
Pagi ini cuaca sangat terik. Anak-anak banyak yang bermain di halaman depan mansion Herman. Semua belum mandi.
"Babies ... mandi!" teriak Dinar.
"Olah raga sebentar Bibu!' teriak Dewi.
"Udah dua jam kalian olah raga!" teriak Dinar lagi.
"Nurut Babies!" seru Rion barulah semua anak menurut.
"Kamu juga mandi Big Baby!" Dinar menatap Rion.
"Bibu ... airnya dingin!" rengek Rion.
"Eh ...," Dinar melotot, Rion mengecup pipi wanita bertubuh besar itu.
"Mandi sayang," pinta Dinar lagi.
Rion menurut, ia pun mandi dengan membawa istrinya. Dinar menggeleng kepala. Dominic memeluknya dari belakang.
"Sayang ... aku juga belum mandi," bisiknya hingga membuat Dinar kegelian.
"Mas ...!"
"Mandi yuk!" ajak Dominic lalu menyeret istrinya masuk.
Jangan ditanya semua bayi yang belum lepas asi itu. Mereka ada di ruang tengah dan dijaga para pengawal.
"Ajjuurlbbbrrrrrr!" pekik Aaric menyembur.
"Hai Baby, kamu tampan sekali!" Felix mencium bayi tampan itu.
Dua saudara Aaric juga berteriak sama. Rupanya baik Alva dan Sena juga ingin dibilang tampan. Felix tertawa mendengarnya.
"Kak," Sari mendekati suaminya.
"Sayang," Felix menyambut sang istri ke dalam pangkuannya.
Bayi perempuan mereka tengah asik merangkak di rumput bersama bayi seumuran lainnya. Bayi laki-laki Hendra juga ada di sana tengah nungging bersama junjungan mereka Arsh.
"Nyi yut!" ajak Arsh yang telah mendudukkan dirinya secara normal.
"Nyi papa?" tanya Meghan bayi Dahlan.
"Blushsuennkeuayabshuaaaa ... nenshuwiaksnshaiaoauussss!" Arsh mulai menyanyi ala dia.
"Baby jangan bicara yang tidak-tidak!' peringat Bariana.
"Wah ... Baliana syudah pisa nomon pewasa!" Harun bertepuk tangan takjub.
"Azalin don!" pinta Azha.
"Gampang tot ... tinggal ulani pahasa Mama jaja!" jawab Bariana.
"Pita udah ulang-ulang pahasa Mama loh!" sahut Arraya.
"Nah itu bisa!" sahut Bariana.
Rupanya Bariana dan Arraya yang lebih dulu memakai bahasa para orang tua. Sedang Harun, Azha dan Arion belum fasih.
"Nanti juga pisa seundili," ujar Arraya menenangkan saudaranya itu.
"Biya ... janan tatut," sahut Harun tak peduli.
"Belussusus nalit pecat ... susus yuyun petumi!" Arsh lagi-lagi menyanyi asal.
Semua bayi seumuran pun menjadi koor bayi tampan itu. Aaima, Arsyad dan Fathiyya tengah asik berdiskusi.
"Mima ... talo pamu peusal bawu sadhi pa'a?" tanya Fathiyya.
"Atuh mawu sadhi tayat Pipu Pustel!" jawab bayi mau dua tahun itu.
"Eundat mawu tayat Mama Iya?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Eundat ... atuh bawu pawu sadhi Pustel laja!" ujar bayi cantik itu.
"Oteh!" angguk Arsyad.
"Talo Fiyya?" tanyanya pada Fathiyya.
"Mawu sadhi tayat Baba!" jawab Fathiyya jumawa.
"Podidal?" Fathiyya mengangguk.
"Atuh mawu sadhi tetua podidal. Tuat tayat Baba!" sambung bayi cantik itu.
"Talo tamu syad?" tanyanya pada Arsyad.
"Atuh bawu sadhi doptel!" jawab Arsyad.
Arsh dan bayi lainnya datang merangkak mendekati kakak-kakaknya. Firman mengajak main Aliyah dan Alia.
"Pedain aja ya pandhilna!" ujar Firman.
"Tamuh Paypi Janjani," tunjuknya pada putri dari David.
"Talo tamuh Paypi Yiya!" tunjuknya pada adiknya sendiri.
"Mawu?" kedua bayi cantik itu mengangguk.
Aliyah Rinjani seumuran dengan Arsh beda minggu. Bayi itu sebenarnya juga sama rusuh dengan ketuanya. Tetapi Aliya mampu meredam kerusuhannya. Alia bayi sembilan bulan itu bertubuh kecil. Puspita sering memanggilnya mungil.
"Yiya Ata' au atan seslim," bisik bayi cantik itu.
"Jani au uga!" pinta Rinjani.
"Pati imi pasih padhi ... Mama basti lalan pita matan seslim,' ujar Firman.
"Ata'!' Dita mendatangi Firman.
Dita seumuran dengan Firman beda setengah tahun. Ia duduk di sisi Alia.
Dita menunjukkan jari telunjuknya. Ada luka kecil dan mengeluarkan setitik darah.
"Imi teunapa!?" teriak Firman langsung heboh.
Semua bayi menoleh. Della tengah dilatih oleh Fio dan lainnya. Bayi cantik itu memang sengaja diasuh oleh para pengawal tampan. Kakaknya Arfhan dididik langsung di tangan Gomesh.
"Kenapa Baby?" tanya Arraya.
"Ata' .. tanan Dita peuldalah!" tunjuk Firman.
Tentu semua bayi menangis melihat itu. Maria tentu langsung mendekati begitu juga Felix.
"Ada apa?" tanya Felix khawatir.
"Papa ... hiks ...tanan Dita peuldalah!" tunjuk Firman pada jari Dita.
Gino mendekati adiknya. Ia meminta maaf karena tidak memperhatikan. Felix melihat luka kecil itu. Sepertinya kena benda tajam atau semacamnya.
"Padhi pedan peja ipu Papa," tunjuk Dita pada meja berukir milik Herman.
"Oh ... nggak apa-apa. Baby kan jagoan," ujar Felix mengecup jari telunjuk Dita.
"Papa dimana syih!" ketus Aaima kesal.
"Paypi Dita ipu beulempuan! Butan lati-lati!" protesnya.
Felix tertawa lirih. Ia lalu menunjuk Della yang tengah disuruh bersalto oleh Fio. Bayi usia mau empat tahun itu mampu melakukannya dengan sempurna.
"Itu Kakak Della jagoan," ujarnya membela diri.
Gara-gara hal itu semua bayi mendatangi Della yang dilatih khusus. Arsh mau bisa bersalto.
Pelatihan Della berhenti karena semua bayi bergulingan di matras.
"Abi sape!" keluh Della.
__ADS_1
"Oke, kita berhenti ya," ujar Dahlan tersenyum.
Pria itu tak memaksa Della. Tapi, bayi cantik itu memang sangat giat dan kuat dalam pelatihan.
"Alun ada di sini!" teriak Harun tiba-tiba sudah ada di atas tiang bundar yang didesign khusus untuk melatih ketangkasan tangan anak kecil.
"Alsh au nait!" teriak Arsh.
Bayi sebelas bulan itu dibantu Fio untuk naik. Semua bayi ikut. Dahlan memanggil anak buahnya yang lain untuk membantu anak-anak.
"Eh ... kok mereka di situ!" teriak ibu paling posesif. Terra.
"Turunkan sebelum Te yang datang ke sana!" ancam Terra kesal.
"Sayang," Haidar menenangkan istrinya.
"Mereka masih kecil!" Terra tak peduli.
Akhirnya semua anak turun. Terra melotot pada Dahlan. Wanita itu kesal karena Virgou berada di sisi pria itu.
"Kakak ... mereka terlalu kecil untuk latihan sekeras itu!" Terra tak mau tau.
"Nona ... bayi-bayi di China dilatih sedini mungkin ...."
"Te nggak peduli!" potong Terra marah.
Haidar memberi kode pada Dahlan agar tak menjawab perkataan Terra. Lalu pria itu membawa istrinya. Dahlan tersenyum, ia sudah terbiasa dimarahi seperti itu oleh Terra jika perihal anak-anak.
"Ketua?" panggil Fio.
"Sudah tidak apa-apa. Lain waktu kita latih lagi mereka," ujar Dahlan menatap semua anak-anak.
"Api, Alsh endon!" pinta Arsh bossy.
Dahlan mengangkat bayi tampan itu. Putranya pun tak mau ketinggalan. Meghantara Putra berada di tangan ayahnya.
Nai dan Arimbi datang bersamaan dengan suami mereka. Andoro dan Luisa ikut serta di sana. Mereka membawa banyak makanan dari luar.
"Siapa mau lupis!" tanya Luisa.
"Atuh!" teriak para bayi.
Tak lama anak-anak yang bersekolah pun datang. Mereka diminta ganti baju dan baru makan kudapan.
Herman menggendong Lilo yang sudah tidur. Bayi itu tadi merengek karena baru saja digoda Kean.
Zhein datang bersama keluarga. Mereka memang tidak ikut ketika pernikahan Rio dan Ariya.
"Ayah," rengek Raka.
"Papa yang buat Raka sibuk!' adunya.
"Sayang ...."
"Papamu sedang pamer sama semua orang kalau di itu orang sibuk!" sindir Herman sinis.
"Ayah ...," Karina mengecup pipi pria itu.
Herman mendumal panjang pendek. Zhein terus merayunya hingga pria itu memaafkannya.
"Jangankan kau, Bram mertuamu saja tidak datang. Dia sibuk bulan madu. Mungkin mau membuat adik ipar baru untukmu!" lanjutnya ketus.
"Ayah ... Mama sudah menopause!" teriak Haidar kesal mendengarnya.
Lalu saling ledek pun terdengar di sana. Bart menggeleng dengan helaan napas panjang.
"Dasar mereka ini keturunan siapa sih!" gerutunya pelan.
Bersambung.
Keturunanmu Bart!
next?
__ADS_1