
Ayah ku saat ini dan paman Febri sedang beradu otot, adu jotos nampak nya tak terhindari di sana. Para pengawal paman nampak nya sudah terkapar tak bernyawa di sana. Pertarungan di sana nampak nya tetap di menangkan oleh ayahku, sang paman sia*lan itu tetap berdiri meskipun dengan terhuyung.
" Paman Arnold paman di mana?"
" Sebentar lagi tiba sayang, jangan keluar tetap di persembunyian mu.." Kenapa sangat lama menunggu bantuan.
Pisau kecil itu nampak nya melukai lengan ayah, karena aku melihat darah segar merembes dari lengan nya. " Hahaha apa hanya aku yang bisa melukai lengan mu itu he.. kau nampak nya sudah sangat kelelahan.. menyerah lah dan berikan kepemimpinan mu di Dragon Red kepada ku, maka aku akan membiarkan mu hidup tenang bersama putri kecil mu.." Jadi ini perebutan Dragon Red, aku tak menyangka hanya gara gara kekuasan sang paman tega mengkhianati kakak nya sendiri.
" Ah di mana keponakan ke sayangan ku.." Aku bersembunyi lagi ketika mata nya mencari keberadaan ku.
" Sekali kau menyebut putri ku dengan mulut kotor mu itu, ku pastikan mulut mu itu aku robek dengan pisau yang kau pegang."
" Jangan kejam pada adik tiri mu ini, bukan kah kita keluarga.." Tawa nya yang membuat aku ingin melempar kan tubuh nya di danau yang penuh dengan buaya.
" Sejak kapan aku memiliki adik tiri seperti mu ha.." Ayah tak pernah menganggap diri nya ada. " Aku tak sudi memiliki adik seperti mu.." Suara ayah ki begitu tegas waktu itu.
" Padahal aku sangat menyayangi kakak ku."
" Jangan banyak bicara, kita lanjutkan ini agar kita bisa buktikan siapa yang menang di sini, dan siapa yang berhak menjadi ketua di Dragon Red."
Aku hanya menutup mulut ku dan mata ku ketika menyaksikan pertarungan mereka di bawah sana. Kedua laki laki yang tangguh dan kuat, nampak nya tak lelah dengan tetap saling bertarung hebat. Pisau itu masih berada di tangan paman Febri, sedangkan ayah tanpa mengunakan senjata apapun, pistol yang tadi ada di tangan nya seperti sudah tak ada peluruh nya.
" Ayah.." Aku berteriak kecil dari dalam persembunyian ku. Aku hanya bisa merinding dan tak bisa membantu ayah ku ketika melihat ayah berada di bawah tubuh paman dengan pisau yang ingin di tancap kan di mata ayah. Darah segar terus merembes dari tangan nya.
__ADS_1
" Ya tuhan selamatkan ayah ku.." Hanya doa yang bisa aku lakukan saat ini. " Ku mohon jaga dia.." Aku tak berani melihat nya, aku hanya bisa menutup mata dengan terus berdoa ke selamatan ayah ku. Dan aku juga tak ingin melihat apa yang terjadi di bawah sana.
" Kau tak akan mungkin tega membunuh adik mu ini kakak.." Perkataan nya membuat aku mengintip lagi dan aku lega karena melihat ayah sudah menggulingkan paman dan dia berada di bawah ayah ku, dan pisau itu sudah berganti tangan.
" Kau yakin sekali aku tak tega membunu* mu.." Paman tertawa tapi tawa nya selalu membuat aku merinding.
" Kau kakak yang paling baik, kakak tak akan membu*uh adiknya, tapi jika kau tak membun*h ku maka suatu hari nanti tak bisa ku jamin kau menang di pertarungan *lagi.." Aku tetap mengintip dari balkon kamar ku.
" Tapi jika kau membunuh ku pasti keponakan kesayangan ku akan mengecap dirimu seorang pembunu*, arghh..." Paman tak dapat melanjutkan ucapannya hanya teriakan yang membuat aku tercengang ketika pisau itu bersarang di rahang pipi nya.
" Sudah ku katakan aku akan merobek mulut kotor mu itu jika kau panggil putri ku dengsn mulut itu."
" Argh... arghhh..." Teriak nya lagi ketika pisau itu di cabut paksa oleh ayah ku.
" Kau.." Paman tak bisa melanjutkan ucapanya ketika darah terus keluar dari rahang pipi nya.
Ayah ku berdiri dengan cepat kilat pisau itu bersarang tepat di dada nya, mungkin jantung nya, ayah ku melepaskan nya, yang kemudian menancap kan nya hingga berulang kali, ayah ku menginjak luka itu yang berada di dada, sang paman hanya ter batuk darah. Darah segar keluar terus dari mulut nya.
" Tamat lah riwayat mu hari ini febri.." Suara sirine polisi terdengar dan sang ayah tetap menggenggam pisau yang dia gunakan untuk membunuh paman.
Aku melihat paman Antoni keluar dari mobil nya dan di susul dengan gerombolan anak buah nya, mereka menyusuri halaman mencari musuh yang mungkin masih bersembunyi di sana.
" Dia meninggal komandan.." Ucap polisi yang telah mengecek semua orang yang berserakan di sana.
__ADS_1
" Bahwa dia kekantor."
Sang ayah hanya melemparkan senjata nya dan tanpa merasa bersalah sang ayah membiarkan tangan nya di borgol oleh mereka.
" Ayah bukan pelaku.." Aku berteriak dan berlari dengan cepat ketika ayah ku mau di bawah oleh mereka.
" bukan ayah yang melakukan nya..” teriak ku dengan menangis histeris.
“ tapi barang bukti ada di tangan ayah kamu..” jawab nya mereka.
“ kalian boleh membawa aku tapi lepaskan putri aku, jangan kalian ganggu dia..” laki laki yang gagah di masa itu seakan nampak hancur ketika melihat aku menangis di depan mata nya.
“ ayah katakan pada mereka bahwa bukan ayah pelaku nya.”
“ dengar gadis kecil, kau putri nya jelas kau akan membela ayah kamu, tapi kami para polisi di sini mengetahui barang bukti nya ada di tangan ayah kamu.”
“ tapi kalian tak menyaksikan apa yang mereka lakukan pada ayah aku.”
“ clarissa diam nak..” ayah mencoba pendiam ku yang dari tadi tetap menyangkal bahwa ayah adalah pelaku tersebut. “ ayah akan ikut dengan mereka, dan kamu harus menjaga diri baik baik..” sambungnya dengan tetap kuat di depan aku. “ kalian jaga nona muda dengan baik, aku akan tetap memantau..” katanya kepada para pengawal nya dan mereka hanya menganggu. “ cari cara agar aku bisa bebas..” bisiknya kepada orang kepercayaan nya.
Dan untuk pertama kali nya aku menyesal menghubungi pihak polisi dan untuk pertama kali nya aku melihat mata ayah yang terpuruk dan hancur karena aku harus menyaksikan dirinya di bawah oleh mereka. Aku hanya hancur seakan tak ingin memiliki hidup lagi ketika melihat ayah ku harus berada di dalam sel penjara. Meskipun ayah ku di cap sebagai pembun*h oleh keluarga besar nya tapi aku tak pernah mengurangi rasa hormat ku serta kagum ku untuk beliau, karena aku adalah saksi dimana aku melihat semua nya dengan mata ku sendiri.
Flash Black Off*
__ADS_1
Like dan komen dulu yuk, kasih vote dulu yuk sudah masuk hari jumat ini. Makasih 🤗🤗😘