
" Tuan Aiden tim saya sudah menyelidiki kasus kebakaran ini dan tim kami tak menemukan apapun yang mencurigakan..." Komandan Excel kini menghampiri pemilik restoran yang berada tak jauh dari tempat restoran itu sudah habis tak tersisa, hanya tinggal abu yang berserakan di sana.
" Ini memang kami yang lalai komandan..." Jawab kepala chef yang juga berada di sana.
" Apa komandan yakin ini tak ada yang menyabotase?" Abhi yang dari tadi mencurigai sesuatu kini mulai mengangkat suaranya.
" Tim saya sudah menyelediki semuanya dan mencari tahu apa ada yang mencurigakan, tapi nyatanya kami tak menemukan apapun, dan hal hal yang mencurigakan juga tak ada..." Komandan Excel itu kini menjawab dengan nada kesal nya, dia tahu bahwa bawahan nya itu akan mengatakan dan mencurigai sesuatu.
" Ini masih hari pertama dan anda sudah menyatakan bahwa ini memang tak ada yang mencurigakan..." Abhi menatap sinis kearah komandan nya itu. Dia sangat yakin bahwa ini ada seseorang yang melakukannya.
" Abhi sudahlah, ini memang lalai dari pegawai ku..." Aiden menyela dengan nada nya yang lesu.
" Aiden ini tak mungkin terbakar jika tak ada yang sengaja memotong atau membuka selang gas nya, kau tahu kita sedang berhadapan dengan kelompok siapa bukan?" Abhi kembali menyakinkan sahabatnya itu, bahwa kebakaran ini memang di sengaja.
" Maaf tuan, tapi ini memang kelalaian kami, bukan ada orang yang sengaja membakar restoran itu..." Timpal chef itu yang dari tadi mengatakan bahwa kebakaran itu memang kesalahan nya bukan kesalahan dari orang lain.
" Kau dengar tuan Abhi, mereka mengatakan bahwa ini kesalahan dari mereka bukan sengaja di bakar oleh orang lain..." Komandan itu menekan kata kata nya sedangkan Abhi hanya menahan apa yang ingin dia katakan lagi. " Jika tak ada lagi saya bersama tim saya akan mengakhiri penyelidikan ini tuan Aiden..." Sambungnya lagi.
__ADS_1
" Baiklah komandan, terima kasih..." Aiden dan komandan itu akhirnya berjabatan tangan. Tak berselang lama seluruh tim akhirnya meninggalkan tempat terjadi kebakaran.
Mereka juga kembali ke rumah Aiden, Abhi juga mengikuti Aiden ke rumah nya. Dia tak tega meninggalkan sahabatnya itu.
" Aiden lu yang kuat, aku tahu ini berat bagi mu, tapi lu harus kuat dan berusaha bangkit..." Abhi menyentuh pundak sahabatnya itu, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu.
" Entahlah Bi, ini terlalu berat untuk ku, restoran itu adalah jantung usaha ku..." Suara Aiden benar benar terpuruk, bahkan dia tak sanggup untuk mengangkat kepalanya, kejadian ini sanggup membuat nya benar benar susah untuk bernafas.
" Aku yakin lu bisa berdiri lagi, mungkin saat ini kamu belum bisa, tapi dengan seiring waktu kau akan bisa..." Abhi tetap memberikan semangat untuk sahabat nya itu. Dia tahu bagaimana kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sebenarnya dia juga mengalami hal yang sama saat ini, kesatuannya tak memberikan dia kasus apapun, dia juga terluka tapi dia berusaha untuk tetap kuat.
Ambisinya membuat semuanya hancur, ambisinya membuat dia harus kehilangan tim nya hari ini. Jika saja ambisinya tak besar mungkin hari ini dia yang menangani kasus sahabatnya dan dia bisa menemukan masalah yang membuat usaha sahabatnya hancur.
" Apa yang ingin kau tanyakan Bi?" Aiden benar benar tak ingin memikirkan sesuatu yang tambah membuatnya pusing, kehilangan satu usahanya membuatnya stres.
" Apa kau tak mencurigai sesuatu?, mungkin saja ini memang di sengaja, atau ada seseorang yang sengaja membuat selang gas nya bocor?" Aiden menghela nafas nya ketika mendengar perkataan sahabatnya, dia tak mengerti kenapa sahabatnya selalu memiliki pemikiran bahwa setiap masalah yang menimpa di sekelilingnya ada campur tangan orang lain.
" Maksud mu ada yang sengaja membakar restoran ku?" Abhi kali ini mengangguk. " Siapa yang ingin kau curigai Bi?, apa kepala chef ku, atau orang orang yang bekerja dengan ku?, atau jangan jangan kau mencurigai semua orang?" Aiden sudah tak bisa berpikir lagi, hari ini baginya sudah berat dan dia tak ingin menambah semuanya menjadi berat.
__ADS_1
" Aiden kau tahu kita sedang berhadapan dengan siapa?, kau juga tahu kita sekarang bermusuhan dengan kelompok mafia yang kejam, mereka bisa melakukan apapun..." Abhi berkata dengan nada yang tinggi agar sahabatnya itu yakin bahwa masalah ini memang di sabotase seseorang.
" Abhi jangan kau sangkut kan masalah ini kepada mereka, kau pikir mereka membakar usaha ku untuk apa?, aku tak menyaingi usaha mereka, dan satu lagi mereka juga tak mengenal aku. Jika mereka marah dan ingin balas dendam pada ku untuk apa, apa mereka akan balas dendam kepada laki laki mantan calon tunangan adik mu, sudahlah Bi, aku pusing dan aku tak ingin memikirkan hal yang tak mungkin..." Aiden sedikit membentak sahabatnya itu, dia tak tahu kenapa sahabatnya itu selalu berambisi dan dia juga sudah menyakinkan dirinya bahwa ini memang sudah kesalahan para staf nya bukan karena ada campur tangan yang sengaja membakarnya.
" Jika kau tak percaya, aku bisa membuktikan nya dan aku juga akan membuka kembali penyelidikan ini."
" Abhi sudahlah, lagian aku sudah menutup kasus ini dan aku sudah menerima bahwa ini memang salah staf ku dan mereka juga sudah mengakui nya."
" Tidak Aiden, aku akan tetap membuka kembali kasus ini..." Aiden hanya tak percaya bahwa sahabatnya ini benar benar berambisi dengan kelompok mafia yang dia katakan, bahkan yang tak ada sangkut nya pun dia sangkut kan.
" Abhi aku sudah menutupnya dan tak perlu kau buka lagi, aku sudah cukup pusing memikirkan hal ini, jangan kau tambahi pusing karena penyelidikan mu..." Aiden meninggalkan ruang tamu setelah mengatakan hal itu, dia cukup syok menerima kenyataan bahwa restoran nya terbakar dan itu akan sangat berpengaruh oleh kondisi keuangan nya.
" Arghh... sial.... kenapa kalian bodoh.. rugi besar aku..." Aiden yang berada di dalam kamar berteriak histeris dengan memukul dinding kamarnya.
" Aiden lu ga pa pa?" Abhi berteriak dari luar kamarnya, dia berusaha membuka kamar sahabatnya tapi tak bisa karena di kunci dari dalam. " Aiden buka...jangan lakukan hal gila..." Sambungnya dengan berteriak juga.
" Aku butuh sendiri Bi, please jangan ganggu aku dulu."
__ADS_1
" Baiklah aku akan pergi, jika butuh bantuan kau bisa menghubungi ku..." Tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut yang membuat Abhi akhirnya benar benar meninggalkan rumah sahabatnya itu. Sebenarnya dia enggan pergi tapi dia juga harus menyelesaikan urusannya dengan kesatuannya dan mengkonfirmasi tentang status nya sekarang.