
"Baby!" Dewi membeku seketika.
Satrio, Rasya dan Rasyid ada di sana. Gadis kecil itu tak menyangka bisa disusul oleh dua saudaranya.
"Mas?"
Duo R seumuran dengan Dewi. Ia sangat yakin jika tiga saudaranya itu mengikutinya.
"Kalau petualang itu ngajak-ngajak!" ketus Rasyid.
"Nggak sama Baby Ila?" tanya Dewi.
"Nggak, dia tadi kena totok Uma karena nggak bisa tidur. Kalo kita emang pura-pura tidur," jawab Rasya.
Dewi tersenyum, ia tau seberapa pintar saudara-saudaranya itu jika berurusan mengelabui semua ibu mereka.
Sedang di tempat lain, Calvin, Daud, Samudera, Benua dan Domesh dipaksa oleh empat pria dengan senjata tajam.
Benua sudah merasa perih punggungnya ia yakin punggungnya terluka.
"Paklek punggung Benua perih," bisiknya pada Dewa.
Dewa melirik, ia juga tengah melindungi Setya dan Samudera. Calvin juga tengah ditodong senjata. Pemuda itu kesal bukan main.
"Babies!' serunya.
Samudera, Benua, Domesh dan Dewa juga Setya bergerak. Mereka berputar melakukan tendangan keras.
Calvin, Dewa, Samudera, Benua dan Domesh tentu anak-anak yang terlatih. Beda dengan Setya, walau bocah itu juga bisa berkelahi.
Empat orang harus mengerang kesakitan. Gio datang, mereka telat persemian detik saja.
"Ayo pulang Babies!' ajak Gio yang lega melihat anak-anak sudah selamat.
"Papa punggung Benua sakit!' keluh Benua.
Gio membuka kaos putra dari ketuanya itu. Darah merembes, dia menggendong langsung Benua.
"Coba periksa semuanya apa ada yang terluka?" suruh pria itu lagi.
Semua memeriksa tubuh anak-anak. Tak ada luka serius dan hanya lecet yang tak berarti.
"Aman ketua!"
"Bawa semua pulang. Aku bawa Baby Benua ke rumah sakit!" perintah Gio.
'Baik ketua!"
"Papa ikut!" teriak anak-anak tak mau melepas saudara mereka.
"Pulang Baby, biar Mama dan lainnya tidak khawatir!' perintah Gio begitu tegas.
Akhirnya mereka menurut. Gio melarikan Benua ke rumah sakit. Ia juga melapor pada atasannya jika anak-anak yang lain sudah ketemu dan ia membawa Benua yang terluka.
"Kau harus kupukuli sampai lumpuh Salvador!"
Budiman begitu marah mendengar putranya terluka. Gomesh menekan pedal gasnya. Dahlan melihat pergerakan anak-anak lain yang berada di titik hitam milik Salvador.
"Ketua ...."
"Jangan bilang jika ada anakku yang lain masuk dan sok jadi pahlawan Dahlan!" tekan Budiman sambil mengurut pelipisnya.
"Baby De, Duo R dan Satrio ada di area itu ketua!' jawab Dahlan meringis.
__ADS_1
Gomesh mengumpat, Budiman sudah tak tau harus bicara apa. Sedang di tempat lain, Virgou, Langit, Herman, Remario dan Reno bergerak menuju bukit di mana Salvador berada.
"Tuan ... semua anak buah yang menculik anak-anak tertangkap!' lapor salah satu pria suruhan Salvador.
"Bangsat!"
Dor! Satu selongsong peluru melesat mengenai kaki pria pelapor. Pria itu menjerit kesakitan. Salvador sangat marah. Ia menembakkan lagi peluru-peluru hingga habis ke tubuh bawahannya hingga tewas.
"Dasar tidak berguna!" decihnya marah.
Ia benar-benar tak percaya. Hanya karena ingin menculik anak-anak yang sepertinya anak orang kaya itu. Ia harus kehilangan ratusan juta dolar. Bahkan akun ilegal tersembunyi miliknya di pasar gelap habis oleh serangan mawar.
"Pemirsa! Pihak interpol kini memburu klan mafia berjulukan The Hidden. Interpol mendapat banyak kiriman bukti transaksi ilegal bahkan pasar gelap di sektor M kini terbongkar akibat akun hacker legendaris menghancurkan tempat itu ...."
Salvador makin meradang. Ia melempar kursi hingga memecahkan layar datar yang tertempel di dinding.
"Tuan, helikopter sudah siap!" seru salah satu anak buah.
Pria itu memakai kacamata hitamnya. Keberadaanya di tempat ini terendus. Ia harus segera pergi dan menyuruh semua anak buahnya membumi hanguskan tempat itu.
"Jangan sampai ada yang tertinggal!" perintahnya.
Pria itu berjalan hingga tiba-tiba suara gaduh terdengar. Anak-anak buahnya kocar-kacir akibat senjata otomatis yang terpasang di area pagar berbalik menyerang mereka.
Bunyi rentetan senjata terdengar. Salvador sendiri harus tiarap agar selamat dari tembakan brutal itu.
"Siapa yang mengendalikan panel!" teriak pria itu.
Beberapa anak buahnya mati konyol akibat rentetan senjata itu.
"Panel diambil alih oleh akun bernama Athena, Tuan!' teriak salah satu anak buah yang melindungi Salvador.
Sementara Virgou memijit kepalanya. Pria itu dalam perjalanan Langit. Reno, Remario, Darren dan Rion tertawa lirih melihat kelakuan salah satu adiknya itu.
Herman berdecak mendengarnya. Ia bangga sekaligus cemas dengan keselamatan anak-anaknya.
Sementara itu Dewi dan lainnya bergerak ia memindai semua titik jebakan manual pada semua bravesmart ponsel milik ayahnya.
Haidar, Gabe dan Dav ada di rumah Terra melarang mereka untuk kembali.
"Sayang!' rengek Gabe pada adik dan istrinya.
"No!" tekan Widya.
"Di sini ada kami yang juga harus kalian lindungi!' lanjutnya dengan suara serak.
"Gisel," Khasya memeluk wanita hamil itu.
Gisel menahan tangis karena salah satu putranya dibawa ke rumah sakit akibat luka tusuk.
Kembali ke tempat Dewi, Satrio dan duo R. Mereka maju dan merusak beberapa jebakan manual. Keempatnya mendekati pergerakan mobil Budiman, Gomesh dan Dahlan.
"Kita tunggu Papa, Baba dan Abi di sini!" ajak Satrio.
Mereka berdiri di antara rimbunan pohon.
"Hei siapa di situ!" teriak salah satu pria.
Empat pria dengan senjata pentungan berlari mengejar pergerakan anak-anak. Kini empat anak beda usia itu berhadapan dengan lima pria bertubuh sedang.
Satrio paling besar tubuhnya dibanding yang lain. Sedang Dewi paling kecil di antara semuanya.
"Siapa kalian? Kenapa bisa masuk ke wilayah kami!" teriak salah satu pria marah.
__ADS_1
Sementara Terra terkejut ketika Arimbi berteriak jika Dewi, Duo R dan Satrio tak ada di kamar mereka.
Khasya lemas, Bart, Bram dan Andoro seperti kehabisan akal mereka. Kanya, Karina, Raka, terlebih Zhein juga tak mampu berbuat banyak.
Calvin, Samudera, Setya dan Domesh pulang. Mereka menangis dan meminta maaf tak bisa menjaga Benua.
"Kalian juga pasti ketakutan saat itu," ujar Gisel maklum.
"Biar Bu'lek yang obati kalian ya," ujar Arimbi melihat semua mengalami lecet.
Kembali ke tempat lain. Mobil Virgou sudah mendekati lokasi. Ia juga mengacak signal interpol agar lama mengendus keberadaan mereka.
Sementara Satrio, Dewi dan duo R baru saja meng-KO lima pria. Bertepatan dengan kedatangan Budiman, Gomesh dan Dahlan.
"Babies!'
"Baba, Papa, Abi!'
Dewi memeluk Budiman langsung. Ia begitu semangat bercerita telah melumpuhkan sistem yang ada di mansion Salvador.
"Kalian luar biasa sayang!' puji Dahlan.
"Makasih Abi!' sahut Dewi tersipu.
Tak lama tim pengawal lain datang dan membawa lima orang anak buah itu dan membawanya ke markas mafia milik Virgou.
"Kalian pulang ya!" perintah Gomesh.
"Semua saudara kalian sudah pulang kok!' lanjutnya menenangkan anak-anak yang sepertinya masih mau melanjutkan petualangan.
Tak lama mobil Virgou datang. Satrio mau tinggal tapi Herman memelototi putranya itu.
"Ayah," rengeknya.
"Menurut Baby!" peringat Rion.
"Kalian pulang lah. Biar ini jadi urusan Daddy!' perintah Virgou.
"Langit, Reno, Darren dan Rion!"
"Daddy!" rengek empat pria itu setengah menolak.
"Pulang dan bawa adik-adikmu!' perintah tegas dari Herman melanjutkan.
Darren menurut. Ia, Rion, Langit dan Reno pulang membawa empat lainnya dengan mobil yang dibawa Budiman.
Sementara itu, Virgou melihat bravesmart ponsel miliknya. Ia tersenyum puas. Dewi benar-benar mengacaukan semua sistem dalam rumah besar itu.
"Kita masuk!' ajaknya kemudian.
Semua bergerak, mesin senjata otomatis telah kehabisan peluru. Beberapa anggota SavedLived dan anak buah BalckAngel ikut masuk.
"Halo Salvador Allende?!" sapa Virgou dengan senyuman mematikan.
"BlackAngel? The Sanz? LittleAngry? The Giant?" Salvador sudah terikat di kursi.
Ia menatap Herman, matanya langsung turun dan tak berani lagi menentang mata pria paling tua di sana. Tubuhnya mendadak gemetar melihat sosok pria yang tubuhnya paling kecil di antara semua orang yang ia sebut tadi.
"Halo Salvador ... kau baru saja berurusan dengan keturunanku!" tekan Herman menyeringai sadis.
Bersambung.
Ah ...
__ADS_1
Next?