
Zac hanya menghela nafasnya dia menyandarkan punggungnya di sofa memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, Zac kini harus menerima apapun keputusannya nanti, Zac harus menepati janji yang dia buat sendiri.
" Aku akan menerima nya meskipun berat hati, jika Steve ingin yang keluar dari sini dia sudah memikirkan semuanya dengan matang matang dan pilihan Steve pasti sudah yang terbaik untuk hubungan mereka berdua."
" Kau tak akan membuat drama seperti ini lagi?"
" Ini bukan drama sayang, ini kenyataan yang harus mereka hadapi. Hidup adalah pilihan yang harus mereka tentukan, di dunia ini tak ada yang memiliki dua pilihan, tapi mereka harus menentukan satu pilihan yang nantinya akan membawa mereka dengan kebahagian."
Valarie kini menghela nafasnya dia yang dari tadi duduk di ranjang kini turun menghampiri suaminya yang duduk di sofa kamar itu. Dia tahu ini adalah hal yang juga berat bagi suaminya. Steve tak hanya seorang asisten tapi dia juga seorang sahabat dan keluarga dekat dari suaminya. Valarie yakin bukan hanya mereka yang mengambil kesulitan dalam memilih hubungan ini, tapi Zac juga bingung dengan pilihan terberat ini. Jika Steve yang lebih memilih mundur maka dia harus menepati janjinya, dia tak akan mempertahankannya dia akan merelakan Steve bersama orang yang dia cintai.
" Jangan sedih, aku tahu kau di sini juga merasakan kegundahan..." Val yang tiba tiba duduk di pangkuan suaminya membuat sang suami terkejut. Zac kini memeluk istrinya dengan erat. " Apapun nanti keputusan mereka kau harus terima, jangan halangi cinta mereka lagi. Perpisahan karena sebuah cinta akan menyakiti hati mereka..." Sambungnya.
" Aku tahu dan aku akan mencoba menerima nya meskipun Steve yang harus mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Sebenarnya aku tak berhak tak merestui hubungan mereka, tapi aku melakukan ini demi mereka berdua. Aku tak ingin mereka terluka lebih dalam lagi, kau tahu bukan maksud ku?"
" Aku tahu Hubby, percayalah mereka juga tahu tentang apa yang kau lakukan..." Zac menyandarkan kepalanya di lengan istrinya dia kini sungguh di buat dilema.
Sebenarnya dia dari tadi tak memikirkan bawa Steve lah yang mungkin akan mundur, tapi malam ini dia juga harus memikirkan jika Steve benar benar mundur dari sini dan pergi bersama kekasihnya itu.
Malam ini mereka semua tengah tak bisa tertidur dengan tenang, mereka akan mengambil sesuatu yang sangat sulit tapi mereka harus tetap mengambil keputusan ini semua. Keputusan yang harus ada yang di korbankan, keputusan yang harus membuat mereka terluka, keputusan yang membuat mereka kehilangan dari salah satu pilihan itu. Zac juga tak bisa tidur dengan tenang dia menatap langit langit kamarnya, meskipun di sebelahnya sang istri sudah terlelap tapi dirinya masih belum bisa tertidur, meskipun sang istri mendekapnya dengan erat.
Di tempat lain Andre kini sedang bersama Albert mereka sedang berada di dalam diskotik mereka sedang memantau keadaan diskotik yang di mana bosnya yang memiliki tempat itu.
" Jadi mereka belum memiliki keputusan?" Albert kini sedikit berteriak ketika dia bertanya tentang hubungan rekannya itu.
" Yang menjadi pemikiran ku adalah Steve yang akan keluar dari tim kita."
" Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"
" Jenni baru saja naik jabatan karena berhasil menemukan Abhi dan Monica, tentu saja Jenni tak akan keluar dari kesatuannya."
__ADS_1
" Tapi aku rasa mereka akan memilih untuk jalan sendiri sendiri."
" Mereka sedang jatuh cinta dan sedang di perbudak cinta, mereka pasti akan memilih cinta..." Andre merasa geli ketika mengatakan tentang cinta. " Sebab itu aku tak ingin memiliki komitmen dengan siapapun, karena cinta hanya akan menyakitkan..." Sambungnya dengan menyesap minumannya itu.
Albert kembali diam dia juga memikirkan nasib temannya itu, dia merasakan kasihan kepada temannya itu, baru saja dia merasakan arti jatuh cinta tapi sekarang malah harus berpisah kembali karena keadaan yang tak mengizinkan mereka bersatu dalam keadaan apapun.
Andre kini melihat bariste yang sedang meracik minimun di meja bar yang jauh dari tempatnya, tapi Andre masih bisa melihat jelas wanita yang sedang berada di balik meja besar itu.
" Kau sedang memperhatikan siapa?" Teriakan dari Albert mengejutkan nya yang dari tadi melihat wanita yang pernah dia lihat.
" Tidak, sepertinya aku pernah melihat seorang teman..." Jawabnya dengan tetap memandangi wanita itu yang sedang meracik minuman beralkohol itu.
" Aku kesana dulu..." Anggukan dari Albert bahkan tak dia lihat, Andre langsung melangkah menuju ke arah meja yang sedang ada seorang yang dia lihat.
" Kau kerja di sini?" Teriakan Andre yang dadi belakang membuatnya langsung melihat kearahnya dengan bingung, Karena selain baristi dan bariste tak ada yang boleh masuk ke sana.
" Nona Bariste mana minuman ku?" Seorang tamu kini tiba tiba meminta minumannya ketika wanita itu malah menatapnya dengan bingung.
Wanita itu kini kembali fokus dengan racikan minuman yang telah di pesan oleh para tamu yang ada di depannya. Wanita itu dengan lihai meracik semua minuman yang di pesan oleh para tamu. Andre yang melihatnya hanya menyembunyikan senyumannya yang melihat jelas keseriusan yang jelas kepada wanita yang ada di depan nya itu. Andre kini sedikit membantu wanita itu untuk meracik minuman yang di pesan. Cukup lama Andre membantunya hingga mereka akhirnya selesai dengan pesanan para tamu.
" Om pemilik diskotik ini?" Tanyanya ketika mereka sudah selesai meracik minuman itu.
Andre mengerutkan keningnya ketika panggilan 'om' itu masih dia pakai untuk memanggil dirinya.
" Apa aku terlihat tua hingga kau selalu memanggil ku dengan sebutan om?" Andre hanya menggeleng tak percaya bawa wanita itu memiliki mata yang tak bisa melihat jelas bawah dirinya belum terlalu tua dan tak pantas di panggil 'om'.
" Baiklah Tuan..." Katanya dengan tersenyum kuda dia merasa canggung ketika harus di tegur. Tapi matanya memang menangkap lali laki sudah tua. Wanita itu hanya tertawa di dalam hatinya ketika laki laki bertato itu tak mau di panggil dengan sebutan 'om'.
__ADS_1
" Kau sudah lama berkerja di sini?"
" Hampir satu tahun aku di sini. Cih!! kau ini pimpinan tapi gak tahu kalau aku bekerja di sini..." Desisnya dengan kesal.
" Sudahlah bicara dengan mu membuat ku tambah pusing, bekerjalah dengan benar jika kau macam macam aku akan memecat mu."
" Dasar bos arogan, kau memanfaatkan kekuasan mu bos..." Teriaknya dengan kencang. Andre yang mendengarnya itu melayangkan tangannya membuat wanita itu menutupi wajahnya tapi Andre hanya tersenyum ketika melihat wanita itu malah menutupi wajahnya. " Dasar bos gila..." Teriaknya dengan kencang ketika bos nya melangkah pergi dan tak merasakan pukulan pada wajahnya.
Andre hanya menatapnya dengan senyuman serta mengacungkan jari tengahnya kepada wanita yang mengatainya.
__________
Barista adalah sebutan untuk seseorang yang pekerjaannya membuat dan menyajikan kopi kepada pelanggan. Kata "barista" berasal dari bahasa Italia yang berarti "pelayan bar".
perlu diketahui, di Italia, barista laki-laki disebut baristi sementara perempuan disebut bariste. Di Italia, profesi ini tidak hanya meracik kopi, tapi segala macam minuman termasuk alkohol.
Profesi peracik kopi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15, saat kedai kopi pertama kali buka di Mekah, Arab Saudi. Kopi dalam bahasa Arab disebut kahwa.
Dilansir Sasamecoffe, di Eropa, kedai kopi muncul pertama kali pada tahun 1629 di Venisia, Italia. Setelah itu, muncul kedai kopi yang lain di Inggris, Perancis, Portugal, Romania, Swiss, dan tempat lain.
Pada 1900-an, banyak imigran Italia yang membuka warung atau kedai yang menjual sajian kopi khas negara asalnya.
Kedai saat itu banyak berdiri di kawasan padat penduduk asal Italia, seperti New York, Little Italy, Boston, dan Greenwich Village. dan orang Amerika pula yang mempopulerkan sapaan barista pada pembuat kopi dari Italia saat itu.
Barista dan bartender sebenarnya memiliki arti yang sama, tapi lagi-lagi dominasi orang Amerika membawa nama barista di dunia, akhirnya negara lain mengikutinya dan hal tersebut menjadi lazim dan normal.
Selain masalah jenis minuman, tidak ada beda antara barista dan bartender. Keduanya sama-sama harus meracik minuman dan melayani pelanggan dengan skill dan alat yang ada di meja bar mereka.
Hal tentang Italia adalah bahwa minum sering kali menyertai aktivitas tertentu, dan mabuk biasanya tidak disukai. Mabuk di depan umum tidak hanya membawa rasa malu bagi diri Anda sendiri, tetapi juga bagi keluarga Anda. Ini sangat berbeda dengan budaya Anglo-Saxon, di mana perilaku semacam ini terkadang bahkan membuat Anda kagum dan dihormati dari orang-orang di sekitar Anda. Namun bagi banyak wisatawan yang mengunjungi Italia, pertanyaan pertama yang perlu mereka jawab adalah, “Berapa usia minum di Italia?”
usia legal untuk meminum alkohol di negara ini adalah 16 tahun, yang mungkin merupakan usia termuda untuk meminum alkohol di dunia. Itu sedikit lebih muda dari usia sah yang ditetapkan oleh banyak negara. gabungsbo
__ADS_1