SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SAH JADI SUAMI


__ADS_3

"Bagaimana para saksi?" tanya Gio.


"Sah!" pekik Virgou dan Bart bersamaan.


Semua mengucap hamdalah. Azizah keluar begitu sangat cantik walau dengan balutan kebaya sederhana. Gadis itu menitikkan air mata. Sebuah surat nikah yang telah ditulis keduanya dengan dua lembar materai 12.000,- rupiah tertempel di sana. Azizah mencium tangan Rion yang sudah sah menjadi suaminya. Pemuda itu mengecup lembut kening istrinya. Terra menitikkan air mata begitu juga Haidar.


Lidya langsung memeluk adiknya begitu juga Darren. Tangisan haru ada di sana membuat semuanya ikut menangis.


"Baby ... kamu sudah jadi suami ... hiks ... hiks!' isak Lidya.


Rion hanya diam, ia tak mampu berkata-kata. Lidya mencium kening Azizah. Ia sangat senang gadis pemberani dan multitalenta itu menjadi adik iparnya.


"Tanda tangani dulu suratnya,' pinta Gio dengan suara tercekat.


Keduanya menandatangani kertas bermaterai itu. Tak ada senyum dan tak ada raut kebahagiaan. Dua-duanya seperti bermimpi jika mereka telah menjadi suami istri.


Rion kini berada di depan Terra, kakak sekaligus ibunya. Wanita itu memeluk bayi besar itu penuh kasih sayang. Terra sudah ikhlas jika Rion menikah.


'Kau sudah memiliki tanggung jawab besar, Baby. Mama yakin kau mampu menjadi imam bagi keluargamu!"


"Mama ... huuuu ... Mama ...!" tangis Rion pecah.


Kini pemuda itu sadar jika tanggung jawabnya sudah bertambah, yakni seorang istri dan juga sepuluh adiknya. Haidar memeluk Rion, keduanya menangis, sedang Terra memeluk Azizah dan memberinya nasihat.


"Jika nanti kau menemukan sikap buruk Baby. Tolong sembunyikan, bimbing dia, mengerti tentang dia,' pintanya.


Azizah hanya mengangguk dengan derai air mata. Rion kini ada di depan Bram dan Kanya. Sepasang suami istri itu mengingat ketika pertama kali melihat Rion.


"Kau benar-benar besar Nak!" ujar Bram lalu merengkuh Rion dalam dekapannya.


Kanya tak mampu berkata-kata, ia memeluk pemuda itu dan tetap menganggapnya sebagai bayi.


"Baby!" Budiman dan Gisel memeluknya erat.


Sungguh sungkeman ini membuat semuanya menangis. Bahkan ketika Rion berhadapan dengan Virgou. Bayi besar itu langsung memeluknya.


"Daddy ... Daddy ... huuuu ... Daddy!"


"Baby ... ingat. walau kau sudah menikah. Kau adalah bayiku!" tekan pria sejuta pesona itu.


"Ion tetap anak Daddy kan?"


"Tentu Baby ... kamu adalah anakku!" ujar Virgou dengan hati yang begitu bahagia ketika mengucap itu.


Puspita menciumi Rion. Ia juga mengenal bagaimana masa kecil Rion.


Semua sudah memberi restu dan doa terbaik bagi pasangan yang dinikahkan secara agama itu. Ketua RT pun menjadi saksi keduanya menikah.


"Kak!" Adiba memeluk kakak perempuannya.


Semua memeluk gadis itu. Lana, Leno, Lino dan Ari mendekat.


"Kak ... apa kami masih jadi adik Kakak?" tanya Lana takut-takut.


"Tentu Baby. Kalian adalah adik-adikku selamanya begitu!' sahut Azizah tegas.


Semua ingin memeluk Rion, tapi melihat wajah pemuda itu yang datar membuat semuanya urung mendekat. Azizah melihatnya, gadis itu memaklumi. Pernikahan ini pasti membuat pemuda yang mengucap sumpah tadi masih shock.

__ADS_1


"Sudah, kalian di sini aja sama Kakak," bisiknya.


Tak ada pelaminan tak ada musik. Para perusuh bingung dengan acara yang tadi sendu berubah mencekam, karena mereka semua diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


"Alun ... Alun!" panggil Azha berbisik.


"Pa'a?" sahut Harun juga berbisik.


"Imi seupenalna pa'a yan teulpadhi?" bisik Azha bertanya.


"Pidat pahu. Meulta seupeltina sedan belamun!" jawab Harun ikut bingung dengan apa yang terjadi.


"Telus pita bi syimi napain?" bisik Azha lagi bertanya.


"Sepaitna pita beunyintil dali syini," ajak Arion.


"Baby Balyam. Bayo ajat yan lain," ujar Bariana.


Maryam mengajak saudara seusianya. Arsh yang paling kecil di antara mereka ikut dengan kakaknya.


Para ibu panti mendekati Khasya yang ikutan melamun.


"Bu ... Bu!" panggil Ratna.


Khasya tersentak. Ratna membisikkan sesuatu. Wanita itu melihat semuanya yang melamun dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa semuanya melamun?" tanyanya gusar.


Terra dan lainnya terkejut dengan suara keras Khasya. Wajah wanita itu begitu marah dengan semua orang di sana.


Khasya menatap Rion. Pemuda itu seperti masih kaget dengan semuanya. Sedang Azizah hanya diam bersama adik-adiknya.


"Baby!" panggil Khasya pada Rion.


"Iya Bun!"


"Rion!"


"Iya Bunda!" sahut Rion akhirnya mulai menyadari apa yang terjadi.


"Apa kau menyesal menikah cepat?" tanya Khasya gusar.


Rion tak menjawab, sungguh pemuda itu masih kaget jika sekarang sudah menjadi suami.


'Mumpung masih baru ... kau bisa menalak Azizah sekarang dan Satrio akan menggantikanmu. Bunda yakin jika Satrio jauh lebih siap menikah dibanding dirimu!" tekan Khasya.


"Jangan!" tolak Rion.


Pemuda itu langsung mendekati Azizah dan adik-adiknya dengan merangkak, lalu mendaratkan bokong di sebelah istrinya.


"Ion cuma kaget aja Bunda!" ujarnya.


Khasya kesal bukan main. Ia menggerutu panjang pendek, jika saja Satrio tadi datang lebih cepat dari Rion. Ia akan meminta putranya itu menikahi Azizah.


"Bun," tegur Herman, pria itu baru melihat istriny menggerutu panjang pendek.


Rion yang merasa bersalah langsung mendekati istri dari pamannya itu. Ia minta maaf, tentu dengan rengekan manjanya.

__ADS_1


"Bunda ... maafin Ion ... please!"


"Jangan begitu Baby, ingat kau yang dulu keberatan jika Azizah diambil oleh salah satu adikmu!" peringat Khasya.


"Iya Bun," ujar Rion lirih.


Terra dan lainnya pun minta, maaf. Makanan dihidangkan, hanya masakan sederhana. Virgou mendapat kabar jika empat pria yang baru saja dibuang ke lautan lepas itu telah mendapat suaka di negara U.


"Beruntung sekali mereka!" ujar pria itu kesal.


"Baru terombang-ambing di lautan selama delapan jam sudah dapat suaka!" lanjutnya kesal.


"Terra juga sudah mengembalikan data mereka Kak," ujar Terra.


"Ck ... kenapa nggak kau hilangkan saja selamanya," sahut pria beriris biru itu sebal.


"Takut dosa Kak! Lagian mungkin mereka beruntung karena langsung ada negara yang menolongnya," sahut Terra tak bersalah.


"Waktu Deborah dulu sampai tiga hari!" sahut Virgou lagi.


"Ah ... sebenarnya sama sih. Te, nggak lama balikin data Deborah," sahut Terra santai. "Mungkin dia pas dapat apes aja sampai tiga hari di lautan."


"Eh mana perusuh?" tanya Widya mencari keberadaan anak-anaknya.


Semua mata mencari keberadaan bayi-bayi ajaib itu. Mereka berkumpul di ruang tengah sambil makan dan ngobrol para orang tua penasaran, lalu mendekati mereka.


"Sssshhh ... aaahh!" Arsh kepedasan.


"Ndes!" ujarnya sambil liurnya meleleh.


"Matan pate teluput deh Baby," saran Bariana memberikan kerupuk.


Mereka makan lontong sayur, padahal tidak ada cabai sama sekali. Kemungkinan bayi itu kepedasan lada.


"Baby matan pupul laja!" sahut Azha.


"Ndat ... tonton bayul ja!" tolak bayi itu.


Arraya menyuapi dengan telaten adiknya itu. Ia juga ikut makan. Terra terharu melihat betapa putrinya itu sangat bisa diandalkan.


"Alun, padhi seupenalna pa'a yan teulpadhi?" tanya Arion masih penasaran.


"Eundat pahu ... butin meuleta pidat pahu jita pumi ipu lubat?!" sahut Harun.


"Pemanan selama imi meuleta andapp pumi imi pa'a?" tanya Fathiyya.


"Meuleta andap pumi imi milit meuleta," jawab Harun kesal.


"Talo pumi bilit meuleta ... pita bi pumi papain?" tanya Arion ingin tau.


"Pita imi suma nontlat!' jawab Harun kesal.


bersambung.


ngontrak bayar baby 🤭


next?

__ADS_1


__ADS_2