisa berkata apa-apa.


"Kini mereka di atas kapal pesiar milik Dougher Young. Kapal yang kini hanya mengangkut seluruh keluarga besar itu berjalan 1 knot atau sekitar 1,151 mil/jam.


"Muma!" pekik Arsh marah.


"Apa baby ... kok marah-marah?" tanya Darren.


"Muma dat ayan Alsh!" adunya sambil mencebik-cebikkan bibirnya.


Saf yang tengah menyusui Izzat hanya tersenyum, ia memang gemas dengan Arsh.


"Uma bukan nggak sayang Baby. Kan Uma lagi nyusuin," sahut Darren lalu menggendong Arsh sebelum bayi itu mengamuk.


"Hoi ... lihat itu ada pusaran di sana!" tunjuk Lila.


Semua perusuh berlari ke tempat berdiri salah satu anak angkat Bart. Tiba-tiba mulut paus biru keluar dari permukaan air. Makin hebohlah semua perusuh.


"Mama itan salden latsatsa!" pekik Aaima.


"Ikan paus baby, bukan ikan sarden," ralat Aini.


"Piya batsudna ipu!" sahut Aaima santai.


"Lonsat baus ... loncat!" pekik Al Bara.


Ikan dengan bobot lebih dari 300 ton itu sepertinya mendengar permintaan Al Bara. Paus biru langsung melompat dan menghempaskan tubuhnya. Kapal sempat bergoyang akibat hempasan ombak yang tercipta.


"Huuwwwwaa ... Mami!" teriak El Bara.


Semua saling berpelukan, lalu kemudian mereka tertawa, Arsh melompat kuat bermaksud mengguncang kapal ini.


"Ndat yoyan Pa?" tanyanya pada Haidar.


"Kita joged dangdut kalo mau goyang Baby," jawab Haidar lalu mengangkat tinggi-tinggi bayi itu.


Jangan tanya Arion dan Arraya. Dua balita itu tak mau dianggap bayi lagi, sama dengan Harun, Azha dan Bariana.


"Tuan, makan siang sudah siap!" ujar manager kapal.


Bart mengajak semuanya makan bersama. Menu seafood jadi andalan terutama lobster. Arsh disuapi oleh Adiba, bahkan gadis itu terkadang menyuapi Satrio juga. Tak ada yang curiga.


"Bunda ... Dewi disuapin juga dong," pinta gadis kecil itu.


"Sini, biar Oma suapin kamu," Kanya menyorong suapan ke mulut Dewi.


Gadis itu membuka mulut lebar. Sedang Dewa hanya diam dan menikmati hidangannya.


Dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di pelabuhan pribadi milik Bart. Semua turun, tiga bus besar menunggu mereka. Butuh perjalanan dua jam setengah lagi mereka sampai di kastil.


Tak ada wartawan yang bisa mengambil gambar Keluarga besar nan kaya raya itu. Penjagaan ketat dari para bodyguard benar-benar tak bisa ditembus. Bahkan mereka anti sogokan.


"Ayo lah Tuan, ijinkan kami mengambil gambar mereka," rayu salah satu wartawan cantik.

__ADS_1


Pengawal itu bergeming dengan wajah datar. Bahkan pengawal perempuan pun ikut dirayu dengan kata-kata vulgar. Sayang, semua pengawal dilatih mental hingga sekuat baja.


Mereka tampak kelelahan dan memilih beristirahat sebentar.


Dewa memilih naik ke atas menara kastil. Remaja itu berdiri di kaca besar. Dav mengikuti anak dari Herman yang sangat pendiam itu. Berbeda dengan semua saudaranya bahkan dengan saudari kembarnya yang masih bisa berinteraksi. Dewa benar-benar seperti memiliki dunia sendiri.


"Baby," panggil Dav.


Dewa menoleh, ada jejak basah di pipi remaja itu. David langsung merengkuhnya.


"Hai ... ada apa ... ada apa sayang?" tanyanya khawatir.


'Dewa nggak bisu Papi," jawab remaja itu lirih.


"Siapa yang mengatakan itu padamu Baby?" tanya Dav gusar.


"Tidak ada Papi, hanya saja Dewa merasa tak memiliki suara sama sekali, karena apa yang hendak Dewa ucapkan sudah terwakilkan," ujar remaja itu lemah.


"Sayang, kami tidak pernah membedakan kasih sayang kami pada kalian. Semua dapat porsi sama, kami tidak menunjukkan pada kamu karena kami yakin kau adalah yang paling kuat di antara semuanya," jelas David.


"Ayo turun Nak. Papi melarangmu jika melamun seperti itu di sini! Tak ada yang membedakanmu karena kamu diam!" ajak David menuntun remaja itu turun.


Khasya tentu kecarian putranya, wanita itu begitu cemas. Terlebih melihat Dewa diantar David dari atas menara.


"Baby kamu dari mana sayang?" tanyanya khawatir.


"Hanya jalan-jalan Bunda," jawab remaja itu menenangkan ibunya.


Khasya memang tahu apa masalah putranya yang sangat pendiam diam itu. Remaja itu hanya bicara jika ada ide bisnis yang melintas di otaknya.


"Yang mana?" tanya Dewa langsung.


Kini semua anak duduk bersama Adiba. Sebuah kertas gambar ada di tangan semua anak. Hanya gambar Dewa dan Dewi yang begitu indah. Sedang Kaila memilih membaur warna-warna berani.


Arsh melirik gambar milik Dewa. Bayi tampan itu menukar gambar benang kusutnya dengan gambar kakaknya.


"Ni ... Alsh pica!" pekik Arsh senang.


"Itu gambar Mas Dewa Baby!" seru Kaila.


"Tan ... nih ... mbal Alsh!" aku bayi itu bersikukuh.


"Wah gambar Baby bagus amat!' puji Azizah.


Arsh mengangguk senang, Dewa tertawa melihatnya. Arsh diberi kertas lagi oleh Haidar.


"Coba baby gambar lagi," pinta pria itu.


Dewa hanya diam ketika dilirik oleh Arsh. Bayi itu tak kehabisan ide.


"Ndat ... ape!" kilahnya menolak.


"Anakku ini, sini Daddy makan kamu!" sungut Virgou gemas..


"Olon ... Daddy bombie!" pekik Arsh lalu terdengar gelak tawa bayi perusuh itu.

__ADS_1


Adiba melihat tabungannya, ia ingin sekali membeli sebuah laptop. Namun, ketika ia melihat harga di sebuah platform belanja, uangnya tidak mencukupi.


"Yang di Indonesia saja harganya nggak terjangkau, apa lagi kalau beli di sini?" gumamnya.


"Kalo Mas belikan mau tidak?" tawar Satrio.


Adiba menatap remaja yang juga memandangnya.


"Jangan khawatir sayang. Mas nggak akan menagihnya atau menganggapnya sebagai utang," lanjut Satrio setengah berbisik.


Muka Adiba langsung bersemu merah. Gadis itu tentu bukan gadis polos seperti Nai dan Arimbi yang usianya jauh lebih tua darinya. Adiba sangat paham dengan apa yang ia rasakan.


"Mau tidak?" tawar Satrio lagi.


"Mau Mas," jawab Adiba langsung mengangguk.


Satrio tersenyum, ia akan pergi ke mall di Eropa dan membeli benda yang diinginkan calon istrinya di masa depan.


"Ya sudah, Mas pergi beliin ya,"


"Mas belinya sekarang?" tanya Adiba tak percaya.


"Iya, mau ikut biar kamu bisa pilih?!" ajak remaja itu lagi.


"Tapi pasti mereka pengen ikut juga," tunjuk Adiba pada semua adiknya.


"Tidak masalah, kita harus seperti itu selamanya sayang," sahut Remaja itu.


Ternyata yang ikut hanya Kean, Sean, Cal, Nai, Arimbi, Al, Daud, Dewa, Dewi, Affhan, Dimas, Kaila dan Maisya.


"Tumben Mas Dim ikut?" sindir Kaila. "Biasanya bertelor!"


"Bas Pimas yayam?" tanya Arsyad dengan mata bulat.


Para perusuh tak mau ikut, mereka kelelahan. Rasya dan Rasyid juga menolak. Duo R itu memang tak begitu suka berpergian.


"Pergilah Babies bersama saudaramu," suruh Haidar.


"Sam boleh ikut nggak?"


"Benua juga mau,"


"Dom juga!"


"Sky!"


"Bomesh ikut!"


"Kalau begitu kita ikut semua!" sahut Virgou.


Bersambung.


Yah ... giliran Sky dan Bomesh mau ikut ke mall, Daddy langsung pengen ikut juga.


Takut ilang dua anak itu, 🤣🤭🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2