Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Season2_ Merasa Kehilangan 3


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan cepat, Alex dan Cla kini sama sama terdiam di ruangan kamar rumah sakit. Cla selama dua hari ini masih mendiamkan suami nya, bahkan dia tak mau bicara satu kata pun, dia merasa kesal, kecewa, marah karena suami nya tak memberikan dia kesempatan untuk melihat anak nya untuk terakhir kali.


" Sayang makanlah, kau pasti lapar..." Lagi lagi hanya bisu yang di dapat kan oleh Alex.


" Sayang ku mohon, jangan seperti ini. Kau sudah dua hari mendiamkan aku..." Cla tetap tak ingin menjawab nya melainkan memunggungi suami nya.


Alex membuang nafas nya, meletakan makan nya, ikut berbaring di sebelah istri nya, memeluk istri nya dari belakang, istri nya tetap tak bergeming, dia tetap tak ingin membuka suara nya.


" Sayang aku tahu kamu marah dan kecewa pada ku, Maafkan aku. Tapi mengertilah bahwa aku hanya ingin kamu cepat memulihkan kondisi mu setalah anak kita tak ada..." Alex menjelaskan dengan nada yang begitu sabar, tapi sang istri tetap saja tak ingin membuka suara nya.


" Jangan marah lagi ku mohon, jangan diamkan aku seperti ini terus, aku tak bisa bernafas karena kamu mendiamkan aku seperti ini terus. Kita masih berduka, harus nya kita saling menguatkan..." Air mata Cla kali ini tak bisa di bendung lagi ketika suami nya bicara dengan lirih yang benar benar sedih.



" Aku akan bicara pada dokter agar kamu bisa pulang dan kita bisa ke pemakaman anak kita..." Alex begitu sangat tersiksa karena merasakan tubuh istri nya yang bergetar karena menanggis.


Cla membalikan badan nya, menatap suami nya yang juga sembab mata nya karena menanggis. " Kamu janji akan membawa ku ke sana..." Beberapa kalimat yang membuat hati Alex lega karena istri nya mau membuka suara nya.


" Aku janji sayang, setelah ini aku akan menemui dokter..." Cla tak menjawabnya melainkan memeluk suami nya dengan erat.


" Hiks... hiks... anak kita pergi Hubby, aku tak bisa menjaga nya, aku bukan ibu yang baik untuk nya, hiks.. hiks..." Tangisan nya kini pecah di dekapan suami nya, saling memeluk erat dengan tangisan yang sudah tak bisa di bendung.

__ADS_1


" Jangan berkata seperti itu Sayang, Tuhan lebih menyayangi anak kita, kau ibu yang baik karena sudah mempertahankan anak kita hingga kemarin..." Alex menahan tangisan nya, dia berusaha tegar di depan istri nya. Jika bukan dia yang memberikan kekuatan siapa lagi.



" Kenapa Tuhan tega terhadap ku Hubby, apa salah ku hingga Tuhan menghukum ku seperti ini?, apa karena aku melawan ibu Aneth karena menolak permintaan nya?"


" Apa yang kau katakan Sayang?, ini bukan hukuman tapi ini sudah Takdir. Kamu tak boleh berkata seperti itu, kita berhak menolak apa yang di minta ibu karena itu tak masuk akal..." Alex semakin mendekap istri nya yang menanggis histeris di dekapan nya. Alex segera menghapus air mata nya yang terjatuh, dia tak ingin istri nya juga melihat dirinya juga terpuruk.


Sedangkan di luar kamar tersebut, mereka juga menanggis, merasakan kesedihan kedua insan yang sedang berpelukan dengan tangisan yang memilukan.


" Maafkan ibu Cla..." Ucapnya dengan lirih.


" Nanti aku dan Ariana pasti akan membantu menjelaskan kepada mereka tante..." Timpal Arnold karena rencana Aneth sebenarnya di ketahui kedua orang tersebut, karena Aneth mencari tahu semua info itu kepada mereka.


" Mereka berhak membenci tante..." Katanya yang kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Arina dan Arnold juga merasa iba kepada sahabat nya yang sedang berduka seperti itu. Mereka tahu bagaimana sahabat nya mempertahankan kandungan nya sebelum bertemu dengan laki laki yang sekarang menjadi suami nya, mereka juga tahu bagaimana perjuangan mereka agar mereka bersatu. Di saat mereka bersatu malah Takdir seakan mengambil milik mereka yang sangat berharga, calon anak mereka.



🌹🌹🌹

__ADS_1


" Bagaimana keadaan wanita itu?" Johan kini tengah berada di mana wanita yang bernama Chelsea telah di sekap oleh orang orang nya.


" Dia masih belum sadar bos..." Ucap orang kepercayaan Johan yang dari beberapa hari ini menjaga nya.


" Kamu masih memberi nya obat bius?" Johan mengitari meja kecil yang di sana ada berbagai macam obat keras, serta suntikan.


" Masih bos."


" Bagus..." Senyum kejatahan nampaknya tak bisa di tutupi dari wajah laki laki tua tersebut.


" Jangan biarkan dia sadar sebelum masa duka ini selesai, aku akan menghukumnya setelah masa duka ini berakhir..." Johan tak ingin melakukan apapun sebelum putri nya kembali pulih, ini masih hari hari di mana cucu nya pergi meninggalkan mereka semua.



" Biarkan dia menjadi Ratu di Ranjang itu..." Perkataan nya tak bisa di bantah siapa pun.


" Kenapa kita langsung membunuh nya bos?"


" Aku ingin dia mati perlahan di sini, siksa dia meskipun dia belum sadar, hingga dia membuka mata hanya kematian pada organ organ nya yang dia rasakan. Aku ingin dia bunuh diri karena tak kuat menghadapi siksaan ini..." Johan segera meninggalkan tempat itu.


Kemarahan nya membuat dirinya sebenarnya ingin langsung membunuh orang yang sudah membuat putri nya sekarang menderita, tapi akal sehat nya menolak kelakuan jahat nya sekarang, hari ini masih dua hari di mana cucu nya meninggal, dia tak ingin merusak hari berkabung nya mereka menjadi hari paling menakutkan karena amukan nya.

__ADS_1


__ADS_2