
Mereka saling mengatur nafas mereka yang begitu tak beraturan, Jennifer ambruk dengan mata yang terpejam, dia menikmati sentuhan yang begitu membawa nya melambung ke tinggi. Desiran darah yang dari tadi mengalir cepat kini seakan normal, bayangan yang dari tadi ingin ia rasakan kini seakan menjadi kenyataan. Dengan mengatur nafasnya dia tetap memejamkan matanya. Menikmati sisa rasa yang begitu nikmat dia rasakan. Jennifer yang sudah lama tak melakukan hal itu kini begitu cepat merasakan kehangatan di bawah sana.
Drt!! Drt!! Drt!! getaran ponsel nya membuat dirinya terloncat bangun dari tidurnya, dia menatap sekeliling dengan mata yang melotot, dia mencari keberadaan laki laki itu. Tapi nyatanya laki laki itu tak ada. Dia mengerutkan keningnya dia menatap bajunya yang masih utuh di badannya dan selimut putih itu masih berada di pinggang nya.
" Sia*, tadi hanya mimpi..." Umpatnya dengan menahan rasa malu, wajahnya memerah ketika sadar bahwa tadi dia memimpikan bercinta dengan asisten bos nya itu.
" Bodoh.. bodoh.. Bangun Jenni lu harus bangun, siala*.. argh...." Teriaknya dengan kesal dia malu jika ada seseorang yang mengetahui bahwa dirinya bermimpi bercinta dengan laki laki itu. Jennifer mengatur nafasnya yang begitu memburu karena mimpi tadi seakan nyata.
Jennifer merasakan kehangatan di bawah sana, dia menyentuhnya dan caira* itu ada di bawah sana dengan nyata. Jennifer kini menahan rasa malunya ketika mimpinya menjadi kehangatan di bagian bawahnya itu.
Drt!! drt!! drt!!! ponselnya kini bergetar membuat dia segera melihat ke arah ponsel tetapi tangan nya tak ingin segera menjawabnya karena nama yang tertera di sana. Tapi mau tak mau dia harus menjawab panggilan itu dengan segera. Jennifer sedikit mengambil nafas dalam dalam sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
" Halo Tuan Steve..." Suaranya begitu pelan dia menahan rasa malunya.
" Jenni maafkan aku semalam aku mengendong mu masuk ke kamar, kau ketiduran di sofa ketika kau ingin mengambil minuman untuk ku, kau terlihat pulas sekali jadi aku tak tega..." Steve dengan cepat mengatakan apa yang terjadi semalam.
" Aku sungguh tak menyentuh mu, please jangan berpikir aku memanfaatkan kesempatan..." Sambungnya dengan cepat menjelaskan apa yang terjadi semalam.
Jika kau menyentuh ku pun tak masalah Steve. Batin Jennifer dengan rasa kesalnya, karena kenikmatan yang dia rasakan ternyata hanya mimpi.
__ADS_1
" Terima kasih Tuan Steve, sudah membawa saya ke dalam kamar. Sekali lagi terima kasih .." Jawabnya dengan lembut. Dia tak bisa berkutik lagi, semua perasaan nya kini malu.
" Baiklah, aku akan menjemput mu hari ini karena kita akan ke kantor Albert ada yang harus kau periksa di sana."
" Tuan Steve saya bisa membawa mobil sendiri, kita bisa bertemu di sana..." Tolak Jennifer dengan cepat.
" Mobil mu ada di perusahan, semalam kau aku antar pulang. Apa kau lupa?" Jennifer berpikir benar bawa mobilnya tak ada di sini.
" Aku bisa naik taksi Tuan Steve, jangan membuat anda kerepotan dengan saya, kita bisa bertemu di sana nanti..." Jennifer tetap menolak ajakan berangkat bersama dia tak ingin menahan malu di depan laki laki itu.
" Jenni aku bos mu di sini, kau harus patuh pada ku, lagian kita akan sering bersama untuk menangani kasus seperti ini. Apa kau lupa tentang hal itu..." Ucapnya dengan tegas.
" Baiklah Tuan..." Jennifer akhirnya tak bisa menolak lagi, apa yang di katakan laki laki itu benar bawa dia akan sering bersama dan pergi bersama dalam menanggani kasus ini. Tuan Zac sendiri yang menyerahkan semua ini kepada mereka berdua. Mau tak mau mereka harus tetap bersama.
Kini panggilan itu pun terputus membuat Jennifer begitu frustasi, dia tak sanggup melihat wajah laki laki yang dia impikan semalam, dia tak sanggup menahan malu nya kalau laki laki itu mengetahui tentang mimpi basahnya itu.
" Argh.. memalukan..." Umpatnya dengan mengubur kepalanya di sela sela kaki nya yang terbuka di sana. " Sepertinya aku harus segera selesaikan ini semua, sebelum aku sendiri yang terjebak oleh perasaan ku..." Sambungnya dengan terbangun dari duduknya.
Jennifer kini dengan cepat membersihkan tubuhnya, memakai baju yang seperti biasa lengan panjang dan celana panjang nya, dia tak terlalu suka membuka tubuhnya di hal publik.
__ADS_1
Ketika dirinya sedang menunggu Steve kini sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel nya itu, dia dengan cepat menjawabnya sebelum Steve datang ke apartemen nya.
" Bos saya ingin menyudahi misi ini, aku ingin kau menunjuk seseorang untuk mengantikan aku, aku tak bisa berada di sekeliling mereka terlalu lama..." Jennifer dengan cepat mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dua sungguh tak ingin terjebak dengan perasaan nya sendiri.
" Jenni kita belum mendapatkan apa apa dan kau ingin mundur dari misi ini. Kau sudah di percaya oleh Zac Kozan kau harus tahu itu, jika kau di ganti dengan yang lain belum tentu dia bisa mendapatkan kepercayaan nya, lagian aku juga tak yakin yang mengantikan mu bisa seperti mu..." Bos nya kini mengatakan dengan tegasnya, dia tak bisa mundur kali ini.
" Bos ini terlalu sulit bagi ku, aku tak ingin-" Jennifer menghentikan ucapannya dia tak mungkin mengatakan bawa dirinya takut terjebak dengan perasaannya sendiri.
" Kau tak ingin apa?"
" Aku takut mereka tahu identitas ku bos. Mereka terlalu baik untuk ku, aku tak ingin mereka kecewa mengetahui siapa aku sebenarnya..." Bukan itu yang dia takuti melainkan dia takut dengan perasaan nya yang akan menjebak dirinya sendiri.
" Kau sudah biasa melakukan hal ini, jadi tak perlu membuat drama untuk mundur sebelum misi kita berhasil, jika kau ingin segera ini berakhir maka cepat temukan yang aku minta..." Bos wanita itu bahkan tak peduli dengan dirinya, seakan muda mendapatkan apa yang dia mau.
" Kau pikir aku muda masuk ke dalam sana he, aku masih kesulitan masuk dan kau dengan muda nya mengatakan tentang aku membuat drama..." Jennifer kini langsung meluapkan emosinya yang tak bisa di bendung.
" Jika anda ingin segera masuk maka lakukan sendiri pekerjaan ini, jangan menyuruh ku untuk bertahan di sini. Anda tak tahu setiap harinya aku merasakan ketakutan jika mereka tahu identitas ku, anda pikir di sini muda, saya hanya duduk santai dengan melihat orang orang itu..." Jennifer mengungkapkan ke kesalahannya pada bos nya itu.
" Jika sekali lagi anda mengatakan saya membuat drama di sini, maka saya langsung mundur dari ini semua. Tak peduli saya sudah menemukan yang saya cari atau tidak saya tidak peduli. Saya lebih menghargai nyawa saya di banding bos seperti anda..." Teriaknya dengan kencang dan langsung menutup panggilan itu dengan sepihak. Sedangkan sang bos nya hanya diam tak berani menjawab apapun, bahkan dirinya hanya menatap ponselnya ketika panggilan itu terputus.
__ADS_1