SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Rey si tukang perintah


__ADS_3

Rey benar-benar telah menjadi pelanggan di gerai laundry milik Amira. Meski tak datang setiap hari untuk menyerahkan pakaian kotornya, setidaknya 2 atau 3 hari sekali Rey datang ke sana.


Amira menganggap Rey seperti pelanggan lainnya. Dia memang mengagumi ketampanannya, tapi Amira tak berani berpikir dan berkhayal terlalu jauh. Dia sadar betul siapa dirinya yang tak sederajat dengan pria idolanya.


Rey mulai menunjukkan perhatiannya dengan sesekali membawakan Amira makanan atau minuman. Namun Amira menganggap hal itu sebagai hal biasa. Terkadang Rey mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi Amira selalu menolaknya dengan berbagai alasan.


Bukanlah Rey jika dia menyerah atas penolakan. Semakin ditolak dia akan semakin bersemangat. Begitu juga dalam mendapatkan wanita. Apalagi baru kali ini dia mendapatkan penolakan, dan penolakan itu datang dari wanita yang sempat diremehkannya.


"Wanita yang menarik!" gumamnya saat dia mendapatkan penolakan atas tawaran makan siang yang ditawarkannya pada Amira.


"Aku lihat kamu bekerja sendiri. Kenapa majikanmu tak mau menambah pekerja?" tanya Rey saat melihat tumpukkan baju dan kain yang harus dikerjakan Amira.


"Pemasukan di sini tidak banyak karena pelanggannya juga cuma beberapa orang, lagipula pekerjaan ini masih bisa dikerjakan oleh satu orang."


"Setidaknya harus ada yang membantumu di bagian pencatatan dan penerimaan barang. Jadi kamu tak perlu mondar mandir ke depan dan ke belakang."


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa."


Rey tidak tahu bahwa pemilik gerai itu adalah Amira sendiri. Dia mengira bahwa Amira hanya pekerja biasa di situ.


Rey sering kali melihat Amira sibuk dengan pekerjaannya, tapi tak sedikit pun terpikir olehnya untuk membantu Amira. Dia sepertinya menikmati pemandangan dimana Amira terlihat mencucurkan keringatnya.


Ketidakpedulian Amira terhadapnya membuat Rey semakin penasaran. Dia terus berusaha untuk mengenal Amira lebih jauh, namun upayanya selalu membentur tembok, karena Amira tak tertarik untuk bicara apapun atau hanya sekedar berkeluh kesah. Bagi Amira yang lebih penting adalah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar dia bisa segera pulang dan merawat ibunya di rumah.


Keadaan ibunya selalu menjadi perhatian utama Amira, meski dia harus merelakan masa mudanya dan impiannya untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi.


Suatu hari Rey menelepon Amira dan mengatakan bahwa dia akan mengutus pegawainya untuk menyerahkan pakaian kotornya dan memintanya untuk menyelesaikan bajunya hari itu juga.


"Hari ini akan ada pegawaiku mengantarkan cucian ke situ, selesaikan hari ini juga. Paham?!" Seperti biasa nada bicara Rey terdengar arogan dan memerintah.


Karena hari masih siang, Amira menyanggupi permintaan Rey.


"Baik. Segera akan dikerjakan."


"Hmm."


Tuuut. Rey menutup pembicaraan teleponnya begitu saja.

__ADS_1


"Orang aneh!" gerutu Amira.


Tak lama orang suruhan Rey datang membawa beberapa lembar pakaian, termasuk satu stel jas yang tampak mahal dan mewah. Setelah memberi nota pada suruhan Rey, dia mulai mengerjakan semua itu.


Saat semuanya sudah selesai, Amira membawa semua pakaian yang sudah dikemasnya ke meja konternya dengan maksud untuk diserahkan pada orang suruhan Rey, namun dia tak menemukan orang itu. Amira mencarinya ke luar gerainya, orang suruhan itu tetap tak ditemuinya.


Amira bergegas masuk saat dia mendengar telepon di dalam gerainya berbunyi.


"Selamat sore, dengan Queen Laundry. Ada yang bis dibantu?" tanya Amira.


"Ini aku. Kirimkan baju-bajuku ke alamat ini. Catat!" Terdengar suara yang tak asing di telinga Amira. Rey, si cowok arogan.


"Kirim? Kenapa gak diambil ke sini? Kemana suruhanmu tadi?"


"Jangan banyak tanya. Catat!" perintah Rey.


"Tapi aku gak bisa..."


"Catat!" Rey memotong omongan Amira dengan nada sedikit keras yang membuat Amira sedikit takut.


Rey menyebutkan alamat yang harus dicatat Amira.


"Udah."


"Sekarang kirimkan bajuku ke alamat itu!" ucap Rey dengan nada khasnya yang suka memerintah.


"Maaf, aku tak bisa mengantarnya. Gerai ini tidak menyediakan jasa antar. Silakan ambil di gerai kami," jelas Amira.


"Hei, nona. Aku akan mengganti semua kerugianmu karena mengantar baju-bajuku. Berapa yang kau mau?" Rey sedukit membentak Amira.


"Bukan masalah uang. Kami memang tidak menyediakan jasa antar!" Amira bersikukuh dengan pendapatnya.


"Kirimkan sekarang!" bentak Rey.


Tuuut. Lagi-lagi dia memutuskan percakapan seenaknya dan membuat Amira kesal.


"Dasar orang aneh. Seenak-enaknya merintah orang. Memangnya dia siapa? Lagipula apa dia gak bisa nyuruh orang apa buat ngambil ke sini? Menyebalkan!" umpat Amira.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Amira merapikan konternya dan membuat sebuah catatan kecil yang akan dia tempel di pintu gerainya.


'Akan buka kembali jam 4.'


Tulisan itu ditempelnya di pintu, lalu segera keluar dari gerainya dengan membawa baju-baju milik Rey.


"Merepotkan saja!" gerutunya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3.15.


"Bang, tolong cepat, ya?" pinta Amira pada pengemudi ojek online yang dipesannya.


"Baik, Mbak. Pegangan, ya?"


Pukul 3.27 Amira sudah tiba di alamat yang dituju. Wajahnya terasa sedikit kebas karena angin yang terus menerus menerpa wajahnya saat dia naik ojek. Namun Amira tak peduli, yang dia pedulikan hanyalah baju-baju itu harus segera sampai pada pemiliknya.


"Maaf, Pak. Apa benar ini rumah tuan Reynald Subroto?" tanya Amira pada satpam di pintu gerbang.


"Benar. Mbak Amira, ya? Silakan masuk. Tuan Rey sudah menunggu di dalam." Satpam itu membukakan pintu gerbang untuk Amira.


"Silakan masuk, Mbak. Nanti akan ada pelayan yang akan mengantar Mbak pada tuan Rey," ucap satpam itu lagi.


"Sepertinya tidak perlu, Pak. Saya titip sama Bapak aja. Nanti tolong berikan pada tuan Rey, ya?' pinta Amira.


"Maaf, Mbak. Tuan Rey bilang Mbaknya harus disuruh masuk."


"Hah! Merepotkan sekali makhluk ini!" gerutu Amira dalam hati.


Mau tidak mau Amira harus masuk, meski hatinya kesal sekaligus khawatir kalau-kalau ada pelanggan yang datang ke gerainya.


Di depan pintu rumah besar dan mewah itu telah menunggu seorang wanita yang sudah siap mengantarnya menemui Rey.


"Selamat sore, Nona. Mari saya antar menemui tuan Rey," kata wanita itu dengan penuh hormat.


"Eh, nggak perlu,Mbak. Saya titip sama Mbak aja baju-baju ini," ucap Amira sambil memberikan baju-baju Rey yang dibawanya.


"Maaf, Nona. Saya tidak berani. Tuan Rey hanya menyuruh saya untuk mengantar Nona menemuinya." Wanita itu menolak permintaan Amira.


Amira melangkahkan kakinya menyusuri rumah besar itu, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, wanita itu membukakan pintu untuk Amira dan meninggalkan Amira di ruangan itu bersama dengan Rey yang sedang duduk sambil menatap laptopnya.

__ADS_1


"Ini baju-bajunya!" kata Amira sambil menyodorkan baju-baju yang sedang dipegangnya.


Rey menatap Amira dengan tajam.


__ADS_2