SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HAJAR LANGSUNG


__ADS_3

Satrio yang mendadak lemas membuat para pria yang menyergapnya keberatan membopong. Fernandez nyaris berteriak pada orang-orang suruhannya itu.


"Apa yang kau lakukan pada saudaraku Tuan Fernandez?"


Sebuah suara mengagetkan para pria termasuk Fernandez. Muka pria itu langsung pucat pasi. Beberapa orang berpakaian serba hitam datang mendekat. Kepalang basah. Fernandez menggunakan Satrio untuk disandera.


"Jangan bergerak!" teriak pria itu.


"Atau dia akan mati!" ancamnya.


Semua terdiam. Satrio dalam papahan beberapa pria, Kean melihat mata saudaranya itu mengintip. Kean santai ia yakin Satrio bisa mengatasi dirinya. Remaja itu sudah kebal segala obat bius, sama dengan Kean yang kebal dengan segala jenis racun.


"Aku tanya padamu Tuan Fernandez apa yang ingin kau lakukan pada saudaraku!" sentak Kean lagi.


"Aku hanya ingin memilikinya!" teriak Fernandez. "Aku ingin menjadikan dia anakku!"


"Fernandez!" sebuah teriakan yang membuat seluruh Eropa ketakutan.


Bart nampak setengah berlari rupanya berita penyekapan salah satu cucunya terdengar. Gabe juga ada di sana.


"Aku pastikan kau dan seluruh perusahaanmu hancur berkeping-keping jika kau berani melukainya!" teriak Bart.


Muka pria tua itu memerah. Ia mendatangi Fernandez yang berdiri ketakutan lalu.


Plak! Plak! Plak!


Tiga tamparan keras mendarat di pipi oria berusia empat puluh delapan tahun itu. Satrio yang sebenarnya pura-pura pingsan langsung berdiri tegak dan melepas cengkram empat pria yang memeganginya.


Keempat pria itu juga tak bisa melakukan apa-apa. Satrio mendekati Bart.


"Kau tak apa-apa baby?" tanya pria itu khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya pusing sedikit karena dia pakai bius terlalu banyak," adu Satrio dengan nada manja.


"Apa? Aku berani sumpah jika hanya sedikit memakai obat bius sayang!" ujar Fernandez membela diri dan sedikit marah pada empat pengawalnya.


"Apa panggilanmu pada cucuku tadi?" tanya Bart.


"Aku ... aku ...."


"Rodrigo ... seret mereka!" teriak pria itu lagi memberi perintah.


Dua puluh lima orang menyerat kelima pria yang pasrah. Gabe mengikuti mereka. Ia akan mencecar habis Fernandez.


Bart menatap semua cucunya yang kini menunduk. Itu alasan orang tua yang memberi pengawal ketat pada anak-anaknya.


"Maaf grandpa," cicit mereka takut.


Bart membawa semua remaja pulang. Di dalam kastil mewah berdiri delapan remaja dengan kepala tertunduk. Aksi usil mereka nyaris saja membahayakan salah satu dari saudaranya.


"Kalian tau apa salah kalian?'


"Tau grandpa," sahut semuanya.


Widya sudah menangis melihat delapan remaja dihukum oleh kakek mertuanya berikut empat anaknya.


"Grandpa, sudahlah ...," pinta Widya lirih.

__ADS_1


"Jangan membelanya!' tekan Bart.


"Huuu ... hiks ... hiks ... Grandpa ... please ... apa nggak kasihan?" tangis Widya pecah.


Kean yang sedih, ia yang tadi memiliki ide untuk mengusili Satrio. Remaja itu yang memiliki usul untuk mengerjai saudaranya itu.


"Kean yang salah di sini Grandpa," akunya lirih.


Air mata remaja itu mengalir deras. Hal itu membuatnya tak tega. Ia memeluk semuanya, akhirnya pecah tangisan mereka.


"Oh Babies ... kalian adalah nafasku, aku nyaris mati mendengar kau diculik," ujar pria gaek itu.


"Grandpa ... Satrio itu mafia ... mana ada mafia diculik,"


"Anak sialan!" gerutu Bart memukul pelan lengan remaja itu.


"Grandpa!" tegur Widya.


"Mommy ... aku dimarahi grandpa!" rengek Satrio manja.


Remaja itu merentangkan tangannya, Widya dan anak-anak memeluknya. Wanita itu menciumi wajah remaja tampan itu.


"Siapa yang tak ingin memiliki salah satu dari kalian sayang. Kalian itu hebat, tampan dan sangat cerdas," ujarnya sambil mengusap wajah Satrio.


"Mommy ... tadi pria itu membelikan ku baju. Itu semua karena Kean pelit!" adunya.


"Kean!" tegur Bart marah.


"Iya Grandpa ... Kean salah," aku remaja itu.


"Jangan usil lagi ya ...," peringat Bart.


Kean mengangguk. Pria gaek itu menghela napas panjang. Ia berpikir bagaimana jika berita ini sampai di telinga Terra, Virgou atau Herman.


"Mungkin aku bisa menghadapi Terra dan Virgou karena mereka adalah cucuku, tapi Herman?" pikirnya bergidik.


"Ck ... pria itu sangat menakutkan dibalik sikap tenangnya," gumamnya dalam hati.


"Grandpa ... berita ini jangan sampai di telinga daddy dan ayah ya," pinta Satrio tiba-tiba.


"Aku tak bisa menjamin sayang," ujar pria itu.


Gabe datang dengan tangan dibalut perban. Pria itu sedikit geram dan mukanya memerah karena marah dan kesal jadi satu.


"Apa yang terjadi pada tanganmu?' tanya Bart.


"Aku ...."


"Assalamualaikum ... Babies!"


Frans, Leon dan para istri datang dengan wajah panik. Mereka mendengar kabar tentang ingin diculiknya salah satu remaja.


"Nini, Grandpa!' pekik para remaja.


Kean menangis dipelukan Leon, Sedang Nai dan Arimbi berada dipelukan Najwa. Sean, Al, dipelukan Lastri sedang Daud dan Satrio ada dipelukan Leon.


"Kalian tak apa-apa kan?" tanya Frans pada Kean.

__ADS_1


"Kean dimarahi grandpa ... hiks ... hiks," adu remaja itu.


"Astaga ... aku yakin tak lama Virgou pasti meneleponku lalu Terra dan ... Herman!" keluh Bart.


Benar saja tak lama nama-nama yang Bart sebutkan menelepon dan memarahi pria tua itu kecuali Terra yang menanyakan kabar anak-anaknya terlebih dahulu.


"Tenanglah ... mereka tidak apa-apa," ujar Bart.


"Lalu penculik itu apa grandpa basmi?"


"Fernandez menginginkan Satrio jadi putranya ia ingin memiliki anakmu itu karena sangat tampan dan begitu memukau matanya," jelas Bart.


"Apa Fernandez pria bujang bangkotan itu?!" teriak Virgou dan membuat Bart menjauhkan teleponnya.


"Dia belum bangkotan bodoh!" Bart kesal dan menutup teleponnya.


Ketika Herman menelpon, Bart yang lebih dulu memarahi pria itu hingga ayah dari Satrio itu bingung sendiri.


"Putramu tidak apa-apa, jadi jangan menerorku!" teriak Bart mengakhiri sambungan teleponnya.


"Ah kalian ini!" gerutunya pada seluruh keturunannya. "Kalian terlalu memanjakan anak-anak itu!"


"Dad!" peringat Leon.


Bart tak berhenti mengoceh tak jelas. Widya selesai mengobati tangan suaminya yang lecet akibat memukuli anak buah Fernandez yang ternyata berlebihan menggunakan chlorofom terlalu banyak. Bahkan Fernandez ikut memukuli pengawalnya.


"Fernandez bilang, ia sudah jatuh cinta pada Satrio dan ingin memilikinya sebagai anak," ujar Gabe.


"Pria sialan. Dia kira membesarkan Satrio itu mudah apa?!" gerutu Leon kesal.


"Makanya aku menghajarnya, kesal sekali aku mendengarnya!" sahut Gabe.


Frans menciumi wajah remaja itu.


"Untung dia mengincar Sat, bagaimana jika Nai atau Arimbi," sahut Najwa takut.


"Oh nini, kami juga bisa berkelahi," sahut Nai sombong.


"Nai ... tadi pria itu memakai chloroform loh untuk membius, lagi pula tenaga laki-laki terlatih itu berbeda dengan tenaga laki-laki biasa," terang Najwa memperingati.


"Jangan cari bahaya sayang, kami begini karena begitu menyayangi kalian," terang Lastri kini.


"Maaf nini, kami pasti menurut nanti," janji semua remaja.


Para orang dewasa menghela napas panjang. Mereka yakin itu hanya janji di mulut saja.


"Mereka adalah anak-anak yang ingin tau dunia luar dan ingin memiliki pengalaman," ujar Gabe memaklumi.


"Iya tau, mereka juga ingin bebas seperti remaja lainnya. Hanya saja mereka adalah Dougher Young! Pasti banyak musuh yang mengincar, bahkan Fernandez yang bukan musuh saja ingin memiliki Satrio bukan?" sahut Leon sedikit kesal dengan para remaja.


"Grandpa ...," rengek mereka semua.


bersambung.


ah ... kan ... gitu deh ...


next?

__ADS_1


__ADS_2