SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
A DEBATE


__ADS_3

Kaila, putri bungsu Virgou. Berusia mau enam belas tahun. Gadis itu begitu cantik dengan mata birunya. Wajahnya perpaduan Puspita dan Virgou, kulitnya dan rambutnya kemerahan. Tingginya sudah mencapai 170cm dengan bobot 68kg. Gadis itu seumuran dengan Dewi, Dewa, Rasya dan Rasyid. Harun lahir ketika usia Kaila dua belas tahun.


"Kai!" gadis itu menoleh. Dewi menghampirinya.


"Apa Dew," sahut Kaila.


Dewi muda tiga bulan dari Kaila. Tubuh Dewi lebih pendek dari keponakan misannya itu. Tapi soal keberanian Dewi lebih vokal dibandingkan Kaila yang kalem.


"Kita keluar lagi yuk!" ajak Kaila.


"Are you kidding, how we can get out from here?" tanya Dewi malas.


Kaila berdecak. Namun ia berbisik pada bu'leknya itu. Dewa mendekati keduanya.


"Mau apa kalian?" tanyanya gusar.


"Mau keluar kastil," bisik Kaila.


"Kamu gila!" ujar Dewa mengatai Kaila.


"Aku nggak gila. Nih, dengar setiap dua belas menit ada pergantian penjagaan. Kita bisa keluar pada saat itu!" bisik gadis bermata biru itu.


"Helow ... jangan ngadi-ngadi deh ... kamu kira dua belas menit itu kita baru sampai mana?" tanya Dewa memutar mata malas.


"Mending kita minta ijin aja," saran Dewi bijak.


"Lagian pasti nggak boleh karena tadi kita baru aja keluar," lanjutnya.


"Ih ... aku mau Athena film Prancis yang tentang tragedi anarkis itu!" ujar Kaila.


"Itu adanya di salah satu platform film Kaila. Nggak perlu ke bioskop," sahut Dewi.


"Mau makan popcorn sama minum fanta, trus makan kentang goreng juga ...."


"Kita buat sendiri yuk!" ajak Dewi.


Kaila akhirnya pasrah, ia tentu tak bisa memaksakan diri untuk pergi keluar kastil. Dua belas menit waktu tak cukup untuk keluar menuju gerbang.


"Waktu kamu sama Kak Mai bisa keluar gimana caranya?" tanya Kaila.


"Lewat pintu belakang. Tapi gitu keluar malah kita di kantor polisi," ujar Dewi mengingat kejadian itu.


"Abis kamu main mukul orang," sahut Kaila.


"Dia nyolek gue Kai!" seru Dewi sambil melotot.


"Ojo ngegas toh Bu'lek," sahut Kaila.


Mereka menuju dapur, Colla mendatangi dua gadis itu sedang Dewa memilih menunggu.


"Nona mau apa, biar suruh saja," ujar wanita itu.


"Nggak Miss. Biar kami buat sendiri," tolak Dewi.

__ADS_1


Kaila dan Dewi tentu sudah tau di mana saja letak makanan yang mereka inginkan.


"Pake panci gede Bu'lek, pasti banyak yang mau!" ujar Kaila.


Dewi mengangguk, banyaknya anggota membuat ia harus banyak membuat makanan. Sebuah panci besar ia taruh banyak mentega, lalu menuang satu bungkus besar jagung khusus untuk popcorn. Gadis itu menggoyangkan panci setelah itu ia tutup. Kaila menggoreng french Fries, Colla membantu menyiapkan beberapa wadah.


"Miss, nggak ada Fanta ya?" tanya Kaila ketika melihat lemari pendingin.


"Nyonya tidak pernah membeli minuman bersoda Nona," jawab Colla.


"Beli aja Kai," sahut Dewi.


Gadis itu mengambil lima bungkus nugget dan sosis. Shiena masuk dapur dan mau membantu nonanya.


"Kau boleh beristirahat, nggak usah bantuin!" tolak Dewi.


"Ini tugas kami Nona," sahut Shiena.


"Tidak perlu Kakak," tolak Dewi tegas.


"Masuk ke ruanganmu Shiena. Biar aku yang mengurus semua!" titah Colla.


Shiena akhirnya membungkuk dan masuk ke ruangannya. Sungguh, ia masih mencari peruntungan. Tapi, Dewi sudah menolak keberadaan gadis itu.


satu jam setengah mereka habiskan memasak di dapur. Bau harum tercium di mana-mana. Dewa sudah menyetel televisi layar datar dan mencari film yang di maksud oleh Kaila.


"Beli fanta boleh nggak Uyut?" tanya Kaila dengan mata penuh permohonan.


"No!" sahut Widya langsung.


"Only once in a lifetime!" (Hanya sekali seumur hidup!) lanjutnya penuh permohonan. "Please!"


"Grandpa belikan!" sahut Frans.


"Thanks Grandpa!" Kaila memeluk pria itu.


Widya hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya semua yang diinginkan sudah tersedia. Film diputar, semua anak tiduran di karpet tebal dan banyak bantal.


"Film apa ni!" tanya Ajis.


"Kok serem banget?"


"Pana hantuna Ata'?" tanya Harun.


"Ini tentang diskriminasi dan rasisme," sahut Kaila.


Adegan film yang cukup menyedot emosi dan sedikit kericuhan juga guratan kekecewaan pada para remaja yang mengerti jalan cerita terpancar di sana.


"Jadi bisa berbelok gitu ya. Padahal yang salah jelas-jelas kepolisian tetapi semua diubah jadi sekelompok massa yang salah karena memicu keributan!" dumal Ajis.


"Terlalu ambisi tapi nggak kena sama inti cerita. Akhirnya hanya suguhan menegangkan saja tanpa nilai apapun!" lanjutnya kecewa.


Kean dan lainnya mengangguk setuju. Kaila sedikit menyesal menonton film itu.

__ADS_1


"Tapi ide ceritanya bagus, dan visualisasinya juga keren, boleh lah dengan bintang dua," ujarnya memberi penilaian.


"Yah ... nggak bisa masuk box office lah," sahut Ajis menimpali.


"Bisa jika semua pikiran sama kalau menilai Karim sebagai penggerak massa anarkis dan bisa membuat keributan satu negara," sahut Calvin.


"Kukira Athena kisah tentang kerajaan jaman Romawi kuno," sahut Satrio.


"Nggak taunya sebuah wilayah yang ditinggali beberapa etnis dan agama. Sebuah komunitas minoritas yang mencoba merampas keadilan," lanjutnya.


"Tapi keadilan mestinya jangan diungkapkan dengan perlakukan anarkis," sela Adiba.


"Bukankah ada mahkamah internasional? Kita bisa minta keadilan di sana!" lanjutnya.


"Butuh biaya dan waktu, Dik," sahut Satrio.


"Tau sendiri jika sudah bersentuhan dengan rasisme. Maka beberapa oknum akan sekuat mungkin membungkam itu," lanjutnya.


"Eh ... udah, jangan bicarakan hal-hal yang berbahaya!" larang Dinar.


"Bibu nggak mau kalian punya masalah dan dipanggil pihak mahkamah internasional hanya gara-gara penilaian kalian dalam satu film," lanjutnya.


Film selesai begitu juga semua makanan dan minuman. Arsh mengeluh hidungnya sakit karena meminum soda.


"Kan Mommy tadi sudah bilang jangan, kenapa Baby masih mencuri meminumnya?" ujar wanita itu.


Arsh menangis, bayi itu memang tadi meminum fanta sedikit. ia mengambil secara diam-diam milik Samudera. Hasilnya setiap bersendawa hidungnya terasa sakit.


"Udah nggak apa-apa, nanti juga sembuh kok," ujar Arimbi menenangkan bayi tampan itu.


Arsh berada dipelukan Reno. Ia ngambek sama sang ibu karena tadi memarahinya.


"Nah, Kai ... gimana masih mau keluar?" tanya Dewa.


Kaila menggeleng, gadis itu akhirnya mengerti, di rumah ia bisa leluasa duduk, makan dan berkomentar. Ia juga bisa tidur-tiduran.


"Memang Kaila tadi mau ngapain?" tanya Kean dengan nada interogasi.


"Kan nggak jadi Kak," sahut Kaila.


Gadis itu juga takut jika Kean sampai marah. Walau kakaknya itu adalah yang paling usil di antara semuanya. Tetapi, Kean sangat keras wataknya dibanding yang lain.


"Jangan macam-macam Baby!" peringat remaja itu.


"Iya kak, kan nggak jadi!' ujar Kaila.


"Mommy Alsh pupnya teluan!" tunjuk Aaima.


Arsh sedang berjongkok di lantai dan tengah buang air besar di sana. Widya langsung mengangkat bayi nakal satu itu.


"Pup tot pisitu!" geleng Al Fatih.


"Pesot tasih pasil laja Mommy pial Paypi Alsh pup tayat tusin!' lanjutnya memberi ide.

__ADS_1


Bersambung.


Arsh! 🤦🤣


__ADS_2