
Semua orang yang ada di sana kini langsung tertuju kearah suara yang begitu dingin nada bicaranya, bahkan wajah yang lesu kini menjadi wajah yang mengerikan jika di lihat dari rambut yang acak acakan serta wajah nya yang sedikit memiliki luka itu. Marco hampir limbung ketika menatap netral mata tajam dari wanita yang kini baru sadar dari pingsan, tepatnya dari biusnya itu.
" Harusnya kami dari dulu membunuh mu..." Ucapnya dengan sinis. " Kau sungguh tak bisa di beri hati, kau lihat kau pasti akan mati di tangan ku dan Suami ku..." Sambungnya lagi dengan tatapan tajamnya itu.
David dan Marco kini sedikit ketakutan karena tawanannya kini sadar, dirinya kini tak percaya bawa wanita itu yang baru saja sebelum dirinya pergi tadi masih membiusnya harusnya nanti malam obat bius itu hilang dari tubuhnya, tapi nyatanya wanita itu kini tiba tiba berbicara dengan suara dingin nya.
" Harusnya kau tak bangun secepat ini?" marco kini gugup bukan main.
Monica sebenarnya masih tak berdaya dia masih lemas bahkan kepalanya masih terasa pusing, matanya masih berkunang kunang karena efek obat bius itu masih ada di tubuhnya tapi Jenni tadi melakukan pertolongan pertama dengan memasukan jarinya kedalam mulutnya agar wanita itu memuntahkan yang memancing dirinya sedikit sadar.
Ketika dirinya setengah sadar dia bisa mendengarkan semua yang di perdebatkan oleh ketiga orang ini. Dia kini seakan memiliki hutang budi kepada wanita yang menyelamatkan nya itu, dia kini tahu kenapa wanita itu lebih memiliki tugasnya dan meninggalkan cinta.
" Kau takut jika aku bangun dari pingsan ku?, di saat aku bangun kau akan mendapatkan apa yang harusnya kau dapatkan dari dulu..." Ancamnya itu.
Marco kini berjalan mendekati wanita itu, dia tertawa mendengarkan ancaman nya. Dia kini berdiri di depan wanita itu dengan senyuman yang tak bisa di artikan.
__ADS_1
" Harusnya kau memikirkan nasib mu, memilih aku atau tetap bersama suami mu itu, karena sebentar lagi aku akan menjadi kaya, semua aset aset milih dari bos mu itu akan jatuh ke tangan ku..." Katanya dengan tersenyum, seakan kemenangan sudah ada di depan matanya.
Suami, apa dia dengan Steve sudah menikah? Batin Jenni kini menjadi gundah ketika mendengar tentang kata kata 'suami'.
" Pintu hati ku selalu terbuka lebar untuk mu kembali..." Marco kini melotot dia menahan amarahnya ketika wanita itu dengan sengaja meludahi wajah Marco dengan tepat.
" Aku lebih baik mati di banding kembali dengan laki laki bajinga* seperti mu, kau adalah laki laki bajinga* yang pernah aku temui, dan aku menyesal pernah jatuh cinta dengan laki laki yang tak memiliki hati seperti mu, kau bajinga* yang harus nya aku bunuh dari dulu, kau laki laki miskin yang berambisi merampas harta orang lain demi kepentingan mu, kau harusnya malu dengan orang yang mengemis di jalanan, mereka menunjukan keahlian nya untuk mencari makan dan itu lebih terhormat di banding dengan kamu yang mencuri aset aset mereka, kau menjijika-"
Plak!! satu tamparan di layangkan oleh Marco hatinya bergemuruh marah ketika mendengar hinaan yang di lontarkan oleh wanita yang dia cintai itu. Perkataan pedas yang di lontarkan oleh wanita itu membuat Marco kalap, dia tak bisa mengontrol emosinya dia sungguh marah, wajahnya memerah mendengar semua hinaan untuk nya. Wanita itu hanya tersenyum mendapatkan tamparan keras itu, lirikan matanya sungguh menakutkan tak ada yang bisa melawannya jika wanita itu sudah mulai menatapnya dengan tajam dan menakutkan.
" Cukup, cukup sekali lagi kau menghina ku, ku pastikan aku tak hanya menampar mu..." Ucapnya dengan dingin.
Marco kini semakin memerah dia kini segera bangun dari terpental nya, dia yang menyuruh orang orangnya untuk membangunkan wanita itu. Marco kini memukul laki laki yang masih belum sadar itu, wanita itu kini melotot tak percaya bawa musuhnya malah menyerang orang yang tak sadarkan diri itu.
" Hentikan Marco, bajinga*. Jangan lawan dia, lawan aku, brengse*, lepaskan aku lawan aku..." Wanita itu berteriak memberontak di sana, tapi Marco semakin bersemangat untuk memukul laki laki yang tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
" Kau lihat, dia tak berdaya, laki laki ini yang kau pilih, laki laki yang tak bisa melawan aku..." Marco kini semakin memukul wajah nya, perutnya dan kandang memukul kaki nya mengunakan tongkatnya yang ada di tangannya.
" Dasar pengecut kau hanya berani melawan nya di saat dia pingsan, dasar bajinga* lepaskan kami..." Kini Jennifer yang dari tadi diam kini juga mengatai nya, ini tak adil lawan nya masih belum sadar tapi dia sudah mendapatkan bogem dari Marco.
Bug!! Bug!!
" Brengse* kau, ku bunuh dirimu..." Wanita itu kini yang ingin berdiri serta membawa kursi nya itu tak bisa karena kursi nya di tahan oleh kedua orang orangnya. Tapi wanita itu tentu saja memiliki seribu cara untuk melepaskan tahanan mereka.
Wanita itu tetap berusaha berdiri dan segera memutarkan tubuhnya bersama kursinya hingga membuat kedua orang itu langsung terjatuh seketika dan dengan cepat dia menendang laki laki yang menghajar orang yang dia cintai.
Bug!! Marco kini terpental jauh ketika tendangan itu mengenai pinggangnya, Marco kini terbentur dinding dengan keras hingga membuat dirinya meringis kesakitan. Semua orang yang ada di sana kini terkejut bukan main ketika melihat wanita itu begitu tangguh melindungi laki laki yang masih belum sadarkan dirinya.
Siapa laki laki ini, kenapa dia begitu membela nya? Batin Jennifer ketika melihat wanita itu begitu mati-matian membela nya.
Marco kini berusaha bangkit lagi tapi sayangnya dia terjatuh lagi, hingga David sendiri yang menolongnya untuk bangkit dari jatuhnya. David kini memegangi kedua lengan Marco.
__ADS_1
" Hentikan Marco kau bisa mati dengan wanita itu, kau tau sendiri dia wanita yang tak bisa kau lawan, meskipun kau laki laki kekuatan mu tak ada apa apa nya di bandingnya..." David kini menasehati temannya dia merasa kasihan jika temannya di hajar oleh wanita itu. Meskipun kedua tangan nya di ikat di kursi, nyatanya dia masih memiliki seribu cara untuk melawannya.
Wanita itu masih berdiri di depan laki laki yang belum sadarkan diri itu, dia kini yang belum sadar benar nyatanya masih bisa melindungi suaminya yang belum sadar dari pingsan nya. Tatapan yang menantang dari wanita itu membuat David merasakan merinding seketika. Marco kini merasa malu karena dirinya harus kalah dengan sosok wanita.