
" Kau siap hari ini?" Bryan dan Sarah saat ini tengah duduk di untuk sarapan pagi nya.
Mereka berdua saat ini sedang berada di dalam apartemen milik dari laki laki tampan yang saat ini siap menyusun rencana dan rencana itu saat ini akan segera dia lakukan.
" Aku siap!" Jawabnya dengan tegas.
" Kau yakin, kau sudah memikirkan nya bukan? maksud ku kau tau resiko apa yang harus kau hadapi setelah ini?" Bryan meletakan sendok nya menatap mata wanita itu.
" Aku tau semua resiko itu Bryan dan aku tak akan mundur dalam hal apapun. Jika bukan aku yang menjadi umpan maka siapa lagi yang harus berdiri di depan mereka untuk memancing mereka keluar!" Kata kata nya begitu tegas bahkan tak ada ketakutan sama sekali.
Bryan menghela nafasnya dengan sesekali menatap ke arah wanita yang santai melahap makanan nya. Dia tak tau rencana ini akan berhasil atau tidak tapi yang jelas akan sangat membahayakan wanita itu.
" Kenapa kau malah menatap ku seperti itu? apa ada yang salah atau ada yang kau pikirkan heh?" Sarah kini baru sadar jika laki laki itu tengah menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Mata Bryan tak dapat di pungkiri bahwa saat ini tengah mengkhawatirkan wanita itu. Tapi Sarah tak ingin terlalu membawa pikiran apa yang telah dia rasakan.
" Aku hanya takut nyawa mu dalam bahaya setelah ini..." Ujarnya dengan pelan.
Sarah menatap laki laki yang ada di sebelahnya menyentuh tangan nya dengan lembut senyum tipis itu mampu membuat sedikit tenang hati Bryan saat ini.
" Tak masalah jika aku dalam bahaya! hanya ini yang bisa aku lakukan untuk adik ku, tapi aku yakin kamu tak akan membiarkan diriku dalam bahaya!"
" Kami memang tak akan mungkin membiarkan kamu dalam bahaya tapi kita tak tau Takdir apa yang sudah menunggu kita di depan sana."
__ADS_1
Takdir hanya Tuhan yang tau, karena kita hanya manusia biasa yang hanya menunggu Takdir apa yang sudah menunggu kita di depan sana.
" Jika pun aku tak dapat melindungi nyawa ku sendiri setidaknya aku berkorban untuk membantu mengungkap kematian dari adik ku sendiri dan kematian ku pun tak akan sia sia..." Senyum keikhlasan nampaknya terlihat jelas di wajah wanita cantik itu.
Bryan lagi lagi tertegun mendengar jawaban dari wanita yang duduk di sebelahnya. Bukan hanya kecantikan tapi hatinya memiliki ketulusan yang begitu besar kepada keluarganya. Dia rela kehilangan nyawanya sendiri untuk menangkap pembunuh adiknya, bahkan dia tak memikirkan dirinya yang nantinya akan terancam bahaya.
" Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu maka ayo kita lakukan sekarang! semua orang pasti sudah siap di tempat sesuai rencana yang sudah tersusun rapi dari semalam."
Sarah hanya bisa mengangguk dengan wajah biasa nya, dia kali ini tak akan mundur apapun yang terjadi dia harus tetap maju. Kali ini keputusannya tak akan bisa di ubah dengan cara apapun, meskipun nyawa mereka adalah taruhan nya dia harus tetap melakukannya.
*Setidaknya aku tak mati sia sia. Batinnya dengan melangkah mengikuti Bryan keluar dari apartemen laki laki itu.
Siap atau tidak aku harus melindunginya bagaimana pun cara nya. Laki laki itu juga mengucapkan dengan batinnya yang terpendam*.
" Sarah kita berpisah di sini, kamu pulang lah dan semuanya sudah siap di sana, aku dan beberapa orang juga telah siap di tempat! kami mungkin tak terlihat tapi kami akan mengintai mu dari kejauhan..." Bryan kini menatap Sarah yang berdiri dengan nya di dalam lift yang sudah tertutup.
" Dan ini pakai juga! di sini ada alat pelacak jika terjadi apa apa dengan mu kami akan dapat mengetahui keberadaan mu dengan segera..." Bryan dengan cepat memasangkan sebuah kalung yang di sana sudah di desain ada sebuah alat kecil yang nantinya akan berfungsi.
Sarah menahan nafasnya ketika jarak mereka yang begitu dekat ketika Bryan memasangnya kalung tersebut. Jantung mereka terasa memompa begitu cepat ketika jarak mereka sangat dekat. Andaikan wajahnya menoleh kesamping dapat di pastikan ciuman itu akan mendarat begitu saja di pipi mulus laki laki tampan itu.
" Terima kasih..." Suaranya gugup dan dia dengan cepat memalingkan wajahnya menatap ke depan.
Bryan tak menjawabnya dia kembali dengan wajah datarnya, tak hanya Sarah yang memiliki kegugupan tapi laki laki yang nampak terdiam membisu nyatanya sedang menahan jantungnya yang juga ingin lompat.
__ADS_1
Ting!! suara pintu lift yang terbuka membuat kedua orang itu keluar dengan arah yang berbeda. Sarah yang berjalan lurus menuju ke arah pintu keluar sedangkan Bryan kini berbelok ke kanan.
Sarah menatap ke depan pandangannya lurus kedepan tak ada kegusaran atau kepanikan di wajah cantiknya, dia melangkah dengan tenang.
" Semua nya sudah siap? barang sudah mulai bergerak!" Bryan memberi kabar ke orang orang nya bahwa Sarah sudah mulai bergerak keluar dari apartemen miliknya.
" Kami sudah melihat nya Sir!" Jawab salah satu dari mereka yang melihat Sarah keluar dari apartemen mewah tersebut.
Matanya kini mencari orang orang yang kata nya mengintai dia dari jarak jauh, tapi dia sama sekali tak menemukannya sedikit pun. Bahkan tak mengenali satu orang pun yang ada di sana.
Sarah tak terlalu ambil pusing dia kini berjalan menuju rumahnya tempat di mana semua rencana sudah menunggu di sana, semua rencana yang sudah tersusun rapi di sana. Sarah kini berjalan kaki menikmati setiap udara segar yang dia hirup.
" Target bergerak dan saya melihatnya..." Seorang telah berkomunikasi dengan beberapa orang orang yang juga ikut serta mengintai Sarah dari jarak jauh.
" Saya juga melihatnya..." Jawabnya dengan pelan.
Bahkan di setiap jalan dia pulang semua orang telah tersebar di sana, penyamaran itu pun tak dapat di ketahui oleh Sarah sendiri karena mereka sama saja dengan beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar sana.
Sarah berjalan dengan tenang tak ada pemikiran yang membuatnya takut dia tetap berjalan seperti biasanya.
Mereka mengatakan bahwa orang orang nya akan tersebar di jalan ku pulang tapi kenapa aku tak merasakan bahwa aku sedang di perhatikan oleh orang orang Bryan? apa memang mereka hanya berbohong yang mengatakan bahwa aku sedang di intai oleh orang orang nya.
Sarah bingung selama perjalanan pulang dia tak merasakan bahwa ada orang yang menatap ke arahnya ataupun mengikutinya. Dia biasa berjalan dengan orang orang asing yang tak dia kenal tapi dia tak sedikit pun merasakan bahwa ada orang yang mengikutinya ataupun memperhatikannya.
__ADS_1