SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PRIA-PRIA POSESIF


__ADS_3

Herman mendatangi rumah sakit di mana putrinya bekerja dan menjadi kepala rumah sakit miliknya. Reno, Joko dan Abdi yang menjaga nona mudanya.


"Kenapa kalian tidak berjaga di depan pintu kerjanya?" tanya Herman.


"Nona melarang kami Tuan," jawab Reno.


"Ayo masuk!" ajak Herman kemudian.


Mereka berempat pun masuk ke bangunan yang berwarna soft itu. Memang didesign hangat dan lembut. Herman melihat sosok pria dengan buket bunga mawar berjalan menuju ruangan putrinya. Reno hendak menghentikan pria itu tapi ditahan oleh Herman.


"Tuan ... pria itu siapa tau menyembunyikan sesuatu di buket itu!" ujar Reno panik.


Tentu saja pemuda berusia dua puluh empat tahun ini sangat keberatan jika Arimbi dimiliki oleh pria lain. Tujuannya untuk mendapatkan gadis itu masih jauh panggang dari api. Reno menilai jika Arimbi tak tertarik sama sekali dengannya.


"Diam kau!" sentak Herman.


Empat pria berjalan perlahan dan mendapati pria itu mengetuk pintu ruang kerja Arimbi.


"Eh ... Dokter Fardhi ... mau cari Dokter Arimbi?" tanya asisten Arimbi.


"Iya, apa dia ada?" tanya pria bertubuh kurus tinggi itu.


"Dokter Arimbi sedang ke ruang penanganan anak dan keluarga, Dok!" jawab perawat itu.


"Apa bisa saya menunggu di dalam?" pinta pria itu.


Herman baru saja ingin mendatangi pria itu dan mengatakan tidak bisa. Tetapi, Arimbi malah memanggilnya.


"Ayah?" Herman menoleh.


"Loh kamu dari mana Baby?" tanya pria itu.


"Dari sana," tunjuk gadis itu pada satu ruang.


Arimbi menggandeng tangan ayahnya. Gadis itu belum melihat pria pembawa bunga. Ia terkejut ketika melihat pria itu di depan pintunya. Arimbi jadi ketakutan setengah mati. Tentu ia mengenal dokter pria yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya itu.


"Loh Sus, kok bunga dari pacarmu nggak kamu terima!" sahut gadis itu meminta perawat mengerti kodenya.


Selfi tentu tak mengerti kode yang diberikan dokternya itu. Justru Fardhi yang tidak suka dengan perkataan Arimbi, jelas-jelas kemarin ia mengatakan cinta pada dokter muda nan cantik itu. Walau ditolak, pria itu hari ini kembali mengutarakan maksudnya.


"Dok, bunga ini untukmu," ujarnya.


Dengkusan kesal terdengar dari hidung Herman. Pria itu akan mengambil bunga itu. Arimbi hanya diam, Fardhi tentu menarik kembali bunga karena tak mengenali Herman.


"Maaf Tuan, anda siapa? Kenapa anda menggandeng seorang gadis yang semestinya menjadi cucu anda?" tanya pria itu curiga.


Herman marah bukan main. Reno hendak menyela, tapi Arimbi lebih dulu membuat malu dokter itu.


"Tuan yang kau lihat ini adalah ayahku, Dokter Fardhi!"

__ADS_1


"Jangan bohong Dokter. Apa ternyata selama ini dugaanku salah tentangmu Dok?" cecar pria itu.


"Pergilah Dok. Sebelum aku marah padamu! Pria ini ayahku Raden Mas Herman Triatmodjo dan aku putrinya Raden Ajeng Arimbi Triatmodjo!"


Arimbi membawa masuk ayahnya ke dalam ruangan. Tiga pasang mata menatap Fardhi tajam terutama Reno. Sedang Fardhi malu luar biasa, ia menatap tiga pria yang menjaga pintu dan masih menatapnya datar, salah satunya malah menatapnya penuh permusuhan.


Pria itu pun pergi dengan rasa sesal di dada. Kecemburuannya membuat ia langsung dicoret dari pilihan Arimbi untuk menjadi kekasihnya.


"Mestinya aku bertanya baik-baik tadi, bukan langsung menuduh gadis itu," keluhnya bergumam.


Sementara itu di daerah lain. Gomesh bersama Fabio dan Pablo memandang hektaran sawah yang baru saja disemai. Udara begitu bersih dan segar. Gomesh menghirup rakus udara itu. Adzan ashar terdengar tiga pria itu sudah mensurvey semua tempat yang akan menjadi tempat wisata semua perusuh dan juga hunian Belanda yang menjadi tempat tidur mereka.


"Sebaiknya kita pulang," ajak Gomesh.


"Kita pamit dulu," lanjutnya.


Mereka pun kembali ke dalam rumah. Ternyata perempuan itu tengah shalat. Ketiganya memilih duduk dan menunggu. Sungguh keramahan Mutia membuat mereka betah.


"Nak, kalau kalian ingin beribadah. Gereja ada dekat pos polisi sebrang sana," ujar wanita itu ketika melihat tiga tamunya.


"Tak baik menunda ibadah," lanjutnya penuh kelembutan.


Gomesh menatap wanita itu dengan lekat. Mungkin dalam pikiran Ibu Mutia ini jika ibadah orang Nasrani sama dengan ibadahnya umat islam yang lima kali sehari. pikir Gomesh.


"Iya Bu, kami sekalian pamit jika begitu,' ujar Gomesh.


"Loh kenapa buru-buru? Kalian bisa kemalaman sampai. Menginaplah. Usai ibadah subuh kalian baru pulang," saran wanita itu.


"Jangan, Nak. Itu tidak baik, mereka juga lelah dan ketika tidur nyenyak kalian bangunkan. Itu akan menyulitkan mereka untuk tidur lagi," larang Mutia sekaligus menasehati ketiganya.


"Ayo, menginaplah. Hubungi keluarga kalian jika subuh nanti baru pulang," ujar Mutia.


Gomesh menurut, perkataan seorang ibu tentu tak boleh dibantah. Ia akan menelepon istrinya dan juga tuannya.


"Ketua, bagaimana jika Tuan malah marah?" bisik Pablo.


"Kita bilang ibu yang suruh!" bisik Gomesh.


Benar saja dugaan Pablo. Virgou memarahi pria raksasa itu dan menyuruhnya pulang segera. Gomesh yang bermuka serba salah tertangkap oleh Mutia.


"Kenapa Nak, apa istrimu marah?" tanya wanita itu.


"Ini boss saya Bu," jawab Gomesh.


"Kemarikan ponselmu, biar ibu yang bicara," pinta Mutia.


Gomesh memberikan ponselnya pada wanita itu. Mutia langsung memberi salam pada Virgou.


"Assalamualaikum, Nak. Saya ibu dari Laylanazraa, saya yang menyuruh anak buahnya menginap karena jika dipaksakan akan terlalu malam untuk sampai sana. Apa tidak keberatan jika Gomesh, Pablo dan Fabio menginap, selepas subuh baru mereka pulang,"

__ADS_1


Virgou diujung telepon tentu tak bisa berkutik, terlebih setelah mendengar permintaan dari seorang ibu.


"Baik lah Bu. Mereka boleh menginap. Maaf jika merepotkan," sahut pria itu.


"Tidak masalah, Nak," ujar Mutia di seberang telepon.


Sambungan telepon diputus setelah mengucap salam. Virgou mengumpat pada Gomesh dan dua asisten pribadinya itu.


"Awas kalian besok!"


Di rumah sakit Nai. Herman membawa putri dan tiga pengawalnya ke rumah sakit saudaranya itu. Mereka mau menjemput Nai.


"Ayah!" pekik Nai senang.


Herman mencium kening gadis cantik itu. Nai sudah selesai tugasnya. Leo, Rio dan Gagah yang menjadi pengawalnya membungkuk hormat pada Herman. Darren datang menjemput istrinya.


"Ayah!" Darren langsung memeluk salah satu pria kesayangannya itu.


"Ayah mau mengajak Nai kencan," sahut pria itu.


"Ikut yah," rengek Darren.


"Ayo, itu istrimu!"


Saf mendatangi mereka.


"Kalian bersepuluh ikuti mobilku dari belakang. Aku akan membawa mereka!" titah Herman.


"Supir ayah ikut mereka. Aku yang menyetir mobil!" tukas Budiman.


"Kau atur saja!" sahut Herman tak masalah.


Tiba-tiba.


"Nai! Dokter Nai!"


Bukan hanya Nai saja yang menoleh tapi semuanya. Sosok pria tampan mendekati Naisya. Hal itu membuat Darren, Budiman dan Herman geram.


"Dok, besok saya undang makan malam mau?"


"Dalam rangka?" tanya Nai.


"Dalam rangka mengungkapkan isi hatiku,"


"Jauhi pikiranmu ingin memacari putriku!" sentak Budiman marah.


bersambung.


Yaah ... bangunin singa bocan ini mah 🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2