
Jennifer yang dari tadi hanya diam dia tak mampu untuk membuka sendiri siapa dirinya, kini harus memikirkan matang matang langkah apa yang harus dia ambil.
" Tuan Steve terima kasih karena sudah menolong aku, tapi beri aku waktu untuk mengatakan siapa aku sebenarnya..." Akhirnya wanita itu membuka suaranya dengan menatap laki laki yang duduk di sebelahnya. Laki laki yang membantu nya, laki laki yang telah menyelamatkan dari pembunuh bayaran itu.
" Kau masih ingin berpikir lagi, padahal bos mu sendiri yang aku yakini telah mengirimkan seseorang untuk meneror mu. Kau masih ingin berlindung di bawah kaki orang yang ingin membunuh mu?, ayolah Jenni jangan naif jadi orang..." Steve berkata dengan penuh mengejek. Jennifer terdiam ketika apa yang di katakan oleh laki laki itu benar ada nya.
" Tapi aku perlu waktu Tuan Steve, aku tak ingin berlindung dengan nya, hanya saja aku harus memikirkan semua nya, aku perlu waktu untuk membongkar siapa aku sebenarnya..." Misi nya gagal karena dirinya terlalu sulit untuk menembus siapa lawan nya kali ini.
" Jadi sekarang aku mengakui bahwa dirimu memiliki misi bergabung di sini, dan kau menyamar sebagai orang audit. Benar bukan apa yang aku katakan?" Steve menatap wanita itu dengan menyilangkan tangan di dada.
Jennifer hanya mengangguk dengan tertunduk, dia merasa malu karena penyamarannya terbongkar dalam waktu tiga bulan. Dan tepat nya lawan yang ingin dia bongkar malah yang menyelamatkan dari orang orang yang ingin membunuhnya.
" Baiklah, aku tak memaksa dirimu, tapi yang jelas kau tak bisa lari dari ku. Aku menyelamatkan nyawa mu dan aku meminta kau mengakui siapa dirimu, sebelum aku membongkar sendiri siapa dirimu sebenarnya..." Steve sebenarnya tahu siapa wanita itu tapi dia tak ingin membuka nya sebelum wanita itu mengakui nya sendiri.
" Aku tahu dan biarkan aku berpikir. Beri aku waktu sebentar saja..." Steve kali ini berdiri tanpa mengatakan apa apa lagi.
" Kamar mu ada di ujung sana, istirahatlah. Jika ada apa apa kau bisa mengetuk kamar ku yang ada di sebelah kamar mu..." Steve yang berkata seperti itu langsung meninggalkan wanita itu yang hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Steve yang melangkah kini memilih untuk masuk ke dalam kamar nya, dia memilih untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat tadi.
Sedangkan Jennifer juga masuk ke dalam kamar nya, dia memikirkan nasib nya yang seakan seperti menjadi alat bagi bos nya.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang?, apa memang aku harus berakhir seperti ini?" Gumam nya dengan pelan.
" Tapi mereka sudah keterlaluan, tak bisa kah menunggu ku sebentar saja, kenapa malah harus mengirimkan aku orang orang yang ingin membunuh ku..." Prolog nya sendiri dengan menahan rasa marahnya itu.
Drt!! drt!! getaran di ponsel nya membuat dirinya segera melihat siapa yang menghubungi nya. Tatapan nya memerah karena mengetahui siapa yang menghubungi nya.
" Aku keluar dari misi ini..." Ucapan pertama yang Jennifer katakan ketika panggilan itu dia jawab.
" Kau apa?" Suaranya gugup, dia takut salah mendengar.
" Aku keluar dari misi ini..." Jennifer menekan kata kata nya dengan sungguh sungguh. Dia tak ingin mengorbankan nyawa nya, dia tak ingin melakukan misi yang tak di percayai oleh bos nya lagi.
" Tidak bisa kau harus tetap menjalankan misi ini, kau belum mendapatkan apapun yang aku cari..." Suara di sebrang sana kini terdengar panik. " Kau tak bisa tiba tiba memutuskan keluar dari misi ini Jenni, sebenarnya ada apa dengan mu?, hanya kali ini kau tiba tiba keluar dari misi ini..." Sambungnya, bos dari wanita itu tak menyangka bawa anak buah nya yang sangat dia andalkan kini malah ingin keluar dari misi nya.
__ADS_1
" Kau pura pura tak tahu, kau yang mengirim aku pembunuh bayaran dan kau mengirim orang orang untuk meneror ku, sekarang kau pura pura tak tahu. Kau sungguh bajinga*..." Jennifer tak bisa menahan rasa marahnya, dia meluapkan semua emosinya, karena bos nya sudah mengirimkan pembunuh bayaran untuk menghabisi nya karena dirinya belum menemukan apa yang di perintahkan.
" Jenni apa kau pikir aku bodoh mengirimkan orang untuk membunuh mu, apa kau pikir aku akan membunuh orang yang aku sengaja kirim untuk membantu ku. Jangan konyol Jenni, kau menuduh ku tanpa bukti yang jelas..." Mr.X itu kini tak menyangka bawa wanita itu menuduh nya melakukan pembunuhan.
" Kau pikir aku percaya dengan apa yang kau katakan, jika bukan kamu lalu siapa yang melakukan hal keji itu pada ku. Kau pikir aku tak tahu kau selalu membunuh orang orang yang tak melakukan tugas nya dengan benar, kau pikir aku hanya baru kali ini menjalankan tugas untuk tim ini..." Jennifer sungguh tak bisa menahan hasrat untuk melampiaskan amarahnya, dia sungguh tak habis pikir dengan bos nya yang ingin membunuh nya.
" Jenni aku tak mungkin membunuh mu, terlepas dari misi ini aku menyukai mu, mencintai mu, mana mungkin aku bisa membunuh mu hanya karena misi ini."
" Omong kosong dengan cintai mu, aku tak ingin terlibat lagi dengan tim mu, sekali lagi aku katakan aku mundur dari misi ini dan carilah orang lain untuk mengantikan posisi ku..." Semua yang di katakan oleh bos nya itu kini seakan tak bisa masuk ke dalam pikiran nya wanita itu. Amarahnya tak bisa mencerna semua penjelasan yang di berikan oleh Mr. X itu.
" Jenni aku akan datang ke apartemen mu, kita bisa bicara baik baik..." Jennifer dengan cepat memutuskan panggilan itu.
Jennifer membanting ponsel itu ke atas bed nya itu, dada nya naik turun karena rasa marah pada Mr.X bos nya itu. Bos nya itu adalah orang yang menyukai nya tapi sayangnya Jennifer menutup rapat hati hati nya karena sebagai anggota dan atasan tak bisa menjalani hubungan yang dilandasi oleh cinta.
Jennifer kini berpikir keras apa dia harus membongkar siapa dirinya, membongkar siapa tim nya, membongkar misi nya yang selama ini dia lalukan.
" Apa dia akan memaafkan aku dan melepaskan aku jika aku mengakui siapa diri ku?, atau dia malah membunuh ku?" Pikiran nya berkecamuk tak karuan, semua nya bisa terjadi.
__ADS_1
" Sialan, maju tak bisa mundur tak bisa. Bos ku ingin membunuh ku, dan sekarang jika aku mengakui siapa diriku lawan ku juga bisa membunuh ku..." Jennifer mengusap wajahnya, menjambak rambutnya dengan keras. Semua nya bisa terjadi hanya itu yang dia pikirkan.