
Tap, tap, tap, tap, tap, suara sepatu itu kini menggema di ruangan rumah kecil itu, wanita itu yang baru pulang dari kerjanya kini dia segera berlari menuju sebuah kamar sang ibu. Wanita itu membuka cepat pintu kamar sang ibu, dia mengatur nafasnya yang terasa sesak ketika dia sedari tadi lari menuju rumah kecil nya itu.
Wanita itu sedikit tersenyum ketika melihat sang ibu yang berbaring di bawah lampu yang cahayanya oren. Wanita itu kini mendekati ibunya, dia duduk di sisi ranjang sang ibu yang masih setia memejamkan matanya.
" Ibu.. ibu.. aku pulang..." Katanya dengan lembut tapi sang ibu masih saja tertidur. Wanita itu mengelap keringat dingin yang keluar dari keningnya.
" Ibu.. ibu bangun.. aku sudah bawakan obat untuk mu bu..." Guncangan pada tubuh wanita itu masih tak membuat wanita yang masih terlelap membuka matanya, rasa panik serta kecemasan kini menghantuinya.
" Ibu bangun.. please buka mata mu bu, jangan membuat ku takut, bu bangun, jangan pergi please jangan pergi, bu bangun..." Air mata itu kini dengan sendirinya keluar, dia dengan sejadi jadinya menangis histeris ketika dia memeriksa denyutan nadi sang ibu yang berhenti.
" Tidak, ku mohon bangun bu, jangan pergi, kenapa ibu pergi meninggalkan aku begitu cepat. Lihat bu aku sudah bawakan obat untuk mu, buka matamu bu, ku mohon, buka matamu hiks.. hiks...." Tangisan nya kini pecah ketika sang ibu kini telah terbujur kaku tak memiliki nyawa lagi. Wanita tua yang selalu menjadi semangatnya kini telah pulang, dia telah kembali kepangkuan sang pencipta.
Tangisan itu kini menyayat hati, kepergian dari orang yang begitu berarti membuat hari harinya begitu hancur. Pagi tadi dia yang tak memiliki banyak uang kini akhirnya lebih memilih untuk segera di kuburkan dengan bantuan tetangga nya, wanita itu tak memilih untuk membawa kerumah duka membuat dada gadis itu begitu terluka. Penghormatan terakhir pun tak mampu dia berikan kepada wanita yang berjasa pada hidupnya selama ini.
" Bu maafkan aku, karena tak sanggup memberikan penghormatan terakhir untuk mu, jika saya semalam aku tak datang terlambat mungkin hal ini tak akan terjadi..." Ucapnya dengan penuh penyesalan ketika acara pemakaman itu selesa, kini dia menangis lagi di pusaran terakhir ibunya.
__ADS_1
" Cih merepotkan saja, mati saya bikin repot..." Suara angkuh dari seorang yang dia kenal kini membuatnya segera melirik kearah suara itu.
" Ibu maafkan aku, andaikan semalam aku bisa datang kerumah mungkin ini tak akan terjadi..." Suara tangisan dan fakta yang di katakan oleh laki laki yang tiba tiba menangis di atas kuburan itu membuat wanita cantik itu kini semakin menatap nya dengan sinis.
" Jadi ibu semalam menghubungi mu dan kau tak mau datang menemui nya?" Teriakan dari wanita itu kini membuat wanita yang berdiri itu menatapnya dengan tak suka bahkan matanya begitu menantang kearah nya.
" Buat apa suami ku datang menemui ibu nya, kalau memang sudah takdir meninggal maka ibu mu akan tetap meninggal..." Katanya dengan penuh penekanan.
" Jawab Kak ibu semalam menghubungi mu dan kau tak datang, jawab kenapa kau hanya diam seperti ini?" Wanita cantik itu kini mengguncangkan lengan kakak laki laki nya yang sedari tadi hanya bisa menangis tanpa bisa membuka suaranya.
" Iya ibu mu memang menghubungi kakak nya untuk mengatakan bawa dada nya sesak dan dia butuh obat."
" Aku yang tak mengizinkan kakak mu datang untuk memberikan obat kepada ibu mu, aku memang sengaja melakukannya, jika ibu mu di kasih satu kali maka ibumu akan meminta terus menerus..." Jawabnya dengan angkuh.
Wanita itu kini berdiri dengan menatap kearah istri dari kakaknya, dia menatap penuh dengan kemarahan serta amarah yang tak bisa di bendung. Tangan nya kini segera menari kakaknya yang dari tadi hanya menangisi kuburan sang ibu.
" Kau lihat karena ulah mu ibu meninggalkan kita semua, jika saja kau tidak mendengarkan apa yang di katakan istri tercinta mu, mungkin ibu masih hidup, ibu tak mungkin berbaring di bawah tanah itu. Apa kau sadar sekarang kau menyesal kak?" Teriaknya dengan kencang dengan mencengkram baju sang kakak.
__ADS_1
Sang ibu yang memiliki penyakit sesak kini tak bisa di tolong lagi, sang ibu kini sudah pergi penyesalan yang dia tumpakan oleh laki laki itu tak membuat sang ibu hidup lagi.
" Maafkan aku, maafkan aku..." Laki laki itu yang ingin memeluk adiknya harus menerima dorongan yang kuat dari sang adik.
" Kau sudah membunuh ibu ku.. kau pembunuh kak, bahkan aku tak memberikan penghormatan terakhir yang pantas untuk nya..." Wanita itu kini menangis disana.
" Ini sudah takdir, jika ibu mu meninggal sudah takdir yang Tuhan, jadi jangan menuduh suami ku pembunuh ibu mu..." Istrinya kini seakan tak terima ketika mendengar suaminya di salahkan oleh adiknya.
" Hei..." Kakak ipar itu kini terkejut ketika wanita itu menunjuknya dengan mata yang memerah karena amarahnya. " Yang kau panggil dengan sebutan dengan suami itu adalah kakak ku, putra pertama dari wanita yang ada di bawah tanah itu, apa kau pikir kakak ku lahir sendiri jatuh dari langit hingga kau sama sekali tak menghargai ibunya sebagai ibu mu juga..." Katanya dengan sinis.
" Asal kau tahu aku malu mengakui kalian sebagai keluarga ku karena apa, ibu itu miskin yang hanya bisa meminta minta kepada anaknya dan kau gadis malam yang tak bisa menjaga dirimu, kau seorang pelacu* yang menjual tubu-"
Plak!! Plak!! dua tamparan itu langsung di layangkan oleh wanita itu, mata nya merah karena amarahnya menguasai dirinya saat ini. Wanita itu kini menyentuh kedua pipinya yang terasa panas karena tamparan yang begitu keras.
" Kau..." Katanya tertahan.
" Kau ingin memukul ku, tampar aku, pukul aku jika kau berani..." Wanita cantik itu kini malah menantang kakak iparnya. " Kau boleh menghina ku, kau boleh menjauhi ku, tapi kau tak berhak menjauhkan kakak dari ibunya. Kau hanya wanita lemah, kau wanita manja yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung ayah mu dan punggung suami mu, aku menjual tubuh ku atau tidak itu bukan urusan mu, kau-"
__ADS_1
" Cukup..." Laki laki sang kakak kini tiba tiba berteriak dengan membentaknya dengan kencang. " Hentikan ini semua, kita sedang berduka dan kalian malah bertengkar, apa tak ada rasa sedikit saja untuk kalian merasakan kesedihan, kenapa kalian hanya bisa bertengkar jika bertemu..." Sambungnya dengan menatap satu persatu wajah sang adik dan istrinya itu.