SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KE EROPA


__ADS_3

Akhirnya semua pamit untuk pergi. Layla memeluk ibunya. Mutia menolak ikut karena ia tak mau meninggalkan panen yang sebentar lagi tiba. Virgou lalu menelepon manager mall sembako miliknya. Pria itu akan membeli banyak beras dari petani lokal di sini.


"Tempatnya lebih dekat dari produsen sebelumnya, pasti budget pengiriman lebih murah," jelas pria itu beralasan.


"Saya juga akan membangun koperasi khusus petani di mana mereka bisa membeli pupuk dengan harga murah," janji pria itu.


"Udah kek kampanye saja kamu. Udah jangan banyak janji!" ujar Bart mengingatkan cucunya.


"Kami berangkat Bu," pamit Juno pada mertuanya.


Akhirnya tiga bus dan empat mobil pergi dari tempat itu. Sebuah tempat di mana banyak kenangan dan kisah yang tak akan mereka lupakan seumur hidup.


"Daddy mau naik jet atau pesawat komersil?" tanya Bram.


"Aku naik pesawat yang kemarin bersama semua anak-anakku," jawab pria gaek itu.


"Biar Rion, istri dan sepuluh adiknya naik pesawat jet pribadiku!" lanjutnya. "Juno, istri dan beberapa pengawal juga ikut aku!"


Mereka berpisah bandara. Bart mengajak semua anak angkatnya naik pesawat yang kemarin mereka beli. Pria itu berencana untuk menukar pesawat itu dengan model Airbus A380-800.


"Biar semua bisa ikut satu pesawat," gumamnya sambil mengangguk.


Kepergian satu rombongan keluarga Dougher Young Pratama Triatmodjo dan Starlight menjadi perhatian para awak media. Terlebih mereka menggunakan pesawat yang baru mereka beli dan beberapa di antaranya malah pergi dengan pesawat jet pribadi masing-masing.


Juno duduk bersama istrinya di kelas eksekutif. Pria itu langsung memeluk sang istri, selama satu minggu ia tak menyentuh istrinya dan hanya berani memeluk saja. Kali ini pria itu mulai mencium pipi sang istri mesra.


"Aa' belum take off ih!" protes Layla dengan pipi yang memerah karena malu.


"Aku ingin kamu sayang," bisik Juno mengigit cuping telinga istrinya.


"A'!" peringat Layla.


"Sayang," Juno menatap netra pekat istrinya.


"Sabar ya, ada tempatnya," pinta Layla lalu mengusap wajah tampan sang suami.


Juno membenamkan bibirnya di bibir sang istri pagutan tak terelakan. Sebagai istri tentu tidak boleh melarang sang suami menyentuh dan berbuat mesra padanya. Pagutan pria itu terhenti saat pramugari meminta para penumpang membaca doa sebelum pesawat lepas landas.


Sementara di pesawat jet. Azha tampak kesal karena tak bertemu dengan pramugari idamannya. Ia melipat tangannya di dada dengan wajah cemberut. Tentu hal itu membuat Harun yang duduk bersamanya mengernyitkan dahi.


"Tamu teunapa?"


"Teunapa pita eundat nait besawat Yan peusal?" tanya Azha kesal.

__ADS_1


"Tan tata Pempa eundat puat!" jawab Bariana.


"Pemana tamu teunapa padhi pidat itut puyut saza?" sela Arion..


Lima bersaudara itu memang didudukan satu deretan atas permintaan mereka juga. Makanya mereka bisa mengobrol seperti ini.


"Pawu mih ...," sahut Arraya.


"Atuh tan pidat pahu talo pita nait besyahwat yan peda!" sahut Azha kesal.


"Halo adik-adik tampan, kakak periksa ya. Apa kalian sudah pakai sit belt-nya dengan benar?" ujar salah satu pramugari cantik menghampiri.


Azha dan lainnya menatap sosok cantik tinggi dan murah senyum itu. Azha langsung salah tingkah. Batita belum empat tahun itu langsung melancarkan aksinya.


"Halo Tata blamudali ... namana spasa?" tanyanya.


"Oh ... hai adik ganteng ... nama kakak Astria," jawab gadis cantik itu.


"Wah namana tayat beunyanyi lok Indonesia!" celetuk Arion. "Niti Sastlia!"


Astria terkikik mendengar nama yang tentu salah itu. Gadis itu gemas hingga mengelus pipi gembul Arion.


Hal itu membuat Azha kembali kesal. Batita tampan itu mengerucutkan bibirnya dan melipat tangan di dada. Astria jadi tertawa melihat tingkah lucu Azha. Ia pun mengelus kepala bocah itu.


Maria, Gomesh, Felix dan Sari hanya menggeleng. Putri mereka ada di kursi khusus bayi yang ada di tengah-tengah mereka. Baby Xiera sudah empat bulan, begitu juga anak dari Dominic dan Dinar yang kini ada di pesawat jet pribadi milik pria itu.


Baby Aaric, Baby Sena dan Baby Alva tampak tenang dalam boks mereka.


"Mama ... teunapa pita eundat zadhi zatu pama Balyam!' protes El Bara.


"Biya ... Mama meumisahtan pita peulsaudala!" sahut Al Bara.


Lidya yang memang tengah merindukan dua putra kembarnya itu tak peduli. Ia ingin mengganggu anak-anak itu dan mendengar ocehan mereka sepanjang perjalanan udara.


Butuh waktu lama, mereka sampai juga di bandara milik Bart. Frans sudah menjemputnya dengan tiga bus khusus.


"Grandpa akan tiba delapan jam lagi, mungkin sebaiknya kita pulang terlebih dahulu," saran Bram.


Semua mengangguk setuju. Terlebih semua anak tidur karena kelelahan. Kini kastil Dougher Young sudah penuh manusia. Tak ada kamar yang kosong. Sekitar lima puluh maid bekerja secara khusus ketika kedatangan mereka.


"Ini adik-adik kalian," ujar Bart memperkenalkan lima puluh anak angkatnya.


"Assalamualaikum!" ucap salam dari salah satu mereka.

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam!" sahut Frans dan Leon bahagia bertemu dengan adik-adiknya.


Kedua pria itu memeluk mereka dan berkenalan satu persatu. Najwa dan Lastri juga senang. Baby Zaa dan Baby Nisa sudah setengah tahun. Tentu ada saja kelakuan dua bayi cantik itu.


"Papa!' panggilnya pada Virgou.


Pria sejuta pesona itu langsung mengangkat dua bayi cantik itu.


"Kalian cantik-cantik sekali!" gemasnya


"Ih, sini sama Mommy!" Puspita merebut keduanya dari gendongan sang suami.


"Mamamamama!" Baby Zaa melahap hidung perempuan itu.


Puspita terkikik geli. Kini bayi-bayi diletakkan di tengah-tengah. Bayi Jac, Bayi Felix, Bayi Dahlan, Bayi Dominic dan Bayi Hendra ada di sana semua.


"Ini mereka anggota rusuh terbaru!' kekeh Bart.


Frans memeluk salah satu adik angkatnya. Rendi Dougher Young, bocah berusia delapan tahun itu juga tampan dengan mata coklat gelap. Sedang Leon merangkul dua adik angkatnya Azlan Dougher Young dan Arima Dougher Young.


'Aku ikhlas jika Allah memanggilku sekarang, aku sangat bahagia," ujar pria gaek itu membuat semuanya marah.


"Jangan bicara kematian!" tegur Kanya tak suka.


Malam menjelang, semua orang sudah pergi tidur. Beberapa anak angkat Bart memilih bercengkrama sebentar.


"Apa kalian menyangka jika kita bisa tidur di tempat seperti istana ini?" tanya Fadli.


"Tidak, tapi apapun yang kudapatkan sekarang itu semua karena kasih sayang Allah," ujar Putra.


"Iya, kita harus membuat Papa bangga pada kita," ujar Fadli lagi.


"Tentu saja, aku memang tidak. begitu pintar di pelajaran ilmiah. Aku lebih suka prakarya, aku mau membuat sesuatu agar Papa bangga padaku!" sahut Rahman.


"Ayo kita kumpulkan prestasi, agar Papa tidak menyesal mengangkat kita sebagai anak!" sahut Azlan.


Bart mendatangi mereka dengan pandangan haru. Ia memeluk semuanya.


"Kalian jadilah diri sendiri, tetap jadi anak soleh, baik hati dan berakhlak mulia," pinta pria itu.


"Dengan begitu saja Papa sudah bangga pada kalian!" ujar pria itu melanjutkan.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2