SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
INGIN MELAMAR LAYLA


__ADS_3

Layla telah memberitahu jika ia siap dilamar oleh Juno. Gadis itu juga telah memberitahu jika sang ibu tak masalah dengan status pria itu.


"Jadi kamu akan pulang ke kampung halaman di desa C?" tanya Juno.


"Iya Mas," jawab Layla.


Mereka bertemu di pesantren. Adiba sudah sekolah dan bersiap dengan ujian.


"Habis ujian ini, saya akan pulang ke kampung halaman,"


Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia benar-benar bahagia, Layla beristigfar. Ia menenangkan diri agar tidak terbawa perasaan.


"Kalau begitu aku akan mengabari kapan aku datang ke rumah membawa semuanya, Dik," ujar Juno dengan senyum lebar.


"Assalamualaikum," Adiba datang bersamaan dengan Ajis.


"Wa'alaikumusalam!" balas Juno dan Layla.


"Kami pulang dulu ya," pamit pria itu pada Layla.


"Iya, hati-hati Mas!"


Mobil pun bergerak dari halaman parkir pondok pesantren. Layla mengelus dadanya sambil terus mengucap istighfar. Gadis itu pun menaiki motornya dan pergi dari sana.


Tak butuh waktu lama. Mobil berhenti di depan halaman rumah Terra. Dua anak masuk rumah dan memberi salam.


"Wa'alaikumusalam!' sahut Terra.


"Ganti baju dan makan ya," suruhnya.


"Iya Ma," sahut keduanya.


Usai makan Adiba dan Ajis diminta untuk tidur siang. Juno duduk di paviliun, ia berpikir untuk membawa Terra dan Haidar untuk melamar Layla.


"Apa sekalian membawa semuanya liburan di sana?"


Juno akhirnya memutuskan untuk membawa semua keluarga Terra untuk liburan. Ia menghubungi Layla.


"Assalamualaikum Dik!"


"Wa'alaikumusalam, Mas!' jawab sang gadis di ujung telepon.


"Dik apa di sana ada tempat wisata atau apa?"


"Oh ada Mas. Di sana malah ada air terjun rendah dan kali dangkal sangat indah. Kenapa Mas?"


"Aku ingin bawa semua keluarga, persiapkan rumah besar untuk menampung semuanya," ujar Juno.


"Oh kalau begitu gampang Mas. Layla bisa menyewa bekas rumah peninggalan kolonial Belanda milik Pak Kades!"


"Wah ... seru juga tuh. Ada berapa kamar?"


"Kalau nggak salah ada dua puluh kamar di bagi delapan ruangan. Pokoknya antik Mas. Nanti Layla kirim fotonya ya?"


"Boleh-boleh!"


"Kalau jalan di sana apa sudah besar dan beraspal?" tanya Juno lagi.


"Sudah Mas. Rumah kami juga di jalan besar. Karena desa kami penghasil padi terbesar ketiga di Indonesia," jawab gadis itu.


"Baiklah sayang, Mas kirim uang untuk DP rumah itu agar tak ada yang nempati ya," ujar Juno.


"Oh, kalau masalah itu sih gampang Mas. Pak kades merupakan paman Layla, jadi itu tak masalah,"

__ADS_1


"Jangan gitu Dik, Mas transfer ya," pinta Juno bersikeras.


"Baik lah," sahut Layla menyerah.


"Minta noreknya dong sayang!"


Tak lama apa yang diminta Juno dikirim gadis itu. Juno mengakhiri sambungan teleponnya. Ia segera mengirim lima puluh juta untuk menyewa hunian antik itu.


(Mas ... ini kebanyakan!) tulis Layla di chat.


(Tidak apa, sekalian untuk belanja kamu nanti ketika di sana.) tulis Juno.


Malam beranjak, Haidar pulang bersama Al, putranya. Juno mendatangi Kekuarga itu ketika tengah berkumpul.


"Assalamualaikum, Tuan, Nona!"


"Wa'alaikumusalam, wah ada apa nih Om Juno?" tanya Daud.


"Saya ingin bicara dengan Tuan Haidar dan semuanya," jawab Juno.


Semuanya pun berkumpul tak terkecuali para perusuh. Dominic dan Dinar belum pulang.


"Saya ingin melamar Layla, guru dari Nona Adiba,"


"Apa!" teriak semua orang kecuali para batita dan bayi.


"Om Puno bawu napain?" tanya Azha.


"Bawu peulaman Layla, Ibu dulu dali Ata' Bida," jawab Harun.


"Oh ...," sahut Azha.


"Om Buno peulati eundat zomblo ladhi don?" sahut Bariana yang membuat semua orang terkekeh.


"Habis ujian semester, sekalian mau bawa semua keluarga untuk berlibur di desa C," jawab Juno dengan senyum lebar.


"Wah, bukankah desa C itu tempat tinggalnya keluarga Putri dulu ya?" tanya Bart mengingat.


"Benar Tuan, sedikit dekat," jawab Juno.


"Aku mau ikut!" teriak Jac.


"Enak saja kau!" sungut Demian.


"Saya mengajak semua keluarga, karena saya merasa bagian dari keluarga," sahut Juno.


Demian berdecak, sedang Juno bertepuk tangan meledek tuan muda sekaligus saudara angkatnya itu.


"Apa anak angkat ku bisa ikut?" tanya Bart. "Mereka tentu ingin liburan di luar kota bukan?"


"Bisa Tuan," jawab Juno.


"Baiklah, kita serbu Desa itu. Sepertinya anggota kita jauh lebih banyak dibanding penduduk di sana," kekeh pria gaek itu.


"Penduduk desa ada sekitar 10 juta jiwa Tuan,," sahut Juno.


"Oh kota besar toh!"


"Termasuk penghasil beras nomor tiga di Indonesia!" sahut Juno lagi.


"Baiklah, kau beri alamat itu. Aku akan menyuruh Gomesh untuk mensurvey tempat," ujar Virgou.


"Saya sudah menyewa sebuah hunian peninggalan jaman Belanda Tuan," ujar Juno lagi.

__ADS_1


"Berikan saja Alamatnya, katakan pada calonmu jika ada orang yang datang untuk mensurvey tempat," suruh Virgou.


"Baik Tuan," Juno memberikan alamat Layla melalui pesan singkat.


"Gomesh!" panggil Virgou.


"Siap Tuan, besok pagi saya akan langsung meninjau lokasi bersama Fabio dan Pablo!"


"Baiklah," sahut Virgou.


"Terima kasih Tuan, Nyonya," sahut Juno begitu bahagia.


Bart senang dengan wajah pria yang sudah lama jomblo itu. Ia akan berharap hidup lebih lama dan menyaksikan seluruh keturunannya menikah.


Juno lega, ia memang sudah menyiapkan sejumlah uang untuk pernikahan keduanya. Setelah kegagalannya membina rumah tangga, ia yakin Layla lebih sabar dengannya. Pria itu pun terlelap dengan mimpi indah.


Pagi menjelang, semua kembali sibuk rumah Terra yang penuh manusia karena semalam tak ada yang pulang ke hunian mereka masing-masing.


Tak butuh waktu lama hunian itu sepi setelah semuanya berangkat ke kantor dan ke sekolah.


Gomesh menjalankan tugas, ia membawa Pablo dan Fabio ke Desa di mana tempat Ibu Ustadzah Layla dilahirkan.


"Sama Satrio aja sih Pa!" rengek remaja itu.


"Baby, kamu nanti aja pas sama kita," Virgou langsung memeluk remaja yang kini tubuhnya lebih besar darinya.


"Daddy," rengek Satrio.


"Nurut kali ini ya," pinta Virgou lembut.


Satrio pun mengangguk. Walau Gomesh masih tidak tega tak mengajak Satrio. Tetapi melihat pelototan tuannya. Ia pun menarik dua pria yang juga sudah pusing dengan segudang pekerjaannya.


"Ayo, bantuin Daddy selesaikan ini semua Baby. Biar kita liburan di desa sudah itu kita ke Eropa," ajak Virgou..


"Iya Daddy," sahut Satrio menurut.


Gomesh membawa mobil sedan biasa, butuh waktu empat jam untuk sampai di desa C. Lalu ia pun belok kiri jalan besar menuju rumah ibu dari Layla.


"Assalamualaikum!" Gomesh memberi salam


Seorang wanita bungkuk berkerudung menyambut mereka dengan senyum lebar.


"Wa'alaikumusalam, Masuk Nak!' ajaknya ramah.


Gomesh langsung sayang dengan wanita itu. Mereka duduk di sofa. Rumah kediaman ibu dari Layla cukup besar dengan halaman luas. Sawah hijau membentang begitu indah dan segar di pandang mata.


"Ini minum tehnya," wanita itu meletakkan beberapa cangkir berisi teh. Pablo langsung membantunya.


"Terima kasih, Nak,"


"Sama-sama Bu," sahut Pablo.


Kehangatan langsung terasa oleh tiga pria besar.


"Saya kemari karena saudara saya Juno akan menikahi putri ibu, Laylanazraa Arumi Syahreza," sahut Gomesh lembut.


"Saya Gomesh, ini Pablo dan satunya Fabio," lanjutnya mengenalkan diri.


"Nama Ibu Mutia Rahma, Ibu sudah diberitahu oleh Layla soal kedatangan kalian," ujar wanita itu.


bersambung.


Eh ...

__ADS_1


Next?


__ADS_2