
Hari berlalu, kini semua keluarga ada di halaman panti yang luasnya sampai 300m², luas tanah dari panti mencapai 3000m² dengan luas bangunan 200x300 m² untuk masing-masing bangunan panti tempat anak-anak yatim. Sedang untuk kantor pengurusan 100x 80m².
Para fotografer sibuk mengarah gaya para remaja. Semua anak laki-laki mengenakan setelan formal warna biru langit dengan bow tie hitam. Mereka berjejer rapi para perusuh ada di depan kakak-kakak mereka. Semua begitu tampan dengan balutan mewah itu.
Sedang para anak perempuan menggunakan dress atau gamis warna dusty pink dengan rok mengembang. Nai dan Arimbi yang mengenakan hijab memakai gamis warna senada dan pashmina warna putih. Semua tampak cantik sekali.
Sedang para pria dewasa mengenakan setelan formal warna navy. Mereka begitu tampan dan gagah. Bart, Bram dan Herman diletakkan di tengah. Para wanita juga tak kalah cantik dengan gaun atau gamis warna shock pink. Semua wanita berhijab kecuali Maria, wanita itu diletakkan di tengah.
“Semua senyum!” pinta fotografer mengarah gaya.
“Satu, dua, tiga!”
Foto-foto begitu sempurna. Kini giliran pengantin yang difoto. Rion sangat tampan mengenakan setelan koko warna putih begitu juga Azizah yang sangat cantik dengan kebaya modernnya. Keduanya saling tatap dengan tangan yang saling bergandengan.
“Baby ... mau nyebrang ya?” celetuk Budiman.
Rion kesal dengan ledekan pengawal sekaligus pria yang dulu suka ia ganggu ketika kecil dulu. Bart memarahi Budiman. Rion terkekeh meledek pria yang mestinya ia panggil kakak ipar itu. Budiman hanya cemberut.
“Cium perempuannya boleh kan?” tanya fotografer.
“Tentu boleh, dia sudah istri saya!” jawab Rion dengan nada bangga.
Rion langsung menyambar bibir istrinya.
“Baby!” pekik semua orang dewasa kesal.
“Mama ... Ata’ Ion nampain matan pilpil Ata’ Pijah?” tanya Arsyad heran.
“Ata’ Ion panibal!” tuduh Al Fatih.
“Pa’a ipu panibal?” tanya Aaima.
“Tata Baba, panibal ipu yan suta matan wowan,” jawab Fatih.
“Oh ...,’ sahut para bayi mengerti.
Sedang Kean dan lainnya memilih tak mau melihat kemesraan kakak panutan mereka itu. Rion yang menjadi tersangka hanya terkekeh, Azizah sampai kesal dibuatnya, karena tiba-tiba sang suami menciumnya. Rion pun mengecup mesra kening istrinya.
“Tahan ... ya. Satu, dua, tiga!” ujar fotografer. “Bagus!”
__ADS_1
“Sekali lagi ya, kini suami peluk dari belakang, istri memegang pipi suami ... ya .. gitu!”
Azizah mempraktekkan arahan pengarah gaya. Keduanya tampak mesra dalam setiap gaya yang diabadikan. Semua anak panti juga ikut difoto begitu juga ibu-ibu pengurus. Halaman panti memang dihias sedemikian rupa dengan banyak balon warna-warni serta bunga dan pita-pita.
Usai berfoto pakaian utama, mereka berfoto pakaian kedua dan juga yang ketiga. Semua kembali di arahkan. Para bayi tampak senang berfoto. Baby Aliyah, Baby Fael, Baby Angel, Baby Izzat dan putra Jac yang belum diberi nama. Putri dan jac sangat kesulitan mencari nama anak-laki-laki.
“Baby boy belum di kasih nama?” tanya Bart menggendong bayi baru berumur dua minggu itu.
“Belum grandpa,” jawab Jac dengan senyum kaku.
“Hmmm ... aku juga kehabisan nama bagus ... bagaimana jika Shadiq atau Ali?”
“Bagaimana jika Muhammad Shadiq Ali Starlight?” saran Virgou.
“Oh ini saja Dzulfikar Bagaspati! Artinya pedang Rasulullah yang sakti dan kuat,” ujar Dav memberi saran.
“Beri saja nama Junior Mahesa,” sahut Demian.
“Ali Abdurahman juga bagus!” sahut Herman.
Jac dan Putri makin bingung, semua nama yang disarankan sangat bagus-bagus. Mereka pun memutuskan untuk nanti saja mereka memberi nama ketika aqiqah. Aby Fael dan baby Angel sudah mulai berteriak, bayi itu sudah berusia setengah tahun.
“Mamamamamam!”
“Baby ... janan natain wowan tayat dithu!” larang Bariana.
“nbsgecabehbnajegshehekansgehbush!” sahut Aliyah.
“Baby syantit ... eundat poleh ya,” Bariana kembali melarang Aliyah.
Semua orang dewasa tak ingin ambil pusing dengan semua kata-kata bayi. Usai berfoto, semua kembali mengganti pakaian mereka. Para fotografer akan kembali dengan hasil jepretan mereka dalam sebuah album. Kini semua makan di halaman panti. Terra telah menyiapkan katering di sana.
Semua anak makan dengan lahap. Mereka tampak kelaparan. Usai makan Sean pamit ingin pergi ke kafenya. Seluruh saudaranya yang remaja ingin ikut.
“Pita judha bawu itut!” pekik Harun mengkomandoi.
“Baby kalian di rumah saja ya,” pinta Seruni.
“Tenapa Mami?” tanya Bariana.
__ADS_1
“Kafe itu buat orang dewasa, jadi kalian main aja ya,” ujar Seruni lagi.
Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana diam. Mereka tau itu hanya alasan saja. Para orang tua malas menjaga mereka. Lima batita itu langsung membuat kelompok sendiri. Mereka menjauhi para orang tua yang kembali sibuk menggoda para bayi.
“Peubeltina, meuleta peman eundat pawu menawasi pita deh,” ujar Harun pada empat saudaranya.
“Biya, beupeltinya bedithu,” sahut Arraya dengan mencebik kesal.
Mata mereka sudah menggenang, para orang tua masih sibuk dengan bay-bayi yang lebih menarik tingkahnya. Terlebih bayi milik Jac yang baru saja lahir. Samudera, Benua , Bomesh, Domesh dan Sky mendekati mereka.
“Baby ... kalian kok mengungsikan diri?” tanya Samudera.
“Ata’ pa’a pidat meulasatan talo wowan puwa pidat beulhatian pama pita?” tanya Arion sudah mau menangis.
Samudera melihat semua orang dewasa. Kakak mereka, seperti Rasya, Rasyid, Kaila, Bastian, Billy, Dewa dan Dewi yang seumuran juga membentuk kelompok sendiri. Sedang Dimas, Affhan, Maisya dan Ella ikut kakak mereka ke kafe.
“Alsh ... dilian,” sahut Arsh yang menyempil di antara mereka.
Arsh paling bayi, baru usia sembilan bulan. Tetapi ayah dan ibu mereka sibuk berebutan menggendong bayi-bayi baru lahir itu. Adiba melihat tiga kelompok yang sepertinya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Gadis usia dua belas tahun itu, menghela napas. Ia mengajak semua adiknya bergabung di kelompok anak bayi. Jangan tanya Rion dan Azizah, sepasang suami istri itu sedang berswafoto dengan ponsel mereka. Rion mengajak istrinya sedikit menjauh dari semua orang.
“Babies,’ panggil Adiba.
“Ata’ ... hiks ... hiks!” Harun sedih.
Semua bayi ikut menangis membuat Ajis, Amran, Ahmad, Alim memeluk mereka, Aminah dan Ari ikut sedih. Adiba menenangkan mereka.
“Bagaimana kalau Kakak buat kafe ala babies, jadi Mami dan lainnya nggak bisa melarang kalian untuk hang out bersama anak seusia kalian?”
“Pide yan badhus!” sahut Arsyad mengangguk setuju.
“Biya Ata’ pita bitin tafe sainan bunya Ata’ Sean. Pati janan tafe puatna. Pita tan peulum poleh binum topi banat-banat!” sahut Arraya memberi ide.
“Ah ... kalau begitu, ayo kita ke aula dan merapatkan hal ini!” ajak Adiba.
Mereka semua pergi tanpa pamit kepada orang tua yang sibuk menggoda para bayi yang baru lahir.
Bersambung.
__ADS_1
Sibuk sendiri ... untung ada Adiba.
Next?