Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Kekuasan 1


__ADS_3

Pagi ini kedua insan yang sedang tertidur dengan rasa tenang nya tak menyadari bawa kedua ponsel miliknya telah bergetar sedari tadi. Steve dan Jennifer bahkan hanya saling mengeliat dengan mencari kehangatan di dalam dekapan pelukan. Sentuhan kulit itu membuat kedua orang itu merasa sangat nyaman untuk saling menempelkan satu sama lain. Getaran ponsel mereka seakan berteriak membangunkan nya tapi sayangnya sang pemilik masih terlelap dalam tidur indahnya serta dekapan kehangatan.


Sedangkan Zac yang menghubungi asisten nya kini merasa kesal karena ini pertama kali nya sang asisten mengabaikan panggilan dari nya, Albert yang juga berada di depan bos nya itu juga tengah menghubungi Jenni untuk menanyakan tentang perusahan Alex yang kemarin sempat di teliti. Tapi sayangnya panggilan itu juga sama sama tak ada jawaban dari mereka.


" Apa terjadi sesuatu dengan nona Jennifer bos?, dari tadi aku menghubunginya tak ada jawaban sama sekali dari nya..." Kini Albert membuka suaranya. Zac yang dari tadi kesal juga melihat kearah Albert yang juga menatap ponsel di tangan nya.


" Steve juga tak bisa aku hubungi, padahal ini sudah siang dan Steve juga belum datang. Seperti nya aku terlalu memanjakan nya..." Zac kini merasa begitu kesal karena dari tadi sang asisten sangat sulit di hubungi. Meskipun ini untuk pertama kalinya tapi Zac merasa kesal karena asisten nya itu mengabaikan panggilan nya.


" Mungkin Steve lagi meregangkan otot otot nya bos..." Albert hanya menahan tawa nya yang melihat bos nya merasa kesal pada lali laki itu. " Bos aku mencurigai sesuatu tentang nona Jennifer?" Sambungnya dengan serius.


Zac kini menatap kearah Albert dengan meletakkan ponsel nya, menatap Albert dengan serius.


" Kau juga mencurigai nya?" Albert mengangguk pelan. " Mungkin Steve tahu sesuatu di sini, nanti aku akan bertanya dengan nya..." Sambungnya lagi.


Sedangkan di dalam kamar apartemen itu kedua insan yang merasa lelah kini menggeliatkan tubuhnya ketika sinar matahari menerobos masuk ke dalam mengenai wajah wanita itu. Jenni membuka matanya menatap laki laki yang terlelap di sampingnya dengan mendekap erat tubuhnya itu. Jenni kini menepuk pipinya sendiri dan itu terasa sangat nyata, dia takut bahwa apa yang terjadi semalam adalah mimpi tapi apa yang terjadi semalam adalah kenyataan yang membuat wajah wanita itu bersemu merah karena malu karena setiap momen semalam masih terlihat jelas di matanya, bahkan desaha* itu masih dapat dia dengar.


Jantung Jenni kini berdetak tak karuan ketika mengamati wajah laki laki itu yang masih terlelap dalam tidurnya, Jenni tersenyum senang pada akhirnya kebahagian itu ada di depan nya. Semua yang terjadi semalam adalah nyata, laki laki yang dia cintai telah mengambil sesuatu yang berharga darinya. Ungkapan cinta yang semalam membuat dirinya begitu terbuai dengan kebahagian. Status mereka kini adalah sepasang kekasih meskipun hubungan itu masih harus mereka sembunyikan.

__ADS_1


Jenni kini mencoba bangun dari tidurnya dia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat serta caira* yang ada dibawa sana.


" Kau mau kemana?" Suara serak dari Steve membuat wanita itu melihat kebelakang.


" Kau sudah bangun?" Steve hanya bergumam karena rasa kantuk dan rasa lelah seakan tak ingin pergi dari tubuhnya. Matanya terasa sangat berat untuk di buka.


" Kau ingin kemana Jennifer, kenapa tak kau jawab?" Steve bahkan tak membuka matanya dia masih memejamkan matanya karena matanya sungguh tak bisa di buka.


" Aku ingin mandi, semuanya terasa sangat lengket. Kau juga harus segera bangun, apa kita tak akan ke perusahan?" Perkataan Jennifer membuat Steve langsung membuka matanya dengan segera.


Steve kini langsung membenarkan posisi nya dengan duduk dengan mata yang terbuka lebar. Jenni terkejut melihat laki laki itu dengan segera bangun ketika mendengar tentang perusahan. Steve dengan cepat mengambil ponsel nya dan matanya melotot sempurna ketika melihat jam yang ada di ponsel nya.


" Jam 10 astaga..." Jennifer yang ingin segera ke kamar mandi tak bisa karena terasa sakit di keintiman nya. Jennifer menahan rasa perih itu dengan sedikit meringis.


Steve sadar apa yang terjadi pada wanita nya itu. Steve kini mulai berdiri dan mengendong tubuh wanita itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan seseorang kini tengah menahan amarahnya, wajahnya memerah karena dirinya tak bisa mengendalikan amarahnya yang tak bisa dia tahan lagi. Rasa malu yang dia dapatkan hari ini sungguh membawa dendam kepada orang orang yang membuatnya malu. Orang itu kini melangkahkan kaki nya lebar, menuju kesebuah mobilnya yang akan membawa kemana dirinya ingin melampiaskan amarahnya itu. Tak butuh lama orang itu tiba di sebuah perusahan yang dirinya sendiri tak tahu siapa pimpinan dari perusahan itu, dia juga tak tahu siapa pimpinan yang berani mengambil penanam saham yang ingin dia dapatkan. Tapi pimpinan perusahan ini sudah dahulu mengambilnya hingga dirinya tak bisa mendapatkan nya lagi.

__ADS_1


" Saya ingin bertemu dengan pimpinan perusahan ini..." Orang itu langsung bertanya di depan lobi dengan nada tinggi nya.


" Apa anda sudah membuat janji temu?" Wanita itu tetap bertanya dengan sopan meskipun sebenarnya wanita itu sedikit takut ketika mendengar nada tinggi dari laki laki di depan nya.


" Saya tidak butuh janji bertemu dengan nya, katakan lantai berapa pimpinan mu berada?"


" Maaf tuan jika tidak membuat janji pimpinan saya tidak bisa anda temui, pimpinan saya juga masih ada meeting dengan beberapa orang."


Bruak!! gebrakan pada meja besar itu membuat semua orang yang berlalu lalang di sana langsung menatap kearah nya. Kini orang itu menjadi pusat perhatian dari pada staf yang ada di depan lobi.


" Saya tidak butuh perjanjian untuk bertemu dengan nya. Kau hubungi bos mu atau aku akan mencari sendiri ruangannya dengan mengacak acak perusahan baru ini..." Ancam nya dengan sinis.


Resepsionis itu dengan segera menghubungi sekretaris bos nya dan mengatakan ada seorang yang marah marah karena ingin bertemu dengan bos nya itu. Sedangkan di ruangan besar itu pimpinan perusahan itu kini tersenyum penuh kemenangan ketika orang itu berada di bawa dengan marah marah.


" Tak ku sangka ini sungguh sangat cepat untuk memancing nya menemui ku..." Katanya dengan tersenyum sinis kearah sekretaris nya yang mengatakan bahwa orang yang mereka tunggu ada di bawa lantai ini.


" Anda benar bos orang yang kita tunggu sudah ada di depan, dan dia sedari tadi sudah berteriak teriak ingin menemui anda..." Seorang asisten kini berucap dengan tenang nya.

__ADS_1


" Bawa dia ke sini. Aku ingin lihat wajah nya yang terkejut melihat aku..." Senyum kemenangan dari laki laki itu tak bisa di tutupi. Sang asisten itu kini segera mengatakan bawa bos nya menunggu di ruangan nya untuk menemui orang tersebut.


__ADS_2