SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BARAKALLAH FII UMRIK BART


__ADS_3

Subuh menjelang, semua dalam keheningan. Usai sholat subuh berjamaah, Bart kembali tidur. Setelah kemarin ia nyaris kena serangan jantung mendapati tiga putrinya menghilang.


"Jangan keluar kalau tidak penting sayang," ujar begitu khawatir.


"Maaf Pa," ketiga gadis kecil menunduk dengan wajah menyesal.


Beberapa anak mulai sibuk mendekorasi. Para ibu jadi bingung.


"Sayang ini ada apa?" tanya Maria.


Deta membisikkan sesuatu pada wanita itu. Maria menutup mulutnya dengan tangan dengan mata membulat.


"Apa benar itu hari ini?" Deta mengangguk.


Akhirnya Maria juga membantu dalam keheningan. Saf yang haus turun dari ranjang. Ia tengah siklus jadi tak sholat subuh. Suaminya tengah mendengkur halus dan memeluk Aminah di sana. Saf memberi kecupan ringan pada pelipis keduanya.


Setelah membersihkan diri. Saf memilih turun ke dapur. Ia cukup terkejut melihat semua adik-adiknya tengah mendekorasi ruangan.


"Kak, bunganya udah datang!" bisik keras Heru pada Kean.


"Siap sayang," ujar Kean.


Remaja itu ke depan mansion dan membawa bunga yang diterima oleh para pengawal.


"Sayang ini ada apa?" pertanyaan sama keluar dari mulut wanita bongsor itu.


"Uma!" Jihan menggelayuti manja pada Saf.


"Iya sayang,"


"Ini hari lahir Papa Bart," jawab gadis kecil itu.


"Hah ... apa iya?" Jihan mengangguk.


"Astagfirullah, kok Uma bisa lupa ya?" Saf menepuk pelan keningnya.


"Ya sudah, biar Uma bantu!" ujar Saf lagi lalu menolong sebentar adik-adiknya.


"Semua sudah siap. Makanan sudah datang belum?" tanya Sean.


"Sudah siap semua!" jawab Daud.


"Oke tinggal nunggu Uyut bangun!" sahut Sean.


Semua mendadak hening. Beberapa perusuh paling junior yang bangun langsung ditenangkan oleh perusuh senior.


"Ata' mi pa'a?" Arsh bingung dengan dekorasi yang ada.


"Tenang aja nunggu ya baby," jawab Ditya.


Sean, Al, Satrio naik ke atas mendatangi kamar ayah dan ibu mereka. Nai dan Arimbi juga dibangunkan. Andoro turun bersama Luisa disusul Remario kemudian Terra, Haidar, Virgou, Puspita, Kanya lalu Bram.


"Astagfirullah ... aku lupa kalo hari ini ulang tahun Daddy!" Frans menepuk keningnya.


"Trio juga lupa, untung adik-adik ingat Daddy," sahut Satrio.


Leon juga menyesal lupa hari lahir sang ayah. Virgou santai dengan semuanya. Pria sejuta pesona itu duduk dengan malas.


'Ih kakak, masa nggak tau Grandpa ultah?" sahut Terra kesal.


"Kau saja tidak ingat Te!" sahut Virgou nyinyir.

__ADS_1


Terra cemberut, wanita itu gemas dengan sepupunya yang santai itu. Haidar memutar mata malas. Budiman datang bersama istri dan juga ayah dan ibunya. Lalu disusul Sriani, Gabe, Widya, Beni dan Leni.


Semua tetap hening. Arsh kesal karena tak bisa bergerak bebas. Bayi galak itu turun dari pangkuan Radit.


"Woy wiwem jaja?" serunya marah.


"Ssshhh!" semua menyahuti dengan telunjuk menempel di bibir.


Bayi itu bukan bayi sembarangan, Arsh sangat paham akan ada kejutan bagi sosok yang belum hadir bersama mereka.


Rion turun bersama istri lalu disusul Darren dan Aminah. Mereka sungguh terkejut melihat dekorasi ruangan.


"Weh ... dada yan wuwan pahun?" Aminah paham dengan dekorasi.


"Ada apa ini?" Bart sangat tidak suka keheningan tiba-tiba muncul.


"Happy birthday Papa!' seru anak-anak.


Pria itu terdiam, Azlan dan Heru naik dan mengamit tangan Bart. Rion, Azizah, Darren dan Aminah ikut turun.


Bart terharu dengan kejutan itu. Ternyata ada enam anak yang lahirnya sama tanggal dengan dirinya.


"Ari, Ajis, triple eL juga ulang tahun hari ini Uyut," ujar Kean memberitahu.


Dua kue ulang tahun disajikan. Bart dan anak-anak yang ulang tahun memotong kue bersama. Arsh tentu sangat ingin dipuji.


'Wuyuy ... Alsh puat nih muwamuwana!" aku bayi itu.


"Oh makasih Baby!"


Bart menciumi gemas bayi sok segalanya itu. Gabe hanya bisa menenangkan semua anak-anak yang sudah lelah memberikan kejutan.


"Nggak apa-apa Daddy," ujar Azlan dan lainnya tak masalah.


"Semua makan yuk sarapan nasi kuning!" seru Maria.


"Nasi tunin tayat dimana Mom?" tanya Arraya.


"Ini Baby," Maria menyodorkan satu piring nasi berwarna kuning beserta lauk pauk lengkap.


"Alsh au Omy!"


Arsh tentu belum boleh makan nasi. Bayi itu dibuatkan bubur dengan toping lengkap dan mirip. Arsh makan dengan lahapnya. Begitu juga semua bayi yang lain.


"Nasinya gurih ya. Ini namanya apa?" tanya Luisa ketika memperlihatkan satu lauk bulat.


"Itu perkedel kentang Ma," jawab Nai.


Luisa menggigitnya. Mata wanita itu membulat, ia begitu terkejut dengan rasa gurih dan wangi khas makanan itu.


"Enak!" pujinya.


"Itu yang bikin Jihan, Ratih dan lainnya Mom," ujar Nai lagi.


"Kalian pinter masak sayang," puji Luisa jujur.


"Iya ini enak sekali. Tak kalah dengan masakan para ibu mereka," puji Leni.


"Makasih Mama," ujar Jihan dengan pipi bersemu merah.


Bart menciumi semua anak-anak. Ia sangat terharu karena mereka ingat ulang tahunnya.

__ADS_1


"Maaf Papa, kita nggak kasih kado. Kemarin keburu ketauan Om Rio," jelas Anggi dengan nada menyesal.


"Ini adalah kado paling indah sayang. Papa nggak mau yang lain," ujar pria itu.


"Baby Arsh kamu nggak ngasih kado buat Uyut?" tanya Kean usil.


"Ata' ... Alsh pape ... muwamuwa Alsh wuwat nih!" aku bayi itu sambil mengeluh.


"Astaga dia padahal baru bangun," Langit gemas sendiri.


"Hei bayi. Papa Langit beli kado dong buat Grandpa," ujar Langit.


"Bana?" tanya Arsh tidak percaya.


"Sebentar Papa bawa dari kamar ya?"


Nai bingung, dia saja tidak ingat ulang tahun buyutnya itu, darimana sang suami dapat membeli kado.


Satu kotak tak dibungkus kado diberikan langit untuk sang kakek. Sebuah ikat pinggang BrUno Cavali.


'Indah sekali, makasih sayang," Bart mencium Langit.


"Sama-sama Uyut," Langit begitu senang.


Reno tak mau kalah. Pria itu juga memberikan kado sebuah dasi cantik untuk pria gaek itu. Haidar, David dan Gabe tak ketinggalan.


"Aku kadonya doa saja ya," ujar Bram.


"Iya sayang. Aku bahagia di usiaku menjelang satu abad ini masih bisa melihat kalian berkumpul," ujar pria itu senang.


Acara dilanjutkan dengan karaoke bersama. Para bayi begitu antusias bernyanyi. Gino juga menyumbangkan sebuah lagu.


"Toton pepet sansa ... pansa bituali ... sonya pinta Sansa .... sansa papat tali ... Solon te tili ... Solon te tanan ... lalalalala ...."


Semua heboh ikut bernyanyi, Arsh juga mau ikut bernyanyi. Bayi yang mestinya belum bicara itu tentu merubah total lirik lagu.


'Anihanih lalanpah ndahwu ... ewah, nin, mjo ... amit-amit ilu ... utuitis adun ... spasa lelenan ... anihanih picaan Tuhan!"


Bart sudah kaku perutnya. Arsh begitu serius mengikuti sang kakak bernyanyi. Bayi itu diajari oleh Bariana.


"El Pala anyi!" pekik putra Lidya itu ingin menyumbangkan suara emasnya.


Mik sudah berada di tangan bayi tampan itu. Sebuah lagu lawas yang sering ia dengar dari para pengawal yang menyetelnya.


Kean yang usil tentu tau lagu apa itu. Musik mengalun, semua kening berkerut, El Bara sudah memutar pinggulnya.


"Talam atuh beulselana ...."


"Prrufffhhh!" Herman dan Bart menyemburkan air dari mulutnya.


"Uhuk!" Haidar, Virgou, David dan Gomesh tersedak.


Gabe nyaris terbahak bersama Remario dan Andoro. Semua ibu sampai harus menyembunyikan wajah mereka.


"Piada yan pahu ... pa'a yan tupatai ... piada yan pahu pa'a yan tusali ... bunun Pindi tan pudati ... walutan tuseplani ... atuh tat peuduli ... talam atuh peulselana ...."


bersambung.


El Bara! 🤦


next?

__ADS_1


__ADS_2