SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEHAT


__ADS_3

Della kembali setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Bayi cantik itu digendong pria raksasa, Gomesh. Semua bayi menyambut senang kakak mereka.


"Ata' Ella, tami peulsansi ... pidat tatal ladhi!" sumpah Maryam.


"Holeee Ata' embuh!" pekik Arsh kesenangan.


"Ata' ... mamutna alah woh mama Alsh!" akunya jumawa.


"Ata' embuh lalna Alsh jotjot amutna!" lanjutnya lagi.


Della tersenyum, ia mengucap terima kasih pada Arsh yang telah meninju nyamuk yang membuatnya sakit itu.


"Sayang, sini sama Mommy!" Puspita mengangkat tangannya.


Della ada dipelukan Puspita. Bayi itu sedikit kurus akibat sakit yang ia derita kemarin.


"Ayo ini makan pangsit rebus dan pastel goreng!" teriak Seruni.


Semua anak langsung semangat ketika mendengar kata makanan. Demian harus berebutan dengan Arsh, jika dulu dengan Sky dan Bomesh. Kini lawan Demian semua bayi.


"Papa ... snakeljdvvehebnshzgwbwysunwisuhwuwusggshwbsvvebesh!" omel Aliya.


"Baby kamu belum tumbuh gigi. Jadi kamu belum boleh makan banyak!" goda pria bermata biru itu.


"Ata' Al!" pekik Aliya mengadu pada Al Bara.


"Papa ... sanan wawan nanat teusil!" protes salah satu putranya itu.


"Kenapa memang!" tantang Demian tentu gemas dengan semua bayi yang sok jago itu.


"Papa ... imi mamut yan didhit Ata' Ella!" ujar El Bara menakuti ayahnya.


Bayi itu mendapat bangkai nyamuk entah dari mana. Ia memegangnya dengan kedua ujung jari yang mengapit tubuh hewan penghisap darah manusia itu. Demian pura-pura takut.


"Jauhkan itu!" pekiknya dengan mata membesar.


"Mamut papes lapeti!" ujar Al Bara menamai nyamuk itu.


"Mut apesti!' ulang Arsh.


"Paypi ipu tan solot!" peringat Della.


"Janan ya Paypi, banti Papa syatit tayat Ata'," lanjutnya melarang.


Della mengambil nyamuk dari tangan El Bara dan membuangnya ke tempat sampah.


"Ata', namutna tot eundat pitubun?" tanya Aaima.


"Oh Wiya ... pupa!" sahut Della menepuk keningnya.


Tentu saja bangkai nyamuk itu tak bisa ditemukan karena sudah bersatu dengan sampah. Terra melarang Della mengambilnya.

__ADS_1


"Mama ... Ella pupa tubun mamutna!" ujar bayi itu dengan begitu polos.


"Tidak perlu sayang. biar nyamuknya nanti dimakan cicak ketika di tempat sampah nanti ya," ujar Terra tersenyum.


"Wah ... pa'a pidat pa'a-pa'a Mama ... mamut eundat sadhi nanat sisilan?" tanya El Bara dengan mata bulat begitu jernih.


Terra berdecak dan melirik kakeknya sebal. Bart membuang muka pura-pura tidak tau. Pria tua itu memilih melarikan diri dari tatapan kesal cucu cantiknya itu.


Della belum begitu bernapsu makan. Bayi itu hanya makan sedikit. Puspita sedih melihat putrinya masih belum sembuh itu.


"Makan yang banyak sayang," pintanya sedih.


"Teunyan Mommy," ujar Della mengusap perutnya.


"Mommy janan syedih ... Della pudah penumbuh tot, suma peulum mawu matan panyat," lanjutnya lalu mengecup pipi ibu angkatnya itu.


"Mau makan es krim nggak?" tawar Azizah.


"Mawu!" teriak semua bayi.


Azizah membuat wafel lalu di atasnya ditaruh es krim. Ada yang minta es krim strawberry, coklat dan vanilla.


Usai makan siang, semua anak tidur siang. Della tidur bersama kakaknya, Arfhan ingin tidur bersama tiga adiknya.


"Alhamdulillah, Baby Dell udah nggak lumayan banyak makannya," ujar Puspita ketika menengok empat anak angkatnya itu.


"Sayang," Virgou memeluk istrinya dan mengecup mesra.


"Terima kasih telah jadi ibu untuk semua anak-anakku," ujar pria sejuta pesona itu.


Puspita menatap mata biru milik suaminya. Sungguh ketampanan Virgou mampu membuat mabuk kaum hawa, begitu dirinya saat ini.


"Kau tau sayang, aku kadang bingung," ujar Puspita lalu menggoda suaminya dengan mendekatkan wajahnya.


Puspita seperti hendak mencium bibir suaminya tapi selalu berhasil menjauhkan bibirnya sendiri. Virgou kesal dengan itu.


'Ah ... dia mau bermain denganku,' gumamnya gemas dalam hati.


"Kenapa sayang?" tanyanya kini dengan suara seksi.


Puspita tentu tak akan tahan jika suaminya bersuara seperti itu. Wanita itu mengeratkan pelukan lalu sedikit melompat dan kini ia bergelayut ala kanguru pada Virgou.


"Ssshhh!" desis Virgou.


"Kau sangat tampan sayang. Pasti di luaran sana banyak wanita cantik yang mampu kau taklukkan,"


Puspita menggoda inti milik suaminya yang mulai tegang dan kini menusuk tepat di intinya. Wanita itu juga tengah birahi. Virgou menggendong istrinya ke kamar tak lupa mengunci pintu rapat-rapat.


"Jawab sayang," pinta Puspita.


"Apa yang mesti kujawab sayang?" tanya Virgou.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Puspita sudah mendapat pelepasannya. Ia benar-benar begitu puas bersama sang suami. Puspita kini begitu liar di mata sang suami. Virgou harus melayani sang istri yang kini dalam fase puber terakhirnya.


Sementara itu Bart melihat beberapa pengawal yang masih lajang namun berusia matang. Semua pengawal rata-rata sudah mapan karena gaji mereka sangat banyak, memiliki hunian sendiri dan juga kendaraan pribadi yang juga tak kalah mahal dengan tuan mereka.


"Dahlan!" panggilnya pada salah satu ketua dari perusahaan pengawalan.


"Saya Tuan!" sahut pria beranak satu itu.


"Duduklah di sini!" pinta Bart menunjuk kursi di sebelahnya.


Dahlan duduk di tempat yang ditunjuk Bart.


"Dahlan, katakan padaku. Kenapa kalian betah membujang, kau jika gak ditangkap warga, aku yakin kau masih melajang hingga sekarang!" tanya Bart sekaligus meledek pengawal tampan itu.



Dahlan Aerlangga, 43 tahun.


Dahlan sedikit mencebik mendengar ledekan dari tuan besarnya itu. Namun jika dipikir-pikir, memang jika malam itu ia tak digerebek warga karena berduaan dengan Rahma. Tentu ia masih lajang sampai sekarang.


"Saya sendiri tidak tau Tuan," jawab Dahlan.


"Kami atau saya memang tidak begitu mudah jatuh cinta dengan seorang gadis," jawabnya gamblang.


"Padahal wajah kalian mumpuni untuk memiliki istri cantik," ujar Bart.


"Lalu kenapa juga kalian bertahan sebagai pengawal. Gaji kalian bisa buat perusahaan loh?" tanyanya lagi.


"Karena kami tidak mau meninggalkan keluarga ini Tuan. Kami sudah nyaman," jawab Dahlan jujur.


Bart tersenyum puas, ia sangat tau kenapa para pengawal betah bekerja di tempat mereka. Loyalitas perusahaan pada semua pekerja adalah salah satunya.


Dahlan kembali masuk ke hunian mewah itu. Remario dan Andoro datang dan duduk bersama pria gaek itu.


"Putraku menikahi cicitmu. Aku haru panggil kau Grandpa bukan?" tanya Remario dengan seringai meledek.


Bart berdecak pada pria bermata hazel ogu. Andoro terkekeh melihatnya.


"Kulempar kau ke Eropa dan tak bisa kembali ke sini, baru tau rasa kalian!" ancam Bart.


Bukan takut kedua pria itu pun tertawa. Jika Bart mengatakan itu di Eropa, mungkin mereka harus takut. Tapi di Indonesia, Bart seperti pengusaha lainnya.


"Maaf Grandpa," ujar pria itu.


Bart lagi-lagi berdecak, namun sejurus kemudian ia tersenyum. Pria itu mengakui jika dirinya memang setua itu. Sebentar lagi ia akan melihat keturunan ke tiganya dari Naisya Putri Hovert Pratama.


"Kalian!" gerutunya sebal.


Bersambung.


Kalo udah tua ya tua aja ya Grandpa. 🤭🙏

__ADS_1


next?


__ADS_2