Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim 3_ Memantau 3


__ADS_3

Sedangkan di kamar lain Monica kini menatap ponselnya yang melihatkan ada pesan masuk. Matanya berkaca kaca ketika melihat bawa lelaki yang membuat dirinya hancur kini tiba tiba menghubunginya dengan mengirimkan pesan singkat pada malam hari. Wanita itu mencoba mengabaikannya tapi hatinya ingin membukanya, tapi dia tak sanggup untuk membacanya, tapi pikirannya ingin membukanya. Tangannya bergetar ketika mencoba membuka pesan itu.


Monica akhirnya meneteskan air matanya itu ketika membaca pesan itu, dia tak sanggup untuk membaca semuanya, ini terlalu menyakitkan. Mencoba percaya tapi sang ketua dari mereka tak mengatakan apapun. Dia bimbang dia harus percaya dengan siapa.


Takdir kini seakan mempermainkan hatinya, disaat dia mencoba melupakan laki laki itu, kini dia muncul meskipun hanya melewati sebuah pesan singkat. Monica menghapus air mata nya, berjalan kearah jendelanya, menghirup udara angin malam yang begitu dingin menusuk ke kulitnya, desiran ombak yang keras begitu menenangkan hatinya, menemani dirinya yang sendiri di malam yang sunyi ini.


" Pertemuan kita adalah takdir dan perpisahan kita pun juga takdir. Jika Tuhan menyatukan kita maka Tuhan pasti menjodohkan kita, tapi jika Tuhan memisahkan kita maka Tuhan tahu itu yang terbaik untuk kita..." Ucapnya dengan menatap kearah langit dengan memeluk dirinya sendiri yang membuat tubuhnya terasa dingin.


Beberapa hari kemarin dirinya merasakan kebahagian karena cinta, tapi sekarang dia harus meratapi nasib cintanya yang kandas dengan keadaan yang begitu menyayat hatinya.


Sedangkan Andre, Steve dan Albert kini tetap waspada di sekeliling Kabin sederhana itu. Mata mereka kini nyalang seperti mata ular yang ingin mengintai mangsa. Mata ular akan lebih tajam di malam hari untuk mengetahui mangsanya.


Mereka bertiga tetap bekerja sama untuk saling menjaga diri dari bosnya dan mereka satu sama lain. Sebenarnya Andre tak fokus karena pikiran nya menuju ke adiknya. Suara langkah dari arah belakang Albert membuatnya menahan nafasnya, di tengah malam tak mungkin orang baik yang berkeliaran di sana. Suaranya semakin dekat dengan cepat Albert melempar botol yang dia pegang.


Bug!! Albert kini terpental kebelakang ketika tendangan di perutnya begitu sakit, dia juga merintih kesakitan menahan sakit itu.


" Kau tak apa?" Steve dan Andre kini membantu temannya untuk berdiri. Steve dan Andre tadi segera berlari ketika mendengar suara rintihan serta benda terpental. Sedangkan pelaku yang melakukannya hanya tersenyum tak bersalah.


" Apa yang kau lakukan he, kau pikir tendangan mu tak menyakitkan?" Albert kini dengan cepat protes kepada pelaku yang menendangnya dengan sengaja.

__ADS_1


" Kau dulu yang melempari ku dengan botol, jadi aku reflek menendang perut mu..." Jawabnya dengan santai dan tak bersalah.


" Suhu ini sudah malam kenapa kau di sini?, sebaiknya kau masuk dan istirahat..." Andre kini menatap ke arah wanita itu, dia tak tahu kenapa adiknya berada di sana.


" Aku tak bisa tidur, jadi tak masalah jika aku berada di sini bersama kalian. Lagian aku bosan di dalam kamar..." Jawabnya dengan semangat.


" Tidak sebaiknya kau masuk saja. Jika kau di sini pasti aku lagi yang akan terkena pukulan mu itu..." Albert dengan cepat menolak nya, dia sungguh tak ingin Suhu cantik itu ada di dekatnya, Suhu itu tahu bahwa kelemahan laki laki itu ada di kuda kuda nya dan dia kalah cepat dari pergerakan wanita itu.


" Paman Albert aku tak akan macam macam..." Monica mengedipkan matanya mencoba merayu laki laki tua itu agar di perbolehkan untuk berjaga jaga di area kabin itu.


" Masuk dan tidurlah, ini sudah malam lagian kau wanita tak pantas ada di sini..." Jawabnya lagi.


" Meskipun aku wanita kekuatan ku untuk menghajar lawan sama dengan kekuatan laki laki..." Nada sombongnya, Andre tersenyum lega karena melihat sikap adiknya sudah kembali seperti biasanya, meskipun wajahnya masih belum secerah biasanya tapi itu sudah awal yang bagus, semuanya masih butuh proses.


Sedangkan di kejauhan Abhi masih terjaga mengawasi rumah yang sudah gelap itu. Mereka yakin bawa penghuni rumah itu kini tengah terlelap, dan satu kamar yang tiba tiba lampunya menyala dengan terang. Abhi menatapnya dengan sungguh sungguh. Tak lama kemudian ada sosok laki laki yang keluar dari dalam kamar dia berdiri di balkon kamarnya. Meskipun Abhi dari jauh melihatnya tapi Abhi yakin siapa orang yang sedang berdiri di sana.


Abhi begitu geram melihat orang itu yang bisa bersantai dengan semua keadaan yang kacau seperti ini. Karena ulahnya Abhi harus menanggung ini semua, karena ulahnya Abhi juga harus berjauhan dari kekasihnya serta adiknya.


" Dia bukan laki laki yang kami ikuti tadi?" Suara dari orang yang juga menatapnya membuat Abhi melihat kearahnya dengan segera.

__ADS_1


" Bukan dia?, kau yakin bukan dia?" Abhi di buat terkejut dengan ucapan laki laki berkulit gelap itu. Laki laki itu mengangguk karena dia yakin bawa tadi mereka tak mengikuti laki laki yang ada di balkon kamarnya itu.


" Jika bukan dia, lalu siapa?" Kini menjadi teka teki di pikiran Abhi saat ini. Teka teka ini harus segera di pecahkan dalam waktu satu minggu. Dia harus mengatakan ini kepada Jonathan.


" Kau mengambil fotonya tadi?"


" Tidak, aku pikir dia orang nya jadi aku tak perlu mengambil fotonya. Tapi dia kembali lagi kerumahnya. Atau mungkin dia anak dari laki laki itu..." Abhi berpikir mungkin saja yang di maksud mereka benar anaknya.


" Kita harus pantau semuanya dengan teliti. Jangan ada kesalahan atau tertinggal sedikit saja, hal sekecil apapun bisa menjadi bukti bawa mereka dalang dari ini semua..." Mereka mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh anggotanya itu.


Sedangkan orang yang di atas balkon itu merasa sedih menatap langit dengan melawan udara dingin pada malam hari ini yang begitu menusuk kulit.


" Katakan ada apa?" Laki laki itu kini menerima telfon dari seseorang.


" Saya tak menemukan Abhi, seperti nya dia bersembunyi dengan apik."


" Aku gak mau tahu, kalian harus menemukan Abhi dengan segera dan bawa dia di hadapan ku. Dia adalah senjata untuk memancing para mafia itu keluar dari sangkarnya dan mau menyerahkan diri mereka..." Ucapnya dengan sinis.


" Kami sudah mencarinya kemana pun tapi tetap tak menemukan nya tuan, aku rasa Abhi ikut terpanggang di dalam kebakaran markas yang aku bakar bos..." Jawabnya dengan hati hati.

__ADS_1


" Tidak mungkin Abhi meninggal, kalian harus cari dia sampai ketemu dan seret dia di hadapan ku..." Nada penuh penekanan yang dia katakan membuat para bandit itu mengiyakan apa yang di katakan bosnya itu.


Abhi tak bisa mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh laki laki yang sedang berdiri di atas balkon kamarnya itu.


__ADS_2