Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Kemarahan Mereka 18


__ADS_3

Suara detak jantung nya kini tak normal, semua dokter jaga kini berlari masuk ke dalam ruangan yang ada di depan Maria. Semua dokter kini berusaha untuk menyelamatkan nyawa dari wanita yang terbaring tak berdaya di sana.


Sedangkan Andre serta Maria kini hanya menatap datar ke arah Anna yang kini di pacu jantungnya agar jantung itu kembali berdetak. Dokter berusaha menolong nya menyelamatkan nyawa nya.


Tapi,


" Maafkan kami Nona seperti nya kakak anda tak bisa kami selamatkan..." Seorang dokter kini menghampiri Maria dan Andre yang berdiri di depan ruangan kamar tersebut.


" Selamatkan kakak saya dok, selamatkan dia dokter..." Maria kini menangis dia memeluk Andre dengan tangisan yang histeris.


" Maafkan kami Nona, kami sudah berusaha semampu kita, tapi Tuhan berkata lain, kami sungguh minta maaf..." Sepertinya dokter itu merasakan rasa penyesalan atas dirinya yang tak bisa menolong pasien nya.


" Kakak ipar ku yang malang, kenapa kamu tak mau berjuang sedikit pun, hiks hiks..." Maria kini menangis histeris, kata kata nya seakan penuh dengan rasa iba yang mendalam untuk kakak iparnya yang sudah tak ada lagi.


" Dokter bukan kah tadi dia baik baik saja, kenapa tiba tiba kritis dan sudah tak bisa di tolong?"


" Tadi Nyonya Anna memang sudah kembali normal Tuan tapi sepertinya benturan di kepalanya membuat dia itu menyerah, dan kami hanya sebatas dokter Tuan, semua kembali kepada kuasa Tuhan."


" Tapi dia kakak ku yang malang dokter, dia tak harusnya cepat meninggal hiks hiks."


" Tenangkan dirimu Sayang, itu yang baik untuk kakak mu, jika pun dia hidup dia akan tersiksa karena luka bentur di kepalanya."


" Kalau begitu saya permisi Nona dan Tuan..." Andre mengangguk pelan dengan dirinya yang masih mendekap erat tubuh kekasihnya yang dari tadi menangis.


Dokter itu pun kini menghilang dari sana membuat Maria melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya yang tadi menetes.

__ADS_1


" Kakak ku yang malang seperti nya dia memang harus meninggal..." Ujarnya dengan sinis.


" Astaga jadi tadi kau hanya sandiwara?" Andre kini tak menyangka bawa kekasihnya itu melakukan sandiwara di mana kakak iparnya pergi.


" Apa kamu pikir aku akan menangis wanita seperti dia?, aku rasa Ibu ku pasti akan senang di temani menantu kesayangan nya..." Senyum tipisnya kini membuat Andre menatap penuh kecurigaan. " Kau tak melakukan apapun kan Sayang?"


Maria hanya mengangkat kedua bahu nya acuh dengan tersenyum penuh kelicikan di bibirnya. Andre kini tau apa yang sedang di dalam senyuman itu. Andre kini menggeleng pelan.


" Pemikiran mu tak bisa di tebak sayang, dasar gadis licik..." Ujarnya dengan yakin apa yang di pikirkan oleg laki laki itu pasti benar.


Flashback On


" Dokter gimana keadaan kakak ipar saya?" Maria yang tak bisa tidur kini melihat sang dokter yang keluar dari ruangan kakak iparnya.


" Apa saya bisa masuk Dok?"


" Tentu, tapi hanya sebentar Nona..." Maria kini mengangguk pelan.


Sang dokter kini mengantar Maria untuk menemui Anna yang terbaring lemas tak berdaya. Senyum mengejek kini terukir di ujung bibirnya, dia tak menyangka wanita yang sombong menilai semua dengan uang kini terbaring tak berdaya dengan banyak alat untuk membantunya bertahan hidup.


" Hai kakak ipar!, bagaimana kabar mu saat ini?, apa ada yang sakit?" Maria kini duduk di kursi sebelah ranjang. " Kau tau aku adalah orang pertama yang sangat senang melihat mu seperti ini..." Tawanya begitu kecil.


" Tapi sayangnya aku baik kepada mu, jika aku tak baik maka aku tak akan membawa mu di sini meskipun bos ku marah sekarang kepada ku..." Bisiknya.


Maria kini melihat Anna yang sedikit mengeluarkan air mata dari ujung matanya. Maria kini menempelkan jarinya mengambil air mata yang sedikit menetes itu.

__ADS_1


" Kau menangis?, kau mendengar apa yang aku katakan?, sekarang kau tau bukan gimana rasanya tak memiliki sosok keluarga?, kau merasakan gimana rasanya di dunia ini hanya seorang diri?, uang mu tak ada gunanya sekarang jika kau seperti ini?" Ujarnya dengan pelan.


" Kau tau mendiang ibu selalu berharap kau datang kepadanya dan meminta maaf atas semua perlakuan mu dan ibu juga mau kau menemani mengobrol tapi sepertinya ibu tak seperti itu dengan mu..." Air matanya kini menetes dia selalu merasakan kesedihan ketika mengatakan tentang mendiang ibunya.


Maria menghapus air matanya dia menatap Anna dengan tatapan penuh dengan kebencian yang begitu mendalam. " Kau yang membuat kakak ku pergi dari kami, bahkan kau juga tega memisahkan anak laki laki dengan sosok ibunya. Kau tau harapan kami kepada kakak sangatlah tinggi, tapi kau menghancurkan semuanya, kau perusak keluarga kami..." Tatapan nya begitu tajam seakan ada dendam besar di mata gadis kecil.


" Kau lihat bagaimana gadis kecil seperti ku bisa menyimpan luka dan dendam besar untuk mu, ini semua karena oleh mu karena perbuatan mu yang tak seperti manusi kepada kami yang membuat aku seperti monster sekarang..." Maria menatapnya dengan penuh rasa benci.


" Kau menangis lagi?, apa kau merasakan kesakitan kepada kepala mu?" Tanyanya lagi dengan menghapus air mata Anna.


" Aku akan baik hati untuk mu, aku akan membuat mu tak merasakan sakit lagi, tapi kau sampaikan kepada ibu bahwa kau ingin menemaninya di sana..." Maria mengeluarkan satu suntikan yang tadi di berikan oleh orang Zac yang datang ke sana.


" Tadi aku tak ingin melakukannya tapi sepertinya aku harus melakukannya. Aku adalah adik ipar yang baik hati jadi aku harus membantu mu untuk melepaskan beban dan rasa sakit kepada kepala mu. Kau harus berterima kasih kepada ku..." Maria kini dengan segera menyuntikan obat yang ada di jarum suntik nya.


Maria sebenarnya tak tau caira* apa yang ada di dalam suntikan itu tapi dia tau bahwa ini akan mengurangi rasa sakit.


" Selamat tinggal kakak ipar semoga kau bisa damai dengan ibu di sana. Aku yakin ibu pasti akan sangat senang mendapatkan menantinya ada di sana..." Maria mencium pipi kakak iparnya setelah berbisik pelan.


Senyum kelicikan itu kembali terukir di ujung bibirnya, kini dia berdiri dan sedikit menghapus air matanya, memasukan jarum itu kembali kepada tas kecil yang ada di pundaknya.


Maria kini meninggalkan Anna dengan rasa penyesalan tapi rasa penyesalan dan rasa iba nya lebih besar dengan rasa dendam nya kepada wanita sihir seperti Anna.


Flashback Of


__ADS_1


__ADS_2