
Bugh!!
Sarah terjatuh ketika seorang wanita yang tadi ketakutan kini memberanikan diri memukul tengkuk nya menggunakan benda yang ada di sekitar sana. Sarah pingsan membuat senjata yang ada di tangan nya kini juga jatuh ke lantai.
" Apa yang kau lakukan?" Bryan yang berteriak ketika melihat wanita itu memukul Sarah dan membuatnya pingsan di sana.
Antoni dengan cepat melotot ke arah wanita itu agar wanita itu tak menjawab apapun dan segera mundur dari sana. Antoni segera mengambil senjata nya yang tadi di gunakan untuk mengancam semua orang yang ada di sana.
Bryan yang berlari mendekati Sarah yang jatuh pingsan membalikan, menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah pucat wanita itu.
Deg!! jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat ada rasa sedih duka yang masih menyelimuti wajahnya. Dapat terlihat jelas meskipun kedua mata itu tertutup dengan tak sadarkan diri.
Bryan mengangkat tubuh kecil sarah dan segera berdiri dari jongkok nya menatap wanita yang melumpuhkan Sarah dengan memukulnya tadi.
" Sir..." Antoni yang ingin mencegahnya malah mendapatkan tatapan sinis dari bosnya.
" Maafkan saya Sir..." Sambungnya dan tak berkutik ketika Bryan hanya menatapnya dengan penuh kemarahan.
Antoni tau tatapan apa yang di layangkan bosnya itu, tapi Antoni juga tak tau kenapa bosnya sangat terlihat panik bukan main. Antoni hanya bisa menatap bosnya yang membawa pergi kakak dari mendiang Amel yang pingsan di sana.
" Sudahlah jangan jadikan masalah ini masalah besar, kalian tunggu tamu saja di sini..." Antoni yang bersuara keras membuat semua wanita yang ada di sana kini mengangguk mengerti.
Para wanita malam pasti bukan hal yang mengejutkan jika masalah perkelahian ataupun masalah todong menodong hal ini. Mereka sering kali melihatnya bahkan setiap hari perkelahian atara tamu sudah hal yang biasa menjadi tontonan bagi para wanita malam.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain Cris kini sudah mendapatkan kamar pribadi di dalam markas tersebut. Dia membaringkan tubuhnya ke atas kasur menatap langit kamar tersebut dengan pemikiran yang tak bisa dikatakan.
Rasa sedih karena kehilangan masih saja menyelimuti hatinya, dia masih saja berduka atas kepergian wanita nya. Semua rencana yang telah di susun dengan bahagia kini hancur seketika dengan kepergian wanita nya.
Cris menghela nafasnya dengan berat dia memejamkan matanya seakan terlintas bahwa ada senyuman Amel yang ada di matanya dengan penuh kehangatan. Cris meneteskan air matanya ketika bayangan demi bayangan masih jelas di matanya.
Meskipun mata itu tertutup dapat di lihat jelas bagaimana masa lalu di mana mereka menghabiskan waktu bersama dapat terlihat jelas. Air mata itu mengambarkan dengan jelas bahwa dia sangat terpukul kehilangan sosok wanita yang sangat di cintai olehnya.
" Rencana hanyalah akan menjadi rencana, dan Tuhan yang menentukan semua rencana itu. Berhasil atau tidak hanya Tuhan yang dapat memutuskan..." Senyumnya tipis dia kini sadar bahwa ini semua adalah Takdir Tuhan yang sudah menjadi jalan hidup mereka.
" Takdir yang mempertemukan sepasang kekasih dengan rasa bahagia, tapi Takdir juga yang memisahkan sepasang kekasih dengan rasa duka..." Sambungnya dengan menyeka air matanya.
Cris memeluk tubuhnya sendiri membayangkan bahwa Amel lah yang saat ini dia peluk dengan hangat serta rasa cinta. Cris masih dapat merasakan bahwa Amel masih berada di dekatnya menatapnya, mendekapnya dengan penuh cinta.
Duka dan cinta kini menjadi satu di hati laki laki tampan yang baru saja kehilangan kekasihnya. Perpisahan yang menyakitkan kini harus di alami olehnya. Berusaha menangis sekuat tenaga, berteriak sekencang apapun percuma karena pada akhirnya kekasihnya tak akan kembali.
Pasrah dan menerima Takdir adalah jalan satu satu nya yang harus di lewati oleh dirinya. Berusaha berjalan kembali meskipun tak sepenuhnya bisa berjalan tanpa orang yang di cintainya.
Di kamar lain Bryan masih duduk tenang di sofa menatap wanita yang terbaring belum sadarkan diri. Dia masih setia menunggu wanita yang dia sendiri tak tau siapa nama dari wanita itu. Berulang kali Bryan berdiri dan melihat wanita itu tapi wanita itu tak kunjung bangun dari pingsan nya.
" Apa dia sangat terkejut dengan apa yang aku katakan, hingga dia tak ingin bangun dari pingsan nya? atau memang pukulan tadi sangat fatal bagi lehernya?" Dialog nya sendiri ketika menatap wanita itu tak sadar.
Bryan kini kembali duduk di sofa, menatap wanita itu dari kejauhan dan mengambil ponselnya. Meskipun dia tak tau apa yang harus di lakukan dengan ponsel tersebut setidaknya dia menghilangkan rasa bosan menunggu orang yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
Tak berselang lama ponsel itu bergetar dan memperlihatkan nama sang sepupu yang menghubunginya. Bryan membuang nafasnya dengan pelan lalu menggeser panggilan itu dengan segera.
" Apa semuanya baik baik saja Bryan?" Suara William nampak sangat khawatir.
" Semuanya baik baik saja, apa ada masalah?"
" Aku di ruangan ku dan aku baru tau jika ada wanita ingin menyerang mu. Siapa dia? apa dia tak mengamuk lagi?"
" Dasar Antoni tak bisa jaga rahasia..." Decak nya pelan. " Semuanya baik Will tak ada yang perlu kamu khawatirkan, dia masih pingsan dan aku masih menunggu nya."
" Kau gila menunggu orang yang sudah mengancam mu! apa kau ingin menambah masalah bagi kita Bry? masalah Amel saja belum selesai jangan tambahi masalah yang tidak jelas..." Terdengar suara William yang tak menyangka bahwa sepupunya malah menunggu wanita yang telah mengancamnya.
" Tenanglah Will, aku hanya ingin menjelaskan semuanya kepada wanita ini. Aku tak ingin di tuduh kematian Amel ada sangkut nya dengan kita, ya meskipun pada akhirnya dia harus tau bahwa Amel memang wanita kita."
" Kau mengakui dia orang kita yang bekerja di sini? kau gila? dia bisa terkejut Bryan, astaga..." William tak menyangka sepupunya telah membongkar apa yang di minta Amel semasa hidupnya.
" Sudahlah jangan khawatir berlebihan, aku melakukan ini untuk membela kita bukan untuk apa apa, lagian memang benar kita tak tau masalah tentang pembunuhan ini dan dia menuduh kita melakukan hal tersebut."
" Tapi-"
" Sudahlah Will jangan khawatir nanti aku akan jelaskan dengan baik baik dengan dia yang jelas dia harus tau bahwa kita tak melakukan tentang pembunuhan Amel, aku juga akan mengatakan untuk menemukan pelaku nya. Aku yakin dia akan mengerti tentang semuanya..." Bryan menyakinkan sepupunya bahwa semuanya akan baik baik saja.
Tanpa William menjawabnya kini dengan cepat Bryan memutuskan panggilan tersebut yang membuat William hanya geleng geleng kepala.
" Dia pikir akan mudah menjelaskan dengan orang yang sedang berduka..." Katanya William dengan menyandarkan punggung nya di kursi nya memijat pelipisnya yang teras pusing karena masalah ini.
__ADS_1