
Suara tembakan itu membuat semua orang yang di sana terkejut bukan main, laki laki yang menghalangi tubuh laki laki di depan nya kini limbung kebelakang, dia menahan rasa sakit pada punggung nya sebelah kanan.
" Jonathan.." Zac berteriak pelan ketika menyadari bahwa laki laki yang tertembak adalah sepupunya.
Pelaku utama kini di berondong tembakan dari sniper yang siap menembak dari tadi. Suara tembakan berulang kali akhirnya terjadi di sana, Zac yang melindungi tubuh sepupunya dari serangan tembakan. Pelaku utama yang menembak Jonathan kini lumpuh dengan peluruh yang bersarang banyak di tubuhnya.
Abhi yang keluar dari ruangan itu terkejut ketika melihat baku menembak di sana, Abhi juga melihat bahwa ada calon adik iparnya itu melindungi tubuh laki laki yang tergeletak di lantai.
Para sniper yang jauh dari sana juga menembaki seseorang yang tak tahu siapa yang menembaki orang orang yang berada di dalam cafe itu. Steve serta Kris juga saling menembaki seseorang yang juga berada di luar restoran itu. Baku tembak tak terelakan lagi di restoran privat itu.
Abhi yang akhirnya mengambil pistol yang tergeletak di sana akhirnya membantu kubu calon adik iparnya yang mendapatkan serangan dari seseorang.
" Jo buka mata mu..." Zac menggoncang tubuh sepupunya ketika memastikan bahwa di dalam restoran itu aman tak ada yang menyerangnya lagi.
" Aku baik, tak apa. Kau bantu mereka..." Jawabnya dengan menahan rasa sakit pada punggungnya.
" Bertahanlah sebentar, jangan pergi. Aku bisa di bunuh Jovanka jika terjadi apa apa..." Jonathan hanya mengangguk dan Zac dengan cepat berlari keluar membantu para orang orangnya yang sedang aduh sengit di sana.
Semua peluruh yang mereka pakai kini tinggal sedikit, hingga mau tak mau akhirnya mereka mengunakan tangan mereka untuk melawan musuh nya.
Dor ! Dor ! tembakan dari Zac mengenai sasaran musuh tepat di jantung nya, Zac selalu membawa tembak yang dia sembunyikan di balik jas nya. Baku tembak serta baku hantam tak terhindari lagi di sana, para kubu Zac melawan kubu musuh dengan memukul mundur mereka, tapi Zac dapat menangkap satu musuh untuk mereka nanti.
__ADS_1
Bugh!! Abhi menendang perut laki laki yang di depan nya, memukul wajah nya dengan kencang. Laki laki yang memakai topeng itu juga membalas apa yang di terima. Mereka berdua saling memukul tanpa ada hentinya.
Sedangkan Steve juga mengunakan tangan nya untuk memukul para musuh yang ada di depannya, dia dengan sigap menangkis setiap pukulan yang di layangkan musuhnya itu. Laki laki yang ingin menghajar Steve kewalahan ketika Steve selalu sigap menangkis tangan orang itu.
Kris juga akhirnya memukul musuhnya mengunakan ujung pistolnya, memukul laki laki itu yang tepat di kepalanya, menghajarnya habis habisan tanpa mengenal kata kata ampun.
Zac dengan tangan kosong juga menghajar laki laki yang tadi menyerangnya dari belakang, dia menghajar laki laki itu tanpa kata ampun, dia menghajar wajahnya, perutnya serta kaki nya. Laki laki itu bukan tandingan Zac, mereka tak ada apa apa nya ketika menghadapi para kelompok itu, meskipun tak memakai pistol tapi jangan di ragukan bahwa bogem tangan mereka bisa merontokkan nyawa mereka.
Krek !!! Suara itu begitu mengerikan ketika tangan Zac memelintir kepala musuh dengan satu tangan nya hingga membuat musuhnya itu langsung hilang nyawa nya, awalnya dia ingin menyisakan satu untuk di interogasi tapi nyata nya dia tak suka jika harus membawa lawan nya untuk di simpan, dia lebih suka melihat musuh nya mati di sana. Hanya lima belas menit pertempuran itu terjadi, Mereka semua mati tak ada yang memiliki nyawa banyak untuk mereka lawan lagi.
" Jonathan buka mata mu..." Zac sangat panik ketika mata sepupunya itu terpejam dari tadi, dia tangan nyawa sepupunya hilang.
" Jonathan..." Teriaknya lagi membuat mata sepupunya itu terbuka dengan sayu.
" Kau sudah menyelesaikan nya?" Katanya dengan terputus putus.
" Tuan Jonathan..." Steve dan Kris menghampiri kedua laki laki itu ketika kondisi di sana aman.
__ADS_1
" Aku tak apa jangan khawatir, siapa yang menyerang kita?" Jonathan di saat seperti ini dia masih saja bertanya siapa yang menyerang nya.
Zac tak tahan melihat sepupunya kesakitan seperti itu, dia mengendong tubuh sepupunya di punggung nya, Zac dengan cepat berdiri dan berlari menuju mobil nya. " Jo bertahan..." Katanya dengan berlari menuju mobil nya.
" Bawah mobil ku..." Abhi yang dari tadi diam ketika melihat semuanya itu akhirnya angkat bicara dan menawarkan mobilnya.
" Mobil kalian pecah kaca nya, bawah mobil ku saja..." Abhi menawarkan nya lagi, Zac dengan cepat berlari menuju mobil yang di tunjukan oleh calon kakak iparnya, sedangkan mereka semua juga mengikuti nya.
" Urus yang di sini, aku akan membawa mereka ke rumah sakit..." Abhi yang juga masuk ke dalam mobil nya, dia yang akan mengendari mobil itu.
" Jangan macam macam dengan bos ku, akan ku bunuh kau jika kau macam macam dengan mereka..." Abhi tak memperdulikan ancaman yang di layangkan Steve, dia tak peduli dia dengan cepat menginjak gas nya melajukan mobil nya dengan kencang. Sirine police yang ada di dalam mobil nya dia nyalakan agar semua orang yang ada di jalan minggir dengan sendiri nya.
" Jo bertahanlah ku mohon..." Zac tentu saja panik ketika sepupunya lagi lagi memejamkan mata nya.
" Aku mengantuk..." Katanya dengan pelan.
" Lu gak boleh tidur jo, buka mata mu, aku bisa di bunuh jovanka jika kau tak ada, bangun ku mohon..." Zac menepuk pelan pipi sepupunya itu.
" Jangan katakan apapun kepada istri ku Zac, dia akan panik jika mendengar aku tertembak..." Katanya dengan tetap memejamkan matanya.
" Jangan banyak bicara dulu oke, buka mata mu, tetaplah bersama ku Jonathan..." Zac menggenggam tangan sepupunya dengan erat.
__ADS_1
" Bertahanlah sebentar lagi kita tiba di rumah sakit..." Abhi merasakan terenyuh ketika melihat kedua laki laki itu saling menggenggam erat, seakan memberikan kekuatan.
Siapa dia?, apa mereka bersahabat hingga mereka seperti ini, kenapa hati ku merasakan haru melihat persahabatan mereka yang seperti ini. Lalu siapa yang menyerang mereka tadi, kenapa mereka seakan ingin membunuh mereka yang ada di sana, apa yang harus aku lakukan sekarang?, apa aku harus membawa kasus ini ke tim ku?, atau aku diam saja?. Batin nya benar benar bergejolak dengan sendiri nya, dia tak tahu kenapa rasa nya dia tak tega jika masalah ini sampai dia bawah ke tim kriminal nya.