
" Kejar dia sampai dia mau memaafkan mu nak, Ayah yakin dia adalah gadis polos yang ingin sekali di peluk oleh keluarga nya, Ayah yakin jika kau terus memohon dia pasti akan luluh."
" Baiklah apa yang harus aku lakukan sekarang Ayah?"
" Ajaklah dia tinggal di sini bersama kita, bangun semuanya dengan baik. Perbaiki sifat mu dan pura pura memohon maaf dengan sungguh sungguh, Ayah yakin dia gadis polos yang tidak tahu apapun. Jika masalah kita selesai maka kamu bisa berbuat sesuka nya dengan dia."
" Baiklah aku akan bersandiwara di depannya tapi hanya sandiwara tidak lebih..." Anna kini menyetujui rencana sang Ayah meskipun hatinya menolak untuk berbuat baik dengan Maria.
" Satu lagi kau harus menjaga sikap dan kau harus menahan kemarahanmu, demi Ayah dan nama baik kita semua..." Anna membuang nafasnya dengan kasar dia kembali mengangguk dan menyetujui semuanya rencana sang Ayah yang di susun Ayah nya tersebut.
Anna yang sebenarnya enggan berbuat baik kini harus melakukan sandiwara agar nama keluarganya baik baik saja dan kali ini gadis polos yang harus mereka korbankan. Sedangkan siang hari nampaknya semuanya berpihak kepada keluarga Maria karena siang di hari yang sama Maria datang ke sana bersama Suhu.
Rencana harus aku lakukan dengan baik. Batinnya ketika melihat Maria bersama temannya berdiri di depan gerbang.
Flashback Of
" Hubby kau sudah pulang?" Valerie yang baru saja selesai mandi kini masih memakai kimono putihnya serta handuk masih membelit rambut panjangnya. Kini dia menghampiri sang suami nya yang duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya. " Apa ada masalah?"
__ADS_1
Zac kini menoleh ke arah istrinya yang sudah duduk di sebelahnya dan tangan nya menyentuh rahangnya, tangan dingin yang selesai mandi membuat aliran darahnya seakan terasa cepat, hanya sentuhan yang biasa di lakukan oleh seorang istri membuat sesuatu sedikit bangkir di bawah sana.
" Tidak ada apapun sayang..." Zac yang kini menahan sesuatu membuat suara sedikit tertahan.
" Bagiamana perkembangan kasus nya Hubby?"
" Sudah masuk ke dalam pengadilan dua hari lagi akan ada sidang pertama kami. Tadi Tim pengacara nya datang menawarkan damai kepada kita, kami menolaknya meskipun kami menolaknya sepertinya mereka tidak akan tinggal diam mereka tetap ingin kita semua menempuh jalur damai."
" Hubby carilah keadilan untuk mendiang Paman bukan karena kau kejam tapi memang keadilan harus di tegakan bukan?, lagian itu semua memang bukan hak nya Peter, semuanya adalah hak dari Paman Yun."
" Aku yakin mereka akan menyusun rencana untuk kita semua, tapi entah kenapa firasat ku merasakan tidak enak, ada sesuatu yang akan terjadi...." Zac menyentuh tangan istri nya mengenggam erat tangan itu, menatap mata istri nya dengan sungguh sungguh. " Hari di mana aku menghancurkan Peter di situ lah aku menabuh genderang perang dengan mereka, aku yakin selama dia memengang kekuasaan mereka memiliki sesuatu atau kenal dengan orang orang yang bisa melawan kita, tapi aku siap melawan mereka meskipun dengan nyawa ku sekali pun..." Zac menghentikan ucapannya dia tetap menatap istrinya membuang nafas nya dengan kasar sebelum melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
" Tentu saja aku tidak keberatan Hubby, tidak masalah bagi ku tinggal di mana pun asal itu bersama mu, di lubang semut sekalipun juga tak masalah bagi ku asal kita bertiga aman..." Zac tersenyum senang karena istrinya mengerti dan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusannya. " Tapi jangan jadikan aku kelemahan mu Hubby itu membuat ku sedih. Jadikan aku kekuatan mu agar kau selalu tetap kuat untuk melawan para musuh mu. Aku sudah pernah mengatakan pada mu aku siap menjadi istri ketua Mafia, asal kau selalu pulang dengan selamat ketika kamu pergi untuk sebuah pertempuran untuk melawan para musuh mu..." Val menyentuh rahang suaminya lagi, mengelus bulu bulu yang selalu tumbuh di rahang tegas suaminya tersebut.
Zac yang sudah tak sabar kini langsung memeluk istrinya, mendekap istrinya dengan erta dengan sesekali mencium pipi istrinya dengan gemas serta rasa kasih sayang yang benar benar tulus. Zac sangat beruntung memiliki sosok istri yang selalu mendukung semua keputusan nya dan dia bukanlah kelemahannya tapi sumber kekuatan Zac yang siap melawan mundur musuh musuh nya.
" Hubby kapan kita akan tinggal di Markas?"
__ADS_1
" Sebentar lagi, kita siap siap saja dulu..." Pelukan itu pun terlepas begitu saja dengan Zac yang masih menatap sang istri yang masih menatapnya.
" Apa ada masalah lagi?"
" Tidak ada tapi kamu harus menyelesaikan urusan yang lain."
" Urusan apa lagi Hubby?"
" Aku merindukan mu sayang, apa kau tidak merindukan ku he?" Zac berbisik pelan serta memberikan godaan kepada telinga istrinya yang begitu terbuka di sana.
Val yang masih setengah terbuka membuat Zac dengan mudah menggoda kulit istrinya yang terpampang nyata di depan matanya. Sentuhan kulit tadi mampu membuat pikiran Zac tak karuan, di tambah lagi sekarang sang istri mengelu* sesuatu yang sudah menengang sedari tadi.
Zac kini memberikan gigitan kecil kepada telinga istrinya, menggodanya mengunakan lida* nya kini lida* itu yang turun hingga ke pundak sang istri yang sedikit terbuka. Tangan Zac secara pelan menarik tali kimono yang di kenakan oleh istrinya, memberikan godaan kembali kepada tubuh istrinya yang sudah terbuka secara langsung.
" Mmmppp.. Ah.. Hubby..." Desaha* nya ketika bibir itu menggigi* kecil pundak dirinya, kini lida* itu kembali naik ke atas dan berhenti di sebuah leher jenjang miliknya, lida* itu bermain main di sana membuat Val hanya mampu memejamkan matanya menikmati sentuhan sang suami yang begitu menggoda dirinya.
Tangan nya kini masih mengelu* sesuatu yang sudah menengang sempurna di balik celana panjang suaminya. Tangan nya mengelu* dengan pelan membuat Zac merasakan kenikmatan tersendiri. Aroma sabun dan shampo yang masih menempel di tubuh sang istri membuat Zac tak sabar untuk menyatukan tubuh mereka segera. Tangan Val kini dengan pelan melapaskan gesper yang di kenakan oleh sang suami dan itu membuat Zac segera membantu sang istri yang melepaskan semua yang ada di tubuhnya.
Mereka kini dengan rasa tak sabarnya memberikan godaan serta memberikan rangsanga*n yang begitu membangkitkan jiwa keliaran mereka berdua.
__ADS_1