
Ketika memilih satu nama untuk berada di hati maka tak akan bisa untuk mundur lagi. Meskipun seluruh makhluk di dunia ini menentang, maka aku akan tetap perjuangkan, karena tak adil jika masa lalu nya aku meninggalkan nya.
Alexander ❤️
Pov Alex
Aku melihat wanita ku yang masih tertidur di bawah selimut tebalnya, aku meraih ponsel yang sedari tadi berteriak bergetar, aku melihat nya dari nomer asing yang tak aku kenal tertera di sana.
" Halo.." Aku menggeser tombol hijau untuk mengetahui siapa yang dengan sengaja menghubungiku sepagi ini.
" Alex kau tak bisa seperti ini, siapa wanita yang berada di medsos mu.." Suara wanita yang sidah aku lupakan dan sekarang setelah bertahun tahun dia menghubungiku dengan marah marah.
" Chelsea.." Aku hanya bisa memanggil nya dengan suara pelan karena aku berharap bukan dia yang menghubungiku.
" Alex katakan dia siapa?" Teriaknya menyandarkan ku bahwa memang dia yang menghubungi ku. Aku melihat ke arah wanita ku yang masih tertidur di sebelah ku. Aku turun dari ranjang ku dan berjalan menuju balkon kamar. " Alex kau dengar aku bukan."
" Aku dengar bahkan masih mendengar ocehan mu yang tak penting."
" Alex aku chelsea, aku merindukan mu sayang, siapa wanita itu, apa dia kekasih mu.." Suara nya pelan tapi aku merasa muak dengan wanita ini.
" Kenapa kau menghubungi ku?"
" Alex katakan apa dia kekasih mu?" Wanita ini kenapa tak bisa melihat, kenapa harus bersusah payah bertanya dan menghubungi ku sepagi ini.
" Bukan.." Aku mendengar dia bernafas lega dan aku yakin dia tersenyum di sana. " Dia calon istri ku.." Aku meneruskan apa yang aku potong tadi.
__ADS_1
" Apa maksud mu dengan calon istri Alex?" Aku yakin dia marah tapi aku sungguh tak peduli.
" Aku akan segera menikah dengan nya."
" Tidak Alex, aku segera pulang dan kamu tidak bisa menikah dengan wanita lain, selain aku.." Aku tertawa mendengar ocehan dia, omong kosong yang di katakan wanita ini sungguh konyol.
" Aku sudah menghapus nama mu, kenangan pahit kita aku sudah melupakan nya.." Getaran di hati ku ketika mendengar suara nya sudah tak ada lagi.
" Alex kau tak bisa seperti ini, apa kau lupa bahwa aku pernah hamil anak kita.." Konyol sekali dan lagi lagi ucapan nya membuat aku tertawa.
" Aku tak mungkin melupakan nya Chelsea, aku masih ingat betul, bahkan aku masih ingat bahwa kami juga membunuh anak ku.." Aku menekan kata kata ku.
" Alex kau tahu alasan ku."
" Alex aku minta maaf, dan aku akan segera pulang, aku tak peduli kau sekarang bersama siapa, tapi di saat aku di sana kau tak akan bisa lari dari ku Alex. Aku akan menghubungi mu lagi jika aku sudah tiba di sana.." Panggilan itu terputus begitu saja, amarah ku seakan tak bisa aku kendalikan.
" Argh.. bug.." Aku memukul tembok yang berada di samping ku, melampiaskan kemarahan ku pada tembok, tapi seketika aku sadar bahwa ada wanita cantik yang tertidur di sana.
***
" Tidak ada aturan jika aku tak bisa bersama Clarissa.." Aku membentak sang rektor ketika dia menghubungi ku siang hari.
" Tapi tak bisa tuan muda, apa kata mahasiswa yang lain jika semua tahu bahwa anda bersama Clarissa sekarang.." Sang rektor ini membuat kepala ku bertambah pusing, aku yakin semua rektor juga melihat apa yang aku unggah di media sosial ku sekarang.
" Jangan lupakan bahwa aku memiliki saham terbesar di sana dan aku juga menjadi donatur tertinggi. Aku memiliki kekuasan penuh untuk mengantikan rektor yang lama dengan rektor yang baru.." Aku terpaksa memakai kekuasan ki hari ini, agar semua rektor tak ikut campur dalam urusan pribadi ku.
__ADS_1
" Maafkan saya tuan muda.." Dan panggilan itu harus aku matikan ketika pintu kamar mandi terbuka oleh seseorang yang baru selesai dengan ritual nya.
" Honey aku sudah selesai.." Aku meletakkan ponselku, merentangkan tangan ku, agar wanita di depan ku masuk kedalam pelukan nya.
" Apa kamu sudah selesai marah marah nya..." Aku membeku ketika dia bertanya di dalam pelukan ku. Apa dia mendengar tentang obrolan ku tadi, yang mana. Astaga ini kacau jika dia mendengar bahwa mantan ku menghubungi ku.
" Kami mendengar nya?" Panik tentu saja, aku hanya bisa menelan ludah kasar ku ketika wanita yang duduk di pangkuan ku mengangguk pelan.
" Apa sang rektor sekarang juga melarang kamu berhubungan dengan ku honey.." Aku bernafas lega ketika dia menanyakan rektor, bukan telfon yang tadi pagi.
" Jangan pikirkan honey, tak ada yang bisa melarang kita berhubungan.." Aku memainkan rambut panjang nya yang masih setengah basah, aroma sabun serta shampo masih melekat di tubuh nya.
" Jika keluarga mu juga melarang kita, aku tak akan maju Alex.."Aku menangkap ke khawatiran dari wajah ayu nya, mata nya berkaca kaca kali ini.
" Percayalah pada ku, keluarga ku adalah orang baik, mereka pasti akan mengikuti putra nya, asal aku bahagia bersama mu."
" Alex aku ingin dirimu, aku ingin semua orang tak bisa berfikir dua kali untuk memisahkan kita.." Perkataan nya membuat ku berdebar. " Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul yang jelas saat ini aku mulai mencintai mu, kehilangan mu adalah hal yang tak ingin aku bayangkan.." Keseriusan di wajah nya membuat aku yakin bahwa dia bersungguh sungguh dengan perkataan nya.
" Aku ingin menikmati setiap hari nya bersama mu, aku ingin kita bahagia saat ini, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan, yang jelas saat ini aku ingin menikmati masa masa bahagia bersama mu.." Aku hanya bisa memeluk nya dengan erat.
" Sekarang dan selama nya kita akan selalu melewati momen berdua, aku berjanji kita akan bersama sama dalam hal apapun."
Saat ini aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai, aku harus berfikir keras untuk mengikat Clarissa agar dia tak bisa lari dariku atupun ketika seluruh keluarga maupun dunia menengang hubungan kami. Menikah saja tak cukup membuat dia untuk bertahan ketika hubungan kami di tentang. Mungkin jika kami memiliki anak, kami tak akan bisa di pisahkan. Rencana ku hari ini harus membuat Clarissa melupakan pil pencegah kehamilan, aku juga harus berusaha membuat wanita yang tengah aku peluk hamil anak kami.
__ADS_1