Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Season2_ Tragedi Pesawat 3


__ADS_3

" Perut ku.." Alinna menahan rasa sakit nya dan Zac yakin bahwa itu sangat yakin karena remasan pada tangan nya begitu erat dan kencang.


" Kita ke rumah sakit.." Zac sangat panik dan takut terjadi apa apa. " Kamu bisa jalan.." Alinna mengangguk ketika tangan Zac merangkul pundak nya.


" Bisa.." Alinna memegang perutnya yang merasa sangat sakit. " Auwhh.." Teriak nya dengan pelan ketika kaki nya mulai melangkah.


Zac dengan sigap mengendong tubuh Alinna, Alinna yang terkejut segera mengalungkan tangan nya ke leher kekar Zac. Alinna yang pemalu kini menjadi tak peduli ketika semua mata melihat ke arah nya, dengan rasa panik Zac melebarkan langkah nya dengan tetap mengendong tubuh Alinna yang menahan rasa sakit pada perut.


" Tahan sebentar ok.." Zac berbicara pelan ketika mereka sudah masuk kedalam taksi, Zac meringis kesakitan ketika remasan pada tangan nya semakin kencang.


" Huft..Huft.." Alinna mencoba membuang nafas nya dengan pelan agar mengurangi rasa sakit nya.


" Hai malaikat kecil, jangan marah pada ibu mu, dia ibu yang hebat, kasihan ibu mu yang merasakan sakit.." Alinna terkejut ketika Zac tiba tiba menyentuh perut nya, mengelus nya dengan lembut.


" Paman akan menjaga ibu mu, dan akan menasehati ibu mu jika dia lupa waktu ketika bekerja.." Mata Alinna berkaca kaca ketika mendengar apa yang di katakan Zac, bukan karena sakit yang menghantam perut nya tapi karena ini harus nya menjadi tanggung jawab Alex yang ayah nya, bukan Zac yang berusaha membuat nya tenang. Keegoisan Alinna membuat semua nya menjadi menyakitkan.


" Tuan kita sudah sampai.." Ucapan sang supir membuyarkan lamunan Alinna serta obrolan Zac yang tak di dengar oleh Alinna.


Zac segera turun dan membantu Alinna yang juga turun dengan menahan rasa sakit pada perut nya. Zac mondar mandir di luar ruangan, sang dokter kini masih memeriksa kondisi Alinna serta calon bayi nya. Cemas tentu saja, dia juga bingung harus memberitahu siapa tentang keadaan Alinna.


" Apa aku hubungi Jovanka saja.." Zac mengambil ponsel nya dan ingin menghubungi Jovanka tapi di urungkan karena takut Jovanka yang tambah heboh.



" Permisi, anda suami dari nyoya Alinna.." Sang dokter yang keluar dari ruangan Alinna.


" Iya saya suami nya.." Zac berkata dengan tegas, tapi dia juga tak sadar apa yang di katakan adalah kebohongan.


" Tuan nyonya Alinna tak apa apa, hanya merasa kram pada perut nya karena kelelahan, saya minta kepada anda suami nya bisa mengingatkan untuk tidak memforsir tenaga dan pikiran nya, duduk kelamaan serta menahan rasa lapar, itu tak bagus untuk ibu dan janin nya.." Zac mendengarkan apa yang di jelaskan sang dokter kepada nya.


" Baik dok terima kasih.." Zac merasa lega tidak nya mereka tidak apa apa. " Apa kami sudah boleh pulang dok?" Tanya nya lagi.


" Sementara observasi dulu satu malam, agar kami bisa mengontrol nya jika terjadi seperti hal ini lagi."


" Baik dok kalau begitu.." Sang dokter hanya mengangguk. " Saya akan melihat ke dalam.." Sambung nya dan sang dokter segera kembali keruangan nya.

__ADS_1



Zac yang masuk ke dalam menangkap sosok Alinna yang terbaring di sana dengan tangan yang sudah terpasang infus.


" Hai.." Zac menyapanya dengan rasa malunya, karena Alinna menatap nya dengan wajah kaki nya.


" Hai.." Balas nya dengan lembut. " Terima kasih sudah menyelamatkan ku.." Senyum dibibir nya kini mengembang.


" Sama sama.." Balas nya dengan menggaruk kepala nya. " Nyonya Alinna maafkan saya karena tadi saya mengaku sebaik suami anda kepada dokter.." Zac mengakui perbuatan nya yang berbohong.


" Ha.." Alinna sedikit terkejut mendengar apa yang di katakan laki laki yang menolong nya dari tadi.


" Jika nanti suami anda marah, aku akan jelas kan, aku tak bermaksud apa apa, aku hanya tak ingin ribet harus di tanya di mana suami nya, anda siapa nya pasien. Aku sungguh minta maaf nyonya.." Zac yang dari tadi merasa khawatir dan malu harus mengakui kebohongan nya hanya di balas dengan tawa oleh Alinna.


" Kenapa anda malah tertawa?, apa ada yang lucu di kata kata saya.." Alinna merasa wajah Zac saat ini sangat lucu karena takut ada seseorang yang akan marah jika dirinya mengakui suami Alinna.


" Tidak, maksud ku jangan cemas seperti itu.." Alinna menghentikan tawa nya menatap Zac dengan sungguh sungguh. " Saya secara pribadi berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya dan calon anak saya.." Zac tak menjawab nya hanya tersenyum tulus kepada Alinna, dia akhir nya kini bisa duduk di kursi kecil sebelah ranjang tempat Alinna berbaring.


" Apa anda sudah menghubungi suami anda jika anda di sini?"


Pertanyaan Zac seakan menghantam hati Alinna, dia merasakan sakit. Alinna tak bergeming tak menjawab apa yang di lontarkan Zac.


" Nyonya Alinna.." Sentuhan pada tangan nya membuyarkan lamunan nya.


" Ah.. iya anda tadi bicara apa?" Jawab nya dengan gugup.


" Apa suami anda sudah tahu bahwa anda sedang di rawat di sini?" Tanya nya lagi.


" Saya... tidak... maksud nya tidak... belum..." Alinna tak tahu harus jawab apa kepada laki laki tersebut " Saya tidak memberi tahu siapa pun tuan.." Zac hanya mengerutkan kening nya.


" Kenapa?, harus nya seorang suami harus ada di samping istri ketika istri sakit bukan, apalagi istri nya tengah mengandung, nanti jika anda tak pulang, suami anda akan merasa khawatir."


" Tidak ada yang akan mengkhawatirkan saya tuan.." Alinna tersenyum getir.


" Suami anda tak mengkhawatirkan anda?" Zac lagi lagi mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


" Tidak... maksud nya saya tidak ingin memberi tahu keadaan saya pada nya.." Zac menangkap kesedihan di sana, mata nya sedikit berkaca kaca ketika mengatakan tentang sosok suami.


' Apa mungkin ayah dari bayi itu tak ingin bertanggung jawab, atau suami nya sudah tak ada?' Tanda tanya di hati Zac seakan menggunung, apa yang terjadi apa suami nya menjadi tanda tanya di hati nya saat ini.


" Tuan anda bisa kembali, sekali lagi terima kasih atas bantuan anda.." Alinna kembali melempar senyum kepada Zac yang tengah mematung dengan pemikiran nya sendiri.


" Tidak..tidak, saya tidak akan pergi, saya akan menunggu anda di sini."


" Ha... tidak tuan, saya tidak ingin merepotkan anda lagi.." Alinna tetap menolak nya.


" Jika anda sendirian di sini, bagaimana jika anda butuh sesuatu atau butuh bantuan yang lain."


" Saya bisa memanggil suster tuan Zac, di sini banyak yang menjaga saya."


" Mereka akan mengira saya suami yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkan istri saya sendirian di sini.." Alinna merasa tak enak hati karena lagi lagi laki laki di depan nya ini memaksa ingin menunggui nya.


" Tuan Zac ini akan merepotkan anda, saya tak ingin menganggu acara anda ataupun membuat seseorang salah paham dengan saya.." Alinna mengatakan apa yang ada di pikiran nya.


" Tidaka akan ada yang salah paham di pihak saya, jadi jangan mendebat ku lagi.." Suara nya kini berubah menjadi tegas. " Sebaiknya sekarang anda istirahat, saya juga butuh istirahat karena lelah mengendong tubuh anda tadi.." Zac bangkit dari duduk nya tanpa mau mendengarkan apa yang akan di bantah Alinna.


Zac merebahkan tubuh nya di sofa panjang rumah sakit. Meskipun sofa itu panjang tapi tak muat menampung badan Zac yang tinggi, kaki nya menggantung dan itu akan membuat bada nya sakit jika Zac lama berbaring di sana.



🌼🌼🌼🌼


Ulu bang Zac jangan bikin mimin dan para mak mak ini oleng serta berteriak histeris karena badan mu itu bang 🀣🀣


Masih belum oleng ini, yakin belum oleng dengan abang ku yang satu ini 😁


Ramaikan Like dan komentar yuk 🀭


Vote dan hadiah nya sudah mulai masuk hari ya πŸ€—


Makasih yang masih setia membaca di sini, kalian memang hebat 😘😘❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2