
" Maria jaga sikap mu, jangan jadi gadis liar seperti itu, dia kakak ipar mu...." Adriano berteriak kencang kepada adiknya dia tak menyangka dengan sikap sang adik yang tiba tiba seperti ini.
" Kau membela istri mu?, tentu saja kau membela istri tersayang mu. Tapi kau tak membela kami keluarga mu yang dari kecil bersama dengan mu, sedangkan dia hanya beberapa tahun bersama mu..." Maria tak kalah meninggikan suaranya.
Tatapan mereka yang sama sama tajam dan itu tak membuat kedua saudara itu ada yang mengalah sedikit pun. Maria bahkan masih menatap sang kakak dengan mata yang begitu penuh dengan dendam yang membara.
" Aku akan lakukan apa yang kau minta..." Suara dari Anna memutuskan tatapan sengit dari kedua orang saudara tersebut.
" Maka lakukan aku akan menunggu nya..." Maria malah tertawa tipis, tawanya penuh dengan ejekan yang begitu merendahkan kakak iparnya.
Anna yang di tahan oleh sang suami kini tak di hiraukan nya dia sedikit pelan berlutut di depan Maria, wajah penyesalan tak dapat terelakan dari wajah garangnya, penyesalan serta rasa menahan malu kini bercampur menjadi satu.
" Harga diri mu tak ada lagi di depan ku, di saat kau berlutut seperti ini harusnya kau berlutut di depan ibu ku, tapi ibu ku yang malang dia pergi dahulu sebelum menyaksikan martabat ku ada di kaki ku..." Maria bahkan masih tak memiliki hati untuk memaafkan kakak nya yang sudah berlutut di depan nya.
" Kau sungguh keterlaluan Maria..." Sang kakak masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan adiknya itu. Adriano yang tidak tega kini akhirnya dia juga berlutut di depan adiknya.
__ADS_1
Maria yang awalnya terkejut kini dengan cepat menguasai dirinya, dia mencoba tenang dan berusaha melawan kedua kakak nya yang ada di depan matanya. Awalnya Maria tak tega dan tak sanggup jika harus menjadi kejam seperti ini, tapi ini harus dia lakukan untuk membalas pelan pelan kakak nya yang bersikap kasar dari dulu kepadanya.
Kedua kepala itu kini sedikit menunduk dan hatinya Maria kini bergejolak tak karuan, hati dan pikiran seakan menolak tapi tubuhnya tetap ingin berada di depan kedua kakak nya yang ingin menyentuh kedua kakinya sebagai tanda permintaan maafnya. Mata Maria kini berkaca kaca ketika melihat bayangan mendiang ibu nya yang tiba di depan matanya dengan air mata yang menetes, seakan ibunya tak mengizinkan sang putri melakukan hal serendah itu.
Berjanjilah jika suatu saat ibu pergi tidak bersama kalian lagi, maka jangan balas perbuatan kakak mu dan kakak ipar mu, jika kau membalasnya maka kamu sama saja dengan mereka yang kejam. Maria jadilah anak yang baik itu akan membuat keluarga mu dan anak anak mu nanti bangga memiliki istri dan ibu yang berhati baik seperti mu. Jangan tiru kelakuan kakak mu, mungkin kakak mu lupa dengan kita tapi kamu jangan lupa bahwa dia adalah kakak dan kakak ipar mu. Kata kata sang Ibu seakan teriyang- iyang yang membuat mata yang berkaca kaca kini meneteskan air matanya.
Maria kini dengan segera lari meninggalkan kedua kakaknya yang hampir menyentuh kedua kakinya, Maria kini masuk ke dalam kamarnya dengan tangisan yang tak bisa di bendung. Hatinya kini kembali rapuh ketika mengingat sang ibu, hatinya kembali goyah ketika semua pesan dari mendiang ibunya teriyang- iyang. Maria menanggis dia menutup pintu dengan keras membuat kedua kakak yang mendengar hanya saling bertatapan.
" Dia butuh waktu, biarkan dia butuh waktu. Aku yakin dia akan kembali menjadi gadis yang baik, dia mungkin sesaat terpengaruh oleh seseorang tapi aku yakin dia sebentar lagi akan sadar..." Adriano yakin sang adik akan sadar apa yang di lakukan barusan adalah kesalahan yang besar.
" Kau benar, nanti aku akan bicara lagi dan meminta maaf kepadanya. Biarkan dia tenang dulu..." Kini mereka berdua kembali berdiri dan memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan hati mereka yang dari tadi terasa panas karena amarah yang di pancing oleh Maria.
" Tidak mungkin, Heeney adalah nama mu bukan nama Yun..." Peter kini berdiri dia berjalan mondar mandir di sana, dia mencoba untuk tenang tapi nyatanya dia tak bisa tenang. Surat yang dia baca membuat dirinya gelisah.
" Apa yang harus aku lakukan, ini tidak mungkin. Keponakan nya itu bagaimana bisa melaporkan aku seperti ini, tidak tidak ini tak bisa aku biarkan..." Peter kini sudah tidak bisa untuk hanya diam tinggal di rumah. Dia kini akan melakukan sesuatu.
__ADS_1
" Tapi tunggu jika keponakan Yun melaporkan aku berarti dia memiliki semua bukti yang memberatkan aku, atau jangan jangan yang merampok rumah ini dan yang merampok kantor pengacara juga keponakan Yun. Semuanya jelas sekarang dia yang mengacau di sini, ini tidak mungkin kebetulan tapi ini sudah di rencanakan dengan matang. Atau jangan jangan yang membuat masalah dengan Anna juga mereka, tidak mungkin jika tidak ada rencana yang matang untuk menyerang ku seperti ini..." Peter kini berdialog sendiri dan tebakan semuanya adalah benar. Penyerangan ini adalah rencana yang matang meskipun rencana yang satunya memiliki kegagalan tapi rencana yang satunya kini berhasil membuat Peter kacau tak karuan.
Peter kini berjalan menuruni anak tangga tapi di saat dirinya berdiri di depan pintu dan membuka pintu, matanya di kejutkan oleh kedatangan para Police yang sudah berdiri di depan pintu rumah nya. Keringat dingin seakan membasahi dahinya yang sudah berkerut. Jantungnya kini sudah tidak berdetak normal, jantungnya berdetak tak karuan. Peter dengan cepat mengendalikan dirinya agar semuanya tak terlihat dirinya yang bersalah.
" Selamat siang, anda yang bernama Tuan Peter?" Seorang Police kini langsung menghadang dan langsung berbicara.
" Saya Peter, ada keperluan apa kalian datang kemari Sir?, sepertinya saya tidak memiliki masalah dengan hukum?" Suaranya bergetar tapi dia masih berusaha sekuat tenaga untuk tenang.
" Kami mendapatkan keluhan dari pengacara seorang untuk anda, jadi kami minta anda ikut kami untuk interogasi selanjutnya."
" Siapa yang melaporkan saya?"
" Sang pengacara yang bernama Albert dari Firma Law Firm dan yang melaporkan anda adalah keponakan dari mendiang Tuan Yun Heeney..." Salah satu Police itu kini memperjelas kan siapa yang melaporkan kepada mereka.
" Atas kasus apa mereka melaporkan kepada kalian?"
__ADS_1
" Tuan Peter kita akan menginterogasi anda selanjutnya di kantor saya, jika anda tidak bersalah maka anda tidak perlu takut apapun, karena kami tidaka akan menahan seseorang tanpa bukti bukti yang kuat."
Peter membuang nafasnya dengan kasar ketika dia harus terpaksa mengikuti para Police. Setelah dirinya berpamitan kepada Anna dia kini ikut dengan Police dengan wajah yang begitu lemas. Anna menangis histeris dia tak menyangka bahwa Ayahnya akan di bawah oleh para Police secara tiba tiba.