Wanita Nakal

Wanita Nakal
Season4_ Ex Husband Is Broken_ Apakah Ini Akan Berhasil 3


__ADS_3

Mereka saling tersenyum dengan beda arti yang hanya mereka masing masing yang tau. Mata mereka bertatapan dengan pancaran yang berbeda.


" Jangan takut ada aku di sini! dia tak akan macam macam."


" Sekarang dia mungkin tak akan macam macam tapi-"


" Tinggallah bersama ku, dia tak akan berani macam macam."


" Ha?"


" Aku sebenarnya memiliki rencana lain untuk menangkap pelaku yang membunuh Amel, tapi sepertinya kamu sangat ketakutan. Aku harus memb-"


" Apa yang ingin kau rencanakan untuk menangkap mereka?" Sarah kini malah tak peduli dengan rasa takutnya ketika mendengar pelaku adik nya.


" Tidak jadi, kau sangat ketakutan aku tak mau kau ketakutan dan bergetar seperti tadi."


" Meskipun bahaya sekalipun aku akan lakukan asal para pelaku Amel bisa tertangkap..." Katanya dengan penuh semangat.


" Tapi ini akan membahayakan nyawa mu."


" Tak masalah bagi ku, asal mereka bisa membayar semuanya dengan impas."


" Kau yakin dengan apa yang kau katakan? ini bukan mainan yang akan bisa di tunda. Kau pikir saja dulu karena sekali kau maju tak akan bisa mundur lagi."


" Aku akan maju meskipun nyawa ku taruhannya."


" Ikutlah dengan ku, kau akan tinggal dan di bawah perlindungan ku sekarang."


Sarah mengangguk pasrah dia saat ini tak peduli dengan apa yang akan terjadi. Hanya ada dendam yang membara saat ini yang memenuhi hati dan pikiran nya.

__ADS_1


Sedangkan Bryan di dalam hatinya merasa puas pada akhirnya wanita itu akan menjadi umpan yang cocok untuk memancing para pelakunya keluar. Bryan tak mungkin membahayakan nyawa wanita ini di tambah wanita ini rela kehilangan nyawa nya hanya untuk adiknya.


*Kasih sayang dia pada keluarga nya sungguh tak bisa di ungkap oleh kata kata. Dapat terlihat jelas bahwa dia sangat menyanyangi adiknya. Batin Bryan dengan menatap ke arah Sarah yang saat ini menyesap susu putih yang ada di tangan nya.


Aku yakin dia wanita yang kuat dan tangguh, aku janji tak akan ku biarkan nyawa mu melayang begitu saja. Aku akan melindungi mu bagaimana pun cara nya. Batinnya lagi*.


Bryan tak sadar dengan apa yang di katakan oleh dirinya sendiri, yang dia pikirkan saat ini adalah tak mungkin dia membiarkan bahaya mengintai wanita itu meskipun misi nya akan membahayakan nya.


Aku akan melindungi mu dengan cara ku.


Lagi lagi Bryan tak sadar dengan apa yang di ucapkan oleh dirinya sendiri. Entah apa yang terjadi pada Bryan yang jelas itu murni dari dasar hatinya yang tulus.


Sarah kini yakin akan membalas semuanya dengan bantuan laki laki yang telah menolongnya. Dia yakin dia akan merasa aman bersama nya, dia tak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini.


*Aku tak peduli jika nyawa ini menjadi taruhannya yang jelas mereka yang melakukan ini kepada Amel bisa merasakan rasa apa yang mereka lakukan kepada adik ku.


Aku bersumpah akan melakukan apapun yang di katakan oleh nya, aku yakin dia orang baik yang akan membantu ku untuk membalas dendam*.



" Ini semua salah orang itu, jika saja kita tak mengikuti apa yang dia katakan kita tak akan seperti ini sekarang..." Katanya dengan panik.


" Kau benar! kita mungkin tak akan terbebani oleh rasa bersalah ini. Kau tau aku sendiri seperti ada yang mengikuti ku meskipun itu tak ada siapa pun di sana..." Timpal temannya yang satunya.


Yang mengikuti mereka bukanlah siapa siapa tapi rasa bersalah merekalah yang mengikuti langkah mereka kemana pun mereka melangkah.


" Andaikan kita dulu tak menyelamatkan orang itu mungkin hidup kita tak akan seperti ini sekarang. Kita mungkin bisa menikmati masa tua kita dengan tenang bukannya di ketakutan seperti ini."


" Sial."

__ADS_1


Andaikan saja mereka dulu tak menolong orang yang salah mungkin hal ini tak akan terjadi dan hal yang mengejar mereka rasa bersalah itu tak akan menuntut mereka. Kini kebaikan mereka dulu malah di balas dengan rasa kejahatan yang tak bisa di hilangkan dari mereka.


Bruak!! pintu itu tiba tiba di dorong keras oleh sosok laki laki yang menjadi penyebab semua masalah ini ada. Kedua orang itu menatap mereka dengan rasa benci serta rasa amarah.


" Buat apa kau masih datang kemari heh? kau masih berani rupanya..." Salah satu dari mereka kini bertanya dengan nada ketusnya.


" Pergi dari sini! ini bukan rumah mu lagi. Sekarang kau sudah berjalan dan bisa berpikir, jadi sebaiknya kau kembali pada keluarga mu. Kami sudah tak ingin memiliki teman yang membuat kami menderita..." Usirnya dengan nada tinggi.


" Jadi kalian masih menyalahkan aku tentang kematian wanita itu? kalian tau sendiri bukan jika dia tak memberontak mungkin dia masih hidup sekarang dan kita sudah mendapatkan uang yang banyak dari mereka."


" Hanya karena omong kosong mu tentang uang yang banyak menyebabkan kami terseret dalam kasus pembunuhan seorang wanita lugu dan polos. Kau pembunu* sebaiknya kau pergi dari sini..." Usirnya lagi dengan menunjuk tepat di muka nya.


" Jadi kau berani dengan ku sekarang?" Nada nya kini berubah menjadi tinggi.


" Siapa kau hingga kami tak berani mengusir mu dari sini. Ini adalah rumah ku dan kau hanya menjadi tamu yang tak tau diri karena sudah membuat kami menjadi celaka, jadi sekarang kau lebih baik pergi dari sini..." Usir sang pemilik rumah yang sudah merasa bosan dengan rasa takut ini.


" Jadi kau sungguh berani dengan ku heh?" Orang itu kini malah menarik baju sang pemilik rumah dengan matanya yang melotot ke arahnya.


Mata mereka kini seakan saling menantang dengan penuh kemarahan yang masing masing mereka ketahui.


Prank!! Suara itu kini membuat orang itu langsung tersungkur di lantai dengan tak sadarkan diri secara langsung. Teman yang satunya merasa tak terima jika teman baiknya malah di tantang oleh orang salah.


Dia memukulnya dengan botol minuman yang ada di meja. Serangan yang cepat membuat orang itu tak bisa menghindar dan langsung tak sadarkan diri secara langsung.


" Apa dia mati? hanya dengan satu pukulan tak akan membuatnya mati bukan?" Temannya menggoyangkan tubuh laki laki yang tergeletak dengan kaki nya tapi orang itu tak terbangun.


Temannya kini berjongkok dengan mengecek nafasnya. Dia merasa lega setidaknya orang itu hanya pingsan.


" Dia hanya pingsan. Tak mungkin orang ini meninggal dengan muda..." Jawabnya dengan ketus. " Biarkan saja dia bangun sendiri."

__ADS_1


Kedua temannya itu malah acuh dengan dia yang pingsan karena pukulan yang tepat di kepalanya. Mereka malah pergi kembali masuk ke dalam kamar mereka masing masing untuk tidur karena rasa kantuk yang menyerang mata mereka.


" Jangan lupa kunci kamar mu..." Mereka saling masuk dengan tak lupa mengunci kamar agar orang yang pingsan tadi tak bisa melakukan apapun kepada mereka yang sedang tertidur.


__ADS_2