SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEPULANGAN BERTHA 2


__ADS_3

Lain dengan Rion lain pula dengan para anak gadis. Nai mengajak saudaranya ke sebuah pasar modern yang dekat dengan mansion. Langit dan Reno mengangkat kereta bayi karena mesti naik tangga ke pasar yang banyak menjual makanan pasar dan aneka suvenir cantik dan murah. Bariana dan Arraya sangat antusias.


"Kak mau Es dawet!" pinta Dewi.


"Nggak es baby!" tolak Arimbi.


"Kak!" rengek Dewi.


"Baby, kamu cepet kena radang kalo minum es!" peringat Nai.


Dewi sedih, karena tak boleh minum es kesukaannya.


"Esnya dikit aja kak," rayu Dewi.


Akhirnya Nai memperbolehkan adiknya beli es dawet. Gadis kecil itu membayar sendiri jajanannya. Kaila juga ma, Dewi membaginya.


"Ini ada jajanan pasar satu nampan kak!' sahut Maisya.


"Ambil yang manis sama yang asin baby!' titah Nai.


Maisya mengambil dua nampan sedang dengan dua varian, kue basah dan gorengan.


"Titip apa bawa kak?" tanya Maisya.


"Bawa aja," jawabnya.


Nampan itu diletakan di bawah kereta bayi. Lalu membeli beberapa kotak kue bolu. Usai berbelanja mereka pun pulang ke rumah. Hanya sebentar, tak sampai setengah jam mereka berbelanja.


Sampai mansion. Semua anak berkumpul dan memakan camilan yang mereka beli tadi.


"Padahal bolu enakan punya Mami Seruni," keluh Arimbi ketika memakan bolu yang tadi mereka beli.


"Iya sih, tapi dari pada nggak beli apa-apa," sahut Nai.


Makanan dibagi juga pada pengawal. Bertha senang dengan oleh-oleh yang dibelikan Rion untuknya. Ia kini memakan kripik tempe, Bertha tentu menggunakan gigi palsunya.


"Puyut pasih pisa matan telipit?" tanya Bariana tak percaya.


"Uyut menggunakan gigi palsunya baby," jawab Sean.


"Didi balsu?" tanya Arraya.


"Iya, gigi tiruan," sahut Sean.


Bayi itu mengangguk tanda mengerti. Makanan ludes, semua kekenyangan bahkan ada yang tidur di karpet. Rion tidur dengan Arsyad di atas tubuhnya. Bayi tampan itu sangat dekat dengannya.


"Kenapa tak memindahkan mereka?" tanya Bertha melihat semua keturunan tidur dengan nyenyak di atas karpet tebal.


"Tidak apa-apa, mom. Mereka akan rewel jika dibangunkan," jawab Kanya.


"Semua rewel?" Kanya mengangguk membenarkan.


Bertha tersenyum. Ia akan menatap lamat-lamat semua anak-anak. Ia merasa ini adalah waktu terakhirnya melihat semua keturunannya.


"Ah ... Aaima tidak ada," keluhnya bergumam.


Sore menjelang, semua riuh bermain. Lagi-lagi rumput yang kemarin baru saja dibetulkan oleh tukang kebun kembali rusak di tangan Harun dan Azha. Para perusuh ingin bermain gerobak sodor.


Semua berteriak dan tertawa. Arsyad ikut merecoki permainan.

__ADS_1


"Ih ... Baby Asy beustina teluan!" keluh Arion protes.


"No ... Syad ain!" seru bayi itu.


"Ata' Ion," rengek Arion.


"Leh ya .. Leh ya!' angguk Arsyad memohon pada Rion.


"Baby Ayi, ngalah ya sama Baby Arsyad," pinta pemuda itu lembut.


"Biya ... pialin aja Baby Alsyad bain!" seru Harun lalu menarik saudaranya itu.


Mereka akhirnya bermain lagi dengan Arsyad yang merecoki permainan.


Malam tiba akhirnya semua tertidur lelap karena kelelahan. Haidar kembali bercengkrama dengan istrinya.


"Sayang," panggil pria itu.


"Iya sayang," sahut Terra.


"Tak terasa anak-anak sudah besar ya?" ujarnya.


Terra menatap suaminya. Ia paling tak suka dengan perkataan sang suami. Di matanya semua anak masih kecil-kecil.


"Apa maksud perkataan mas?" tanyanya tak suka.


"Tidak ada maksud sayang. Hanya mengingat usia, kalau kita juga tua seperti Grandma Bertha," sahut Haidar terkekeh.


Terra meletakkan kepalanya di dada sang suami. Kegiatan mesra ini selalu mereka lakukan terlebih para bayi tak mau tidur bersama ayah ibunya lagi jika sudah bersama para saudaranya.


"Iya, semoga kita hidup hingga melihat cicit kita ya, pa," ujar Terra lalu mengecup dada suaminya.


"Aku berkhayal Aaima berjodoh dengan salah satu perusuh kita sayang," kekeh pria itu.


"Siapapun jodoh bayi cantik dan para perusuh, Te berharap semua adalah jodoh terbaik untuk mereka," sahut wanita itu dengan suara lemah.


Tak lama, Terra pun tertidur lelap. Haidar pun ikut beranjak dalam mimpi istrinya.


Pagi menjelang. Aaima datang bersama Jac dan Putri. Mereka ingin juga mengantar kepulangan perempuan renta itu.


"Aaima ... bawa dia ke sini!" titah Bertha.


Jac membawanya dan meletakkannya di pangkuan Bertha. Wanita itu menciumi bayi cantik itu.


"Sehat terus ya uyut," ujar Jac pada wanita itu.


Tentu saja Bertha belum bisa berbahasa Indonesia. Ia hanya mengangguk, perempuan itu percaya jika Jac mendoakan yang baik untuknya.


Semua perusuh menangis dan meminta perempuan itu tinggal di sini selamanya.


"Pindal bisyimi aja syih," cebik Bariana.


"Biya ... hiks!" sahut Harun.


"Baby jangan sedih," pinta Bertha haru.


Akhirnya, Bertha berangkat diantar oleh Bram dan Kanya. Semua melambaikan tangan pada wanita renta itu diiringi derai air mata. Rion memeluk Budiman dan menangis. Sedang Lidya memeluk suaminya. Semua berpelukan karena sedih bukan main.


"Jangan sedih dong sayang," pinta Khasya menghapus air matanya.

__ADS_1


Herman juga merasa tidak akan bertemu perempuan tangguh itu lagi selamanya.


"Yuk masuk," ajak Maria.


Semua masuk mansion, lalu mereka bercengkrama, sebagian makan lagi karena mereka masih lapar.


"Baby Aaima, nanti jalan-jalan yuk," ajak Nai.


"Anah?" tanya Aaima semangat.


"Nanti sore, oteh!"


"Teh!"


"Baby Maryam, Baby Aisya belum bisa diajak kah?" tanya Kaila.


Dua bayi itu terpekik saja dan tertawa lalu mengoceh tak jelas.


"Belum sayang, mereka baru lima bulan kan," ujar Darren.


"Kalau mereka ikut, semua ikut lah!" sahut Virgou.


"Apa mau mengguncang mall lagi?" sela Bart.


"Boleh," sahut Haidar menimpali.


"Oke sore nanti kita serbu mall!' seru Virgou.


"Papa, sepatu Kak Ditya udah lusak," adu Sky.


Kemarin balita itu melihat sepatu Ditya yang sudah lepas pinggirannya.


"Ih .. sengaja pake yang rusak, biar cepat rusak!" sahut Ditya.


"Bener begitu?" tanya David menyelidik.


"Bener papi, sepatu Ditya masih ada dua yang belum dipakai malah," ujarnya.


"Kenapa, nggak kamu pake yang baru terus yang lama kamu kasih orang?" tanya Sean.


"Pernah sih Ditya kasih anak kampung," jawab bocah usia tujuh tahun itu.


"Terus?" tanya David.


"Mereka nolak dan minta dibuang aja kalo bekas," jawab Ditya lagi.


Semua menoleh pada Aini. Wanita itu mengangguk membenarkan.


"Anak-anak kampung di sana banyak yang sombong, papi," sahutnya.


"Ya sudah, kan bisa kamu kasih yang lain yang lebih membutuhkan, kamu buang gitu aja juga nanti ada yang mungut kok," saran David yang ditanggapi anggukan oleh Ditya.


Tak lama Kanya dan Bram sudah kembali dari bandara pribadi milik pria itu. Semua menoleh berharap Bertha ikut kembali pulang. Tapi, ternyata perempuan itu benar-benar sudah pulang ke negara yang membesarkannya yakni Eropa.


bersambung.


peran terakhir Labertha di kisah sang pewaris. Good bye Labertha Weist.


next?

__ADS_1


__ADS_2