Wanita Nakal

Wanita Nakal
Penderitaan 15


__ADS_3

“ ara.. aku bukan laki laki yang sempurna, mungkin aku banyak kekurangan tapi cintaku padamu tak pernah kurang sedikitpun. Dari dulu aku memang mencinta mu tak pernah berubah, aku juga bukan laki laki yang romantis yang pandai merangkai kata kata untuk wanita yang aku cintai, tapi aku berusaha menjadikanmu wanita yang selalu dikelilingi keromantisan dihari harimu..” katanya dengan lembut dan membuat jovanka hanya terpaku tak percaya. “ apa kamu mau menua bersamaku, membangun rumah tangga denganku, menerima semua kekuranganku, menciptakan bayi bayi mungil dunia ini, maukah kau menerima laki laki hina ini untuk menjadi pendamping seumur hidup kamu ara..” jovanka hanya menutup mulutnya.



“ aku mau menikah denganmu jo..” beberapa kalimat yang membuat jonathan dan jovanka bahagia, dengan cepat jonathan memasangkan cincin tersebut, dengan segera mereka berpelukan dengan bahagia. “ terimakasih sudah memilik wanita hina ini sebagai pendamping mu jo.. terima kasih banyak..” katanya dengan berpelukan, dengan air mata yang merembes dari kedua mata nya.


Prok!! Prok!! Prok!! Suara tepukan tangan yang begitu meriah membuat jovanka melepaskan pelukannya, dengan rasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. “ jo..” panggilnya dengan pelan.


“ aku tahu kamu begitu merindukan mereka..” katanya dengan tersenyum.


“ terimakasih honey.. terimakasih..” jovanka menerjang tubuh jonathan, memeluknya dengan erat, lalu mencium bibi* jonathan dengan lembut. Ciuman itu bersambut dengan saling ******* nya.


Pandangan yang begitu indah, berciuma* dibawah senja sore, tenggelamnya matahari, cahaya ke Oren yang membuat pandangan indah begitu nyata. Kebahagian mereka yang nyata kini telah menyambut mereka berada didepan mereka.


***


“ sepertinya kita tak boleh remehkan kakak tirimu itu..” salah satu teman yongki berkata.


“ aku tak meremehkan dia, tapi yang membuat aku heran dari mana dia tahu bahwa aku akan mengirimkan sejumlah uang kepada mantan tunangannya.”


“ apa kalian sedang di mata mata?”

__ADS_1


“ entahlah, tapi aku tak pernah merasa ada yang mengikuti.”


“ sepertinya kakak tirimu lebih unggul dari pada otakmu itu.”


“ sial*n..” umpatnya dengan kesal, otaknya kini berfikir dengan kata di intai, tapi selama ini dia tak pernah merasakan bahwa dirinya telah diikuti oleh orang lain, ataupun siapapun, tapi gerak geriknya jonathan selalu tahu.


Sedangkan dirumah kecil emil dengan alfred sedang berfikir keras agar bisa keluar dari negara ini. “ al jika kita tetap bertahan disini, penderitaan kita tak akan pernah hilang, kita akan tetap menderita..” emil berkata dengan menutup wajahnya.


“ kau benar emil, lalu kita mau kemana?” tanyanya.


“ aku juga bingung..” jawabnya singkat, emil menceritakan semuanya tentang yongki dan bantuan yang akan yongki berikan tapi sedetik terakhir semuanya gagal karena ulah dari jonathan juga.


“ jonathan lagi.. jonathan lagi..” katanya dengan kesal. “ kenapa dia selalu didepan kita..” sambungnya lagi.


“ intai?” alfred mengulanginya. “ aku tak pernah merasakan ada seseorang yang mengikuti atau melihat kita dari jarak jauh..” sambungnya lagi.


“ tapi jonathan tahu semua apa yang akan kita lakukan, dan dia segera memblokir jalan untuk kita. Jika kita tak di intai lalu tahu dari mana jonathan?” pikirnya lagi.


“ apa nomer kita sedang disadap?”


“ sadap?”

__ADS_1


“ lalu dari mana dia tahu semuanya jika kalau bukan menyadap nomer ponsel kita dan mengirimkan orang yang mengintai kita..” alfred segera turun dari kasurnya, mengintip orang luar dari jendela. “ tak ada yang mencurigakan mil.. semuanya kelihatan seperti biasa..” sambungnya dengan menutup jendela.


“ lalu bagaimana dia tahu tentang kita semua alfred..” alfred hanya menggeleng, kini mereka tengah berfikir agar bisa keluar dari negara ini dan berfikir bagaimana jonathan selalu tahu pergerakan mereka berdua, bahkan pergerakan yongki pun jonathan juga tahu.


Mereka seperti kehabisan cara, apapun yang mereka rencanakan selalu gagal dan lagi lagi jonathan akan tahu pergerakan mereka, dengan cepat jonathan selalu memblokir semua jalan yang ingin mereka ambil. dengan rasa kesal serta marahnya kini mereka bertiga berfikir keras untuk mengelabui jonathan, dan keluar dari negara yang membuat mereka menderita, sedangkan yongki masih tetap berusaha untuk tetap membantu emil untuk keluar dari negara tersebut.


“ sepertinya mereka curiga tuan..” salah satu orang selalu mengintai alfred dan emil kini melaporkan pada kris.


“ jangan terlalu dekat agar mereka tak tahu bahwa mereka tetap dalam wawasan kita.”


“ baik tuan.”


“ apa mereka masih ingin keluar dari negara ini?”


“ iya tuan, mereka berencana untuk mengelabui kita agar mereka berdua bisa kabur dari sini. Tapi sepertinya tuan yongki juga tahu bahwa dia intai oleh orang orang kita jadi tuan yongki sekarang lebih hati hati mengambil tindakan.”


“ lakukan saja seperti yang ada direncana. Blokir semua nya agar mereka tak bisa berbuat apapun. Buat mereka berdua menderita agar mereka dengan sendirinya merasa lelah untuk bergerak, lakukan dengan rencana kalian, saya akan membebaskan kalian untuk melakukan apapun pada mereka, buat mereka meminta mati dengan sendirinya, halangi apa yang mereka ingin lakukan..” kris menatap didepan dengan rasa marahnya, penderitaan nona muda nya yang terlintas di kepalanya kini membuat dirinya kejam pada musuh musuh mereka.


Kris adalah saksi hidup bahwa jovanka begitu menderita ketika harus kehilangan calon bayi nya yang belum terlahir, penderitaan nona muda nya sewaktu kehilangan calon bayi nya dan kabar meninggalnya tuan muda nya. kini rasa bahagia yang menyelimuti nona dan tuan muda nya adalah balasan yang tepat untuk masa masa penderitaan selama ini.


Tuhan tak akan pernah tidur dan lupa, ketika kita pernah merasakan kesusahan maka tuhan akan mengantikan dengan masa keindahan yang akan datang dari mana saja, tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui. Tuhan akan selalu mengantikan dengan yang lebih baik.

__ADS_1


After the rain three will be a beautiful rainbow


( setelah hujan pasti akan ada pelangi yang indah )


__ADS_2