
Pesta makin semarak. Luisa mempersembahkan dua lagu dangdut. Bahkan Mai dan Kaila ikut bernyanyi bersama dengan wanita itu.
'Baby Dew!" panggil Luisa sambil meliukkan tubuhnya seksi.
Dewi melipat tangannya di dada. Dari sejak bayi, gadis itu akan mengamuk jika ada yang mengajaknya berjoget dangdut.
"Mama, jangan ajak monster cantik itu!' ujar Kaila.
"Kenapa?" tanya Luisa.
Kaila membisikkan sesuatu pada mertua dari kakaknya itu. Luisa mengerti, ia pun mengangguk.
"Ternyata saudarimu itu tak asik," bisiknya.
Maisya dan Kaila mengangguk. Berbeda dengan Dewa yang kini memegang mik. Lagu dangdut sudah selesai. Kini semua turun panggung hanya para perusuh paling junior yang masih bergoyang heboh.
"Sebuah lagu untuk kakak berempat," ujarnya di depan mik.
Dewa mengambil gitar dan memetiknya. Para perusuh junior heboh, mereka duduk di panggung membiarkan baju, celana mereka kotor. Semua tamu duduk di bangku yang disediakan. Mereka layaknya penonton dadakan.
Luisa duduk di pelaminan. Peluhnya jatuh dan mengalir hingga ke lehernya yang jenjang. Andoro menelan saliva kasar. Dua puluh lima tahun ia menanti sang istri terbuka. Ia menahannya begitu lama, pria itu mematikan seluruh hasratnya seiring pandangan dingin sang istri.
"Kau seksi, sayang," ujarnya berbisik mesra.
"Apa sih Pa!" ketusnya mencebik manja.
"Oh ... cepatlah pesta ini berakhir!' pinta pria itu dalam hati.
"Sayang ... antar aku ke kamar mandi,' pinta pria itu tak kehilangan akal.
"Itu kelihatan tulisannya!" tunjuk Luisa.
"Ayo antarkan sebentar!"
Luisa ditarik oleh Andoro. Pria itu tak tahan, ia harus mengeluarkan semua hasrat yang ia tahan seperempat abad itu.
"Mama sama Papa kemana?" tanya Arimbi pada suaminya.
"Nggak tau, tapi mungkin nganter Papa ke kamar mandi," jawab Reno.
"Ngapain Papa ngajak Mama ke kamar mandi?" tanya Arimbi lagi.
"Aku tidak tau sayang, mungkin Papa atau Mama butuh teman," jawab Reno lagi.
"Aneh, ke kamar mandi dekat situ aja pake di temenin!" dumal Arimbi.
Sedang Nai nampak santai dan menikmati salah satu adiknya menyanyikan lagu dengan merdu di atas panggung.
Dua jam berlalu, pesta sudah berakhir. Semua tamu sudah pulang, banyak ucapan selamat dan doa yang baik untuk dua pasang mempelai. Namun baik Luisa dan Andoro belum keluar dari kamar mandi.
"Apa kau yakin Papa dan Mamamu ke kamar mandi?" tanya Bart pada Langit.
"Tadi liatnya ke sana uyut," jawab Langit.
__ADS_1
"Lalu kemana mereka berdua sekarang!" pekik pria gaek itu mulai kesal.
Langit menelepon kedua orang tuanya, tetapi nomor dua-duanya mati.
"Teleponnya mati," ujarnya.
"Nggak usah nyari Grandpa," sahut Virgou santai.
"Sebaiknya kita juga menginap di hotel dekat sini saja," lanjutnya memberi ide.
"Ya sudah, ayo. Anak-anak sudah ribut mengantuk!" ajak Bart.
Kini semua menuju hotel yang ada di dekat gedung itu. Mereka menyewa empat blok. Bart membayar semuanya.
"Kalian benar-benar membuatku bangkrut!" dumal pria itu kesal bukan main.
Semua tersenyum lebar, Bram terkekeh, pesta dua cucunya memang bukan di gedung yang ia miliki. Hotel milik pria itu penuh semua. Jadi ia menyewa dekat saja yang sama persis dan mewah seperti hotel miliknya.
"Dad, nyaris semua cucuku, memakai hotelku loh," sindir Bram.
"Kujitak kepalamu!" sungut Bart gemas pada Bram.
"Sitat pa'a yuyut?" tanya Harun ingin tahu.
"Ck ... anakmu itu Boy!" dumal pria gaek itu tambah kesal.
Virgou hanya nyengir kuda. Sedang semua bayi menatap Bart dengan pandangan bertanya-tanya.
"Ck!" pria itu berdecak dan meninggalkan semua bayi yang berwajah penasaran.
"Hei, jangan campuri orang tua bicara ya!' peringat Adiba. "Itu namanya pemali!"
"Nan pulpul wan puwa ... lamali!" beo Arsh.
Semua anak akhirnya dibawa oleh Dinar ke satu kamar, ia bersama Dominic ingin menidurkan semua bayi.
"Sayang, Umi sama siapa?" tanya Lastri ketika dua bayinya dibawa Dinar dan Dominic.
"Buat lagi sama Daddy!" sahut Dominic asal.
"Sayang!' peringat Lastri membola.
Frans sangat senang mendengar hal itu, ia menarik istrinya ke kamar mereka dan membiarkan semua bayi diurus oleh Dinar. Bahkan Najwa juga tak kebagian anak satupun.
"Baby Fir sama Nini yuk," ajaknya.
"Ndat au!" tolaknya lalu memeluk erat Juno.
Pria itu menggendong Firman dan Ari bersamaan, sedang Alia dan Della, sudah dibawa oleh Rion dan Azizah.
Jangan tanya bayi lainnya. Mereka memilih kamar sendiri dan hanya ditemani Maria dan Sari, juga Anyelir. Dua suami mereka seorang pengawal yang harus berjaga terus hingga malam.
Sementara di sebuah kamar mewah, dua insan nampak berpeluh. Napas keduanya saling menderu, Andoro ambruk di sisi istrinya setelah dua jam bercinta. Pria itu benar-benar menuntaskan birahi yang terpendam selama dua puluh lima tahun itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ujarnya lalu memeluk sang istri erat.
Luisa membalas pelukan suaminya. Tubuh polosnya ia tenggelamkan pada tubuh besar yang baru saja memberinya kenikmatan itu.
"Aku juga mencintaimu," balasnya lalu mencium bibir sang suami.
"Eh ... mereka nyariin kita nggak ya?" tanya Luisa ketika tersadar.
Andoro terdiam, pria itu menatap sang istri mesra. Namun, keduanya kini kembali menerjang ombak penuh hasrat dan gairah.
Sore menjelang. Baik Andoro dan Luisa telah menunggu di lobi. Keduanya bersemu merah menahan malu. Tatapan Bart sangat tajam dan menyelidiki keduanya.
"Kalian!" dumalnya pelan sekali.
Mereka pun akhirnya cek out dari gedung mewah itu. Semua kembali ke hunian masing-masing.
Terra kembali menatap kamar putrinya. Ia masih mengira anak perempuannya tidur di sana.
"Sayang," Haidar memanggilnya.
Terra menoleh dengan mata basah. Sang suami langsung memeluk istrinya, ia menatap ranjang Nai yang berukuran queen size. Semua berwarna putih dan biru, warna kesukaan Nai.
"Kita sudah melepasnya sayang. Baby ada di tangan yang tepat," ujar Haidar dengan suara tercekat.
Sementara di hunian Herman. Pria itu kini berada di kamar Arimbi. Nuansa warna lembut dan wangi menenangkan siapapun yang datang. Herman mengelus pinggiran ranjang putrinya.
"Ayah?" panggil Khasya.
Wanita itu mendapat suaminya tengah menahan tangis di kamar anak perempuan mereka.
"Sayang," wanita itu langsung mendatangi pria itu.
"Sayang," panggilnya lagi.
Herman menangis, ia sudah tak lagi mendapat putrinya tidur di tempat itu. Putri kebanggaannya telah diambil pria yang lebih hebat darinya.
"Babyku ... hiks ... babyku!"
Khasya memeluk suaminya. Keduanya bertangisan. Sudah lepas tanggung jawab mereka.
"Baby ada di tangan yang tepat Ayah. Baby ada di tangan suaminya yang hebat," ujar wanita itu menenangkan suaminya.
Sementara di hunian masing-masing, baik Nai dan Arimbi kini berada dalam pelukan hangat sang suami. Langit sudah terlelap, Nai menatap suaminya penuh cinta. Terlintas wajah-wajah cinta pertamanya.
"Papa, Daddy, Ayah, Papi, Baba," panggilnya lirih.
Perlahan Nai turun dari ranjang, ia keluar menuju balkon. Malam telah larut bulan sabit tampak menyembul di balik awan hitam. Bintang mengerlip satu-satu.
"Ba bowu Papa, Ayah, Daddy, Papi, Baba!" ujarnya lirih seiring angin yang berhembus.
bersambung.
"Liking someone is natural ... but loving is a choice."
__ADS_1
next?