
Mereka sudah sampai. Wajah Adiba yang murung tertangkap oleh Seruni dan Maria.
"Sayang, kamu kenapa?" gadis itu hanya tersenyum lalu menggeleng.
"Ganti baju, habis itu makan ya," suruh Maria.
"Iya Mommy," sahut Ajis sedang Adiba hanya diam.
Usai ganti pakaian mereka berdua makan, Adiba nyaris tak makan karena ia hanya mengambil satu suap saja. Lalu meminum air yang banyak. Adiba memilih pergi ke kamarnya.
"Sayang, kamu tau ada apa dengan Kakak?" tanya Seruni mulai khawatir.
Ajis yang ditanya hanya menggeleng tanda tak tau. Bocah itu juga tak memberitahu jika kakaknya tadi membentaknya tanpa sebab. Ajis diminta untuk tidur siang.
Di kamar Adiba tampak banyak merenung. Dipikirannya masih terngiang perkataan wakil kepala yayasan Ustadzah Naslimah. Sebuah beban dilimpahkan di pundaknya. Gadis itu diminta untuk mengangkat nama baik yayasan pesantren di mana ia menimba ilmu.
"Bayangkan Nak. Akan banyak wali murid datang untuk mendaftarkan anak-anaknya belajar di tempat ini!"
"Ibu bisa mengeluarkanmu dan membuat reviewmu jelek!"
Ancaman ustadzah Naslimah mencuci otak Adiba. Ia pun membayangkan dirinya yang dikeluarkan sekolah dengan alasan tak mematuhi peraturan sekolah atau murid yang memperburuk citra sekolah. Anak didik yang membangkang dan lain sebagainya.
"Adiba nggak gitu!" tolaknya, ia menggeleng kepala.
"Ibu ngerti nggak kalau Adiba memaksa ikut. Adiba akan malah membuat malu pesantren?" lanjutnya bermonolog.
"Adiba sudah beralih mimpi dan Ibu memaksa Adiba membangun mimpi yang sudah Adiba tinggalkan ...."
Adiba baru tiga belas tahun, tak banyak ilmu kehidupan yang bisa ia ambil. Selama ini gadis tanggung itu hanya berkutat pada menurut apa kata kakaknya. Setelah kepergian ayah dan ibunya, diusir dari rumah di mana ia tumbuh. Ia melihat sang kakak yang banting tulang menafkahi mereka berenam. Ia juga sering melihat kakaknya yang menangis setiap malam sebelum bekerja di SavedLived. Ia bisa melihat keletihan dari wajah sang kakak mengurusi mereka. Tak punya uang untuk sekolah, gaji kakaknya hanya cukup untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari.
"Kak ... Adiba mesti apa kak?" tanyanya lirih.
"Adiba butuh kakak," lanjutnya.
Gadis tanggung itu merebahkan dirinya. Ia terlelap karena lelah berpikir, sungguh Adiba merasa tertekan.
Sementara di pesantren Naslimah kembali ditelepon pihak televisi. Mereka menanyakan keikutsertaan Adiba dalam program acara mereka.
__ADS_1
"Saya pastikan Adiba akan ikut. Anak didik saya sedang minta ijin dengan walinya," jawab wanita itu yakin.
"Kamu akan mencatat nama Adiba sebagai peserta jika memang begitu," sahut manager program acara di ujung telepon.
"Ya, catat saja. Saya yakin, Adiba adalah anak yatim piatu. Walinya seorang kakak perempuan, jadi wali itu putus karena telah menikah sedang wali laki-laki belum cukup umur," sahut wanita itu langsung memutuskan.
Sambungan telepon berakhir. Ustadzah Naslimah kini berharap jika Adiba akan mengikuti apa yang menjadi keinginannya. Ia tadi juga mengatakan jika dirinya sendiri yang akan menjadi wali gadis itu dan akan hadir setiap acara lomba itu disiarkan.
"Aku akan terkenal, dengan begitu pasti mudah mencari jemaah dan memulai ceramah," monolognya.
Wanita itu berkhayal, ia akan dielu-elukan oleh para jamaah. Setiap ia hadir para jamaah banyak yang hadir. Undangan ceramah pasti berdatangan, pundi-pundi uang pasti dikumpulkan. Mobil mewah, rumah bak istana dengan halaman luas. Wanita itu akan membangun pesantren sendiri, melalui Adiba, ia bisa merekrut anak didik.
"Aku pastikan Adiba menang dengan mudah. Secara semua keluarganya adalah pebisnis kaya raya. Tak mungkin diam saja melihat anggota keluarga mereka tengah bertanding dan tak memberi kontribusi," gumamnya penuh ambisi.
Ke esok harinya, seperti biasa semua anak yang bersekolah sudah rapi dan memakan sarapannya. Adiba meminum susunya cepat. Gadis tanggung itu belum menceritakan apa yang dialaminya di sekolah. Ia merasa sudah memberi jawaban jika ia menolak ikut serta pertandingan itu.
Adiba berangkat bersama adik-adiknya satu bus. Ari dan Aminah ikut Rion dan Azizah langsung diantar ke rumah Terra.
"Mas Baby," panggil wanita itu.
Rion selalu romantis pada istrinya, ia menggenggam tangan Azizah dan mencium buku tangannya.
"Tadi liat wajah Adiba nggak?" tanya Azizah dengan rona di pipi akibat perbuatan mesra sang suami.
"Kenapa dengan Adiba sayang?"
"Wajahnya tadi sedikit pucat dan murung," jawab Azizah.
"Maaf sayang, tadi Mas Baby kurang memperhatikan. Tapi mungkin karena menghadapi ujian dia murung,' jawab Rion.
Azizah mengangguk setuju dengan pendapat suaminya. Memang sebentar lagi ulangan tengah semester. Adiba yang baru masuk kelas satu tsanawiyah tentu akan sedikit kualahan karena materi yang sudah berat.
Sementara di pesantren. Adiba yang belajar dipanggil untuk menghadap wakil kepala yayasan. Gadis itu menghela napas. Ia sedikit berjalan gontai ke ruang wakil kepala yayasan.
"Assalamualaikum!" salamnya sebelum masuk kantor.
"Wa'alaikumusalam... masuk saja Nak!" sahut Ustadzah Naslimah.
__ADS_1
Adiba masuk dengan malas. Hal itu membuat Naslimah sedikit kesal. Ia bisa memprediksi jika anak didiknya itu akan menolak lagi pertandingan di televisi itu.
"Duduk lah!' perintahnya.
Adiba duduk di hadapan perempuan yang memiliki jabatan tertinggi di pesantren. Semenjak guru besar atau pemilik yayasan meninggal dunia, Naslimah yang menjabat sebagai wakil kepala yayasan menggantikan kedudukan sementara pimpinan sebelum diambil alih oleh ahli waris. Naslimah sangat yakin jika ia akan segera keluar dari pondok pesantren tempat ia mengabdi ini. Untuk mencapai mimpinya dengan cepat, ia memaksa Adiba untuk ikut serta dan dia yang akan menjadi wali sekaligus guru pembimbing anak didiknya menggantikan Ustadzah Layla.
"Nak, ibu sudah memutuskan jika kamu harus ikut lomba di televisi itu!"
Adiba terkejut bukan main. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh wakil kepala yayasan itu.
"Tapi saya sudah menolak Bu!'
"Tidak bisa Adiba. Pihak televisi akan menuntut sekolah kita jika kamu menolak untuk ikut serta!' tukasnya yang pasti bohong.
Adiba terdiam, ia tak menyangka jika penolakannya malah berunjuk penuntutan. Gadis kecil itu tentu takut mendengar hal itu.
"Bagaiman bisa mereka menuntut Bu. Mereka sendiri yang memutuskan jika Adiba tidak lolos,"
"Mereka tentu memiliki alasan banyak untuk menuntut sekolah ini Nak. Pondok pesantren kita akan tercemar nama baiknya jika kamu masih bersikeras menolaknya," jelas Naslimah menekan Adiba.
"Tapi semua keluarga sudah melarang saya untuk tidak ikut serta. Mereka pebisnis dan takut akan terjadi sesuatu hal yang membuat publik gempar dikemudian hari," ujar Adiba.
"Lalu apa kau membiarkan sekolah kita dituntut dan dipermalukan. Terlebih kamu sebagai anak didik, mereka pasti punya cara untuk membuat berita bohong kan?" tekan Naslimah lagi.
"Nak, wali kamu adalah Ajis. Selain Ajis tak ada yang berhak melarang dan meminta kamu. Saya selaku pendidik menjadi wali kamu penuh!' sahut wanita itu mulai membual.
"Saya punya kakak,"
"Kakak kamu sudah putus wali semenjak menikah!" sahut Naslimah penuh penekanan.
"Nak, biar ibu yang menjadi wali dah juga guru pembimbingmu. Ibu yakin kamu adalah anak yang cepat belajar, kamu pasti bisa survive di acara itu hingga kita mengantongi kemenangan!" rayunya lagi.
bersambung.
Walah ... gemana nih ... duh Adiba nggak ada yang nolong.
Next?
__ADS_1