SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PULANG


__ADS_3

Hari berlalu, semua koper telah berada di bagasi. Anak-anak menangis karena akan ditinggal oleh kakaknya. Arsh tak mau lepas dari gendongan Azizah.


"Baby, kakaknya mau pulang," bujuk Widya lembut.


Ella dan lainnya sudah pergi ke sekolah. Tadi mereka juga menangis ditinggal oleh Arimbi.


"Dat auh!" tolak Arsh memeluk erat leher gadis cantik yang baru saja ia kenal.


"Sudah, biarkan dia ikut, sebentar lagi juga dia tidur,'' ujar Bart.


Benar saja. Azizah hanya menggoyangkan tubuh montok Arsh, bayi tampan itu sudah terlelap. Gadis itu membawa dan menidurkannya di boks.


"Maaf Baby. Kakak pulang ya sayang. Lain waktu kita ketemu dan berkumpul lagi," ujarnya lirih.


Akhirnya, mereka pun pergi ke bandara. Widya begitu berat melepas Arimbi dan Azizah untuk pulang. Tak berhenti ia memeluk dan mencium dua gadis itu begitu juga Gabe.


"Salam untuk semua di sana ya Baby," ujarnya.


"Wa'alaikumusalam!"


Gabe memeluk Virgou erat. Pria itu jadi sangat sayang dengan kakak paling tua ini.


"Jangan seperti ini sayang," ujar Virgou ketika Gabe meminta maaf padanya.


"Aku tak tau jika kau sebaik ini Kak," ujar Gabe lirih.


"Jaga harta dan perusahaan Grandpa di sini dengan baik oteh?"


Gabe mengangguk. Leon dan Frans ingin mengantar mereka, tetapi langsung ditolak Bart.


"Sudah kerja sana! Oh ya jangan lupa kirimi aku uang!" gerutunya kesal.


"Aku mau korupsi uangmu Dad," sahut Frans menggoda ayahnya.


"Kupenjara kau!" ancam Bart.


Leon dan Frans terkekeh. Lalu semua melambaikan tangannya ketika pergerakan mobil. Para wartawan ternyata belum menyerah. Mereka masih ingin mendapatkan berita dari pemilik kastil megah ini. Sayang seribu sayang, mereka harus menelan kekecewaan.


"Ah ... mereka pergi ke bandara! Kita suruh beberapa rekan kita di sana bersiap menyambut mereka!" ujar salah satu dari mereka.


Satu jam perjalanan menuju bandara. Benar saja di lobi mereka sudah ditunggu oleh beberapa wartawan. Virgou menghela napas panjang.


"Arimbi, Diah, Tika, Anti. Pakai masker kalian!" titahnya.


Semua patuh dan memakai masker mereka. Hanya Azizah yang tidak. Reno dan dua rekan lainnya mencegah para wartawan merangsek mengerumuni tuan mereka dibantu aparat keamanan bandara.


"Tuan ... Tuan, minta waktunya!"


"Ada apa?" sahut Virgou ketus.


"Tuan setelah sidang kemarin bagaimana kelanjutan kasusnya?"


"Sudah dilaksanakan. Penjahatnya juga sudah diberi hukuman berat!" jawab Virgou.


"Lalu apa ada langkah selanjutnya?"

__ADS_1


"Tidak ada. Semua seperti biasanya!"


"Apa pihak Osaka tidak keberatan?"


"Tidak! Kami sudah melakukan pembicaraan secara internal, sudah diselesaikan dengan damai!" tekan Virgou.


"Maaf pesawat sudah mau take off, kami permisi!" lanjutnya.


Azizah, Arimbi dan tiga gadis lainnya langsung diamankan oleh Reno dan kawan-kawan juga keamanan pihak bandara.


"Nona Azizah ... apa rasanya jadi pahlawan perempuan?!" teriak wartawan.


"Dia nggak jawab guys ... ketat sekali penjagaannya!"


Azizah dan lainnya telah turun dan naik ke pesawat. Banyak gambar yang diambil pihak wartawan, mereka memang tidak puas tetapi ada berita yang bisa dilampirkan di halaman koran mereka besok.


Sementara di mansion Virgou. Semua masih menginap di sana. Gomesh gelisah bukan main. Biasanya dia pasti diikut sertakan jika tuannya pergi ke manapun. Tetapi kemarin Virgou memintanya untuk menjaga di mansion.


"Kenapa Pa?" tanya Kean yang melihat kegelisahan pria raksasa itu.


"Kangen sama Daddymu," jawabnya kesal.


"Ih ... Papa Gom. Biasanya Papa langsung terbang sendiri ke sana tanpa sepengetahuan Daddy," sahut Kean mencibir.


"Ck ... kemarin Papa diancam. Makanya Papa nggak nyusul," dumal Gomesh cemberut.


Kean tertawa melihat tampang lucu raksasa itu. Remaja itu pun meninggalkan Gomesh yang menggerutu tak jelas dari kemarin.


"Gom ... apa kau keberatan jika menjaga kami?" tanya Haidar.


"Jika iya, aku tinggal bilang ke Virgou," lanjutnya setengah mengancam.


"Aku tak peduli. Nanti aku mau ngadu ke Virgou kau setengah hati menjaga kami!" ancam Haidar ngambek.


"Tuan ... jangan seperti itu!" rajuk pria raksasa itu merayu Haidar.


Herman hanya menggeleng kelakuan dua pria yang sudah tidak muda lagi itu. Sementara para perusuh yang bertambah generasi itu makin rusuh di teras belakang.


"Baby Fathiyya!" panggil Harun.


"Pa'a Ata'!" sahut bayi berusia lima belas bulan itu.


"Baby mawu napain?" tanya Harun.


"Bawu bambil ipu Ata'!" tunjuk Fathiyya pada pohon mangga.


"Binta bambilin pama Om Shandy!"


Harun mencari keberadaan para pengawal. Ia lupa ini bukan rumah di mana para pengawal berkeliaran menjaga.


Fathiyya yang tak sabaran, memilih memanjat pohon itu sendiri.


"Baby tulun!" pekik Harun mencegah adiknya memanjat.


"Baba, Papa!" teriaknya.

__ADS_1


Gomesh yang sedang mengomel tak jelas membola melihat Fathiyya yang memanjat pohon dan Harun di bawah memegang kakinya. Pria itu berlari sebelum kejadian mengerikan terjadi.


"Hup!"


Gomesh menjatuhkan dirinya dan dua bayi ada di atasnya. Fathiyya menangis. Semua anak langsung berdatangan.


"Ayo beuldili!' Azha membantu Harun, sedang Fathiyya digandeng Arraya dan Bariana.


Dua batita itu menenangkan adiknya. Para wanita langsung berlarian dan menggendong Fathiyya yang menangis.


"Baby kenapa?"


"Baby mawu banjat pohon Mama," lapor Harun.


"Baby kenapa mau panjat pohon?" tanya Terra.


Gomesh sudah berdiri. Ia memarahi penjaga yang tak berjaga di halaman belakang.


"Iyya bawu manda Mama ... hiks!"


"Oh ... kan bisa minta tolong sama Papa Gom kalau mau mangga," sahut Terra lembut.


"Iyya bawu bandili Mama ... hiks!"


Terra mencium anak bungsu adik sepupunya itu. Fathiyya memang paling berani diantara semua bayi. Bahkan lebih berani dibanding Aaima.


"Ayo bain ladhi!' ajak Arraya.


Fathiyya pun mengikuti kakak-kakaknya. Jika para bayi berkumpul maka para orang tua pasti penasaran dengan percakapan mereka.


"Eh ... Lalsyad!" panggil Aaima pada Arsyad.


"Pa'a Mima?"


"Teumalin atuh pihat lada wowan puwa-puwaan woh!" ujarnya.


"Eundat pa'a-pa'a," sahut Arsyad.


"Ih ... pitu eundat poleh ... tata Bibu, talo lati-lati pama beulempuan peulbuwaan yan petida lada syetanna!"


"Mama pama Papa selin beulpuwaan eundat pa'a-pa'a puh?" sahut Arsyad.


"Eh ... biya-ya ... Ata' Baliana balu eneh,' sahut Bariana.


"Piya judha ya. Mama judha syelalu pilan talo lati-lati pama beulempuan eundat poleh peulduwaan, pati Aya selin pihat Mama Papa peulduwaan pate syium-syium dithu," timpal Arraya.


Semua orang menoleh pada Haidar dan Terra. Keduanya mencebik kesal akan putrinya yang menggosipi mereka.


"Nah ... atuh judha suta pihat Papa pama Bibu peulbuwaan ... tandan meuleta biuman bilbil," sahut Aaima.


Semua mencari keberadaan ayah dari bayi cantik itu. Jac sedang bersama Demian dan Darren. Gio tengah memberi instruksi pada semua pengawal yang tadi dimarahi oleh Gomesh.


"Eh ... Kemarin Kakak juga lihat guru olah raga kakak ciuman bibir sama kakak kantin di belakang tembok kamar mandi," adu Sky.


bersambung.

__ADS_1


eh ... orang dewasa.


next?


__ADS_2