SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PESONA JUNO


__ADS_3

Juno Hamdani, empat puluh lima tahun, sosok pria tampan dengan postur tubuh sedang. Wajahnya mirip dengan aktor Joe Taslim. Kulitnya putih bersih, dada bidang bahu kokoh dan dua lengan yang berotot.


Banyak wanita yang salah fokus ketika dirinya tengah berdiri melamun. Juno mengenakan kaos warna hitam yang ketat hingga memperlihatkan otot perutnya. Layla menarik tangannya dan membuyarkan lamunan pria itu.


"Dik?"


"Ini tunangan saya, Mas Juno ...."


"Juno Hamdani!" lanjutnya menjulurkan tangan ke arah pria itu.


Tatapan Juno yang tajam, membuat pria yang tadi memaksa Layla menelan saliva. Ia ragu menerima uluran tangan Juno.


"Aku tak percaya jika dia tunanganmu!" tekan pria itu mengabaikan uluran tangan Juno.


"Terserah!" sahut Layla tak peduli.


"Yuk Mas!" ajak Layla pada Juno agar berlalu dari sana.


"Tunggu La ... kita bisa bicarakan semua baik-baik!" seru pria itu masih keras kepala.


"Apa yang ingin anda bicarakan pada tunangan saya!?" desis Juno mulai terpancing emosi.


"Sayang, kamu emang ada hubungan dengan laki-laki ini?!" tanyanya pada Layla.


Gadis itu menggeleng, sungguh hatinya berdesir mendengar panggilan sayang dari Juno. Tatapan pria itu membuat ia merasa terlindungi, Layla merasa mendapat pria yang selama ini ia cari. Walau ia tak tau status pria itu. Gadis itu memilih Juno untuk menolongnya saat ini.


"Dia kekasih saya!" aku pria itu.


"Dia bohong!' teriak Layla.


Keributan itu membuat ketiganya menjadi sorotan orang-orang sekitar. Beberapa petugas keamanan datang dan meminta mereka untuk menyelesaikan persoalan di tempat lain.


"Kamu bawa motor sayang?" tanya Juno yang sepertinya kebablasan memanggil ustadzah itu dengan panggilan sayang.


Jemari Layla yang menggenggam jemari Juno begitu dingin, tanda ketakutan pada sang gadis. Juno mengeratkan genggamannya. menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada sang gadis.


"Aku nggak bawa motor," cicit gadis itu menjawab.


"Kalau begitu, ayo!' ajak Juno.


Pria itu menggandeng gadis yang menyeretnya dalam masalah. Pria yang memaksa Layla mengikuti mereka. Mengira profesi Juno adalah karyawan biasa. Ia kaget ketika Juno malah membawa Layla ke tempat parkir mobil.


"Ck palingan mobil sedan biasa!" cibirnya iri.


Tampak Layla menunggu di teras lobi mall. Pria bernama Doni itu menstater motornya dan mendekati gadis itu.


"Dia kabur, kau bohong jika itu tunanganmu!' ujarnya.

__ADS_1


"Menyingkirlah Mas. Saya masih menghormatimu!" usir Layla.


Tin! Bunyi klakson mobil. Doni menoleh, matanya membelalak sempurna dengan kendaraan yang berhenti di belakangnya, begitu juga Layla.


Sebuah sedan Cadillac CT6 3.0L Twin Turbo Platinum AWD warna silver, Juno memang sekaya itu. Pria itu mengumpulkan pundi-pundi rupiah ketika bekerja di perusahaan SavedLived bahkan selama belasan tahun. Bahkan mantan istrinya kini kembali mengejarnya setelah tau jika Juno kaya raya.


"Sayang, ayo masuk!" ajaknya.


Pria tampan itu turun dan menggandeng Layla. Membukakan pintu untuknya secara gantleman, lalu menutup pintunya perlahan. Juno beranjak ke kemudi mobil.


"Hei ... kita mau ke mana?" tanya Doni gusar.


"Apa perlu lagi? Kan sudah selesai. Tunangan saya tidak mengakui hubungan kalian selain rekan seprofesi?!" tekan Juno.


"Jadi saya rasa ... tidak perlu dibicarakan lagi!" lanjutnya.


Juno naik dalam mobilnya. Kendaraan itu melesat meninggalkan Doni yang hanya bisa bengong. Jika ingin bersaing dengan pria yang baru saja diperkenalkan sebagai tunangan Layla. Maka ia kalah set.


"Apa itu mobil sewaan ya?" gumamnya bertanya.


"Kan sekarang banyak yang modal nekat. Biar dibilang kaya sama banyak duit, mereka habis-habisan ngeluarin uang. Padahal mah kere!" Doni terus berasumsi negatif pada Juno.


Pria itu akhirnya menjalankan kendaraan roda duanya. Ia hendak mengikuti mobil mewah itu. Sayang, lajunya tentu kalah dengan kendaraan roda empat mewah itu.


Sedang di dalam mobil, dua insan saling diam. Hanya keheningan yang ada sepanjang mereka berkendara. Juno melirik gadis yang duduk dengan gelisah di sisinya. Sebagai pria tentu dia paham jika Layla yang seorang ustadzah risih duduk berdua saja dengannya.


"Lancang?" tanya Juno.


"Iya, saya lancang memperkenalkan Bapak sebagai tunangan saya. Padahal saya tidak tau status Bapak," jawab Layla dengan wajah menunduk.


"Status?"


"Pak, jika Bapak punya istri atau kekasih. Saya minta maaf sekali, bukan maksud saya ...."


"Saya single!' potong Juno.


Layla meremas jari jemarinya. Pria itu sungguh ingin kembali menggenggam jemari lembut milik ustadzah cantik itu. Tetapi, drama tadi sudah selesai, ia takut untuk melakukan lagi.


"Kita bicara di kafe sana ya!" ajak Juno.


"Pak ...," Layla hendak menolak.


"Jangan khawatir, kita akan duduk di tengah-tengah dan banyak orang!" ujar Juno.


"Saya akan meninggalkan Ustadzah di sana. Saya tak mungkin mengantar anda ke rumah," potong pria itu lagi.


Mobil itu sampai di kafe milik tuan mudanya. Sean terkejut dengan kedatangan pria itu bersama seorang gadis berhijab. Sean tentu tak mengenal guru Adiba.

__ADS_1


"Om?!" sapanya.


"Tuan muda, saya minta tempat yang nyaman untuk bicara tapi tidak berkhalwat berdua saja," ujar Juno.


"Mau Sean temenin?" tawar remaja itu.


"Boleh Tuan!" sahut Juno semringah.


"Kita di VIP aja ya. Kalau bicara terlalu pribadi," ajak Sean.


Layla sedikit tenang, ada dua laki-laki duduk bersamanya, walau jika ada wanita juga yang menemaninya, ia akan lebih senang.


"Sean, Om Juno!' panggil Nai.


Gadis itu baru saja pulang dari rumah sakit, ia ingin pergi ke kafe milik saudaranya itu. Tentu atas persetujuan Terra.


"Eh ... Nai, yuk temenin kita, biar pacar Om Juno nyaman!" sahut Sean.


Layla bersemu merah, pipinya memanas ketika Sean mengatakan soal "pacar". Tak terasa ia menaut jemarinya di jemari Juno. Pria itu senang bukan main, jantungnya dari tadi berdebar kencang.


Kini mereka berempat ada di ruangan privat. Empat cangkir capuccino ada di atas meja berikut hidangan lainnya.


"Jadi Dik, saya akan memperkenalkan lagi diri saya. Nama saya adalah Juno Hamdani, profesi sebagai bodyguard profesional. Saya sudah punya rumah, mobil dan tabungan masa depan. Jujur status pernikahan saya ada cerai hidup. Saya duda tanpa anak!" Juno menjelaskan dirinya.


"Apa adik mau sama duda?" tanyanya.


Juno menatap gadis yang juga memandangnya. Ia pasrah dengan penolakan, terlebih Layla adalah seorang ustadzah. Ilmu agamanya tak sebanding dengan gadis yang berprofesi sebagai guru itu.


"Nama saya Laylanazraa Arumi Syahreza, pekerjaan guru usia tiga puluh tujuh tahun. Saya tidak keberatan dengan duda," jawab gadis itu.


Layla langsung menundukkan wajahnya dengan rona merah di pipi. Ibunya pasti akan senang jika ia menikah, bahkan ada tawaran poligami jika dirinya tak juga memiliki suami tahun ini.


"Kalau begitu, saya minta alamat kamu, Dik. Saya akan melamar kamu!' pinta Juno langsung.


Layla memberitahu alamatnya. Juno berjanji akan mengatakan kapan ia melamar gadis itu.


"Kita bertemu tiap hari di pesantren di mana Nona Adiba belajar, karena saya adalah pengawalnya," ujar pria itu dengan tatapan bahagia.


Nai mengantar pulang guru cantik itu. Juno bersorak riang dengan mengangkat tinggi Sean.


"Om gila!" pekik remaja itu sebal.


"Tuan ... saya dapat berlian setelah dibuang oleh batu kali!" pekik pria itu kegirangan.


Bersambung.


Selamat ya Om Juno. Tinggal selangkah lagi!

__ADS_1


Next?


__ADS_2